PRA ISLAM (Bag 2)

ARAB PRA-ISLAM

 Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkanbersama  orang  Yaman  itu    yang  membawa surat – sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha  al-Asyram salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia. Ia  memerintah  Yaman  ini  sampai  ia dibunuh  oleh  Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah  yang  memimpin  pasukan  gajah,  dan  dia  yang kemudian  menyerbu  Mekah  guna  menghancurkan  Ka’bah  tetapi gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.

Anak-anak Abraha  kemudian  menguasai  Yaman  dengan  tindakan sewenang-wenang.  Melihat  bencana  yang  begitu  lama menimpa penduduk, Saif bin Dhi Yazan  pergi  hendak  menemui  Maharaja Rumawi.  Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman.  Tetapi  karena adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi  permintaan  Saif  bin Dhi  Yazan  itu.  Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan pergi  menemui  Nu’man  bin’l-Mundhir  selaku  Gubernur   yang diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.3

Nu’man  dan  Saif  bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk dalam Ruangan  Resepsi (Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan bimasakti pada bagian tahta itu. Di tempat musim  dinginnya  bagian  ini dikelilingi  dengan  tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah sekali. Di tengah-tengah itu bergantungan  lampu-lampu  kendil terbuat  daripada  perak  dan  emas dan diisi penuh dengan air tawar. Di atas tahta itulah  terletak  mahkotanya  yang  besar berhiaskan  batu  delima, kristal dan mutiara bertali emas dan perak, tergantung dengan rantai dari  emas  pula.  Ia  sendiri memakai  pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat itu akan merasa terpesona  oleh  kemegahannya.  Demikian  juga halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.

Kisra   menanyakan   maksud   kedatangannya  itu  dan  Saifpun bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?),  salah seorang  keluarga  ningrat  Persia  yang paling berani. Persia telah  mendapat  kemenangan  dan  orang-orang  Abisinia  dapat diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72 tahun itu.

Sejak  itulah  Yaman  berada  di  bawah  kekuasaan Persia, dan ketika Islam  lahir  seluruh  daerah  Arab  itu  berada  dalam naungan agama baru ini.  Akan  tetapi  orang-orang asing yang telah menguasai Yaman itu tidak langsung di bawah kekuasaan Raja  Persia.  Terutama  hal itu  terjadi  setelah  Syirawih  (Shiruya  Kavadh II) membunuh ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri  menduduki  takhta.  Ia membayangkan    dengan  pikirannya yang picik itu bahwa dunia dapat  dikendalikan  sekehendaknya   dan   bahwa   kerajaannya membantu  memenuhI  kehendaknya  yang sudah hanyut dalam hidup kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan  banyak  sekali  yang tidak  mendapat  perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya sendiri. Ia pergi memburu dalam  suatu  kemewahan  yang  belum pernah   terjadi  Ia  berangkat  diiringi  oleh  pemuda-pemuda ningrat berpakaian merah, kuning  dan  lembayung,  dikelilingi oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau yang sudah dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak yang  membawa  wangi-wangian, oleh pengusir-pengusir lalat dan pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya dalam suasana musim semi  sekalipun  sebenarnya  dalam musim dingin yang berat, ia beserta  rombongannya  duduk  di  atas  permadani  yang  lebar dilukis  dengan  lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami bunga-bungaan   aneka   warna,   dan   dilatarbelakangi   oleh semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna perak.

Tetapi    sungguhpun    Syirawih    begitu    jauh   mengikuti kesenangannya,  kerajaan  Persia  tetap  dapat  mempertahankan kemegahannya,  dan  tetap  merupakan  lawan yang kuat terhadap kekuasaan Bizantium dan penyebaran Kristen.  Sekalipun  dengan naik   tahtanya   Syirawih   ini   telah  mengurangi  kejayaan kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum  Muslimin memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.

Yaman  yang telah dijadikan gelanggang pertentangan sejak abad ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas yang dalam sekali dalam   sejarah   Semenanjung   Arab   dari   segi   pembagian penduduknya.  Disebutkan  bahwa  Bendungan  Ma’rib  yang  oleh suku-bangsa   Himyar   telah   dimanfaatkan  untuk  keuntungan negerinya, telah hancur pula dilanda banjir besar.  Disebabkan oleh  adanya  pertentangan  yang  terus-menerus  itu, lalailah mereka  yang  harus  selalu   mengawasi   dan   memeliharanya. Bendungan  itu  lapuk  dan  tidak  tahan  lagi menahan banjir.

Dikatakan juga, bahwa setelah  Rumawi  melihat  Yaman  menjadi pusat  pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa perdagangannya  terancam  karena   pertentangan   itu,   iapun menyiapkan  armadanya  menyeberangi  Laut Merah – antara Mesir dengan  negeri-negeri  Timur  yang   jauh      guna   menarik perdagangan  yang  dibutuhkan  oleh negerinya. Dengan demikian tidak perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.

Mengenai peristiwanya, ahli-ahli  sejarah  sependapat,  tetapi mengenai  sebab  terjadinya  peristiwa  itu  mereka  berlainan pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di Yaman  ke  Utara.  Semua  mereka sependapat tentang kepindahan ini,  sekalipun  sebagian  menghubungkannya   dengan   sepinya beberapa kota di Yaman karena mundurnya perdagangan yang biasa melalui tempat  itu.  Yang  lain  menghubung-hubungkan  kepada rusaknya   bendungan   Ma’rib,   sehingga   banyak  di  antara kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun juga  kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan Yaman jadi  berhubungan  dengan  negeri-negeri  Arab  lainnya, suatu  hubungan keturunan dan percampuran yang sampai sekarang masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.

Apabila sistem politik di Yaman sudah  menjadi  kacau  seperti yang  dapat  kita  saksikan, yang disebabkan oleh keadaan yang menimpa  negeri  itu  serta  dijadikannya  tempat  itu   medan pertarungan,  maka  struktur  politik serupa itu tidak dikenal pada beberapa  negeri  Semenanjung  Arab  lainnya  waktu  itu. Segala  macam  sistem yang dapat dianggap sebagai suatu sistem politik  seperti  pengertian  kita   sekarang   atau   seperti pengertian  negara-negara  yang  sudah  maju pada masa itu, di daerah-daerah  seperti  Tihama,  Hijaz,  Najd  dan   sepanjang dataran  luas  yang  meliputi  negeri-negeri  Arab, pengertian demikian itu belum dikenal. Anak negeri pada masa  itu  bahkan sampai  sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa di kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Yang   mereka   kenal   hanyalah   hidup   mengembara  selalu, berpindah-pindah mencari padang rumput dan menuruti  keinginan hatinya.   Mereka   tidak  mengenal  hidup  cara  lain  selain pengembaraan itu.

Seperti  juga  ditempat-tempat  lain,  disinipun  dasar  hidup pengembaraan  itu  ialah  kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu peraturan  atau tata-cara  seperti  yang  kita  kenal.  Mereka  hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga  dan  kebebasan  kabilah yang  penuh.  Sedang  orang  kota,  atas  nama tata-tertib mau mengalah  dan  membuang  sebagian  kemerdekaan  mereka   untuk kepentingan  masyarakat  dan  penguasa,  sebagai  imbalan atas ketenangan  dan  kemewahan  hidup   mereka.   Sedang   seorang pengembara  tidak  pedulikan  kemewahan,  tidak  betah  dengan ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apapun  – seperti  kekayaan  yang  menjadi  harapan  orang kota – selain kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup  dalam  persamaan yang    penuh    dengan    anggota-anggota   kabilahnya   atau kabilah-kabilah  lain  sesamanya.  Dasar  kehidupannya   ialah seperti  makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan terus sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang  sudah ditanamkan dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.

Oleh  karena  itu,  kaum  pengembara  tidak  menyukai tindakan ketidak adilan  yang  ditimpakan  kepada  mereka.  Mereka  mau melawannya   mati-matian,   dan  kalau  tidak  dapat  melawan, ditinggalkannya  tempat  tinggal  mereka   itu,   dan   mereka mengembara lagi ke seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus demikian.

Juga itu pula sebabnya, perang adalah jalan yang paling  mudah bagi  kabilah-kabilah  ini bila harus juga timbul perselisihan yang tidak mudah  diselesaikan  dengan  cara  yang  terhormat. Karena  bawaan  itu  juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian besar kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri,  keberanian, suka   tolong-menolong,   melindungi   tetangga   serta  sikap memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya. Sifat-sifat ini akan makin   kuat   apabila   semakin  dekat  ia  kepada  kehidupan pedalaman, dan akan makin  hilang  apabila  semakin  dekat  ia kepada kehidupan kota.

Seperti kita sebutkan, karena faktor-faktor ekonomi juga, baik Rumawi maupun Persia, hanya merasa tertarik kepada Yaman  saja dari  antara jazirah lainnya yang memang tidak mau tunduk itu. Mereka lebih  suka  meninggalkan  tanah  air  daripada  tunduk kepada  perintah.  Baik  pribadi-pribadi  atau kabilah-kabilah tidak akan taat kepada  peraturan  apapun  yang  berlaku  atau kepada lembaga apapun yang berkuasa.

Sifat-sifat  pengembaraan  itu  cukup mempengaruhi daerah yang kecil-kecil yang tumbuh  di  sekitar  jaziarah  karena  adanya perdagangan  para  kafilah, seperti yang sudah kita terangkan. Daerah-daerah ini dipakai oleh para  pedagang  sebagai  tempat beristirahat  sesudah  perjalanan  yang  begitu meletihkan. Di situ mereka bertemu dengan tempat-tempat  pemujaan  sang  dewa guna  memperoleh  keselamatan  bagi  mereka  serta  menjauhkan marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan  mereka selamat sampai di tempat tujuan.

Kota-kota  seperti  Mekah, Ta’if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung atau   gurun   pasir,   terpengaruh   juga   oleh  sifat-sifat pengembaraan  demikian  itu.  Dalam  susunan   kabilah   serta cabang-cabangnya,    perangai   hidup,   adat-istiadat   serta kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu  cara  hidup  yang menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.

Lingkungan  masyarakat  dalam  alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan sosial  yang  ada  pada  mereka,  mempunyai pengaruh   yang   sama   terhadap  cara  beragamanya.  Melihat hubungannya dengan agama Kristen  Rumawi  dan  Majusi  Persia, adakah  Yaman  dapat  terpengaruh  oleh  kedua  agama  itu dan sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut  di  jazirah  Arab lainnya?  Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada  pada  masa  itu sama  giatnya  seperti  yang  sekarang  dalam mempropagandakan agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta  cara  hidup kaum  pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia merasakan adanya  wujud  yang  tak  terbatas  dalam segala bentuknya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara  dirinya  dengan alam  dengan  ketak-terbatasannya  itu. Sedang bagi orang kota ketak-terbatasan  itu   sudah   tertutup   oleh   kesibukannya hari-hari,   oleh   adanya  perlindungan  masyarakat  terhadap dirinya  sebagai  imbalan  atas  kebebasannya  yang  diberikan sebagian  kepada  masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada undang-undang  penguasa  supaya  memperoleh  jaminan  dan  hak perlindungan.   Hal  ini  menyebabkannya  tidak  merasa  perlu berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan  kekuatan alam  yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan jiwa  dengan  unsur-unsur  alam  yang   di   sekitarnya   jadi berkurang.

Dalam  keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan dalam  menyebarkan  ajaran  agamanya  itu?  Barangkali soalnya hanya akan sampai di  situ  saja  kalau  tidak  karena  adanya soal-soal   lain  yang  menyebabkan  negeri-negeri  Arab  itu, termasuk  Yaman,   tetap   bertahan   pada   paganisma   agama nenek-moyangnya,  dan  hanya  beberapa  kabilah  saja yang mau menerima agama Kristen.

Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu  -seperti  yang  sudah  kita saksikan – berpusat di sekitar Laut Tengah  dan  Laut  Merah.  Agama-agama  Kristen   dan   Yahudi bertetangga  begitu  dekat  sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak  memperlihatkan  permusuhan  yang  berarti,  juga  tidak memperlihatkan  persahabatan  yang  berarti  pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut adanya  pembangkangan  dan  perlawanan  Nabi  Isa kepada agama mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja  mau  membendung  arus agama  Kristen  yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih  berlindung  dibawah  panji  Imperium  Rumawi  yang membentang luas itu.

Orang-orang   Yahudi  di  negeri-negeri  Arab  merupakan  kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka  tinggal  di  Yaman  dan Yathrib.  Di  samping  itu  kemudian  agama Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus  kekuatan  Kristen  supaya  tidak sampai  menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh  keadaan  paganisma  di  mana saja  ia  berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya  pusat  peradaban  dunia itu ke Bizantium.

Gejala-gejala  kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya sekta-sekta Kristen yang sampai menimbulkan  pertentangan  dan peperangan antara sesama mereka. Ini membawa akibat merosotnya martabat iman yang tinggi ke dalam kancah  perdebatan  tentang bentuk  dan  ucapan,  tentang  sampai di mana kesucian Mariam:

adakah ia yang lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau  anak yang  lebih  utama dari ibu – suatu perdebatan yang terjadi di mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa  akibat hancurnya apa yang sudah biasa berlaku.

Ini  tentu  disebabkan  oleh karena isi dibuang dan kulit yang diambil, dan terus menimbun kulit itu  di  atas  isi  sehingga akhirnya  mustahil  sekali  orang  akan dapat melihat isi atau akan menembusi timbunan kulit itu.

Apa yang telah menjadi pokok  perdebatan  kaum  Nasrani  Syam, lain  lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun,  melihat  hubungannya dengan  orang-orang  Nasrani,  tidak  akan berusaha mengurangi atau menenteramkan perdebatan semacam  itu.  Oleh  karena  itu sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum Nasrani Syam dan Yaman  dalam  perjalanan  mereka  pada  musim dingin  atau  musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu

di  antara  golongan-glongan  itu.  Mereka  sudah puas dengan kehidupan agama berhala yang  ada  pada  mereka  sejak  mereka dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.

Oleh  karena  itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian  inipun  sampai kepada  tetangga-tetangga  mereka  yang  beragama  Kristen  di Najran  dan  agama  Yahudi  di  Yathrib,  yang  pada   mulanya memberikan   kelonggaran   kepada   mereka,   kemudian   turut menerimanya. Hubungan  mereka  dengan  orang-orang  Arab  yang menyembah  berhala  untuk  mendekatkan  diri  kepada Tuhan itu baik-baik saja.

Yang menyebabkan orang-orang  Arab  itu  tetap  bertahan  pada paganismanya  bukan  saja  karena  ada  pertentangan di antara golongan-golongan Kristen.  Kepercayaan  paganisma  itu  masih tetap  hidup  di  kalangan  bangsa-bangsa  yang sudah menerima ajaran  Kristen.  Paganisma  Mesir  dan  Yunani  masih   tetap berpengaruh  ditengah-tengah  pelbagai  mazhab  yang  beraneka macam dan di  antara  pelbagai  sekta-sekta  Kristen  sendiri. Aliran   Alexandria   dan   filsafat  Alexandria  masih  tetap berpengaruh,  meskipun  sudah  banyak  berkurang  dibandingkan dengan   masa  Ptolemies  dan  masa  permulaan  agama  Masehi. Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap  merasuk  ke  dalam  hati mereka.   Logikanya   yang  tampak  cemerlang  sekalipun  pada dasarnya  masih  bersifat  sofistik    dapat   juga   menarik kepercayaan   paganisma   yang   polytheistik,   yang   dengan kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.

Saya kira inilah yang lebih  kuat  mengikat  jiwa  yang  masih lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita sekarang ini. Jiwa  yang  lemah  itu  tidak  sanggup  mencapai tingkat  yang  lebih  tinggi,  jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta alam sehingga ia dapat memahami  adanya  kesatuan yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari semua yang ada dalam wujud ini,  menjelma  dalam  Wujud  Tuhan Yang  Maha  Esa.  Kepercayaan  demikian  itu hanya sampai pada suatu manifestasi alam saja  seperti matahari, bulan atau  api misalnya.  Lalu  tak  berdaya  lagi mencapai segala yang lebih tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam kesatuannya itu.

Bagi  jiwa  yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia akan membawa gambaran yang  masih  kabur  dan  rendah  tentang pengertian  wujud  dan  kesatuannya.  Dalam hubungannya dengan berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus, yang  sampai  sekarang  masih  dapat  kita saksikan di seluruh dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya  modern  dalam ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus  di  Roma, mereka  melihat  kaki  patung  Santa  Petrus yang didirikan di tempat  itu   sudah   bergurat-gurat   karena   diciumi   oleh penganut-penganutnya,  sehingga  setiap  waktu terpaksa gereja memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.

Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat petunjuk  Tuhan  kepada  iman  yang  sebenarnya Mereka melihat pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang  menjadi  tetangga mereka  serta  cara-cara  hidup  paganisma yang masih ada pada mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang  masih  menyembah berhala  itu  sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa kita tak akan memaafkan mereka.  Situasi  demikian  ini  sudah begitu  berakar  di  seluruh  dunia, tak putus-putusnya sampai saat ini, dan saya kira memang  tidak  akan  pernah  berakhir.

Kaum  Muslimin  dewasa  inipun  membiarkan paganisma itu dalam agama mereka, agama yang datang  hendak  menghapus  paganisma, yang  datang  hendak  menghilangkan  segala penyembahan kepada siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.

Cara-cara penyembahan  berhala  orang-orang  Arab  dahulu  itu banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui  seluk-beluknya. Nabi  sendiri  telah  menghancurkan  berhala-berhala  itu  dan menganjurkan  para  sahabat  menghancurkannya  di  mana   saja adanya.  Kaum  Muslimin  sudah  tidak  lagi bicara tentang itu sesudah semua  yang  berhubungan  dengan  pengaruh  itu  dalam sejarah  dan  lektur  dihilangkan.  Tetapi apa yang disebutkan dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam  abad kedua  Hijrah  – sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda karenanya – menunjukkan, bahwa sebelum Islam  paganisma  dalam bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi.

Di    samping    itu    menunjukkan   pula   bahwa   kekudusan berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap  kabilah atau  suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan. Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda  pula antara  sebutan  shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu, Wathan  demikian  juga  dibuat dari batu, sedang nushub adalah batu karang tanpa  suatu  bentuk  tertentu.  Beberapa  kabilah melakukan    cara-cara   ibadahnya   sendiri-sendiri.   Mereka beranggapan batu  karang  itu  berasal  dari  langit  meskipun agaknya  itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal  dari Yaman.  Hal  ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka tidak dikenal di Hijaz, Najd atau  di  Kinda.  Sayang  sekali, buku-buku   tentang   berhala   ini  tidak  melukiskan  secara terperinci bentuk-bentuk berhala itu,  kecuali  tentang  Hubal yang  dibuat  dari  batu  akik dalam bentuk manusia, dan bahwa lengannya pernah rusak dan oleh  orang-orang  Quraisy  diganti dengan  lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.

Tidak   cukup  dengan  berhala-berhala  besar  itu  saja  buat orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang  dan  memberikan kurban-kurban,  tetapi  kebanyakan  mereka  itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam  rumah  masing-masing. Mereka  mengelilingi  patungnya  itu  ketika  akan keluar atau sesudah kembali pulang, dan dibawanya  pula  dalam  perjalanan bila  patung  itu  mengijinkan ia bepergian. Semua patung itu, baik yang ada dalam  Ka’bah  atau  yang  ada  disekelilingnya, begitu  juga  yang  ada  di  semua  penjuru  negeri  Arab atau kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara  penganutnya dengan  dewa  besar.  Mereka beranggapan penyembahannya kepada dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada  Tuhan  dan  menyembah kepada  Tuhan  sudah  mereka  lupakan  karena  telah menyembah berhala-berhala itu.

Meskipun Yaman  mempunyai  peradaban  yang  paling  tinggi  di antara  seluruh  jazirah  Arab, yang disebabkan oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang  baik,  namun  ia tidak   menjadi  pusat  perhatian  negeri-negeri  sahara  yang terbentang  luas  itu,  juga  tidak  menjadi  pusat  keagamaan mereka.  Tetapi  yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka’bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang  berkunjung  dan  ke tempat  itu  pula  orang  melepaskan pandang. Bulan-bulan suci sangat dipelihara melebihi tempat lain.

Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan  jazirah  Arab yang istimewa, Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah. Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah kelahiran Nabi   Muhammad,   dan  dengan  demikian  ia  menjadi  sasaran pandangan dunia sepanjang zaman. Ka’bah  tetap  disucikan  dan suku  Quraisy masih menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi yang kasar  sejak berabad-abad lamanya.

Catatan kaki:

 1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.

 2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah.

   Encylopedia Britannica juga menyebutnya, dan dikutip oleh

   penulis-penulis buku Historian’s History of the World dan juga

   dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de

   Mahomet. Akan tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn

   Muhammad bahwa setelah orang Yaman itu pergi meminta bantuan

   Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan apa yang

   telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela

   agama Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah

   sebagian dimakan api, Najasyi berkata: “Tenaga manusia di sini

   banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku menulis surat

   kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan

   kukirimkan pasukanku.” Lalu ia menulis surat kepada Kaisar

   dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan:

   “Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu

   sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan

   berangkat ke pantai Mandab.” Lihat Tarikh’t-Tabari cetakan

   Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.

 3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda

   tentang sebab penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman.

   Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara Arab

   Musta’riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus

   berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang

   sepanjang Laut Merah lengkap dengan armada perdagangannya.

   Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin sekali

   menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi

   di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya

   dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang

   Najran. Tetapi karena adanya penyakit yang menyerang mereka.

   Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan

   merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawõ

   berturut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar

   Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih menguntungkan dan yang

   pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di Abisinia

   merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah

   memaksakan agama Yahudi terhadap orangorang Rumawi yang

   beragama Kristen. Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan

   berkuasa di tempat itu sampai pada waktu Persia datang

   mengusir mereka.

3 Komentar

  1. pornstarsworld.thumblogger.com said,

    I read this article completely on the topic of the difference of newest and preceding technologies, it’s amazing article.

  2. zorporno.com said,

    I relish, cause I found exactly what I used to be taking a look for.
    You’ve ended my 4 day lengthy hunt! God Bless you man. Have a great day. Bye

  3. http://www.pornoblack.org/black-whore-sucking-cock-and-getting-her-pussy-fucked said,

    When I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox
    and now each time a comment is added I get several emails with the
    same comment. Is there any way you can remove me from
    that service? Bless you!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: