SANG KOMANDAN

Sayyid Hasan Nasrullah: Kami yang Menentukan Kapan, di Mana, Bagaimana dan dengan Apa Membalas Darah
Kembali kita dipertemukan dalam acara 40 hari syahadah Imad Mughniyah. Dia akan selalu mempertemukan kita. Dalam peringatan 40 hari syahadahnya sebenarnya Imad Mughniyah tidak meninggalkan kita. Saat ini, kehadirannya menjadi lebih terasa dibanding hari-hari sebelumnya. Imad Mughniyah menjelma dalam diri kita sebagai pribadi berakal, cerdas, berpendirian, tekad, teguh, mengatur, memimpin, ketinggian akhlak, persaudaraan, penghambaan di hadapan Allah dan terdepan dalam memanggul bendera.

Telah 40 hari Imad Mughniyah meninggalkan kita dan keluarganya, namun sama seperti keluarga syuhada yang lain, kami hanya menyaksikan kesabaran terpancar dari orang-orang yang ditinggalkannya.

Saudara-saudara seperjuangannya telah memutuskan untuk melanjutkan jalannya dan siap beraktifitas menyukseskan dan mewujudkan tujuan-tujuannya.

Kami hanya melihat semangat umat kami lebih kuat. Dan kami tidak melihat musuh kami kecuali mereka semakin khawatir dan ketakutan dari semangat, darah pembalasan, jalan dan janjinya. Benar, syuhada besar memang demikian. Para penuntut balas dan komandan besar akan selalu demikian.

Saudara-saudara sekalian…

Hari ini kita memperingati hari keempat puluh syahadah Imad Mughniyah yang bersamaan dengan hari besar umat Islam dan kristiani. Saya mewakili kalian semua mengucapkan selamat hari besar ini kepada umat Islam dan kristiani. Hari besar ini merujuk pada dua pribadi besar; Isa, Ruhullah as. dan Muhammad bin Abdullah saw, Nabi Allah yang mulia. Dua pribadi besar ini dari satu orang telah berubah menjadi satu umat yang berjumlah berapa milyar. Kini, kita sebagai muslim dan kristiani sangat membutuhkan ajaran-ajaran para nabi besar. Mereka adalah pribadi-pribadi ilahi sebagai simbol nikmat Allah tertinggi bagi umat manusia. Kita harus menjadikan kehidupan dan ajaran-ajaran mereka sebagai teladan. Ketika kita berbicara tentang mereka sama artinya kita tengah berbicara mengenai iman, menyandarkan diri kepada Allah, kerja, pengorbanan, kestabilan, melayani masyarakat, mengadili para pencuri atas nama kesucian dan Ka’bah. Ketika kita berbicara tentang mereka berarti kita tengah berbicara tentang para pemimpin ilahi. Bila kita mendengarkan mereka melalui akal dan hati, niscaya kita dapat menghadapi semua tantangan dunia dan bahaya kehidupan.

Sebelum berbicara mengenai perlawanan dan syahid muqawamah Imad Mughniyah, saya ingin berbicara mengenai pribadi-pribadi ilahi ini.

Sebelum ini, sebagian pelukis dan penulis dengan alasan kebebasan berekspresi menghina al-Masih as. dan ibunya, Maryam as. Sebelum itu juga Nabi Muhammad saw telah dinistakan oleh mereka. Dengan alasan yang sama mereka menghina al-Quran. Kenyataan ini harus diprotes oleh seluruh agama di dunia.

Iman kepada utusan Allah adalah masalah keyakinan dan pribadi, namun penghinaan terhadapnya adalah masalah lain yang tidak punya hubungan dengan kebebasan berekspresi. Perhatikan Eropa! Sebelumnya ada seorang Perancis yang bekerja di salah satu kementerian Perancis dikeluarkan hanya dengan alasan menulis tentang seorang tentara Israel yang menembak anak-anak Palestina. Di sini tidak ada kebebasan berekspresi. Tapi bila seorang nabi yang memiliki pengikut satu miliard empat ratus juta jiwa dihina mereka menyebutnya sebagai kebebasan berekspresi, bahkan sebagian menteri-menteri Eropa mencoba membenarkan sikap yang demikian.

Mengapa setiap kali sebuah tema yang berkenaan dengan Israel segala larangan dapat diterjang. Sementara ketika seorang filosof besar seperti Roger Garaudy mengkaji masalah holocoust, dia harus diadili. Padahal yang dilakukannya adalah riset ilmiah. Namun penghinaan kepada Nabi adalah sesuatu yang dapat diterima!

Dunia harus memrotes masalah penistaan ini. Kita harus tahu betapa kelompok-kelompok Zionis dan Amerika menginginkan terwujudnya sebuah konflik besar antara dunia Islam dan Kristen, khususnya Eropa. Kita harus waspada dan mengetahui siapa yang berada di balik semua ini. Kita tidak boleh masuk dalam medan pertempuran yang diinginkan oleh mereka. Karena pada akhirnya Amerika dan Israel yang mengambil keuntungan dari semua ini. Suara protes harus benar-benar lantang, namun pada saat yang sama harus dilakukan dengan bijak dan ilmu. Kita harus memberitahu orang-orang Eropa mengenai perangkap yang berada di depan kaki mereka.

Saudara-saudara sekalian…

Ketika kita hendak berbicara mengenai perlawanan dan syahadah Imad Mughniyah ada satu masalah yang akan saya jadikan pijakan. Hari ini, orang-orang Israel dibandingkan hari-hari sebelumnya lebih banyak berbicara mengenai perang secara sadar. Mereka mengatakan punya perang secara sadar dengan rakyat di kawasan Timur Tengah. Apa yang mereka katakan itu memang benar. Namun dalam perang ini mereka tidak berbicara bahwa perang ini dengan kecerdikan, logika, ilmu dan argumentasi tapi dengan bahasa bunuh, kejahatan, perusakan, teror, biarkan rakyat kelaparan dan blokade.

Mereka mengatakan bahwa kami harus memblokade Gaza, karena kami ingin mengatakan kepada orang-orang Palestina bahwa rudal-rudal yang ditembakkan sangat merugikan mereka. Israel berkeinginan dengan kesadaran ini mereka ingin menghancurkan orang-orang Palestina dan ingin memahamkan bahwa pemikiran mereka itu salah.

Mereka memakai cara bunuh untuk memahamkan, teror untuk mengajari dan blokade untuk semakin waspada. Semua ini adalah metode-metode perang yang sadar menurut Israel.

Sementara itu ada kekuatan media dunia bahkan Arab yang dipengaruhi oleh Zionis dan Amerika. Media-media ini kerjanya menjustifikasi segala perbuatan Israel. Bila kesadaran ini lenyap, maka hasilnya adalah kami telah kalah dan menyerah. Sebenarnya, dengan perang berdarah yang mereka lancarkan, mereka ingin mengatakan bahwa kami lemah. Kami tidak punya harapan untuk menang dan yang ada adalah putus harapan dan kalah.

Mereka mengatakan bahwa dunia tidak memperhatikan kalian. Dunia tidak berbicara apa-apa ketika warga Gaza dan Qana tewas. Dengan dasar ini, kalian dan perlawanan kalian tidak punya harapan. Karena Israel adalah kenyataan yang abadi dan tidak ada kekuatan yang mampu menghadapinya. Setiap perlawanan terhadap Israel pasti bakal kalah.

Setelah itu, dan patut disesalkan, sebagian orang lemah yang tidak mengakui kelemahannya berusaha mengubah kenyataan yang ada dan mengatakan bahwa perlawanan adalah sebuah pilihan yang tidak logis.

Bila ada orang tua yang melakukan perlawanan menghadapi Israel, maka perjuangannya disebut budaya mati. Menurut mereka, budaya hidup adalah hidup bersama musuh haus darah dan menjadi tetangga. Kita harus tahu bagaimana berlaku dan hidup dengan mereka. Pena-pena pecundang dan kaki tangan musuh ragu akan keburukan dalam perjalanan. Sebagian dari mereka yang sebelumnya adalah penuntut balas, mujahid dan pejuang setelah berpaling dari sikap sebelumnya, kondisi mereka malah lebih buruk. Kemarilah dan ceritakan mengenai semangat kekalahan, namun ketahuilah bahwa semangat semacam ini bukan semangat bangsa Lebanon dan umat kami.

Benar, sejak awal secara sadar kami meyakini punya perang dengan orang-orang Zionis. Kewaspadaan di sisi umat dan kewaspadaan di sisi musuh. Dalam perang sadar ini kami tidak hanya membela diri dan hanya bereaksi, tapi kami juga melakukan aksi dan menyerang.

Hari ini, anak-anak kalian dan perlawanan kalian serta Imad Mughniyah di Lebanon dan Palestina telah melahirkan kewaspadaan baru bagi orang-orang Israel. Saya dapat mengatakan bahwa perlawanan menghadapi Zionis di daerah ini; Lebanon dan Palestina punya capaian-capaian yang luar biasa besar.

Kita kembali ke masa lalu…

Apakah kalian masih ingat peristiwa pada tahun 1982? Ketika saya mengatakan mengenai perlawanan maka itu maksudnya seluruh perlawanan dan tidak terbatas pada sebuah kelompok. Kami punya keyakinan perlawanan sebagai kemuliaan bagi setiap pejuang tanpa melihat keyakinan dan aliran pemikirannya. Tidak menyebut sebuah kelompok atau pribadi bukan berati tidak mau tahu dengan pengorbanannya. Seharusnya di Lebanon ditulis sebuah buku khusus tentang perlawanan, sehingga kita tidak tertawan dengan pembahasan saat ini, apakah si fulan seorang pejuang dan si fulan lain adalah pencuri? Saya khawatir suatu hari perlawanan berubah menjadi perampokan dan perampokan menjadi perlawanan.

Perang secara sadar punya tiga tahapan:

Pada tahun 1982 bentuk pertanyaan adalah apakah bisa melawan Israel? Pada masa itu yang dipermasalahkan adalah masalah ini dan hanya berperang menghadapi orang-orang Israel yang telah gila.

Hizbullah sejak tahun 1982 hingga tahun 2000 secara sadar melakukan hal itu. Benar, sebuah umat yang terpisahkan dari dunia dapat berjuang, melawan dan mengangkat senjata yang akhirnya berhasil memaksa musuh mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari. Kesadaran ini muncul pada kami dan para Zionis.

Tahap kedua, orang-orang mengatakan perlawanan Lebanon secara gagah perkasa mampu mempertahankan Lebanon, namun apakah mereka mampu mengalahkan kekuatan militer yang tak terkalahkan? Sebuah kekuatan militer yang mampu mengalahkan tentara gabungan negara-negara Arab dan didukung oleh seluruh dunia. Mereka berusaha untuk merusak kesadaran yang telah kami miliki. Alamiah sekali bila mereka memberi contoh kemenangan simbolik Israel dan kekalahan simbolik Arab (pada tahun 1976 sebenarnya perang yang disebut-sebut itu tidak bisa dikatakan sebagai perang yang sebenarnya). Selain itu mereka berbicara tentang fasilitas yang dimiliki Israel dan terus berusaha untuk membesar-besarkan kekuatan musuh dan mewujudkan keraguan akan kekuatan yang kami miliki. Pada tahun 2000, perang ini pun dimenangkan oleh kami. Pada tanggal 25 Mei tahun 2000 merupakan kemenangan strategi dan perang sesungguhnya yang berujung pada hengkangnya Israel dari Lebanon Selatan.

Namun patut diketahui, kemenangan pada tahun 2000 adalah kemenangan budaya dan mental sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan tahun 1982 yang tidak pernah dibayangkan. Di bint Jubail pada tanggal 25 Mei tahun 2000 telah terbukti betapa kekuatan militer Israel kalah dan kenyataan itu menjadi mungkin.

Pada tahun 2000 Hizbullah menunjukkan foto nyata seorang perwira dan tentara Israel. Hal itu merupakan capaian yang sangat penting dan punya pengaruh sangat dalam di kawasan dan Palestina.

Setelah kemenangan tahun 2000, pertanyaan berubah. Kini dunia Arab tidak lagi mempertanyakan apakah bisa melawan kekuatan militer Israel atau tidak? Pertanyaan seperti ini juga sudah tidak dimunculkan lagi, apakah bisa berhadap-hadapan dengan militer Israel dan mengalahkan mereka? Setelah tahun 2000 hanya tinggal satu pertanyaan:

Apakah mungkin melenyapkan keberadaan Zionis atau tidak?

Sebelum tahun 2000 ini adalah masalah yang mustahil dapat digambarkan. Setelah intifadhah pertama dan kedua perlawanan Lebanon pertanyaan seperti ini dianggap sebuah khurafat atau kegilaan. Berdasarkan hal ini banyak sekali perubahan terjadi pada proyek-proyek nasional, Arab dan revolusioner. Mereka mengatakan mari kita lebih realistis. Apa yang telah diberikan kepada kita pada tahun 1976 sudah cukup buat kita!

Namun pasca tahun 2000 pertanyaan ini kemudian muncul. Saya mengatakan bahwa pada tahun 2006 jawaban baru dan lebih kuat telah menjawab pertanyaan, mungkinkah melenyapkan Zionis. Karena di perang tahun 2006 militer Lebanon tidak ikut dalam perang menghadapi Israel. Yang sibuk melakukan perang menghadapi mereka adalah Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang menghadapi agresor dan mengalahkan mereka sekaligus menyingkap wajah sebenarnya militer dan para pemimpin politik Israel.

Israel punya gambaran jelas mengenai dirinya. Sebuah bangsa yang tidak mampu bertahan menghadapi pengeboman, pengungsian dan kesulitan terpaksa bertahan menghadapi 33 hari pengungsian dan pengeboman di siang hari. Coba bandingkan dengan orang-orang Lebanon dan Palestina yang mengungsi dan menderita selama 60 tahun. Orang-orang Israel tidak mampu menahan penderitan sebagai pengungsi selama 33 hari yang ujung-ujungnya berakhir pada kekalahan Israel. Wajah front dalam negeri Lebanon juga menjadi semakin jelas. Kemungkinan menjawab pertanyaan sebelumnya mulai mendapat tempat.

Apakah mungkin melenyapkan Israel atau tidak?

Jawabannya adalah IYA… sangat mungkin.

Setelah syahadah Haji Imad Mughniyah saya telah berbicara mengenai kemungkinan ini dan mengingatkannya sebagai sunnah ilahi yang pasti berlaku. Saya telah menyebutkan segala faktor yang berujung pada kehancuran Israel.

Sebagian orang mengatakan bahwa saya berbicara di luar budaya dan peradaban manusia. Namun lupa betapa pusat-pusat riset telah melakukan polling dan telah dirilis di koran-koran. Sebagian pertanyaan-pertanyaan yang ada disampaikan setelah syahadah Imad Mughniyah.

Saya ingin berbicara mengenai dua pertanyaan dan dua jawaban.

Pertanyaan pertama, apakah kalian mengakui telah ada aktifitas untuk menghancurkan Rezim Zionis? Pertanyaan ini berbeda dengan adakah kecenderungan untuk menghancurkan Rezim Zionis. Pertanyaan ini menjelaskan kecenderungan untuk ikut dalam aktifitas menghancurkan eksistensi Rezim Zionis.

Pertanyaan ini telah disampaikan di Lebanon yang berakibat munculnya dua kelompok dan keluar dari perang. Namun coba kita simak apa pendapat rakyat Lebanon, dari semua kelompok yang ada, menjawab pertanyaan apakah kalian mengakui telah ada aktifitas untuk menghancurkan Rezim Zionis.

90,3 persen dari kelompok Ahli Sunnah menyetujuinya dan kesimpulan ini menggambarkan sejarah realita kelompok Ahli Sunnah Lebanon. Orang-orang Kristen yang setuju adanya aktifitas ini berjumlah 77,4 persen dan dari kelompok Druze yang setuju sebanyak 66 persen. Sementara sebagian mengatakan Israel bukan musuh melainkan Suriah (merujuk pada ucapan Walid Jumblatt). Kelompok syiah yang paling banyak menjadi korban saat perang 94,3 persennya setuju.

Apakah keyakinan baru ini jauh dari kenyataan besar syahadah Imad Mughniyah?

Pertanyaan kedua polling yang bila jawabannya 50 persen saja sudah dapat diterima adalah apakah kalian yakin keberadaan Zionis tengah mengarah pada kehancuran?

55 persen dari orang-orang Lebanon punya keyakinan bahwa Rezim Zionis tengah mengarah pada masa kehancurannya dan ini hasil yang luar biasa.

Israel berusaha meneror Imad Mughniyah agar kita putus harapan dan setelah itu mereka akan mengatakan bahwa kita lemah dan dapat dikalahkan. Mereka tengah berusaha untuk menghilangkan kesadaran itu dari kita. Namun kami adalah murid-murid Imam Khomeini ra. yang mengatakan, “BUNUH KAMI, TAPI KETAHUILAH KAMI MENJADI LEBIH SADAR DAN KUAT”.

Saudara-saudara sekalian…

Israel semakin lemah, tenggelam dalam halusinasi dan kekalahan yang lebih besar. Minggu-minggu kemarin terjadi perang berdarah di Gaza. Sebagian dari orang-orang Zionis mengatakan itu sebagai holocoust Gaza. Dan pada saat yang sama dunia dan negara-negara Arab bungkam. Namun apakah Olmert dan Barak mengambil pelajaran dari perang tahun 2006, sehingga mereka ingin melaksanakan rencana mereka di Gaza?

Salah satu poin yang harus dipelajari dari perang Lebanon, yang disebutkan dalam laporan Winograd, adalah Olmert terlalu membesar-besarkan masalah dan berbicara mengenai tujuan-tujuan yang tidak mungkin dapat dilaksanakannya. Apakah mereka belajar dari semua itu?

Mari kita alihkan pandangan ke Gaza. Mereka memblokade Gaza. Sesungguhnya sejak lama Jalur Gaza dalam blokade dan pengeboman Israel. Ketika mereka menyerang dan memblokade Gaza, mereka ternyata tidak pernah mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya.

Olmert mengatakan ada dua tujuan dari penyerangan ke Gaza; pertama, penghentian tanpa syarat tembakan roket Palestina ke kota-kota Israel dan kedua, menghancurkan pemerintahan Hamas.

Ini adalah dua tujuan penting yang disampaikan secara resmi. Militer Israel mulai melakukan serangan ke Gaza dan hasilnya sama, korban terbesar adalah penduduk sipil. Dalam perang Lebanon mereka membayangkan warga Lebanon akan melakukan unjuk rasa menentang Hizbullah sehingga perlawanan mengalami kekalahan. Hal yang sama mereka pikirkan akan terjadi di Gaza. Rakyat akan melakukan unjuk rasa sampai pemerintah Hamas jatuh.

Hasilnya malah terbalik, rakyat melakukan unjuk rasa menentang Israel yang membuat Israel mendapat tekanan dunia internasional dan tembakan rudal pun berlanjut. Orang-orang Palestina tidak punya senjata lain untuk melindungi dirinya selain rudal-rudal yang dipakai itu. Bila adalah alternatif lain mungkin mereka akan melakukannya, tapi tidak ada pilihan lain.

Israel mengatakan agar Palestina menghentikan tembakan rudal mereka. Sementara Palestina mengatakan kalian harus terlebih dahulu menghentikan pembantaian rakyat tak berdosa. Rudal-rudal ini satu-satunya jalan untuk melindungi keluarga dan rumah-rumah warga Palestina. Permintaan penghentian tembakan rudal jelas sangat tidak logis.

Akhirnya, operasi militer selesai dan Israel tidak berhasil mewujudkan dua tujuan agresi mereka. Syuhada bergelimpangan dan rumah-rumah rusak. Para pemimpin Palestina berbicara mengenai kemenangan dan pernyataan mereka itu memang benar, namun orang menilai kemenangan ini sebagai rendah sama ketika mereka menganggap remeh kemenangan Lebanon. Mengapa? Karena mereka tidak mampu menyaksikan kemenangan itu, namun pernyataan seperti ini tentu saja tidak dapat mengubah kenyataan.

Saya ingin mengatakan bahwa orang-orang Israel sebaliknya dari apa yang kami pikirkan. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Itulah mengapa mereka tidak punya keberanian melakukan serangan darat ke Gaza. Mengapa? Karena dengan sedikit kerugian mereka langsung mundur. Ini kenyataan sebenarnya dari Israel.

Tentara Israel yang takut menghadap saudara-saudara Palestina kami adalah kekuatan militer yang punya perbedaan dalam fasilitas persenjataan dengan Lebanon coba mengancam akan melakukan operasi militer dan serangan darat ke Lebanon.

Kepada saudara-saudara Palestina saya ingin mengatakan bahwa kalian adalah sebuah generasi yang bakal menyaksikan kemenangan puncak, perubahan regional dan terwujudnya harapan rakyat Timur Tengah.

Dan kepada orang-orang Zionis, saya berkata kepada kalian, pasca syahadah Imad Mughniyah, sebagaimana telah saya sampaikan dalam acara pemakaman dan hari ketujuhnya, kalian diliputi ketakutan dan kekhawatiran. Tidak hanya di Palestina pendudukan, tapi di seluruh dunia kalian menjadi sangat ketakutan.

Biarkan mereka ketakutan dan merasakan ketakutan dan kekhawatiran. Hal yang selama ini kalian paksakan kepada kami. Sebagian orang di Lebanon mulai khawatir. Sebagian malah mencoba membesar-besarkan ketakutan dan kekhawatiran. Sebagian orang yang memikirkan kemungkinan terjadinya perang berusaha membangkitkan ketakutan dan kekhawatiran masyarakat.

Ketika kapal-kapal perang Amerika tiba di perairan Lebanon, tanpa malu sebagian orang malah menyambut mereka. Condoleezza Rice mengatakan, kapal-kapal perang ini untuk melindungi kepentingan kami dan sekutu-sekutu kami. Sangat alamiah bila rakyat merasa takut.

Sebagian orang malah setiap harinya mempropagandakan perang Amerika melawan Iran dan Suriah dan membuat kondisi di Timur Tengah menjadi khawatir. Sebagian lainnya malah mengatakan bahwa banyak yang telah meninggalkan Timur Tengah. Masalah ini adalah bohong dan hanya bagian dari psy war kepada kalian warga Hizbullah.

Perang bukan satu hal yang mudah. Saya tidak ingin menganalisa masalah ini. Namun saya harus mengatakan bahwa Amerika dan Israel tidak semudah itu melakukan penyerangan kepada Iran, Suriah dan Lebanon. Sebelum perang tahun 2006 dan sesudahnya sangat berbeda jauh sekali. Pengalaman Gaza juga menguatkan logika ini.

Hai ini, saya ingin mengatakan kepada orang-orang yang berbicara tentang perang bahwa kemungkinan perang bukan satu hal yang jauh dari yang diharapkan. Tapi perang tidak seperti pergi berwisata. Dan pengambilan keputusan untuk melakukan itu tidak akan mudah bagi para pemimpin Israel. Karena di Lebanon ada kekuatan perlawanan, tekad, budaya, darah syuhada dan bangsa pejuang. Sebuah bangsa yang 85 persennya, dari semua kelompok yang ada, setuju adanya aktifitas untuk menghancurkn keberadaan Zionis. Ini bangsa Lebanon. Namun ini tidak berarti kami akan membuka front perang di Lebanon Selatan. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa menghancurkan Zionis tanggung jawab Lebanon, namun ini adalah pemikiran, budaya dan kesadaran.

Oleh karenanya, Israel harus tahu betapa darah kami tidak akan membasahi jalan-jalan begitu saja. Siapa yang menumpahkan darah syuhada kami harus dibalas dan harus merasakan hal yang sama. Kami adalah bangsa yang percaya, “Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, (QS, 2:179).

Mereka bakal diqishas dan kamilah yang akan menentukan kapan, di mana, bagaimana dan dengan alat apa.

Saudara-saudara sekalian…

Semangat Haji Imad Mughniyah semakin kuat hadir di tengah-tengah Hizbullah dan berkah kehadiran ini semakin kokoh dirasakan oleh mereka dan memperkuat tekad mereka. Aktifitas kami akan melanjutkan tujuan dan rencana Syahid Imad Mughniyah. Tujuannya adalah pembebasan para tawanan. Sekalipun Imad Mughniyah telah syahid, kami tidak akan menghentikan perundingan soal tawanan bahkan melanjutkannya. Karena kami ingin salah satu keinginan Imad Mughniyah dapat terlaksana, mengembalikan para tawanan ke keluarga mereka.

Kami akan memperkuat seluruh kekuatan pertahanan kami dan berada di sisi Angkatan Bersenjata Lebanon dan orang-orang yang yakin akan kebebasan yang sesungguhnya untuk mempertahankan tanah kami. Dalam beberapa hari ke depan akan sadar betapa telah melakukan perbuatan bodoh dengan meneror komandan seperti Imad Mughniyah.

Sekaitan dengan kondisi dalam negeri Lebanon, kami sekarang tengah memandang Konferensi Liga Arab, tanpa memperhatikan apa capaian yang bakal dihasilkan. Sebagian orang berusaha menciptakan kondisi khawatir dan takut di tengan masyarakat terkait kondisi pasca konferensi. Kami berkeyakinan dengan solusi diplomatik dan akan mendukung penuh setiap upaya diplomatik demi keluar dari krisis Lebanon. Oleh karenanya, sebagian orang tidak punya hak untuk menyampaikan pandangan pribadinya dan mempertanyakan pandangan-pandangan para pemimpin oposisi.

Apa yang diinginkan oleh kelompok oposisi adalah kebaikan Lebanon dan untuk itu dibuktikan dengan lebih banyak mengalah. Sangat tragis ketika sebagian negara-negara Arab dan Barat menilai keinginan kelompok oposisi tidak logis. Tuntutan terbesar kami adalah undang-undang pemilihan yang adil dan peran serta yang realistis. Bila ini tidak logis, lalu mana yang logis? Apakah kami harus keluar dari Lebanon? Jelas, kami pasti tidak akan meninggalkan negara ini dan menyerahkannya kepada Amerika.

Pintu-pintu usulan solusi baru setelah KTT Liga Arab senantiasa terbuka. Kami berharap di KTT Liga Arab dapat dicari solusi baru bagi krisis Lebanon. Terkait dengan masalah ini, keinginan sebagian kelompok oposisi yang berusaha mewujudkan sistem terpadu yang terdiri dari kekuatan oposisi yang mendapat dukungan Hizbullah. Ke depannya, kelompok oposisi memerlukan konsolidasi dalam koridor nasional dan luas agar dapat menghadapi tantangan masa depan.

Saudara-saudara sekalian…

Peringatan syahadah Imad Mughniyah hari ini tidak akan pernah terlupakan dan tidak ada habis-habisnya. Imad Mughniyah dalam syahdahnya sama seperti dalam hidup, jihad dan perjuangannya akan tetap ada dan kami akan melanjutkan jalannya. Dalam perjuangan Imad Mughniyah hanya kemenangan yang akan kalian lihat. [ICC-Jakarta]

swaramuslim.com 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: