Bagian 2

4. Hari Tasyu’a

          Detik-detik masa di padang Karbala terus bergulir. Kamis 9 Muharram Umar bin Sa’ad mendatangi pasukannya dan berseru: “Wahai lasykar Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian! Semoga surga membahagiakan kalian.”

          Pasukan Umar segera mengendarai kuda dan bergerak ke arah daerah perkemahan Imam Husain as. Saat itu, Imam Husain as sedang dudur tertidur dalam posisi merebahkan kepala di atas lututnya. Beliau terjaga saat didatangi adindanya, Zainab Al-Kubra as yang panik mendengar suara ribut ringkik dan derap kaki kuda.

          “Kakanda, adakah engkau tidak mendengar suara bising pasukan musuh yang sedang bergerak menuju kita?!” Seru Zainab as.

          Imam Husain as menjawab: “Adikku, aku baru saja bermimpi melihat kakekku Rasalullah, ayahku Ali, ibundaku Fatimah, dan kakakku Hasan. Mereka berkata kepadaku: ‘Hai Husain, sesungguhnya kamu akan menyusul kami.’  Rasulullah juga berkata kepadaku: ‘Hai puteraku, kamu adalah syahid keluarga Mustafa, dan semua penghuni langit bergembira menyambut kedatanganmu. Cepatlah datang kemari karena besok malam kamu harus berbuka puasa bersamaku, dan sekarang para malaikat turun dari langit untuk menyimpan darahmu dalam botol hijau ini.’”

          Mendengar kata-kata Imam Husain ini, Zainab hanyut dalam suasana haru yang amat dalam. Suara rintih dan tangis keluar dari tenggorokannya yang kering. Keuda telapak tangannya menampar-nampar wajahnya. Imam Husain as mencoba menghibur adiknya.

          “Tenanglah adikku, kamu tidak celaka. Rahmat Allah pasti bersamamu.” Ujar Imam Husain as.

          Beliau kemudian berkata kepada adik lelakinya, Abbas: “Datangilah kaum itu, dan tanyakan kepada mereka untuk apa mereka kemari?”

          Abbaspun pergi ke arah musuh dan menyampaikan pertanyaan tersebut kepada mereka. Pihak musuh menjawab: “Sang Amir telah memerintahkan agar kalian patuh kepada perintahnya. Jika tidak maka kami akan berperang dengan kalian.”

          Abbas kemudian bergegas lagi menghadap Imam Husain as dan menceritakan apa jawaban musuh. Imam berkata lagi kepada Abbas: “Adikku, demi engkau aku rela berkorban, datangilah lagi pasukan musuh itu dan mintalah mereka supaya memberi kami waktu satu malam untuk kami penuhi dengan munajat, doa, dan istighfar. Dan Allah Maha Mengetahui bahwa aku sangat menyukai solat, membaca ALQuran, berdoa, dan beristighfar.”

          Abbas kembali mendatangi pasukan musuh untuk menyampaikan pesan tersebut. Setelah mendengar permintaan itu, Umar bin Saad berunding dengan orang-orang dekatnya. Sebagian orang ada yang menolak permintaan Imam Husain tersebut. Namun, Amr bin Hajjaj yang termasuk salah satu pemuka kaum berkata kepada Umar:

          “Subhanallah, seandainya mereka adalah orang-orang kafir Dailam dan mengajukan permintaan seperti ini, kamu pasti akan memenuhinya!” Umar bin Sa’ad berpikir sejenak kemudian memenuhi permintaan tersebut. Dia mengirim utusan kepada Imam Husain as. Sesampainya di perkemahan Imam Husain as, utusan Umar itu berteriak lantang: “Kami beri waktu kalian hingga besok. Jika kalian menyerah, kami akan memboyong kalian ke hadapan Sang Amir. Jika tidak maka kami tidak akan melepaskan kalian.”

 

 

5. Imam Husain as dan Para Pengikut Setianya

          Karena Imam Husain as dan rombongannya diberi waktu satu malam, maka pasukan dari masing-masing pihak kembali ke perkemahan masing-masing dengan tenang. Pada malam Asyura itu, adegan-adegan yang semakin memilukan terjadi. Rintih tangis, munajat, doa, pembicaraan, dan puisi-puisi duka dan perjuangan Ahlul Bait mengiringi putaran detik-detik gulita malam sahara Karbala. Tentang ini, Imam  Ali Zainal Abidin as putera Imam Husain as antara lain berkisah:

          “Saat itu aku sedang menderita sakit. Akan tetapi, aku mencoba mendekati ayahku untuk mendengarkan apa yang beliau katakan kepada para sahabatnya. Aku mendengar beliau berkhutbah dimana setelah menyampaikan ucapan puji dan syukur kepada Allah, beliau berkata: ‘Amma ba’du, sesungguhnya aku tidak pernah mengetahui adanya sahabat yang lebih setia dan baik daripada sahabat-sahabatku, dan tidak pula mengenal keluarga yang lebih taat dan penyayang daripada keluargaku. Maka dari itu, Allah akan memberi kalian pahala….. Aku sudah memastikan bahwa aku tidak akan bisa selamat dari (kejahatan) orang-orang itu. Sekarang, kalian aku perbolehkan untuk meninggalkan dan membiarkan aku sendirian melawan orang-orang itu, karena yang mereka inginkan hanyalah membunuhku.”

Tawaran Imam Husain as ini ditolak oleh saudara-saudara, anak-anak, dan segenap anggota keluarga serta sahabat-sahabat setia beliau. Salah seorang dari mereka mengatakan:

“Untuk apa kami harus meninggalkanmu? Apakah supaya kami hidup sepeninggalmu? Tidak. Semoga Allah tidak sekali-kali menciptakan hari seperti itu untuk kami.  Kami tidak akan berpisah denganmu. Kami akan mengorbankan jiwa kami untuk membelamu. Kehidupan sepeninggalmu adalah kehidupan yang buruk di mata Allah.”

Imam Husain as kemudian mendoakan mereka semua. Beliau memberi semangat mereka dengan besarnya kenikmataan di sisi Allah, kejayaan di akhirat. Karenanya, pedihnya hujaman pedang dan tombak kemudian menjadi sesuatu yang kecil di mata mereka. Sedemikian kecilnya sehingga mereka bahkan tidak merasakan kepedihan itu. Mereka berlomba bahu membahu untuk menggapai kemuliaan sebagai seorang yang gugur sebagai syahid membela agama dan keluarga suci Rasulullah saaw.

Imam Husain as kemudian berkata:

“Demi Allah, setelah semua kejadian ini kita alami, masa akan terus berjalan hingga kita semua keluar (hidup lagi) bersama Al-Qaim kita untuk membalas kaum yang zalim. Kami dan kalian akan menyaksikan rantai, belenggu, dan siksaan-siksaan lain yang membantai musuh kita.”

Seseorang bertanya: “Siapakah AlQaim itu?”

Imam Husain as menjawab:

“Dari kami (Ahlul Bait) terdapat dua belas orang Mahdi dimana yang pertama adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah orang yang (merupakan generasi) kesembilan dari anak keturunanku dan dialah Imam AlQaim Bilhaq. Dengannyalah Allah akan menghidupkan bumi ini setelah kematiannya, dengannyalah Allah akan menjayakan agama kebenaran ini atas seluruh agama lain, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Dia  (AlQaim) akan mengalami masa kegaiban dimana sepanjang masa ini sebagian kaum ada yang murtad sementara yang lain tetap teguh pada agama dan mencintai (AlQaim), dan mereka akan ditanya: ‘Kapankah janji (kebangkitan) ini (akan terpenuhi) jika kalian memang orang-orang yang jujur?’ Akan tetapi orang yang sabar pada masa  kegaibannya akan mengalami banyak gangguan dan didustakan. Kedudukan orang itu sama dengan pejuang yang mengangkat pedang bersama Rasulullah.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di alam maknawi Allah SWT menampakkan dosa-dosa makhluk-Nya. Kemudian, untuk menghapus dosa-dosa ini, Allah bertanya kepada ruh para nabi dan wali-Nya:

“Siapakah diantara kalian yang siap berkorban dengan jiwa, harta, dan keluarnya agar dosa-dosa ini terampuni?”

Sang pahlawan terkemuka Karbala menjawab: “Aku siap berkorban dengan semua itu?”

Allah berfirman: “Wahai Husain, apakah kamu siap untuk gugur sebagai syahid dalam keadaan haus dan lapar?”

Imam Husain as menjawab: “Aku rela untuk itu?”

Allah berfirman: “Kepalamu akan ditancapkan diujung tombak lalu dipertontonkan di kota-kota, di padang sahara, dan di dalam pertemuan-pertemuan.”

Imam Husain as menjawab: “Aku rela.”

Allah berfirman: “Jasadmu akan dicincang dan dicampakkan ke tanah tanpa pakaian.”

Imam Husain menjawab: “Aku rela.”

Allah berfirman: “Para sahabatmu juga harus terbunuh.”

Imam Husain menjawab: “Aku pasrah.”

Allah berfirman: “Hamba-hambaku (saat itu) adalah para pemudan, dan pemudamu yang berusia 18 tahun akan terbunuh di depan matamu.”

Imam Husain tetap pasrah.

Allah berfirman: “Di tengah mereka terdapat kaum wanita, dan keluargamu akan menjadi tawanan yang terbelenggu dan pertontonkan dari kota ke kota, dari rumah ke rumah, dari lorong ke lorong.”

Imam Husain pasrah.

Allah berfirman: “Puteramu dalam keadaan sakit akan terbelenggu dan dipertontonkan di atas onta dalam keadaan tanpa baju dari lembah ke lembah, dari rumah ke rumah.”

Imam Husain pasrah.

Tentang penebusan dosa ini, orang-orang yang bisa berharap mendapat syafaat dari Imam Husain as tentu saja orang-orang yang beriman kepada risalah para nabi dan ajaran suci serta mengamalkannya. Oleh sebab itu, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata:

“Penuhilah seruan para nabi, pasrahlah kepada urusan mereka, dan taatilah mereka niscaya kalian akan masuk ke dalam syafaat meeka.”

Allah berfirman:

“Pada hari tidak berguna syafaat kecuali (syafaat) orang yang Allah Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” 

“Dan berapa banyak nya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.”

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.”

Tentang ini harus diakui bahwa banyak sekali hamba-hamba Allah yang tidak memahami kebenaran ajaran Ilahi sehingga banyak kehormatan ajaran ini dicemari dengan dosa-dosa mereka. Karena itu jelas mereka tidak mungkin akan mendapatkan syafaat.

 

6. Peristiwa Malam Asyura

Syeikh Mufid meriwayatkan  kisah peristiwa malam Asyura dari  Imam Ali Zainal Abidin Assajjad as yang menceritakannya antara lain sebagai berikut:

“Pada malam sebelum hari dimana ayahku syahid aku sedang sakit dan dirawat oleh bibiku, Zainab. Tanpa kuduga, tiba-tiba ayahku memasuki kemahku. Saat itu terdapat Jun, seorang budak yang sudah dibebaskan oleh Abu Dzar, sedang membenahi pedang milik ayahku. Saat itu, ayahku sempat melantunkan syair yang mengatakan:

‘Hai zaman, persahabatan bukanlah sesuatu yang abadi, kecintaan tanpa permusuhan bukan sesuatu yang berarti. Cukuplah siang dan malam sebagian dari sahabat menghendaki pembunuhan sambil menyembunyikan permusuhan. Namun, setiap kehidupan pastilah bergerak menuju kematian sebagaimana aku, kecuali Tuhan Yang Maha Agung.

“Begitu mendengar syair ini aku yakin bahwa bencana akan segera tiba dan akan membuat manusia mulia itu pasrah kepada kematian. Karena itu, aku tak kuasa menahan tangis meski aku dapat menahan rasa takut. Namun, bibiku tak kuasa menahannya sehingga dia menangis keras dan membuka kerudungnya sambil beranjak mendekati ayahku dan berkata:

‘Hai kakakku dan cendera mataku! Hai khalifah para pemimpin terdahulu! Hai keindahan orang-orang yang akan datang, alangkah bahagianya seandainya kematian dapat mengakhiri kehidupanku sekarang juga.’

“Ayahku berkata: ‘Alangkah beratnya musibah ini. Alangkah indahnya seandainya kematian mengakhiri kehidupanku. Kini aku bagai menyaksikan lagi kematian ibundaku, ayahandaku, dan kakandaku Hasan. Hai generasi orang-orang terdahulu! Hai penolong generasi yang menyusul, hanya kamulah yang aku miliki..’ ”

Diriwayatkan pula bahwa saat itu Imam Husain as memandangi adik perempuannya, Zainab, dan berkata:

“Hai adikku, syaitan tidak akan menghilangkan kesabaranmu. Sebagaimana penghuni langit juga akan mati, penghuni bumi tidak akan ada yang tersisa. Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah. Ketentuan ada ditangan-Nya dan kepada-Nya-lah segala sesuatu akan kembali.”

Kata-kata terucap dari bibir Imam Husain as sementara kedua matanya menitikkan air mata. Beliau berkata lagi:

“Burung belibispun akan tentram dalam sarangnya bila ditinggalkan.”

Hazrat Zainab as terus menangis sambil merintihkan kata-kata:

“Betapa malangnya nasibku. Engkau terpaksa pasrah kepada kematian. Orang-orang telah meremukkan batinku. Segala sesuatu kini sangat menyakitkan jiwaku.” Sedemikian pedihnya perasaannya Hazrat Zainab sehingga dia akhirnya terjatuh ke tanah.

Imam Husain as menghampirinya dan mengusapkan sisa air ke wajah adiknya sambil berkata:

“Tenanglah adikku. Bersabarlah karena kesabaran adalah suatu kebaikan yang diciptakan Allah. Ketahuilah sesungguhnya penghuni langit dan bumi pasti akan mati. Tak ada sesuatu yang abadi kecuali Allah.  Kakekku, ayahku, dan saudaraku yang lebih baik dariku telah pergi meninggalkan dunia. Bagiku dan bagi setiap muslim ketataan kepada Rasulullah.”

“Demi hakku atasmu aku bersumpah semoga engkau sepeninggalku tidaklah mencakari wajahmu dan mengharapkan kebinasaan.”

“Sesungguhnya aku akan telah menyaksikan tak lama lagi engkau akan diperlakukan seperti budak. Orang-orang menggiringmu di depan iring-iringan kuda dan menyiksamu dengan siksaan yang amat buruk.”

Imam Ali Assajjad as berkisah: “Ayahku membawa bibiku ke hadapanku kemudian beliau kembali mendatangi para sahabatnya untuk berunding tentang hari Asyura nanti.”

 

7. Perundingan Pertengahan Malam Asyura

 Hazrat Zainab as mengisahkan: “Pertengahan malam Asyura aku mendatangi tenda adikku, Abu Fadhl Abbas. Aku menyaksikan para pemuda Bani Hasyim berkumpul mengelilinginya. Abu Fadhl berkata mereka:

‘Saudara-saudaraku sekalina, jika besok perang sudah dimulai, orang-orang yang pertama kali bergegas ke medan pertempuran adalah kalian sendiri agar masyarakat tidak mengatakan bahwa Bani Hasyim telah meminta pertolongan orang lain tetapi mereka (Bani Hasyim) ternyata lebih mementingkan kehidupan mereka sendiri ketimbang kematian orang-orang lain….’

“Para pemuda Bani Hasyim itu menjawab: ‘Kami taat kepada perintahmu.'”

Hazrat Zainab juga berkisah: “Dari kemah itu kemudian aku mendatangi tenda Habib bin Madhahir. Aku mendapatinya sedang berunding dengan beberapa orang non-Bani Hasyim. Habib bin Madhahir berkata kepada mereka:

‘Besok, tatkala perang sudah dimulai, kalianlah yang harus terjun terlebih dahulu ke medan laga, dan jangan sampai kalian didahului oleh satupun orang dari Bani Hasyim, karena mereka adalah para pemuka dan junjungan kita semua…’ “

“Para sahabat Habib bin Madhahir berkata: ‘Kata-katamu benar, dan kami akan setia mentaatinya.’ “

Malam Asyura itu seakan diharapkan segela berlalu untuk menyongsong pagi dan siang yang akan mementaskan adegan keberanian pahlawan-pahlawan Karbala yang bersenjatakan keperkasaan iman dan semangat pengorbanan yang besar, semangat altruisme yang kelak terpahat dalam prasasti keabadian sejarah.

Namun demikian, kegagah beranian  para pejuang Islam tentu saja mempersembahkan adegan haru biru yang merenyuhkan simpati, empati, dan hati nurani setiap insan sejati. Karenanya, dalam kitab Maqtal Al-Husain tercatat untaian syair yang menyatakan:

“Seandainya hari Asyura itu mengerti apa yang akan terjadi di dalamnya, niscaya fajarnya tidak akan menyemburat dan bersinar, sebagaimana mentarinya juga tak akan mengguyur cahaya untuk menyajikan siang.”

Imam Husain as dan para pengikutnya kemudian menghabiskan saat-saat malam Asyura itu dengan ibadah dan munajat. Rintihan dan doa mereka terdengar bagai dengung lebah. Masing-masing melarutkan diri dalam suasana khusuk sujud, dan tengadah tangan doa di depan Allah SWT.

Malam Asyura adalah malam perpisahan keluarga suci Rasulullah saaw di alam fana. Saat itu adalah malam pembaharuan janji dan sumpah setia yang pernah dinyatakan di alam zarrah untuk kemudian dibuktikan pada hari Asyura.

Imam Husain as sendiri sangatlah mendambakan terlaksananya janji itu. Malam itu Allah mengutus malaikat Jibril as untuk membawakan catatan ikrar yang pernah dinyatakan Imam Husain as agar cucu Rasul ini memperbaharui janjinya itu. Saat tiba di depan Imam Husain as, Jibril as berkata:

“Hai Husain, Allah SWT telah berfirman: ‘Jika kamu menyesali janjimu itu, maka boleh menggagalkannya, dan Aku akan memaafkanmu.’ “

Imam Husain as menjawab: “Tidak, aku tidak menyesalinya.”

Malaikat Jibril as kemudian kembali ke langit, dan tatkala fajar menerangi cakrawala untuk menyongsong pagi, Imam Husain as dan rombongannya yang sudah kehabisan bekal air terpaksa bertayammum untuk menunaikan solat Subuh jamaah. Seusai tahiyat dan salam Imam Husain as berdoa kepada Al-Khalik:

“Wahai Engkau Sang Maha Penolong orang-orang suci, Wahai Sang Maha Pengampun di hari pembalasan,  sesungguhnya ini adalah hari yang telah Engkau janjikan, dan hari dimana kakekku, ayahku, ibuku, dan kakakku ikut menyaksikan.”

Imam Husain as kemudian membaca awal surat Al-waaqi’ah:

“Tatkala peristiwa besar (hari kiamat) terjadi, tidak ada seorangpun yang dapat mendustakan kejadiannya.”

Malaikat Jibril as berkata: “Hai Husain, hari ini engkau harus terjun ke medan laga dengan jiwa yang penuh kerinduan sebagaimana kerinduan setiap orang kepada kekasihnya.”  

Imam Husain as menjawab: “Hai Jibril, sekarang lihatlah mereka yang terdiri dari orang-orang tua dan muda, kaya dan miskin, serta para wanita yang rambutnya sudah lusuh, para hamba sahaya, dan para anggota rumah tangga ini telah aku bina sedemikian rupa sehingga untuk menjadi tawananpun mereka siap. Mereka inilah Ali Akbar, Abbas, Qasim, ‘Aun, Fadhl, Jakfar, serta para pemuda yang sudah dewasa, dan inilah mereka sekumpulan kaum wanita dan anak-anak, mereka semua telah aku bawa aku korbankan sebelum kemudian akupun akan menyerahkan nyawaku.”

Jibril as menjawab: “Hujjahmu sudah sempurna, maka sekarang bersiaplah untuk menyambut cobaan besar..”

Jibril as kemudian terbang ke langit sambil berseru: “Hai pasukan Allah, segeralah mengendarai kuda!”

Mendengar suara ini, segenap pasukan Imam Husain as bergegas mengendarai kuda kemudian membentuk barisan kecil di depan barisan raksasa pasukan musuh.

Saat pasukan Umar bin Sa’ad juga sudah mengendarai kuda dan siap membantai Imam Husain as dan rombongannya, Imam Husain as memerintahkan Barir bin Khudair untuk mencoba memberikan nasihat lagi kepada musuh. Namun, apalah artinya kata-kata Barir untuk musuh yang sudah menutup pintu hati nurani mereka itu. Apapun yang dikatakan Barir sama sekali tidak menyentuh jiwa dan perasaan mereka.

Dalam keadaan sedemikian rupa, Imam Husain as bertahan untuk tidak memulai pertempuran antara pasukan hak dan pasukan batil itu. Sebaliknya, beliau masih membiarkan dirinya tenang manakala pasukan Umar bin Sa’ad sudah mulai berulah di sekeliling perkemahan Imam Husain as dengan menggali parit dan menyulut kobaran-kobaran api.

Saat suasana bertambah panas, Syimir bin Dzil Jausyan berteriak keras memanggil Imam Husain as.

“Hai Husain!” Pekik Shimir, “Adakah kamu tergesa-gesa untuk masuk ke dalam neraka sebelum hari kiamat nanti?!”

Begitu mengetahui suara itu berasal dari mulut Syimir, Imam Husain as membalas: “Hai anak pengembala sapi, kamulah yang pantas menghuni neraka.”

Melihat kebejatan Syimir kepada cucu Rasul itu, Muslim bin Ausajah mencoba melepaskan anak panahnya ke tubuh Syimir. Namun Imam Husain as mencegahnya.

“Jangan!” Seru Imam Husain as. “Sesungguhnya aku tidak ingin memulai peperangan.”

Diriwayatkan bahwa Habib bib Madhahir telah memanfaatkan kegelapan malam untuk mendatangi kabilahnya, Bani Asad, dan menjelaskan duduk persoalan kemudian meminta mereka membantu Imam Husain as. Abdullah bin Bashir adalah orang pertama menyatakan permintaan itu. Dia kemudian disusul oleh beberapa orang lain hingga berjumlah sekitar 90 orang. Namun, saat mereka bergerak ternyata ada seorang pria munafik dari Bani Asad yang melaporkan kejadian ini kepada Umar bin Sa’ad dan memberitahunya tentang gerakan tersebut. Umar bin Sa’ad lantas mengirim 400 pasukan di bawah pimpinan Arzaq untuk mencegat gerakan pasukan kabilah Bani Asad. Pasukan Bani Asad itu akhirnya mundur setelah berhadapan dengan pasukan musuh dalam jumlah yang besar. Habin bin Madhahir sendiri kembali ke Imam Husain dalam keadaan luka-luka dan menjelaskan kejadian yang dialaminya. (Nasikh Attawarikh juz 2 hal.190.

1 Komentar

  1. ali said,

    minta puisi tentang asyura dong, yang bagus….
    sekalian saran rencana buat acara asyura…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: