3 Mei, 2008 at 4:22 pm (2. PERTEMPURAN DI BALAKOT)

Pada tanggal 6 Mei 1831 di lembah  terbuka  Balakot  terjadi
pertempuran  sengit  antara pasukan Sabilillah yang dipimpin
oleh  syed  Akhmad  Berelvi  melawan   pasukan   Sikh   dari
kemaharajaan  Ranjit  Singh Punjab. Pada pertempuran Balakot
itulah  syed  Ahmad  tewas.  Kekalahan   beliau   disebabkan
pengkhianatan  beberapa  suku  yang  membalik membantu musuh
serta membocorkan seluruh rencana syed Ahmad.
 
Maka berakhirlah  karier  gemilang  dari  seorang  pembaharu
agama  dan  kemasrakatan,  organisator  dan  penggerak motor
jihad di anak benua itu. Syahidnya beliau berarti awan gelap
meliputi  kehidupan kaum muslimin. Di hadapan mereka berdiri
tegak kekuatan  raksasa  bangsa  Sikh  dan  bangsa  Inggris,
bagaikan  dua buah tombak yang dihunjarnkan pada tubuh Islam
sekaligus. Kaum muslimin hampir saja kehilangan milik mereka
yang   paling  berharga  kepribadian  Islamnya.  Namun  pada
hakikatnya apa yang telah diwariskan oleh syed Ahmad Berelvi
pada  mereka yang ditinggalkan, sangat berharga. Titik-titik
cerah dari cahaya Islam  masih  menerobos  awan  gelap  yang
meliputi  kaum  Muslimin.  Kekuatan  bertahan serta kekuatan
untuk  bangkit  kembali  masih  ada  pada   mereka.   Justru
kekuatan-kekuatan  itulah  yang  sanggup  menyambung  gairah
untuk hidup, kendati  mereka  berada  di  bawah  cengkeraman
bangsa  Sikh. Semangat jihad yang disponsori oleh syed Ahmad
Berelvi terus tertanam pada generasi Muslim sesudah  beliau.
Peristiwa  Balakot  mendorong  mereka  untuk  lebih  waspada
terhadap unsur-unsur di  dalam  tubuh  sendiri  yang  secara
tidak   terduga-duga   membalik   berkhianat   dan  membantu
musuh-musuh Islam.
 
Syed Ahmad Berelvi adalah dari keluarga Shah Waliullah  dari
Delhi yang selalu menanamkan petuah-petuah Agama pada beliau
serta menanamkan doktrin hidup "keras terhadap kuffar, lemah
lembut pada sesama saudara." Doktrin hidup tersebut tertanam
dalam-dalam pada lubuk hati syed Ahmad.
 
Waktu itu Punjab ada di bawah  kekuasaan  bangsa  Sikh  yang
memperlakukan kaurn Muslimin dengan tindakan-tindakan kejam,
keji, pembunuhan, penghinaan terhadap Agama Islam  yang  tak
habis-habisnya.  Dalam  suasana  yang  demikian mencekam itu
bersama-sama dengan cucu Shah Waliullah, Shah  Ismail,  Syed
Ahmad  membangun  gerakan  yang paling berani, gerakan untuk
berjihad. Mula-mula gerakan itu bersemi dari Bengal kemudian
ke  Bihar terus ke Utra Pradeis dan dari sana beliau bersama
pasukan sabilnya mengadakan long March  ke  suatu  pangkalan
yang  beliau  tuju.  Dari situlah syed Ahmad mengumandangkan
takbir jihadnya. Di Panjtar pasukan  sabilillah  syed  Ahmad
berhadapan  dengan pasukan Perancis tentara sewaan raja Sikh
Ranjit Singh yang dipimpin oleh  Jendral  Ventura.  Serangan
mendadak  pasukan  Ventura  itu  dapat ditangkis dan dihalau
oleh pasukan syed Ahmad; kemudian beliau bersama  pasukannya
melancarkan   serangan-serangan  balas.  Daerah-daerah  yang
berhasil dibebaskan oleh beliau kemudian  ditegakkan  sistim
pemerintahan Khalifah sebagaimana zaman Khulafaur-Rasyidin .
 
Operasi   jihad  yang  dilancarkan  syed  Ahmad  itu  sangat
menggetarkan hati musuh-musuhnya. Semenjak  itu  lawan-lawan
Islam  gentar  bila mendengar kata-kata "jihad" saja. Itulah
sebabnya mereka menanam benih-benih perpecahan  di  kalangan
pengikut-pengikut  syed  Ahmad,  guna  melumpuhkan keampuhan
gerakan jihadnya.
 
Pada peristiwa  Balakot,  karier  gemilang  seorang  mujahid
sampai  pada  akhirnya.  Beberapa suku yang bergabung dengan
beliau menggunting dalam lipatan; mereka membocorkan seluruh
rencana  syed  Ahmad,  dan  tatkala pasukan Sikh melancarkan
serangan dahsyat, mereka membalik membantu musuh-musuh Islam
itu.  Maka jatuhlah korban-korban syuhada' dan diantara para
korban itu syahidlah syed Ahmad Berelvi.  Pengabdian  beliau
pada   Agama   dan   Negara   tidak   sia-sia.  Mereka  yang
ditinggalkan menjadi pewaris-pewaris sejati yang  meneruskan
gerak-langkah jihad di kemudian hari.1
 
Catatan kaki:
 1 Hassan Kaleemi, The jihad movement of syed Ahmad
   Shaheed, Perspective vol 11 & 12, 1969, Pakistan
   Publications Karachi, hal. 63/64/65.
Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

3 Mei, 2008 at 4:18 pm (1. JATUHNYA BENTENG SRINGAMATAM)

Pada tanggal 4 Mei  1799  Sultan  TIPU  dari  Mysore,  India
gugur.  Putera dari negarawan terkenal Sultan Heidar Ali itu
tewas  dalam  pertempuran  yang  tidak   sebanding   melawan
Inggris.  Syahidnya  Sultan  Tipu  telah mengawali terbitnya
fajar baru abad 19  Masehi  dengan  lembaran  sejarah  suram
serta isyarat lampu merah bagi muslimin India.
 
India  semenjak itu merupakan kaca perbandingan bagi seluruh
Asia yang mencerminkan penderitaan-penderitaan yang  dialami
ummat Islam. Ia seolah-olah merupakan sarang kesukaran ummat
dan tubuh yang  sangat  menderita  oleh  kesukaran-kesukaran
itu.  Pada  peristiwa  jatuhnya  benteng  Sringamatam, tidak
kurang dari 1000  kanon  (meriam)  yang  jauh  lebih  modern
keadaannya  jatuh  ke  tangan  musuh.  Success  yang dicapai
Inggris sehingga jatuhnya  kerajaan  Islam  yang  jaya  itu,
tidak  lain  karena  bantuan  para  pengkhianat  orang-orang
seperti Nizam dan  Marathas,  penguasa-penguasa  wilayah  di
tetangga sultan.
 
Pada   mulanya  mereka  hanya  kelihatan  bersahabat  dengan
Inggris. Justru sikap lahiriyah  yang  bersahabat  itu  saja
sudah  menjengkelkan  hati  sultan. Beliau telah mensinyalir
bahwa kedatangan orang-orang Inggris ke negerinya bukan saja
sebagai  pedagang, akan tetapi mereka menyusun pergerakan di
bawah tanah yang sangat  membahayakan  kestabilan  kerajaan.
Itulah  sebabnya  beliau  memberi peringatan-peringatan pada
Nizam dan Marathas agar keduanya  tidak  mendekati  Inggris.
Namun peringatan-peringatan beliau itu tidak dihiraukan.
 
Karena  situasi  yang  membahayakan  maka Sultan Tipu segera
mengadakan kontak dengan Turki dan Iran, minta  agar  negara
itu  bersedia  membangun  pangkalan  angkatan laut yang kuat
bagi  sultan.  Usaha-usaha  pendekatan  ini   cepat   sekali
tertangkap  oleh  jaringan  mata-mata  Inggris yang tersebar
luas dalam kalangan anak negeri. Effeknya sangat  merugikan,
sehingga  rencana-rencana  sultan jadi gagal. Pada saat-saat
itulah,  tepatnya  pada  tahun  1791   Inggris   melancarkan
serangan  mendadak  dengan  bantuan  kawan-kawan,  Nizam dan
Marathas dimana kedua golongan ini telah berjanji setia.
 
Betapa sedihnya hati sultan terhadap  tindakan  mereka  yang
hina  itu.  Negeri  yang  dibangunnya  begitu payah sehingga
menjadi makmur dan kuat, dimana industri dan pertanian maju,
sistim tuan tanah dihapuskan, irigasi dan bendungan dibangun
secara modern; hubungan perdagangan  antar  kota  dan  antar
negara pesat, kapal-kapal dagang yang besar banyak berlabuh.
Lebih dari itu  kemajuan  yang  dicapai  Sultan  Tipu  dalam
bidang  militer  sungguh  menakjubkan;  kanon-kanon (meriam)
modern yang lebih baik dari milik Inggris serta armada kapal
perang  bahkan beberapa penulis sejarah mencatat Sultan Tipu
telah memiliki senjata-senjata roket yang ampuh. Semua hasil
jerih  payahnya  itu  telah  dipersiapkan  oleh  orang-orang
sebangsanya untuk dihadiahkan pada Inggris.
 
Setahun kemudian yakni tahun 1792 di Sringamatam pusat  dari
kerajaan  sultan,  para  pengkhianat  itu  memperkokoh  lagi
persahabatan  mereka  dengan   Inggris   dengan   perjanjian
pertahanan  bersama.  Peristiwa tersebut menusuk hati sultan
begitu parahnya sehingga beliau meninggalkan  makan  makanan
istana,  bahkan  beliau tidak lagi berbaring di peraduannya,
melainkan seringkali tampak  tertidur  dengan  kemelut  jiwa
yang dalam, di atas sebuah batu.
 
Beliau berusaha bangkit kembali dari awal-awal keruntuhannya
itu, namun kondisi dan situasi negeri  sudah  begitu  parah,
sehingga  segala  daya  upaya  sultan menjadi lumpuh. Bahkan
klimax dari awal-awal kehancuran telah tiba. Pada  saat-saat
yang  demikian  beliau  mengirim pasukan-pasukan ke berbagai
daerah wilayahnya untuk  mengembalikan  kestabilan  keamanan
serta  kepercayaan rakyat pada beliau. Saat-saat itulah yang
dinanti-nantikan  para  pengkhianat,   saat-saat   kosongnya
pasukan   pertahanan  di  ibukota  kerajaan.  Mereka  segera
mengundang sahabat mereka Inggris untuk  melakukan  serangan
mendadak  lagi.  Undangan mereka itu tidak disia-siakan oleh
Inggris.  Dengan  kekuatan  pasukan   yang   besar   Inggris
melakukan pengepungan tapal-kuda atas benteng Sringamatam.
 
Sultan  Tipu  sangat  terkejut  atas  hadirnya  musuh secara
tiba-tiba itu. Dengan beberapa  pengiringnya  beliau  keluar
dari  benteng  untuk  melihat  dari dekat gerak-gerik musuh.
Tatkala beliau balik  pulang  ke  benteng,  tiba-tiba  pintu
gerbang  benteng  itu  telah  tertutup. Orang-orang pengabdi
Inggris di dalam benteng itu telah menutup pintu gerbang dan
menjebak Sultan Tipu dalam perangkap yang tidak berdaya.
 
Pada  saat-saat  itulah  pasukan  Inggris  menyerang  beliau
dengan suatu pukulan dahsyat. Namun Sultan yang gagah berani
itu  melawan  mati-matian  bahkan pada akhirnya beliau masih
sanggup membendung arus kekuatan musuh hingga  hari  petang.
Padahal  sejak  pagi  hari  beliau  tidak  makan  dan minum.
Keadaan  yang  drastis  ini  sangat  memllukan   hati   para
pengiringnya. Salah seorang mendekati beliau dan menyarankan
agar menyerah saja demi  keselamatan  belia!  sendiri.  Akan
tetapi Sultan Tipu dengan nada keras dan marah berkata:
 
  "Lebih baik bagiku hidup singkat dan mati sebagai
   singa, daripada hidup untuk seratus tahun namun tetap
   terhina."
 
Akhirnya pada tanggal 4 Mei 1799 Sultan Tipu syahid  bersama
Jatuhnya  benteng  Sringamatam  dan  kerajaannya. Kemenangan
Inggris atas diri beliau semata-mata karena ada  orang-orang
dalam  yang  berkhianat,  menggunting  dalam lipatan menohok
kawan seiring. Semenjak itulah  setapak  demi  setapak  anak
benua  itu  dicaplok  oleh Inggris. Bersama-sama dengan kaum
Sikh, Inggris dan orang dalam  yang  mengabdi,  ummat  Islam
berada  di  ujung dua tombak yang mematikan, membunuh segala
milik pribadi mereka. Islam di India  redup  bagaikan  lampu
kehabisan minyak.1
 
Catatan kaki:
 1 M. Zahoor Amed, The sultan who slept on stone,
   perspective vol V, no. 11 & 12, 1972, Time Press
   Karachl, hal. 70/71.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mirza Jumpa “Tuhannya” (Kisah tentang “Tetes-tetes Merah”)

3 Mei, 2008 at 4:07 pm (9. MIRZA JUMPA "TUHANNYA")

Mungkin dikarenakan gagal memperoleh balasan  cintanya  pada
dara   ayu   Muhammadi   Begum,  mungkin  dikarenakan  gagal
menyembunyikan perangai-perangainya yang  buruk  dan  kejam,
mungkin juga dikarenakan gagal melaksanakan tugasnya sebagai
nabi  palsu,  atau  mungkin  dikarenakan  gagal   memelihara
kondisi  tubuhnya  maupun  jiwanya,  atau last but not least
dikarenakan jeritannya yang pilu di lembah  Golgotta  Qadian
itu,  maka  orang  ini  yakni Jesus Kristus dari India Mirza
Ghulam Ahmad, mendapat simpati dan belas kasih dari BAPAKNYA
di sorga untuk istirahat serta mendapat cuti.
 
Mirza Ghulam Ahmad tidak cuti ke Srinagar Kashmir menziarahi
Jesus Kristus IsraeIi atau cuti ke London menghadap  tuannya
British,  melainkan  ia cuti naik ke atas, ke langit ketujuh
terus lagi ke Sidrah Muntaha,  terus  lagi  dan  terus  lagi
sampai  ke tempat dimana tuhan Bapaknya bertahta. Tentu saja
kisah cuti berlibur Mirza  Ghulam  Ahmad  itu  adalah  kisah
"Mi'raj"nya  yang  paling  hebat,  lebih  hebat  dari  pada,
seandainya ia sanggup mengeringkan lautan India. Inilah  dia
jalan cerita "mi'raj" Mirza Ghulam Ahmad:
 
KISAH TENTANG "TETES-TETES MERAH"1
 
"Waktu itu musim panas bulan  Mei  atau  Juni  1884,  ketika
Hazrat  Ahmad  selesai  sembahyang  subuh  pada  suatu  pagi
menyingkir  ke  sebuah  kamar  sebeIah  timur  dari   mesjid
Mubarak.  Tempat  itu sejuk disebabkan tembok-temboknya baru
dilepa (diplaster). Beliau membaringkan diri di atas  sebuah
carpai (semacam balai-balai tempat tidur dengan alasnya tali
yang dianyamkan pada bingkainya) yang beliau biasa  sediakan
di  sana.  Carpai  itu  tak  berlapik  atau  bantal.  Beliau
berbaring menghadap ke utara dengan kepala  ke  arah  barat.
Lengannya  yang  sebelah dijadikan sebagai bantal dan lengan
yang satu beristirahat di atas kepala.
 
Maulvi  Abdullah  Sanauri   mulai   memijiti   kaki   beliau
sebagaimana  lumrahnya orang timur untuk memperlihatkan rasa
hormat dan bakti; dan beIiau ini mengatakan bahwa waktu  itu
ialah hari Jum'at, hari ke 27 bulan Ramadhan.
 
Beliau  tengah  menekuri  dan  merasa-rasakan  akan besarnya
nikmat yang melimpah atas  diri  beliau,  tiba-tiba  sekujur
badan Hazrat Ahmad sekonyong-konyong menggigil. Hazrat Ahmad
menoleh kepada Maulvi Abdullah Sanauri  yang  dapat  melihat
bahwa kedua belah mata hazrat Ahmad berlinang-linang.
 
Beberapa  saat  sesudah  itu  beliau  melihat setetes cairan
berwarna merah di atas salahsatu kaki hazrat Ahmad, di dekat
mata kaki, dan nampaknya baru saja saat itu menetes.
 
"Saya raba dengan satu tangan kanan saya," kata beliau,  dan
kemudian  saya menciumnya, tetapi tidak ada baunya. Kemudian
saya perhatikan ada lagi tetes besar  di  kemeja  beliau  di
betulan  rusuk  beliau.  Tetes  itu  juga  masih  baru. Saya
berdiri perlahan-lahan dan melihat ke  sekitar  kamar  untuk
menyelidiki  sumber  atau  sebab  dari pada tetes-tetes itu.
Kamar  itu  ukurannya  kecil  berlangit  rendah,  dan   saya
selidiki  dengan  cermat  tiap sudut supaya saya merasa puas
tetapi tidak nampak sesuatu jejak yang kiranya dapat menjadi
sebab adanya tetes-tetes merah itu.
 
Oleh karena itu saya duduk lagi di  atas  carpai  dan  mulai
memijit-mijit  kaki  Hazrat  Ahmad.  Beberapa detik kemudian
beliau bangkit lalu keluar dari kamar dan duduk  di  mesjid.
Saya  mengikuti ke sana dan duduklah saya di belakang beliau
untuk memijit pundak beliau. Lalu saya bertanya pada  beliau
tentang  tetes-tetes  itu.  Beliau  menjawab dengan acuh tak
acuh, tetapi saya bertanya lagi atas pertanyaan  itu  beliau
kembali bertanya, bahwa tetes-tetes apa yang saya maksudkan.
Saya menunjuk pada tetes yang melekat di kemeja beliau.
 
Beliau  melihatnya  dan  kemudian  menerangkan  kepada  saya
dengan  beberapa  tamsil  akan  gejala-gejala  suatu  kashaf
dengan mana beberapa hal yang nampak dalam pandangan  ghaib,
benar-benar  terwujud  ke  dalam alam fisika. Apa yang telah
terjadi dituturkan oleh Hazrat Ahmad sebagai berikut:
 
"Didalam kashaf dalam keadaan bangun,  nampak  padaku  suatu
gedung  yang  anggun lagi indah. Di dalamnya ada sebuah sofa
yang di atasnya duduk seseorang yang  berkepribadian  hebat.
Dia  adalah  TUHAN sendiri. Pikiranku merasa seolah-olah aku
menjadi seorang petugas di dewan Ilahi. Aku telah menuliskan
dekrit-dekrit  tertentu  yang kupersembahkan di hadapan YANG
MAHA KUASA untuk di tandatanganiNya. Aku diajakNya duduk  di
atas  sofa  itu  dengan  rasa kasih dan sayang yang mendalam
seperti seorang ayah.
 
Kemudian IA mencelupkan tangkai pena-NYA  ke  tempat  tinta,
digoyangkanNYA sedikit, dan kemudian menandatangani dokumen-
dokumen itu. Tetes-tetes merah yang kaulihat adalah dia  itu
yang jatuh dari tanganNYA tatkala IA menggoyangkan NYA."
 
Kemudian Hazrat Ahmad meminta kepada  Maulvi  Sanauri  untuk
melihat  apakah  barangkali  ada tetes-tetes yang jatuh pada
bajunya; dan alangkah gembiranya  beliau  ketika  dilihatnya
bahwa  satu tetes terdapat pula pada kopiyah beliau sendiri.
Maulvi Sanauri Abdullah sangat tergerak hatinya dan terkesan
oleh  gejala  yang  ajaib  itu,  dan karena beliau merupakan
saksi dari tindakan  kecil  dari  penciptaan  Ilahi,  beliau
meminta  kepada  hazrat  Ahmad  untuk memberikan kemeja yang
dibekasi oleh tetes-tetes merah itu.
 
Hazrat Ahmad yang mempunyai roh  seperti  Rasulullah  s.a.w.
agak segan dan ragu-ragu, takut kalau-kalau di kemudian hari
para pengikut beliau akan memuja-muja kemeja itu akan tetapi
ketika  Maulvi  Sanauri  mendesaknya  juga,  akhirnya Hazrat
Ahmad memberikannya kepada beliau dengan satu syarat,  bahwa
kemeja  itu  harus  dipendam  bersama  beliau apabila beliau
meninggal dunia.
 
Maulvi Abdullah Sanauri ketika itu berusia  duapuluh  tahun.
Beliau  datang ke Qadian dua tahun sebelum itu. Beliau tetap
sebagai seorang sahabat imam Mahdi yang setia  sampai  akhir
hayat  beliau. Beliau pulang ke rahmatullah pada hari Jum'at
tanggal 7 Oktober 1927. Beliau dikebumikan dengan mengenakan
kemeja peringatan yang dibekasi tetesan tinta kudus itu yang
beliau bawa serta selama-lamanya ke mana-mana,  siang  malam
selama  43  tahun lamanya. Beliau tidak pernah bercerai dari
kemeja itu. Kemeja itu merupakan suatu tanda yang murni dari
Tuhan  dan  suatu  hadiah yang berharga yang seorang manusia
dapat peroleh dari atas.  Beliau  simpan  benda  pusaka  itu
baik-baik di dalam sebuah peti kayu yang khusus dibuat untuk
itu, yang sebelah atasnya dipakaikan kaca,  dan  kemeja  itu
dilipatnya  sedemikian  rupa  hingga  tetes-tetes  merah itu
dapat terlihat.
 
Atas perintah dari Hazrat Khalifatul Masih II (imam  jema'at
yang  sekarang,  Khalifah  II  meninggal  tahun 1965 - pen.)
beliau suka mempertunjukkan kemeja  itu  kepada  orang-orang
sehingga  saksi-saksi  dari pertanda ilahi itu mungkin sudah
berjumlah ribuan orang banyaknya. Diantara  saksl-saksi  itu
dapat  disebutkan  bapak  Maulvi  Zaini Dahlan, bapak Maulvi
Abubakar Ayyub H.A, bapak Maulvi Ahmad Nurdin dan  lain-lain
dari Indonesia yang sedang belajar di Qadian pada waktu itu.
Acapkali beliau memandangnya  dengan  air  mata  menggenangi
kedua  mata  beliau karena dirangsang oleh perasaan suka dan
duka.  Muka  beliau  akan  menjadi  bersinar-sinar  layaknya
sewaktu  memandangi  benda hadiah yang amat berharga itu dan
tiba-tiba saja akan berubah menjadi lesu  dan  sayu,  karena
kenangan  beliau sampai kepada seorang yang beliau cinta dan
khidmati setiap detik seumur hidup beliau.2
 
Demikianlah cerita kejadian yang  unik  tentang  tetes-tetes
merah   itu.  Suatu  peristiwa  yang  merupakan  saksi  dari
tindakan kecil, kata Ahmadiyah, dari penciptaan llahi. Suatu
tindakan kecil dari Tuhan? Amboi, itu adalah sebaliknya; itu
adalah suatu peristiwa besar, peristiwa hebat,  maha  hebat.
Itu  adalah  kissah  mi'raj nabi dari india, kisah pertemuan
mesra dengan tuhannya kisah pertemuan anak dengan  Bapaknya,
kisah  penanda-tanganan  dekrit,  kisah  baliknya  sang nabi
dengan  dokumen  bertanda-tangan  TUHAN.  Itu  adalah  kisah
jatuhnya  tinta  Tuhan  ke  dunia,  kisah  pemberian  hadiah
orisinil dari  atas,  kisah  ribuan  mata  saksi-saksi  dari
kemeja sang nabi yang kena tinta merah Tuhannya.
 
Bahkan  itu  semuanya  adalah  kejadian  yang  terhebat yang
pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia. Maka ketahuilah,
inilah  bukti  yang tidak bisa dibantah oleh seorangpun dari
pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Setiap Ahmadiah  harus
meyakininya.
 
Menanggapi  kisah  tetes-tetes  merah  dan kisah mi'raj nabi
Qadian itu, baik dari segi  alam  spirituil  yang  mempunyai
hukum-hukum  tersendiri,  maupun  dilihat dari segi dimensi
lain yang tidak tertangkap oleh sembarang orang, maka  tidak
seorang  immaterialispun  yang  akan  percaya pada peristiwa
yang dialami Mirza Ghulam. Lebih-lebih  lagi  orang  beriman
tauhid  akan  mencampakkan  cerita  dari  Ahmadiyah  itu  ke
keranjang sampah.
 
Itu adalah suatu kejenakaan dan  suatu  kegilaan!  Peristiwa
itu  lebih berani dari pada peristiwa Isa a.s. yang diangkat
oleh kaum Keristen  sebagai  anak  Tuhan  sekaligus  sebagai
tuhan   Yesus.   Alam   spirituil  yang  manakah  yang  akan
mempercayai cerita  Mirza  Ghulam  Ahmad  itu?  Kalau  tidak
kebatilan-kebatilan yang sengaja menyusup ke dalam Islam.
 
Mirza Ghulam Ahmad telah menjadi arsitek  tuhannya,  melihat
tuhannya  sebagai "Seseorang yang berpribadian hebat, sedang
duduk di atas sofa  dalam  suatu  gedung  yang  anggun  lagi
indah,   kemudian  Mirza  mengajukan  dokumen  dan  tuhannya
menandatanganinya, dengan mencelupkan dahulu tangkai penanya
yang  kemudian  di-goyangkanNYA dan karena goyangan itu maka
beberapa  tetes  telah  jatuh  ke  dunia,  di  India-Punjab-
Gundaspur-Qadian, tepatnya di dalam bilik Mirza Ghulam Ahmad
dan langsung kena kaki, kemeja dan kopiah sang nabi itu."
 
Mirza   Ghulam   Ahmad   telah   menunjukkan   bukti    dari
pengalamannya   itu,   dan   kebetulan   sekali  kita  semua
menghendaki bukti  Akan  tetapi  sayang  sekali  kita  tidak
mendapat  barang  bukti  "Setetes-tetes  merah"  itu sebagai
bahan bukti, sebab maulvi Sanauri Abdullah lekas mati. Lebih
sayang  lagi  barang  bukti kemeja yang kena tinta tuhan itu
dibawanya  ke  liang  kubur.  Sehingga  laboratorium   tidak
mungkin  lagi dapat meneliti tinta Tuhan itu untuk dijadikan
bukti.
 
Akan tetapi kiranya  dapat  dijadikan  suatu  jaminan  bahwa
tetes-tetes merah alias tinta Tuhan itu tetap terpelihara di
dalam tanah, baik warna maupun zatnya.  Bukankah  itu  tinta
Tuhan?
 
Warna itu sendiri, ah sayang sekali tidak sama dengan  warna
ke  Islaman  selama ini. Alangkah senangnya bila tinta Tuhan
itu berwarna hijau  cocok  dengan  bendera-bendera  lambang-
lambang  keislaman  yang  kita pakai selama ini. Juga sayang
bahwa tinta Tuhan itu  tidak  berbau  sedap,  padahal  tinta
parker yang kita pakai selalu itu segar baunya.
 
Walhasil barang bukti telah lenyap dalam tanah, kecuali jika
khalifah   Ahmadiyah   yang   sekarang  memberi  izin  untuk
membongkar kubur  Sanauri  Abdullah  mengambil  kemeja  yang
bertinta Tuhan itu dan memeriksakannya ke laboratorium. Jika
tidak mungkin,  bagaimana  dengan  bukti  yang  lain?  Yaitu
dokumen-dokumen  yang  ditanda-tangani tuhan Mirza? Tidakkah
itu masih tersimpan aman di  Qadian  atau  di  Rabwah?  Dari
betapa   besar  hasrat  hati  ummat  manusia  sedunia  untuk
melihatnya, melihat TANDA-TANGAN TUHAN!
 
Orang-orang Ahmadiyah  yang  tanpa  berpikir  lagi  langsung
meyakini  cerita-pengalarnan  nabinya  bertemu  denganTuhan,
adalah bukti  nyata  dari  berbagai-bukti  lainnya,  tentang
kejahilan  alam  pikiran  mereka  dan  kebekuan hati mereka.
Mereka dengan penuh kesadaran, tanpa malu telah  menunjukkan
pada  dunia  di  luar  organisasi  mereka  akan tingkah laku
nabinya yang aneh dan gila itu. Suatu hallusinasi dari Mirza
Ghularn  Ahmad  disebabkan penderitaan sarafnya, radang otak
kesadarannya, pengaruh diabetes dan  komplikasi  yang  lain,
telah mengelabui mata, pikiran
 
Seorang  Alim,  seorang Sufi, seorang Wali Allah dan sanggup
atau dapat memperoleh ru'yah, dapat berkashaf  dalam  bangun
atau  dalam  tidur  menjelajah  alam jagad, alam arwah, atau
alam malakut, akan  tetapi  tidak  dengan  kashaf  itu  lalu
bertemu dengan Tuhan!
 
Maha  ghaib  Allah,  maha  suci  DIA  yang telah menjalankan
hambaNya dari masjidil Haram  ke  masjidil  Aqsha,  kemudian
naik  ke  atas sampai pada suatu tempat dimana tidak seorang
Rasul maupun Malaikat bisa sampai kesana. Akan tetapi  tidak
dengan mi'raj itu beliau s.a.w. telah melihat Tuhan.
 
Akan  tetapi  pada  abad  ke-XIX  Masehi,  justru  muncullah
seorang  dari  Qadian India, yang mengaku Al-Mahdi, Al-Masih
Nabi dan Rasul, pergi ke atas dan  melihat  Tuhan.  Ia  amat
berani   untuk   tidak  merahasiakan  keajaiban  pengalaman-
pengalamannya itu ia berani sebab  ia  adalah  seorang  yang
diutus  IBLIS  untuk  mengobrak-abrik  ajaran- ajaran Islam,
meracuni alam  pikiran  kaum  muslimin  serta  merusak  iman
rnereka.  Ia,  Mirza  Ghulam  Ahmad  ini,  adalah Musailamah
modern abad ke-19  Masehi  dan  kumpulan  dari  DAJJAL  yang
disabdakan Nabi Muhammad s.a.w dalam sabda beliau:
 
  "Tidak akan datang hari kiamat sebelum muncul tigapuluh
   DAJJAL yang masing-masing mengaku dirinya adalah NABI."
   (shahih Muslim-Ahmad bin Hambal)
 
Catatan kaki:
 1 Majalah Ahmadiyah "Sinar Islam" judul:  "Suatu
   Kejadian Yang Unik" no. 4/5/6 th. XIV, April/Mei/Juni,
   1964, Jakarta Djemaat Ahmadiyah Indonesia, hal. 47.
 2 Sinar Islam, no. 4/5/6. th. XIV 1964, April/Mei/Juni,
   hal. 45/48.

Permalink 2 Komentar

3 Mei, 2008 at 4:03 pm (8. JERITAN GOLGOTTA TERULANG)

Kali ini Mirza Ghulam Ahmad menjabat  sebagai  nabi  Ibrahim
India  dengan  mu'jizat  yang  terkenal,  memadamkan api. Ia
sendiri dengan bangga berkata:
 
  "Zaman Nabi Ibrahim a.s. sudah lampau. Aku atas
   perintah Allah Ta'ala mewakili beliau diabad ini. Boleh
   lihat kalau ada musuh yang mencampakkan aku ke dalam
   api, dengan karunia Allah Ta'ala api itu akan menjadi
   dingin untukku."1
 
Kemudian tuhan Mirza menyatakan padanya:
 
  "Aku selalu menjaga keselamatanmu dan memerintahkan:
   wahai api (mereka yang menentangmu) dinginlah engkau
   pada Ibrahim ini dan damailah padanya."2
 
Demikian jaminan  tuhan  pada  Mirza  Ghulam  Ahmad  sebagai
Ibrahim  abad  19  masehi.  Pada suatu hari nabi Ibrahim ini
telah  mempraktekkan  mujizatnya  dengan  hasil   memuaskan.
Diceritakan  oleh  cucunya,  Mirza  Mubarak Ahmad, bagaimana
kakeknya  Ibrahim  Mirza  itu  telah  berhasil  menyembuhkan
penyakit  t.b.c.  seorang pemuda yang hampir mati. Ceritanya
begini, kata si cucu: "Pada sekali peristiwa Lala  Malawamal
ini  diserang  penyakit  t.b.c.;  keadaannya  sangat  payah,
bahkan tidak ada harapan sama-sekali.  Pada  suatu  hari  ia
menghadap   Hazrat  Masih  Mau'ud  Mirza  Ghulam  Ahmad  dan
menceritakan     penyakitnya     sambil      menangis-nangis
tersedu-sedu.  Ia  minta  dengan kerendahan hati agar hazrat
Mau'ud mendoakannya.  Pemuda  Malawamal  itu  seorang  musuh
Islam  juga  tetapi  hatinya  mengakui  kesucian beliau a.s.
Melihat keadaan Malawamal demikian beliau merasa kasihan dan
terus  mendoakannya  dengan  tawajuh  yang  khusus, sehingga
turun kepada beliau ilham: 'qul  ya  naaru  kuni  bardan  wa
salaaman.'"3
 
Ilham tersebut oleh Ahmadiyah diterjemahkan menjadi:
 
  "Wahai api penyakit, dinginlah engkau bagi anak muda
   ini, jadilah engkau sebagai penjaga dan keselamatan
   baginya."4 Karena ilham itulah maka pemuda Malawamal
   menjadi sembuh. Bahkan menurut Ahmadiyah ia mencapai
   usia 100 tahun. Maknanya jika usia setua itu
   dihubungkan dengan tahun-tahun masehi sekarang ini
   mungkin sang pemuda itu masih hidup saat ini. Sayang
   sekali bahwa Ahmadiyah tidak mengambil foto pemuda
   Malawamal itu. Apakah ia sudah tidak memusuhi Islam
   lagi, apakah ia sudah Ahmadiyah? Soal-soal itu tidak
   penting bagi kita untuk mengetahui maupun menyelidiki
   kebenarannya. Yang penting sebenarnya terletak pada
   diri "sang penyembuh" itu sendiri, yakni Mirza Ghulam
   Ahmad.
 
Sungguh suatu surprise bahwa hanya dengan  do'a  semata-mata
penyakit  t.b.c.  yang  hampir merenggut nyawa anak muda itu
dapat  dilenyapkan  oleh   Mirza.   Padahal   jika   sejarah
memperhatikan jalan hidup Mirza Ghulam Ahmad, akan diketahui
secara menyolok  bahwa  sang  penyembuh  Mirza  itu  sendiri
ternyata  tidak  pernah  sembuh  dari sakit. Bahkan kematian
yang merenggut Mirza Ghulam Ahmad dikarenakan  ia  menderita
sakit berak-berak yang kronis (diarrea)
 
Latar-belakang   kehidupannya   merupakan   rangkaian   dari
penyakit-penyakit  berat  yang  menahun sehingga meruntuhkan
seluruh kekuatan tubuh maupun jiwanya. Ia ternyata  mengidap
penyakit  penyakit  "diabetes"  dan  "vertigo"  di mana-mana
kedua  penyakit  itu  benar-benar   menerkam   hidup   Mirza
sepanjang  hayatnya.  Mengapa  tidak  disembuhkan  penyakit-
penyakitnya  itu  oleh  doktor  pribadinya   Nuruddin   sang
Khalifah?  mungkin  obatnya  tidak  ada  atau mungkin karena
jabatan-jabatan  Mirza  yang  kelewat  batas   itu   membawa
effek-effek yang berat bagi penyembuhannya.
 
Kedua  kemungkinan  itu  ternyata  tidak   dibenarkan   oleh
Ahmadiyah    baik   oleh   anaknya   cucunya   maupun   oleh
pengikut-pengikutnya. Mereka mempunyai alasan  kuat  mengapa
penyakit-penyakit Mirza Ghulam itu tidak sampai disembuhkan.
Mereka  tidak  kehilangan  langkah  untuk  membela   situasi
nabinya   itu.  Bashiruddin  Mahmud  Ahmad  berkata  membela
ayahnya.
 
  "Penyakit-penyakit yang diderita Mirza Ghulam Ahmad itu
   sudah termaktub, artinya bahwa Al-Masih Al Mau'ud akan
   menderita dua penyakit. Separoh dari bagian tubuhnya ke
   bawah mengidap penyakit diabetes dan separoh dari
   bagian tubuhnya ke atas mengidap penyakit vertigo."5
 
Demikianlah penyakit-penyakit itu  sudah  termaktub  sebagai
hiasan hidup Al Masih Mirza Ghulam Ahmad Qadiani. Jadi sudah
takdir  baginya  untuk   menerima   penyakit-penyakit   itu.
Usaha-usaha   untuk  menyembuhkannya  hanya  akan  menentang
takdir  Allah  saja.  Bukankah  Mirza  Ghulam   Ahmad   pada
saat-saat  itu  sedang  memangku  jabatan  Nabi  Ayyub a.s.?
Bedanya, kalau nabi Ayyub tidak kena diabetes  dan  vertigo.
Andaikata  kena  seperti  Mirza  Ghulam mungkin beliau tidak
akan sanggup  memangku  jabatan  kenabiannya.  Justru  Mirza
Ghulam   adalah   sebaliknya,   ia  sanggup;  sanggup  untuk
mempertontonkan seluruh karier hidupnya menjadi berantakan.
 
Mirza  Ghulam  Ahmad  sebenarnya  sangat  menderita   karena
penyakit-penyakitnya  itu.  Rasanya  ia  tidak bisa menerima
kalau penyakit-penyakitnya  itu  adalah  takdir  Allah  yang
harus   ia  rasakan  sepanjang  hidupnya.  Jangankan  dengan
diabetes dan vertigo, dengan sakit-sakitan yang sangat tidak
berarti  saja,  Mirza  Ghulam  Ahmad  sudah mengeluh merana.
Buktinya pada suatu hari Mirza Ghulam  pada  salahsatu  jari
tangannya sakit, mungkin bengkak nanah (cantengan) atau kena
sayat pisau.  Ia  sudah  mengaduh-aduh  dan  tidurnya  tidak
nyenyak   lagi.6  Dalam  keadaan  sakit  yang  demikian  itu
ternyata tuhannya menaruh rasa kasih pada  Mirza.  Bagaimana
sembuhnya? Cukup dengan kabar wahyu dari Tuhan:
 
   "Sejuklah tanganmu wahai Mirza dan relaxlah engkau"7
 
Maka dengan wahyu Tuhan di  atas  sakit  jari  Mirza  Ghulam
ternyata sembuh samasekali. Sungguh enak baginya bahwa hanya
dengan wahyu saja ia segar kembali.
 
Pernah pada suatu hari Mirza Ghulam Ahmad kena sakit  demam.
Inipun  Tuhannya sangat menaruh kasih padanya. Maka turunlah
kabar wahyu kepadanya:
 
  "Assalamu alaikum wahai Mirza, semoga damai engkau
   serta"8
   
Dengan wahyu itupun Mirza Ghulam waras dari sakit  demamnya.
Kita  ingin  bertanya,  jika dengan penderitaan "sakit salah
satu jarinya dan sakit demam" saja Mirza Ghulam Ahmad  sudah
mengeluh  merana, maka bagaimana dengan sakit-sakit beratnya
itu? Ahmadiyah dalam hal ini  tidak  pernah  mempertontonkan
penderitaan  nabinya  karena  penyakit-penyakit diabetes dan
vertigo itu. Mereka  tidak  mau  bicara  tentang  itu.  Akan
tetapi  ilmu  pengetahuan  tentang  kesehatan  mau  dan bisa
berbicara tentang pasien yang menderita penyakit sakit  gula
(diabetes)  dan  sakit  bingung  (vertigo)  itu. Ensiklopedi
kesehatan  mengatakan  bahwa  penderita  sakit  gula   dalam
beberapa  hal dan keadaan mengalami: kebingungan serta mudah
tersinggung hatinya tanpa  ada  sebab;  sakit  bagian  saraf
kepala,  radang  saraf;  kerabunan  pada  mata,  sangat sayu
pandangannya, akhirnya sering tak sadarkan diri.9
 
Adapun pada penderita sakit bingung (vertigo) dalam beberapa
hal  dan  keadaan  mengalami:  tingkah  laku  yang abnormal,
gejolak emosi meluap-luap, depressi yang memilukan, perasaan
rendah   diri,   jeritan   putus-asa,  bahkan  sering  jatuh
pingsan.10
 
Mirza Ghulam Ahmad dengan diagnosa sebagai "pasien penderita
sakit  gula  dan  sakit  bingung" yang diakui dan dinyatakan
sendiri oleh  Ahmadiyah  serta  oleh  puteranya  Bashiruddin
Mahmud      Ahmad11,     dengan     sendirinya     mengalami
komplikasi-komplikasi di  atas  yang  sangat  parah.  Bahkan
sialnya  ia  mengidap penyakit-penyakit itu secara kontinyu.
Bagaimana dalam keadaan yang parah itu ia  bisa  mengimbangi
ambisinya yang meluap-luap? Tentu saja ia berbuat bertingkah
berpose sebagai tokoh  yang  abnormal.  Gagal  dalam  cinta,
gagal  dalam  karier,  gagal dalam akhlak dan gagal menjaga
stamina tubuh serta jiwanya.
 
Bashiruddin Mahmud Ahmad khalifah  kedua  Ahmadiyah,  putera
penerus  Mirza  Ghulam  Ahmad  berkata  tentang ayahnya yang
bergelar nabi, rasul, almahdi dan  almasih  yang  dijanjikan
itu:
 
  "Keadaan kesehatan badannya Hazrat Masih Mau'ud a.s.,
   ada begitu lemah, sampai sering ketika penyakit datang
   kepada orang-orang yang di sekitarnya menganggap bahwa
   beliau telah wafat."12
 
Dengan anggapan bahwa beliau telah wafat,  sebenarnya  Mirza
Ghulam  Ahmad  telah  jatuh  pingsan  yang  lama.  Pandangan
matanya akan sayu bahkan redup menyusul  keadaan  tak  sadar
diri.  Mungkin  dalam situasi di alam tak sadar itulah Mirza
Ghulam mencetuskan segala gagasan-gagasannya  yang  bernama:
Ahmadiyah.  Ia  sering  mengalami  hallucinatie; justru pada
saat-saat itulah lahir segala tingkah  laku  yang  abnormal.
Bagaimana  dengan, "jeritan putus asanya" yang histeris itu?
Sungguh  tidak  terlintas  dalam   pikiran   bahwa   sejarah
mengulangi  dirinya.  Pada  peristiwa  GOLGOTTA kurang lebih
1800 tahun  yang  lalu,  konon  terdengarlah  jeritan  Yesus
Kristus  mengakhiri  hayatnya  pada  kayu  salib13.  Jeritan
itulah yang terulang pada sejarah hidup nabi India  abad  19
masehi.
 
Jauh  dari  Jerusalem  menuju ke timur meliwati gurun gunung
dan  padang  rumput,  melalui   negeri-negeri   Mesopotamia,
Persia, Afghanistan, menerobos lembah subur Kashmir, singgah
di Srinagar kemudian masuk ke anak benua  India,  menuju  ke
Propinsi  Punjab  langsung ke distrik Gurdaspur dan berakhir
pada sebuah desa bernama QADIAN, di situlah  muncul  seorang
laki  laki  bernama MIRZA GHULAM AHMAD, mengaku sebagai Nabi
dan Rasul, Al-Mahdi  dan  Al-Masih  yang  dijanjikan.  Entah
karena  apa,  entah dalam keadaan bagaimana, pada suatu saat
yang  menegangkan,  tiba-tiba  tersembur  dari  mulut  Mirza
Ghulam Ahmad rintihan suara histeris:
 
  "ELI, ELI LAMA SABACHTANI (TUHANKU, TUHANKU, MENGAPA
   ENGKAU TINGGALKAN AKU."14
 
Persis suara rintihan Jesus  Nazareth  di  lembah  Golgotta,
bahkan dalam bahasa yang sama, bahasa: I b r a n i !
 
Itulah  tokoh  Qadian  Mirza  Ghulam  Ahmad,  apa  sebab  ia
menjerit  dengan bahasa Ibrani pula?! Fatal, frustasi, gagal
total,  ataukah  ia  juga  dipaku   salib   oleh   penyakit-
penyakitnya yang berat itu?!
 
Catatan kaki:
 1 Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal.62
 2 Muslim Herald, London, vol. l2 - February l972, no.2
   hal. 21. (we have turned our eyes towards you and have
   ordered: O fire (of opposition) cool down on this
   Abraham and bring peace on him.
 3 Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal.44.
 4 Mirza Mubarak Ahmad,.Masih Mauud, hal. 45.
 5 Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya movement, hal.
   45: (Again it was written that the Messiah would suffer
   from two disorders, one affecting the upper half of his
   body and the other affecting the lower half.
   Accordingly the promised Messiah suffered from vertigo
   and diabetes).
 6 The Muslim Herald-London-vol. 12 February 1972 no.
   2, hal. 23: (hazrat Ahmad had once a severe pain in his
   forefinger. He feared its intensity might not allow him
   to have peaceful sleep).
 7 idem hal 23: (he them immediatly had this
   revelation: "cool down and bring peace.")
 8 idem - hal. 26: (the hazrat had fever when it was
   revealed to him "assalamo alaikum, i.e. may peace and
   long life be with you." Shortly afterwards he recovered
   his health.
 9 Randolp Lee Clarks and Russel W. Cumley, The Book of
   Health, a medical encyclopedia for every one, 1962, D.
   Van Nostrand Company, Inc. Princetton New Jersey, hal.
   333: (in some cases, the patient may become nervous and
   irritable without cause, exhaustion, or even fainting
   preceding, cataracts, neuralgias, meuritis ate.
10 idem (emotional strain, generalized or lower
   abdominal distress, abnormality of the bowel habit
   (hal. 418) and nervous or emotional basis sunstrekke
   the patient may become unconscous, may experience
   "crying pell" a feeling of depression, and general
   lislessnes. (hal. 325 dan 653).
11 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 45/46.
12 Bashiruddin Mahmud Ahmad, Djasa Imam Mahdi a.s., hal. 14.
13 Perjanjian Baru.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 29.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MIRZA TARTUFFE (SEORANG MUNAFIK, PENIPU BESAR)

3 Mei, 2008 at 4:01 pm (7. MIRZA TARTUFFE)

Karakter Mirza Ghulam Ahmad gagal total ia  sebagai  pencaci
maki,  penghina,  pengutuk  maupun  sebagai  penyebar  kuman
kematian  pada  sesama  manusia  telah  membawa  effek  pada
tingkah  lakunya,  pada  phisiknya  dan  pada  jiwanya. Atau
mungkin keadaan jiwa dan phisiknya yang membawa  effek  pada
karakternya   yang   tidak  karuan  itu.  Kedua-duanya  dari
kemungkinan itu pasti terjadi pada diri Mirza Ghulam  Ahmad,
sebab   ia   termasuk  dari  contoh  figur  kemunafikan  dan
kepalsuan dalam sejarah kerohanian,  yang  berkedok  sebagai
nabi maupun sebagai Al-Masih Al-Mau'ud.
 
Ahmadiyah  dalam  rangka  mengangkat Mirza Ghulam ke tingkat
derajat   yang   paling   atas   menyatakan   bahwa   maksud
kedatangannya  ialah  untuk  memikul  missi  suci yang lebih
dahulu telah diwahyukan Allah  dalam  Al-Qur'an.  Kedatangan
Mirza Ghulam oleh Ahmadiyah digambarkan sebagai cahaya fajar
sang surya. Ia datang dalam lailatul qadr, malam utama  yang
lebih  baik  dari  pada  1000  bulan.1  Ahmadiyah menegaskan
dengan kata-kata:
 
  "Tegas pengakhiran malam itu dengan saat fajar pembawa
   cahaya sang surya yang menerangi bumi. Cahaya inilah
   dibawa oleh Al Masih kedua atau Imam Mahdi."2
 
Ummat manusia seharusnya  mengelu-elukan  kedatangan  cahaya
fajar   Mirza  Ghulam  Ahmad  itu,  sebab  ia  datang  untuk
kebangkitan  Islam  dan  meletakkan  Islam   sebagai   agama
tertinggi. Ketahuilah! kata Ahmadiyah, bahwa:
 
  "Pada surah At-Taubah ayat 33 dan surah Al-Fath ayat 29
   kemudian surah Ash-Shaf ayat 9, tersebut firman Tuhan
   yang berbunyi: DIA-lah yang mengutus utusannya dengan
   petunjuk dan Agama yang benar yang akan memenangkannya
   atas semua agama."
 
Ketiga ayat tersebut di  atas,  kata  Ahmadiyah,  mengandung
berita  yang  belum  disempurnakan.  Maksud  Ahmadiyah belum
disempurnakan itu ialah bahwa agama  Islam  belum  mengatasi
agama-agama  lain  dan  ummat  Islam  juga  belum  mengatasi
(melebihi dari segi apapun) ummat-ummat agama yang lain.3
 
Maka, kata Ahmadiyah  melanjutkan,  menurut  para  ahli  dan
mufassirin  bahwa  ayat  di atas akan disempurnakan di akhir
zaman bilamana  tokoh  yang  dinantikan  itu  datang.  Dalam
tafsir  Al  Bayan  di  bawah  ayat  tadi dicatat tafsir yang
berikut: "wa dzaIika inda nuzuli  Isa  ibn  Maryam,"  yaitu:
kemenangan  Islam  atas  semua agama yang dimaksud ayat tadi
ialah akan terjadi bila turun Isa anak Maryam.4
 
Lebih meyakinkan  lagi  Ahmadiyah  menegaskan,  bahwa  Islam
bukan  hanya  belum  sampai  pada titik yang dinubuwatkan di
atas malah agama-agama lain masih  memiliki  supremasi  atas
Islam sendiri.5 Kemudian Ahmadiyah berkata:
 
  "Nubuwat Al Qur'an tersebut di atas pasti genap dan
   sempurna pada akhir zaman di tangan UtusanNya yang
   dikenal dengan sebutan Isa Masih/Imam Mahdi a.s."6
 
Demiklanlah penegasan Ahmadiyah. Mula-mula  dikatakan  bahwa
ayat itu mengandung berita yang belum disempurnakan, padahal
Islam telah ditegakkan dengan sempurna. Jika memang ayat itu
mengandung  berita  yang  belum  disempurnakan,  maka  bukan
mufassirinlah yang tahu makna maupun tafsir  dari  ayat  itu
melainkan  Rasulullah sendiri adalah orang pertama yang akan
mengatakannya.
 
Kemudian Ahmadiyah mengatakan, bahwa Islam  belum  mengatasi
agama-agasna  yang  lain.  Artinya  bahwa Islam masih berada
pada tempat paling bawah dari semua agama  di  dunia.  Kalau
ummat Islam yang dikatakan masih belum mengatasi ummat agama
yang lain, mungkin  ada  benarnya  terutama  pada  segi-segi
sosial  ekonominya.  Akan tetapi kalau IsIam dikatakan masih
belum   mengatasi   agama-agama   yang   lain,   itu   sudah
keterlaluan.   Ataukah  jumlah  orangnya  yang  masih  belum
mengatasi, padahal pada abad ke-19 Masehi Islam  penganutnya
sudah melebihi penganut agama Zarathustra dan penganut agama
Yahudi, dan  daerah  wilayahnya  lebih  besar  dari  wilayah
agama-agama  itu  bahkan  lebih luas lagi dari wilayah agama
Buddha dan agama Hindu.
 
Maka jelaslah yang  dimaksud  Ahmadiyah  bahwa  Islam  belum
mengatasi  agama-agama  yang  lain  mengandung makna hakikat
dari Islam itu sendiri, yang belum mengatasinya.  Ini  bukan
saja  suatu  pengingkaran  terhadap  sejarah perjuangan Nabi
Muhammad s.a.w. bahkan juga pengingkaran terhadap  kandungan
ayat Al-Quran.
 
Lebih  lantang  lagi  Ahmadiyah berkata tentang ayat 33 dari
surah At-Taubah, Al-Fath ayat 29 dan  Ash-Shaf  ayat  9  itu
sebagai berikut:
 
  "Tetapi tampaknya Tuhan belum menghendaki 'liyuzhhirahu
   'aladdini kullihi' (memenangkan Islam atas semua agama)
   itu terjadi pada masa perkembangan Islam yang pertama.
   Oleh karena di dalam ayat yang sama kalimat-kalimat
   lanjutan melukiskan bentuk dan corak perkembangan Islam
   masa yang kedua yang akan mencapai garis kemenangan
   atas semua agama yang ditentukan itu."7
 
Jelasnya bahwa  Tuhan  belum  menghendaki  kemenangan  Islam
terjadi  pada  masa perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. dan para
sahabat beliau, melainkan akan terjadi kemenangan  itu  pada
masa Al-Masih Al-Mau'ud Mirza Ghulam Ahmad. Kata-kata "belum
menghendaki" yang ditekankan oleh Ahmadiyah itu  pasti  akan
menyakiti hati Nabi Muhammad serta sahabat beliau. Makna dan
pengorbanan beliau s.a.w. telah  diabaikan  dan  disepelekan
oleh  Ahmadiyah. Suatu penghinaan yang mengandung tujuan dan
target yang keji untuk membuyarkan iman  ummat  Islam  serta
perasaan ghairah pada Nabinya.
 
Akan  tetapi  Ahmadiyah tetap Ahmadiyah, ia telah mengatakan
sesuatu, namun di tempat yang  lain  ia  terperosok  sendiri
oleh  kata-katanya itu. Kalau kita melihat betapa kedatangan
Mirza Ghulam Ahmad telah dinyatakan sebagai tokoh  Al  Masih
anak  Maryam/Al-Mahdi yang akan memenangkan Islam atas semua
agama,  demikian  yang  dikatakan  Ahmadiyah,  anehnya  pada
tempat   yang   lain  Ahmadiyah  mengganti  peranan  success
gemilang yang dicapai nabi India itu  dengan  seorang  tokoh
yang  lain  yang datang sesudahnya. Orang Ahmadiyah terakhir
inilah sebenarnya yang akan  memenangkan  Islam  atas  semua
agama? Ahmadiyah berkata:
 
  "Kesempurnaan ayat liyuzhhirahu aladdini kullihi yaitu
   Islam akan menaklukkan semua agama, yang khusus akan
   dilaksanakan oleh Imam Mahdi atau Al-Masih, insya Allah
   akan tercapai di tangan khalifah Masih ke-II hazrat
   Basiruddin Mahmud Ahmad, almuslihil mau'ud putra yang
   dijanjikan."8
 
Kata-kata "insya Allah  akan  tercapai"  menunjukkan  betapa
peranan  Mirza Ghulam Ahmad pada pertengahan dan akhir-akhir
dari hidupnya sangat menyedihkan dan mengalami depressi yang
memalukan.  Sudah  seyogyanya,  kalau  Ahmadiyah cepat-cepat
mengangkat   paulus   Ahmadiyah    untuk    bertahan    dari
keruntuhannya.  Hanya  dengan  organisasi dan finansiil yang
padat serta lindungan  maupun  naungan  yang  rindang,  maka
Bashiruddin   Mahmud   Ahmad  benar-benar  seorang  "paulus"
Ahmadiyah. Itulah sebabnya Ahmadiyah memberikan  titel  yang
luar biasa pada sang khalifah itu. Justru dialah yang paling
ketat  menutupi  seluruh  aspek   kehidupan   ayahnya   yang
berantakan.  Namun anehnya tidak satu segipun dari kehidupan
Mirza Ghulam Ahmad yang hancur  itu  dapat  tertutup  rapat.
Tidak   juga   sang   putra  maupun  organisasinya  berhasil
menyembunyikan nabi penyebar kuman kematian itu.
 
Tadi telah dikatakan bahwa dikarenakan tugasnya yang  berat,
yakni  tugas  menjadi nabi palsu di India, maka Mirza Ghulam
Ahmad  mengalami  depressi  hidup   yang   memalukan   serta
memilukan  hati.  Namun  demikian juga tidak bisa diabaikan,
sebagaimana dikatakan sebelum ini, bahwa karena  effek-effek
kejiwaan  dan  badaniahlah,  maka  Mirza  Ghulam Ahmad gagal
total dalam hidupnya.
 
Entah karena jabatannya sebagai  musailamah  modern  itu  ia
telah  menderita,  baik  jiwa  maupun  badannya.  Ataukah ia
memang sudah mengalami masa menderita yang begitu  lama  dan
parah  sehingga  timbul  gagasannya  untuk  menjadi pemimpin
kerohanian,  yang   tidak   pernah   diharapkan   bangsanya.
Kenyataannya, kedua-duanya memang ada dan benar.
 
Perkenalan   atas  perjalanan  hidupnya  sudah  banyak  kita
ketahui, akan tetapi Ahmadiyah sendiri maupun sang  khalifah
Bashiruddin   masih   dengan   senang   hati  menambah  lagi
sajian-sajian  tentang  Mirza  Ghulam  Ahmad.   Tentu   saja
sajian-sajian yang sekaligus menikam langsung dada sang nabi
palsu itu.  Maka  inilah  dia  sajian-sajian  yang  berakhir
dengan   klimax   yang   menggelikan   akan   tetapi  sangat
menyayat-nyayat hati.
 
Catatan kaki:
1 Sinar Islam, no. 13, Th. XV/l965, hal. 32.
2 idem, hal. 32.
3 Saleh Nahdi, Masalah Imam Mahdi, l966,
  Raja Pena Surabaya, hal. 15.
4 Saleh Nahdi, Masalah Imam Mahdi, hal. 16.
5 Sinar Islam, no. 13/th. XV/1965, hal. 31.
6 idem, hal. 31.
7 Sinar Islam, no. 13/th. XV/1965, hal.32
8 Sinar Islam, no. 10/1965. hal. 13/14

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

YESUS INDIA (INKARNASI SRINAGAR)

3 Mei, 2008 at 3:52 pm (5. YESUS INDIA)

Pada waktu Ismail  Sahib  melancarkan  tuduhan-tuduhan  pada
Mirza  Ghulam,  orang  yang  terakhir ini sudah berada dalam
puncak kemuliaannya. Di samping pangkatnya sebagai Al-Mahdi,
nabi, ia terkenal pada pengikut-pengikutnya sebagai Al-Masih
Al-Mau'ud pula. Perihal dirinya sendiri, Mirza berkata:
 
  "Saya keelokan yang elok dalam abad ini, barangsiapa
   meninggalkan saya, meninggalkan DIA yang mengutus saya.
   Lihatlah saya memegang lampu di tangan saya, maka
   barangsiapa datang padaku, akan memperoleh sebagian
   dari cahayaku dan barangsiapa memilih melarikan diri
   dari saya, karena ragu-ragu dan sak wasangka atau
   takhayul akan dilemparkan ke dalam kegelapan dan
   kebinasaan."1
 
Kemudian tentang hakikat dirinya yang  superior  itu,  Mirza
berkata:
 
  "Saya ini adalah baruz (titisan) nabi Isa a.s. karena
   saya diutus dalam roh dan kuasa beliau dan budi pekerti
   yang sama. Demikian pula saya menerima nama Muhammad
   Ahmad berdasarkan jabatan saya sebagai pembangun lagi
   daripada pelanggaran-pelanggaran kepada hukum Tuhan.
   Karena itu saya diutus buat mengembangkan ke-Esaan
   Allah dalam roh dan kuasa serta budi-pekerti yang
   bersamaan dengan nabi Muhammad. Dengan kemurahan Allah
   dan PengasihNya maka saya dijadikan ahli waris kedua
   gelaran itu dalam abad ini dan keduanya tergabung
   menjadi satu ternyata atas diri saya... dan batin saya
   ini ialah pergabungan kedua nabi yang mulia itu."2
 
Pada suatu  ketika  yang  tidak  terduga-duga  Mirza  Ghulam
berkata lagi tentang dirinya:
 
  "Aku melihat dalam mimpi bahwa aku ini jadi Allah."3
 
Dengan gabungan baruz  Nabi  Isa  dan  Nabi  Muhammad  serta
sekaligus  dalam  mimpi Mirza Ghulam Ahmad telah jadi Allah,
maka ahlak yang ia miliki tentu saja  akhlak  termulia.  Ini
cocok  dengan  kata-kata  pujian  dr. Meer dan Mirza Mubarak
Ahmad, bahwa Mirza Ghulam  Ahmad  adalah  seorang  pengampun
pada  mereka  yang  bersalah,  berbudi  pekerti baik, rendah
hati, suka memberi maaf, wajahnya selalu  tersenyum,  dimana
dalam  hidupku saya belum pernah melihat seorang sepertidia,
lebih berbtidi lebih  pemurah  lebih  berkasih  sayang,  dan
seterusnya, dst.4
 
Maka marilah meneliti bagaimana orang Qadian yang mimpi jadi
Allah   itu   bertingkah-laku  ketika  menghadapi  kritikan-
kritikan Muhammad Ismail Sahib dari Aligarh itu. Siapa  yang
sebenarnya  dikatakan  tuduhan-tuduhan,  fitnahan-fitnahan
Ismail Sahib  tidak  lain  hanyalah  bantahan-bantahan  yang
sederhana saja. Ia katakan bahwa Mirza:
 
  "Tidak tahu sastra, tidak percaya bahwa ia seorang yang
   telah dapat wahyu, tidak percaya bahwa buku-buku itu
   adalah karangan Mirza, dan Mirza mempunyai tenaga sihir
   serta menggunakan tenaga itu."
 
Maka   andaikata   Mirza   Ghulam   Ahmad   tidak   membalas
tuduhan-tuduhan  atau fitnahan itu, hal mana itu adalah yang
terbaik baginya. Bagi seorang yang memiliki dua roh kenabian
dan  sekaligus  mimpi  jadi Allah, hanya akan membuang waktu
dan tenaga saja bila melayani obrolan Ismail Sahib itu.
 
Namun pada kenyataannya tidak demikian  dengan  nabi  Qadian
itu. Justru ia menjadi marah dan meradang. Ia berkata dengan
seluruh emosinya:
 
  "Maulvi Ismail Sahib telah tenggelam dalam kegelapan,
   tenggelam dalam keinginan yang mementingkan diri
   sendiri serta kesukaan yang sia-sia. Saya (Mirza Ghulam
   Ahmad) tidak menaruh penghargaan lebih besar dari pada
   terhadap cacing yang sudah mati. Tuan seorang yang
   dungu, ulama yang tidak cakap. Faham tuan sudah
   ketinggalan zaman. Tuan berada dalam kehinaan tuan
   bertabiat mencurigakan, fikiran jahat dan berbuat
   kejahatan, tuan terbawa dalam ketakhayulan, tuan tidak
   mempunyai pikiran sehat, tuan berputar lidah, tidak
   mengerti, keras hati dan congkak dan tak berbudi. Tuan
   seperti orang-orang munafik zaman Isa, tuan seperti
   Fir'aun, tuan seperti Abu Jahal, tuan pendusta, tuan
   kafir."5
 
Sungguh kasihan Maulvi Ismail Sahib  mendapat  balasan  yang
demikian  dari Mirza. Namun itu sudah seharusnya bahwa orang
seperti Maulvi Ismail  berani  menyerang  nabi  Qadian  itu.
Balasannya  kelihatan  setimpal.  Akan  tetapi kalau ditilik
kembali derajat orang Qadian yang kena serang  Maulvi  Sahib
itu  maka  ada  kejanggalan-kejanggalan  yang menyolok dalam
tingkah  lakunya.  Pada  waktu  itu  ia  sudah  jadi   nabi,
Al-Mahdi,  Al-Masih  Al-Mau'ud.  Maka pada kedudukan yang ia
miliki itu, selayaknyalah jika ia merasa malu atas kata-kata
yang  telah  ia  lontarkan  pada  lawannya yang juga dikenal
sebagai muslim. Tidak diketemukan  dalam  sejarah  keagamaan
kiranya,  betapapun  ia  dari  desa, yang membalas kata-kata
lawannya  dengan  kata-kata  pedas  serta  mengutuk,  bahkan
mengkafirkan!
 
Maka  gambaran apakah yang lebih terang tentang Mirza Ghulam
Ahmad ini?  Itu  semua  sudah  terlalu,  menyamakan  seorang
pengumpat,  penghina,  pengutuk macam Mirza Ghulam Ahmad ini
dengan pribadi Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Apakah
mereka  telah  rabun  mata terhadap sejarah sepak-terjangnya
yang berlebih-lebihan itu? Ismail Sahib seorang ulama Islam,
imam  mesjid Aligarh, sekedar mengatakan tentang nabi Qadian
itu, bahwa ia  tidak  percaya,  lalu  datang  balasan  Mirza
Ghulam Ahmad dengan kata-kata:
 
  "Kamu tidak berbudi, kamu jahat, cacing mati lebih
   kuhargai dari padamu, kamu munafik, kamu pendusta, kamu
   kafir."
 
Seorang yang mengaku Al-Masih tidak layak berkata  demikian.
Justru kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam pribadi Mirza
Ghulam Ahmad dan jemaatnya selalu kita temukan bentuk-bentuk
kepalsuan  dan  penipuannya. Rombongan Musailamah modern ini
masih banyak mempertontonkan kisah-kisah ajaib serta ketidak
warasan   logika   pada  mereka  yang  akan  membuat  mereka
telanjang bulat di atas panggung sejarah Islam.
 
 
1 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, hal. 57.
2 Sudewo, Asas-asas Ahmadiyah Lahore, 1937, tansocijbing,
  Sukabumi, hal. 47.
3 Sudewo, asas-asas Ahmadiyah Lahore, hal. 70:
  (wa raaitani fil manaam 'ainullah.)
4 M.B. Ahmad, Seerati Tayyiba, A.Q. niaz Lion Press,
  Lahore, 1960, hal. 68: 18 dan Mubarak Ahmad,
  Masih Mau'ud a.s., hal. 85/86.
5 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam,
  hal. 36 sampai dengan hal. 45.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

3 Mei, 2008 at 3:44 pm (4. MIRZA TUKANG LAKNAT)

Pada suatu hari seorang  ulama  maulvi  sahib  dari  Aligarh
bernama  Muhammad  Ismail  Sahib  telah  melontarkan tuduhan
tuduhan pada Mirza Ghulam Ahmad. Menurut Mirza sendiri ulama
tersebut  adalah imam dari mesjid Aligarh, seorang sastrawan
yang   kenamaan.   Akan   tetapi   celakanya,   kata   Mirza
melanjutkan,    bahwa    ulama    itu    telah   melancarkan
tuduhan-tuduhan gila pada Mirza. Ia  menggunakan  kecurangan
dan kebohongan terhadap diri Mirza.
 
Segala  fitnahannya itu telah diterbitkan oleh sahabat Mirza
Ghulam Ahmad bernama dokter Jamaluddin.1
 
Maulvi Muhammad Ismail Sahib dalam fitnahannya menuduh Mirza
Ghulam Ahmad dengan kata-kata:
 
  "Orang ini, yakni Mirza, sama sekali tidak berwenang
   dan tak mencapai apa-apa dalam lapangan sastra."
 
Mendengar tuduhan Ismail sahib itu, Mirza  bangkit  marahnya
spontan menjawab:
 
  "O, tuan, saya tidak mendakwai suatu kearifan atau ilmu
   tentang dunia ini; apakah yang saya buat dengan ilmu
   kelicikan duniawi itu, tetapi bagi saya satu hal saja
   sudah cukup yakni bahwa kemurahan tuhanku telah datang
   membantu saya dan memberkati saya dengan ilmu
   pengetahuan yang tak berasal dari sekolah atau sekolah
   tinggi manapun juga, melainkan dari Guru dari langit
   jua. Jika saya buta-huruf bagaimana kehormatan saya
   direndahkan karenanya? Bahkan sebaliknya itu adalah
   kebanggaan bagi saya sebab bukan saja pengajar saya
   melainkan juga pengajar seluruh makhluk-makhluknya
   sendiri (yakni Nabi Muhammad) adalah seorang buta huruf
   atau ummi."
 
Jelasnya Mirza Ghulam  Ahmad  tidak  merasa  terhina  dengan
tuduhan  Ismail  Sahib  itu,  sebab  ia  tidak  belajar dari
sekolah tapi dari langit jua. Itulah  kemuIiaan  sebagaimana
yang diterima setiap nabi.
 
Kemudian    Maulvi    Muhammad   Ismail   Sahib   meneruskan
tuduhan-tuduhannya pada Mirza Ghulam Ahmad dengan  perkataan
perkataannya yang tajam:
 
  "Saya tidak dapat percaya bahwa orang itu (Mirza) juga
   menulis karangan-karangan yang baik."
 
Maka  Mirza  Ghulam  Ahmad  dengan  emosi  tak   tertahankan
menangkis  kata-kata  lawannya  itu  dengan  jawaban-jawaban
lantang:
 
  "Tak mengherankan kalau saudara tak percaya sebab
   kepercayaan seperti itu tak tercapai oleh orang-orang
   kafir yang melihat sendiri nabi suci sekalipun dan jika
   mereka itu tidak diberi malu, keunggulan nabi suci tak
   akan dapat jadi terang atau nyata bagi mereka... Dan
   apa yang keluar dari mulut Maulvi  Sahibpun boleh jadi
   benar juga, sebab tidak syak lagi kata-kata Qur'an suci
   jauh melebihi kemampuan akal nabi di dalam hal gaya
   bahasanya pilihan kata-katanya dan kearifannya...
   Demikian pula buku-buku yang dikarang dan juga
   diterbitkan oleh hamba yang hina ini sesungguhnya hasil
   dari bantuan Ilahi dan buku-buku itu sungguh melampaui
   kecakapan dan kemampuan yang sebenarnya dari pada hamba
   yang hina ini... Bahwa ada orang yang berkata kemudian
   bahwa buku-buku ini bukan hamba yang mengarangnya."
 
Terasa legalah  bagi  Mirza  Ghulam  setelah  seluruh  emosi
kemarahannya  terlontarkan  pada Ismail Sahib. Padahal tanpa
mengeluarkan  kemarahan  demikian  Mirza  Ghulam  seharusnya
sudah  lega  dengan serangan lawannya itu. Bukankah ia sudah
diidentikkan   nasibnya   dengan   nabi   Muhammad   s.a.w.?
Perbedaannya  di  sini  ialah  bahwa  pada  zaman Mirza yang
meragukan maupun yang membantah ialah seorang muslim,  bukan
seorang kafir.
 
Bagi Ismail Sahib sendiri, la tidak menghentikan serangannya
sampai di situ melainkan ia  bertambah  gencar  serangannya.
Berkata Ismail pada Mirza:
 
  "Sayid Ahmad seorang Arab yang saya kenal sebagai
   seorang yang berkata benar..., setelah hadir pada
   setiap kesempatan yang penting untuk menguji dan
   menyelidiki dia (Mirza Ghulam) maka dia (sayid) itu
   berpendapat bahwa dia (Mirza Ghulam) memiliki
   tenaga-tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu"
 
Mau apa lagi Mirza Ghulam Ahmad? Empat belas abad yang silam
nabi  Muhammad  s.a.w.  dituduh  juga  sebagai  seorang yang
memiliki tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu. Seharusnya
Mirza Ghulam lebih lega lagi dengan tuduhan itu. Akan tetapi
dengan kemarahannya yang meluap berkata:
 
  "Mari kita panggil anak-anak lelaki kamu dan anak-anak
   lelaki kami dan perempuan-perempuan kamu dan
   perempuanperempuan kami dan orang-orang kamu dan
   orang-orang kami, kemudian baiklah kita berdo'a dengan
   sungguh-sungguh dan memohon laknat Allah atas
   pendusta."
 
Ismail Sahib tidak ambil-pusing dengan  panggilan  anak-anak
kamu  dan anak-anak kami itu, melainkan ia terus melancarkan
serangannya pada Mirza dengan berkata:
 
  "Kalau saya memikirkan kalimat-kalimat yang diwahyukan
   padanya maka saya sekali-kali tak dapat percaya bahwa
   kalimat-kalimat itu wahyu."
 
Ada-ada saja  yang  dituduhkan  Ismail  pada  Mirza  Ghulam;
dengan sendirinya kalau ia tidak percaya pada kenabian Mirza
Ghulam Ahmad, bagaimana ia bisa percaya pada kalimat-kalimat
wahyunya   itu?   Namun  demikian  tuduhan  sudah  terlanjur
dilontarkan dan bagi Mirza sendiri tidak ada alternatip lain
selain  melabrak  lawannya  itu  dengan pukulan-pukulan yang
jitu. Mirza Ghulam Ahmad berkata:
 
  "Tentu saja, keturunan-keturunan yang tentang mereka
   itu tuhan berkata: Dan mereka itu menolak
   pekabaran-pekabaran kami dengan mendustakannya.
   Keturunan-keturunan itupun tidak percaya. Fir'aun tidak
   percaya; alim ulama dan orang farisi (orang-orang
   munafik di zaman nabi Isa) tidak percaya; Abu Jahal dan
   Abu Lahab tidak percaya."
 
Maka Ismail Sahibpun termasuk dari keturunan-keturunan  yang
tidak  percaya  itu. Celakalah ulama Islam dari Aligarh ini,
ia telah dipersamakan dengan kaum  kafir  zaman  nabi.  Akan
tetapi  bagi  Ismail Sahib sendiri, ia mempunyai alasan kuat
untuk tidak mempercayai Mirza  Ghulam  Ahmad,  baik  sebagai
nabi  maupun  sebagai  Al Masih Al-Mauud. Itulah sebabnya ia
masih suka melancarkan serangannya untuk Mirza Ghulam  Ahmad
yang pemarah itu. Ia berkata pada Mirza:
 
  "Bahwa ia Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya penerima
   ilham atau wahyu itu tidak selaras dengan kuasa ghaib
   dan menjawab dengan berkata: bahwa orang yang menolak
   harus datang melihat adalah suatu alasan yang tidak
   dapat dipertanggung jawabkan."
 
Mirza Ghulam Ahmad menjawab:
 
  "Perkara-perkara ini bukan dari seorang manusia
   melainkan dari DIA... maka pemuja kebenaran yang
   manakah dapat menolaknya sebagai perkara-perkara
   palsu?"
 
Demikian beberapa tuduhan Ismail  Sahib  pada  Mirza  Ghulam
Ahmad  yang sangat mirip dengan tuduhan kaum kafir pada nabi
Muhammad  s.a.w.  Suatu  kebahagiaan  buat  Mirza  jika   ia
menerima  tuduhan itu apa adanya. Bukankah ia senasib dengan
nabi?
 
Catatan kaki:
1 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, Darul Kutubil
  Islamiyah, Jakarta, 1960, hal. 31.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

3 Mei, 2008 at 3:41 pm (3. QUR'AN MADE IN QADIAN)

Satu hal lagi yang menarik dari tingkah laku nabi India  itu
ialah  koleksi wahyu-wahyunya. Di antara kitab-kitab yang ia
tulis ada semacam kitab suci, di mana di  dalamnya  terdapat
kumpulan-kumpulan   wahyu   yang  ia  terima  dari  tuhannya
kemudian    wahyu-wahyu    itu    ia    gabungkan     dengan
potongan-potongan ayat suci Al-Qur'anul Karim.
 
Ayat-ayat  Al-Qur'an  yang  dibajak  Mirza  Ghulam Ahmad itu
dimasukkan  dalam   karangannya   secara   terpotong-potong.
Kemudian  ia  rangkaikan  potongan-potongan  ayat  suci  itu
dengan   ucapan-ucapannya   sendiri   dan   hasilnya   mirip
firman-firman Tuhan dalam Al-Qur'an, namun pada kenyataannya
merupakan Qur'an baru made in Qadian.
 
Bila hendak memulai membaca  kitab  suci  Qadian  itu,  bagi
orang-orang   Ahmadiyah   ditanam  pada  lubuk  hati  mereka
keimanan bahwa kitab suci Mirza  Ghulam  Ahmad  sama  dengan
kitab  suci  Al-Qur'anul  Karim.  Tentu  saja  keimanan yang
demikian itu harus tertanam pula pada orang-orang yang bukan
Ahmadiyah  apabila  mereka  bermaksud  memasuki aliran Mirza
Ghulam.
 
  "Kita mengimani sebagaimana kita mengimani kitab yang
   diturunkan pada Nabi Khaliqil Anam." demikian kata
   Mirza.1
 
Mirza Ghulam selanjutnya mengatakan bahwa  wahyu-wahyu  yang
ia  terima  dari  tuhannya  itu  terkadang  ia terima secara
langsung, atau secara liwat perantara, yakni liwat malaikat.
Ia berkata:
 
  "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril. Malaikat Jibril
   dalam  kitab Mirza Ghulam Ahmad disebut: Ayl.2
 
Dimanakah wahyu-wahyu dari tuhannya  itu  diturunkan?  Tentu
saja  jawabnya  di  India,  jelasnya  di  Qadian  maupun  di
sekitarnya.
 
Mengenai tempat di mana wahyu itu  diturunkan  dan  mengenai
hakikat  dari  wahyu  itu  sendiri, tuhan Mirza Ghulam Ahmad
berkata padanya:
 
  "Sesungguhnya dia (Kitab) itu diturunkan pada tempat
   yang dekat dengan Qadian. Dengan Kebenaran dia
   diturunkan, serta dengan Kebenaran pula turunnya."3
 
Maka inilah dia,  Qur'an  made  in  Qadian.  Dimulai  dengan
ucapan: "Bismillahir-Rahmanir-Rahiim.4
 
   Ya Ahmad Barakallah fiika, Ma ramaita idza ramaita wa
   laakin Allaha rama; Ar-Rahmaan; 'Allamal Qur'an;
   Litundzira Qauman maa undzira aabauhum wa litastabiina
   sabilal mujrimin, Qul inni umirtu wa-ana awwalul
   mu'minin; Qul ja'al haqqu wazahaqal batil innal baatila
   kana zahuuqa.5
 
Di halaman yang lain  dari  kitab  suci  Qadian  itu,  Mirza
menerima wahyu;
 
  "Fantazhiru Avaati hatta hiin; Sanuriihim ayaatina fil
   afaaq wafi anfusihim, Hujjatun qaaimatun wa fathun
   mubiin, Innallah yafsilu bainakum innalaha hia yahdi
   man huwa musrifun kadzdzaab, Wadha'na Anka wizrak
   alladzi anqadha dhahraq; Waqatha'a dabiral qaumal
   ladzhiina la yu'minun, quli'malu ala makamatikum inni
   'amilun fasaufa ta'malun, Innallaha ma'alladzinat taqau
   walladzina hum muhsinun, hal ataaka haditsuz zalzalah,
   idza Zulzilatil ardhu zilzalaha, wa akhrajatil ardhu
   atsqalaha, waqaalal Insaanu malahaa, yaumaiidzin
   tuhaddisu akhbaraha, bi anna Rabbaka auha laha,
   Ahasiban nasu anyutraku, Wama ya'tiihim illa
   baghtatan."6
 
Di halaman  lainnya  lagi  dari  kitab  suci  Qadian,  Mirza
menerima wahyu tuhannya:
 
  "Afata'tunas sihra wa antum tubshirun, haihaata
   haihaata lima tu'adun, man hadzal ladzii huwa mahinum
   jahilun au majnun, qul indi syahaadah minallah fahal
   antum muslimun, qul indi syahadah minallah fahal antum
   mu'minun, walaqad labistu fikum 'umraan min qalbihi
   afala ta'qilun, hadza min rahmati rabbika yutimmu
   ni'mataho 'alaika, fabasysyir wamaa anta bini'mati
   rabbika bimajnun, laka darajah fissaama' wafil ladziina
   hum yubshirun."7
 
Itulah di antaranya koleksi wahyu-wahyu Mirza  Ghulam  Ahmad
sebagai  kitab  suci  yang sejajar dengan Al-Qur'anul karim.
Pada   kitab   karangan   Mirza   Ghulam    lainnya    yaitu
khutbati-Ilhamiyah,  terdapat  rangkaian  bahasa  Arab  yang
dilukiskan  sebagai  bahasa  Arab  yang  tidak   terlawankan
ketinggiannya. Bashiruddin Mahmud Ahmad puteranya, berkata:
 
  "Keajaiban dari bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad menyamai
   keajaiban bahasa Al-Qur'an. Itulah salah satu tanda
   kebenaran missi Al-Masihnya."8
 
Dan untuk Al-Qur'an sendiri, Mirza  Ghulam  Ahmad  mempunyai
pandangan yang menghina.  Ia berkata:
 
  "Al-Qur'an itu Kitab Allah dan Kalimah-kalimah yang
   keluar dari mulutku."9
 
Dengan kata-katanya  yang  menarik  itu,  bahwa  kitab  suci
karangannya  harus  diimani sebagaimana mengimani Al-Qur'an,
keajaiban  bahasa  arabnya  sama  dengan  keajaiban   bahasa
Al-Qur'an,  dan  Al-Qur'an sendiri merupakan kalimah-kalimah
yang  keluar  dari  mulut  Mirza,  maka  ucapan-ucapan  yang
demikian  itu  tentunya  dituntun  dan diajarkan oleh Iblis.
Tidak seorang nabi paIsu yang  muncul  dalam  seJarah  Islam
lebih  berani  bertingkah  ucap sebagaimana nabi India Mirza
Ghulam Ahmad Al-Kadzdzaab.
 
Justru yang dikatakan wahyu-wahyu dari  tuhannya  itu  lebih
banyak   merupakan  sanjungan  pada  dirinya  bahkan  sangat
berlebih-lebihan cara memujinya. Pernah Tuhan  berkagt  pada
Mirza Ghulam Ahmad:
 
  "Tidak aku utus engkau ya Mirza, kecuali menjadi rahmat
   bagi semesta alam."10
 
Lebih tinggi dari itu,  tuhan  Mirza  mengeluarkan  emosinya
dengan  puja-puji  yang  luar biasa pada Mirza Ghulam Ahmad.
Antara lain tuhannya berkata:
 
  "Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti tauhidku dan
   ketunggalanku."11
   
  "Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti anakku-
   anakku."12
 
Ahmadiyah dengan cepat mengomentari wahyu  tuhan  pada  nabi
India  itu,  dengan mengatakan bahwa siapa dari orang -orang
yang taat pada  Tuhan  maka  mereka  adalah  anak-anakTuhan,
walaupun ini maksudnya bukan dalam arti anak-anak Tuhan yang
riil.13  Children of God yang  dikomentarkan  Ahmadiyah  itu
kelihatannya  sangat  mirip dengan ajaran Kristen bahwa kaum
Israili ataupun mereka yang  taat  pada  Tuhan  adalah  juga
terkenal dengan panggilan: putera-putera tuhan.
 
Pada  kesempatan  yang  lain,  tuhan  Mirza lebih menyanjung
Mirza Ghulam Ahmad pada posisi yang top yang  mungkin  telah
memadai  kedudukannya  dengan  Yesus  Keristus.  Tuhan Mirza
berkata padanya:
 
   "Engkau wahai Mirza bagiku adalah anakku."14
 
Bagaimana  komentar  Ahmadiyah;  bahwa  Mirza  Ghulam  Ahmad
adalah anakTuhan?!  Untuk ini kaum Ahmadiyah berkata:
 
  "Karena orang-orang masehi dengan bohong dan palsu
   menempatkan Al-Masih sebagai anak Tuhan yang asli,
   sebab itu ghairahKu menghendaki supaya AKU mencintai
   engkau sebagai halnya mencintai anak, sehingga nyatalah
   kepada dunia bahwa murid dari Nabi Muhammad s.a.w. pun
   dapat sampai kepada maqam Athfatullah."15
 
Dengan pangkat yang demikian  muluknya  Mirza  Ghulam  telah
sampai  pada  derajat  yang tiada terjangkau lagi oleh Yesus
Kristus kaum Nasrani. BahkanTuhan berkata pada Mirza  Ghulam
Ahmad:
 
  "Apabila engkau wahai Mirza menghendaki sesuatu apa
   saja, maka cukup engkau katakan: jadilah, maka jadilah
   ia."16
 
Disinilah Mirza Ghulam Ahmad  ternyata  duduk  dalam  posisi
derajat ketuhanan. Bukan saja lampu Aladin menjadi miliknya,
melainkan  juga  kata-kata  "Kun   fa   yakun"   ada   dalam
kekuasaannya. Apakah ada yang lebih hebat dari itu semua?!
 
Sudah tentu orang yang mempunyai kekuasaan kun fa yakun akan
mampu melahirkan segala yang luar biasa termasuk bahasa Arab
yang tidak  tertandingkan  oleh  siapapun  juga.    Mu'jizat
bahasa   Arab   Mirza  Ghulam  Ahmad  sama  dengan  mu'jizat
Al-Qur,an, sebagaimana dikatakan terdahulu. Yang perlu untuk
ditilik  kehebatan  bahasa  Arabnya itu ialah bagaimana pada
suatu waktu tuhan Mirza  mengirim  wahyu  kepadanya,  dengan
bahasa  Arab  yang membuat mata terbelalak. Bukan terbelalak
karena  keindahan  bahasanya  melainkan  terbelalak   karena
ketololan  kata-katanya.  Inilah  dia wahyu tuhan pada Mirza
itu:
 
  "Wahai Maryam tinggallah engkau bersama istrimu di
   sorga" (Ya Maryam Askun Anta Wa Zaujukal jannata.)17
 
Kelihatannya di sini tuhan  Mirza  memang  tuhan  tolol.  Ia
tidak  bisa bahasa Arab bahkan keliru besar. Mula-mula, nama
Maryam itu sendiri adalah nama wanita. Seharusnya  kata-kata
Anta  di situ diganti Anti. Kemudian yang lebih menarik lagi
Tuhan mengatakan ya  Maryam  engkau  bersama  isterimu,  ini
jelas  berarti  perempuan  kawin dengan perempuan, apa bukan
lesbian yang demikian?
 
Dimanakah letak kewarasan akal Mirza Ghulam Ahmad, puteranya
maupun  para  pengikut-pengikutnya  apabila  melihat  bentuk
wahyuTuhan di atas? Jika mereka masih bisa menggoyang  lidah
dengan memutar-balikkan fakta keblunderan bahasa nabinya itu
dengan mengatakan bahwa yang dimaksud nama Maryam itu adalah
Mirza  Ghulam  Ahmad,  seorang Ia laki-laki atau lebih jelas
yang dimaksud adalah Ibn Maryam sebab Mirza sering dinamakan
Al-Masih ibn Maryam; maka dengan cara itu pula berarti Tuhan
telah keliru sebut. Maunya sebut Ibn Maryam, yang kena hanya
Maryamnya   saja.  Jika  itu  maksudnya,  maka  tuhan  Mirza
nyatanya sudah keliru juga dalam menyusun bahasanya. Ataukah
sebagaimana  lazimnya  Ahmadiyah  akan  mengatakan bahwa itu
adalah keliru cetak? Tentu saja mana dari yang bisa diterima
logika  boleh  diambil  Ahmadiyah.  Namun  yang  pasti gelar
Sultanul Kalam yang ada pada  Mirza  Ghulam  Ahmad  hanyalah
sultan-sultanan saja.    Pantas  juga  sayid Muhammad Rasyid
Ridha tidak menjawab tantangan Ahmadiyah itu.
 
Catatan kaki:
 1 M.G.A., Istifta', hal. 77: (Wa Numinu kama numinu bi
   Kitaabillah Khaliqul Anaam).
 2 M.G.A., Istifta', hal. 87: (Jaani Ayl).
 3 M.G.A., Istifta', hal. 82: (Inna Anzalnahu ghariiban
   minal Qadiaan wabil haqqi anzalnahu wabil haqqi nazal).
 4 M.G.A., Istifta', hal. 77.
 5 M.G.A., Istifta', hal. 77.
 6 M.G.A., Istifta', hal. 84.
 7 M.G.A., Istifta', hal. 78.
 8 Bashiruddin Mahmud Ahmad. Invitation, hal. 97.
 9 Mirza Ghulam Ahmad, Istifta', hal. 81: (innal Qur"an
   kitabullah wa kalimaatun kharajat min tuhi.)
10 Mirza Ghulam Ahmad, Istifta', hal. 81 (wa ma arsalnaka
   illa rahmatan lil 'alamin).
11 Mirza Ghularn Ahmad, Istifta', hal. 82-juga lih.
   al-Wasiyat, hal. 36. (anta minni bimanzilati tauhidi wa
   tafridi).
12 M.G.A., Istifta, hal. 82, juga lih. M.G.A., Fountain of
   Christianty, hal. 45: (anta minni bimanzilati aulaadi).
13 Analyst' Fact about Ahmadiyaa Movement, hal. 18.
14 M.G.A., Istifta', hal. 82.: (anta minni bimanzilati
   waladi)
15 Mirza Mubarak Abmad, Masih mauud a.s., hal. 15.
16 M.G.A., Istifta', hal. 88: innama amraka idza aradta
   syai'anan taqula lahu Kun Fa yakun.)
17 M.G.A., Istifta', hal. 79.

Permalink 1 Komentar

ASNAGHAS WAHYU (WAHYU YANG DATANG DARI IBLIS)

3 Mei, 2008 at 3:35 pm (2. ASNAGHAS WAHYU)

Habislah sudah masa relax dengan Mirza; kini beralih kembali
pada sepak-terjang  yang  menyakitkan.   Ia mengetahui bahwa
kegagalan-kegagalan itu tidak bisa  dibiarkan  begitu  saja.
Harus ada usaha untuk menyembunyikannya dengan cara baik.
 
Satu  hal yang sering terjadi, jika seorang berkata terhadap
dirinya sendiri: "Aku adalah orang terkuat," maka orang  itu
sebenarnya  bukan  terkuat melainkan termasuk dalam kategori
orang sembarangan.   Kebetulan  sekali  Mirza  Ghulam  Ahmad
terlibat  keseluruhannya  dalam situasi macam orang di atas.
Ia  sangat  membangga-banggakan  dirinya,  bahkan   tuhannya
sendiri  mengangkat  ia  pada  derajat  kemuliaan yang tiada
taranya.
 
Namun demikian, sejarah sangat meragukan  kebenaran  derajat
kemuliaannya itu.    Dan  keraguan  ini justru sangat tepat,
bila kita lihat sepak terjangnya yang begitu berbelit-belit.
Bahkan ia  pribadi  yang sangat mentah.  Ia dan Ahmadiyahnya
adalah  satu  topengan,  dimana  wajah  dibalik  topeng  itu
merupakan    contoh    figur   kepalsuan   dan   kemunafikan
semata-mata.  Anehnya wajah yang disembunyikan  dengan  baik
itu,     dikupas     sendiri     olehnya     maupun     oleh
pengikut-pengikutnya. Pada bab-bab yang  sudah,  kita  telah
mengetahui watak-watak    keyahudiannya.        Maka   untuk
selanjutnya kita akan mengetahui bahwa  Mirza  Ghulam  Ahmad
maupun  Ahmadiyahnya  sangat  menyukai watak keyahudian itu,
yaitu watak yuharrifunal  kalimah  an-mawadhi'ih  dan  watak
Judas Eskariot dalam kisah perjanjian barunya kaum Nasrani.
 
Ia   memperoleh   gelar   dari  pengikut-pengikutnya  berupa
sebutan: "s.a.w." atau sallalahu alaihi wasallam, satu gelar
yang lazim  disampaikan  pada  Nabi Muhammad.  Kadang-kadang
bila di Inggriskan gelar itu,  maka  sesudah  menyebut  nama
Mirza  Ghulam  Ahmad ditambah dibelakangnya dengan: "On Whom
be Peace and Blessing of GOD upon Him" yakni upon Mirza.1
 
Sesudah itu, tidak ada lagi orang yang bisa menyamai  Mirza;
Tidak juga seorang Nabi maupun seorang Rasul. Dengan lantang
ia berkata:
 
  "Jangan kamu samakan Aku dengan siapapun, dan jangan
   siapapun disamakan dengan Aku."2
 
Kemudian Mirza menambah lagi kata-katanya:
 
  "Sesungguhnya telapak kakiku ini di atas satu menara
   yang disudahi atasnya sekalian ketinggian."3
 
Ia melanjutkan derajat ke-AKU-annya dengan berkata:
 
  "Aku lahir sebagai satu kodrat Tuhan yang berjasad. Aku
   adalah kodrat Tuhan dan ada lagi beberapa wujud yang
   jadi mazhar cermin, tempat zahir kodrat kedua. Sebab
   itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa menanti
   kodrat tuhan yang kedua itu."4
 
Siapa yang dimaksud Mirza dengan kodrat  kedua  itu,  kurang
jelas.  Mungkin  itu  rohul kudus dariTuhan sesudah kematian
Mirza.5 Kelihatannya mirip dengan Trinitas ummat Kristen.
 
Selanjutnya sebagai kodrat Tuhan yang berjasad, Mirza Ghulam
Ahmad  masih  ada  padanya  beberapa wujud yang lain, antara
lain tuhannya sendiri telah berkata padanya:
 
  "Wahai sang rembulan, wahai sang surya Mirza, Engkau
   dari AKU, dan Aku dari Engkau."6
 
Mirza Ghulam sangat terharu mendapat panggilan dari tuhannya
"sang  rembulan  dan  sang surya." Perpaduan Engkau dari Aku
dan Aku dari Engkau, benar-benar  telah  menggambarkan  satu
keadaan  dimana  Tuhan sangat membutuhkan Mirza serta sangat
menghormatinya. Ia mengatakan bahwaTuhan telah  memanggilnya
sang  rembulan  oleh  karena  ia  laksana rembulan dari sang
surya. Dan kemudian ia laksana sang surya, dan Tuhan laksana
rembulan, oleh karena dari Mirzalah bulan Tuhan itu mendapat
sinar dan akan bersinar cahaya kemenanganNya.7
 
Ternyata Mirza Ghulam Ahmad adalah bagian  dari  Tuhan  yang
aktif dan ia juga terbikin dari Tuhannya. Berkata tuhan pada
Mirza Ghulam:
 
  "Wahai Mirza, Engkau terbikin dari Air-KU, akan tetapi
   mereka itu terbikin dari bibit yang lemah."8
 
Melihat wahyu tuhan  yang  hebat  di  atas,  kaum  Ahmadiyah
segera  mempersiapkan  jawaban  bila  ada serangan dari luar
yang memang sangat tidak masuk  akal  itu.  Bagaimana  bisa,
Mirza terbikin dari Air Tuhan? Ahmadiyah untuk ini menjawab:
 
  "Telah jelas bahwa wahyu-ilham, nubuwah-nubuwah dan
   sebagainya termasuk urusan mutasyabihaat, mengandung
   makna spekulatip yang dapat diartikan macam-macam.
   Dalam hubungan ini perlu diperhatikan pula orang yang
   mengatakan itu. Dengan demikian kita dapat terhindar
   dari tidak memberikan tafsiran yang bertentangan dengan
   maksud orang yang mengatakan sendiri. Ini adalah kaidah
   para ahli dalam ilmu"9
 
Oleh karena itu, kata Ahmadiyah  selanjutnya,  marilah  kita
lihat  apa  yang  dikatakan  oleh  Mirza  Ghulam  Ahmad.  Ia
berkata:
 
  "Yang dimaksud 'air-KU' ialah: air iman, air istiqamah,
   air taqwa, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan
   pada Allah yang datang dari Dia juga. Fasyal adalah
   kepengecutan yang datang dari setan."10
 
Lebih lanjut Ahmadiyah menunjukkan  contoh  dalam  Al-Qur'an
yang sama dengan wahyu "Air-KU" itu. Misalnya Tuhan berkata:
 
  "Khuliqal insaanu rnin 'ajal-artinya: manusia itu
   dijadikan dari kecepatan. (surah Anbiya 37) dan ayat:
   Khalaqakum min dhu'fin: kamu telah dijadikan dari
   kelemahan. (surah Rum 54). Benarkah manusia itu
   dijadikan dari kecepatan? benarkah ,manusia dijadikan
   dari kelemahan? Jelaslah bahwa wahyu itu mengandung
   isti'arah yaitu kiasan."11
 
Demikian penjelasan kaum Ahmadiyah dalam rangka  menafsirkan
wahyu  "Air-KU"  yang menakjubkan itu. Secara sepintas lalu,
mungkin alam  pikiran  bisa  menerima  cara  pembelaan  kaum
Ahmadiyah  itu, termasuk ucapan isti'arah Mirza. Akan tetapi
sejarah  nabi  India  dan  pengikut-pengikutnya  itu   tidak
bermaksud  beristi'arah  atau  berkias.  Sebab meskipun pada
kenyataannya  ada  tulisan-tulisan  Mirza   sendiri   maupun
tulisan  pengikut-pengikutnya  yang  segera  mengatasi  atau
membela maupun menafsirkan ucapan-ucapan  Mirza-Ghulam  yang
keliwat    batas   itu,   namun   pada   hakikatnya   karena
faktor-faktor tertentu, mereka  tidak  dapat  menyembunyikan
figur yang sebenarnya dari nabi India itu.
 
Faktor  yang  pertama  ialah,  cara atau macam contoh-contoh
yang dikemukakan mereka itu serba terlanjur, tergelincir dan
blunder. Faktor yang kedua, dan inilah faktor yang terutama,
ialah, terletak pada sang nabi  India  itu  sendiri.  Antara
lain, faktor kejiwaannya, faktor kondisi tubuhnya dan faktor
sejarah yang terjadi  disekelilingnya  maupun  yang  terjadi
sebelum ia muncul dengan seribu satu macam pangkat itu.
 
Allah  s.w.t.  berfirman  dalam  Al-Qur'an, surah At-Thaariq
ayat  5  dan  6,  bahwa  manusia  dijadikan  dari  air  yang
terpencar.  ("khuliqa min main- dzaafiq") surah Al-Mursalaat
ayat 20, bahwa manusia dijadikan dari air yang kotor. ("Alam
nakhluqum  min main mahiin?"). Itulah "air" kejadian manusia
yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim.  Jelas  bahwa  mereka
itu  ("wa  hum" dijadikan dari-min maa'in dzafiq, wa hum min
maain mahiin, wa hum min fasyal).
 
Sedangkan wahyu Tuhan  pada  Mirza  Ghulam  Ahmad  bahwa  ia
terbikin  dari  "airTuhan"  hanyalah  satu  kiasan  semata?!
Terserah bila itu hendak dipaksakan menjadi satu kias. Namun
yang  jelas itu bukan hanya satu kias belaka; melainkan juga
satu  bukti  betapa  tingginya  derajat  Mirza   pada   sisi
tuhannya.
 
Contoh kedua yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu: ayat 54 surah
Rum,  kamu  dijadikan  dari   kelemahan,   "khalaqakum   min
dhu'fin."  Ayat ini sebenarnya masih panjang, tapi Ahmadiyah
hanya mengambil  sepotong  ayat  saja.  Kembali  pada  hobby
mereka lagi. Padahal lengkapnya ayat itu berbunyi:
 
  "Allah menjadikan kamu dari lemah (min dha'fin, bukan
   dhu'fin), kemudian sesudah lemah itu kamu dijadikan
   kuat, dan sesudah kuat itu kamu balik lagi menjadi
   lemah dan tua. Dia menjadikan apa yang dikehendakiNya.
   Dia mengetahui lagi Kuasa."
 
Jelas  bahwa  Ahmadiyah   terang-terangan:   memotong   ayat
Al-Qur'an,  merobah  dha'fin  menjadi  dhu'fin,  mengartikan
lemah dengan arti kias, padahal lemah di  situ  adalah  arti
yang sebenarnya. Satu perbuatan blunder !
 
Contoh ketiga yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu ayat 249 dari
surah Al-Baqarah. Ayat tersebut dikutip sebagai berikut:
 
  "Faman syariba minhu fa-laisa minni. Diartikan oleh
   Ahmadiyah, siapa yang minum daripadanya (air-sungai)
   dia bukan daripada-KU." Ahmadiyah langsung bertanya:
   "Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air
   sungai itu dia dari Tuhan? Ini senada dengan ilham
   hazrat Ahmad di atas (anta min maina-pen.)12
 
Ayat 249 suratul Baqarah di atas pernah kami kutip dalam bab
ketiga,   ketika   membahas   watak-watak  ke-yahudian  kaum
Ahmadiyah. Ayat tersebut sebenarnya  masih  panjang,  tetapi
pihak  Ahmadiyah hanya mengambil sepotong saja. Kembali pada
hobby  mereka  lagi,  yuharrifunal  kalimah   an-mawadhi'ih.
Padahal lengkapnya ayat ini berbunyi:
 
  "Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia
   berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu
   sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya
   bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan
   airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
   tangan, maka ia adalah pengikutku."
 
Itulah   arti  yang   sebenarnya   sesuai   dengan   sejarah
terjadinya  peristiwa  itu. Bukan diartikan seperti kehendak
kaum Ahmadiyah bahwa yang minum air dari  sungai  itu  bukan
daripada-KU    (yakni    TUHAN).   Jelas   bahwa   Ahmadiyah
terang-terangan   berbuat:    memotong    ayat    Al-Qur'an,
mengaburkan  sejarah  yang  difirmankan  oleh Allah, merobah
makna yang sebenarnya dengan makna kiasan.  Suatu  perbuatan
blunder!  Dari  faktor  pertama  ini  saja, sudah lebih dari
cukup bagi sejarah untuk memberi merek abadi pada kaum Mirza
Ghulam  Ahmad sebagai kaum Musailimah pendusta dan sekaligus
sebagai kaum Yahudi India.
 
Lebih-lebih faktor kedua,  Mirza  Ghulam  dan  kaumnya  akan
telanjang  bulat  di  atas  panggung sejarah mempertontonkan
segala   kemunafikannya.   Mirza   Ghulam   Ahmad    terlalu
membesar-besarkan   dirinya,  ataukah  tuhannya  yang  sudah
terlalu menyanjung-nyanjung Mirza?  Perhatikanlah  bagaimana
Tuhan berkata tentang Mirza:
 
  "Ya Ahmad, Allah memberkahimu" ('ya Ahmad barakallah
   fika')13
   
  "Ya Ahmad, nama-Mu bisa sempurna, tapi nama-Ku tidak
   bisa sempurna." ('ya Ahmad yutimmu ismuka, wa la
   yutimmu ismii')14
   
  "Wahai Ahmadku, kebahagiaan untukmu." ('busyra laka ya
   Ahmadii')15
   
  "Wahai Ahmadku, Engkaulah tempat keperluanku, dan
   Engkau beserta Aku." ('ya Ahmadi Anta muraadi wa
   ma'ii.')16
 
Demikian beberapa kali tuhan memanggil Ahmad, sebagai pujian
serta  sanjungan  yang tak habis-habisnya. Nama Mirza Ghulam
Ahmad bisa "sempurna" kata tuhan, tetapi nama tuhan  sendiri
"tidak  bisa  sempurna."  Satu  hal  yang luar-biasa, betapa
urgentnya nama nabi India itu bagi tuhannya.
 
Bagaimana penjelasan Ahmadiyah tentang wahyu di atas, apakah
kira-kira  tidak  keliru  atau  salah cetak? Bagi Ahmadiyah,
karena itu adalah wahyuTuhan maka tidak ada yang keliru atau
salah cetak. Bahkan penjelasan dari wahyu yang luarbiasa itu
diberikan oleh Mirza Ghulam  sendiri.  Ia  mengatakan  bahwa
wahyu  "namamu  bisa sempurna" itu artinya: bahwa ia (Mirza)
akan mati dan  pujian  baginya  akan  habis  pula.  Kemudian
dengan  wahyu:  "Nama-KU tidak bisa sempurna" diartikan oleh
Mirza,   bahwa,   puji-pujian   bagi   Allah   tidak    akan
habis-habisnya.17
 
Penjelasan  Mirza  Ghulam  tersebut bertolak belakang dengan
wahyu Tuhan yang ia terima. Bagaimana bisa demikian,  namamu
bisa  sempurna,  diartikan  tidak  sempurna, mati dan habis.
Sedangkan, nama-KU tidak bisa sempurna,  diartikan  sempurna
dan kekal? Blunder lagi, bukan?!
 
Meskipun  demikian  tuhan  membutuhkan  Mirza Ghulam. Bahkan
lebih dari kebutuhan,  ia  menjadi  pilihan  bagi  tuhannya.
Untuk iniTuhan berkata pada Mirza:
 
  "Engkau Mirza terpandang di hadirat-Ku, AKU pilih
   engkau bagi Diri-KU." ('wa Anta wajiihun fi hadhroti
   ikhtartuka li nafsii')18
   
  "Engkau kepada-KU hai Mirza, di suatu martabat yang
   tidal: diketahui oleh manusia." (wa Anta minni
   bimanzilatin la ya'lamuhal khalq)19
   
  "Allah memujimu dari Arasy-Nya." (yahmadukallah min
   arsyihi)20
   
  "AKU Allah memujimu dan menyampaikan salam sejahtera
   padamu." (nahmaduka wa nushalli)21
   
  "AKU banyak menyampaikan salam padamu." (Alaika salaam
   katsir minni)22
   
  "Ya nabi Allah, tadinya AKU tidak kenal padamu." (ya
   nabiallah kuntu la a'rifuka)23
   
  "Wahai gunung-gunung dan burung-burung! ingatlah AKU
   bersama Dia dengan perasaaan asyik dan terharu." (ya
   jibaalu awwibii ma'ahu wath-thair)24
   
  "Engkau beserta AKU dan AKU beserta Engkau, rahasiamu
   itu adalah rahasia-KU." (Anta ma'i wa Ana ma'aka'
   sirruka sirri)25
 
Demikian limpahan puji dari tuhan  pada Mirza Ghulam  Ahmad.
Karenanya    tidak    aneh   kalau   Mirza   Ghulam   berani
memperlihatkan segala sepak terjangnya bahkan kalau perlu ia
marah   dan  marah  sekali.  Sebab  kemarahan  Mirza  adalah
kemarahan Tuhannya. Berkata Tuhan pada Mirza:
 
  "Bila Engkau marah, AKU-pun marah juga, dan bila Engkau
   suka pada seseorang, AKU-pun juga suka padanya." (idzha
   ghadibta ghadibtu wa kullama ahbabta ahbabtu)26
 
Keberanian Mirza lebih galak  lagi,  tatkala  Tuhan  memberi
kabar wahyu padanya:
 
  "Bersamamu wahai Mirza,' tentara di langit dan di
   bumi." (wa ma'aka jundus samaawati wal aradhiin)27
 
Kemudian Tuhan memberi satu jaminan pada Mirza  bahwa  tidak
akan  ada  siksaan  bila  di  suatu  tempat ada Mirza Ghulam
Ahmad. Tuhan Mirza berkata:
 
  "Dan sesungguhnya Allah tidak akan mendatangkan adzab
   pada mereka jika engkau berada di tengah-tengah
   mereka." (ma kanallahu liyuadzdzibahum wa Anta fihim)28
   
  "Aku besertamu, beserta keluargamu dan beserta
   orang-orang yang mencintaimu." (inni ma'aka wa ma'a
   ahlika kullu man ahabbaka)29
   
  "Siapa yang datang padamu, maka ia telah datang
   pada-KU." (man ja'aka ja'ani)30
   
  "Allah memujimu dan mengangkatmu pada derajat yang
   tinggi." (sabbahakallahu wa rafa'aka)31
   
  "Jika tidak karena Engkau ya Mirza, AKU tidak jadikan
   Alam ini." (Lau laka lama khalaqtul aflaaka)32
 
Bukan main, tidak dijadikan alam kalau  tidak  karena  Mirza
Ghulam Ahmad!  Alangkah  hebat kedudukan Mirza. Apakah  lagi
yang kurang untuk  ditambahkan  untuk  mempertinggi  derajat
Mirza  Ghulam  di  sisi  tuhannya?  Tentu saja hal itu masih
kurang, kata Mirza dan Ahmadiyahnya. Bahkan itu  masih  jauh
daripada derajat yang diperoleh Mirza Ghulam Ahmad.
 
Wahyu-wahyu  yang lebih hebat lagi turun melimpah pada Mirza
Ghulam dari tuhannya.  Ia  selalu  berhubungan  denganTuhan.
Kadang-kadang   Tuhan   turun   untuk  memujinya,  dan  pada
saat-saat yang sangat luar biasa, Mirza Ghulam naik  menemui
tuhannya.  Situasi  kerohanian  yang tiada tara bandingannya
itu,  bagi  sejarah  Islam  hampir-hampir   dilupakan   atau
dilewati  begitu  saja.  Mungkin satu hal yang pasti mengapa
sejarah tidak ambil pusing dengan peristiwa  "orang  Qadian"
itu, ialah bahwa Mirza Ghulam Ahmad disebabkan faktor-faktor
yang  sudah  disebutkan  terdahulu,   bukan   seorang   yang
kelimpahan   wahyu   dari  tuhan,  melainkan  ia  memperoleh
wahyu-wahyu iblis. Dan memang itulah kenyataannya.
 
Catatan kaki:
 1 Mirza Bashir Ahmad, Durr-i-Manthur, Rabwah Ahmadiyya
   Muslim Foreign Mission Office, 1960, hal.1 - juga lihat
   Khutbatul Ilhamiyah hal. muka dan Tukhfah Bagdad, hal.
   muka.
 2 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah ilhamiyah, hal. 6 (La
   tagisuni Bii Ahadin Wala Ahadin Bii.)
 3 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah lihamiyah, hal. 10 (Wa
   inna qadami hadihi ala Manaratin khutima Alaihi kullu
   rif'atinn).
 4 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, terjemah A. Wahid
   H.A. Jakarta Neraca Trading Company, 1949, hal. l2.
 5 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, hal. 13.
 6 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, Rabwah
   m.f.m.o., 1961, hal. 45: dan - Istifta hal. 80: (ya
   qamar ya syamsu Anta mimu wa Ana minka).
 7 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, hal.
   45: (that God made me first, the moon for I came like
   the moon from the real sun, and, then, He became the
   Moon; for, through me shone and will shine, the light
   of His Glory.)
 8 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
 9 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
10 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
11 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 38.
12 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 38.
13 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 21.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
15 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
16 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
17 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, hal. 29.
18 Mirza G.A., Tukhfah Bagdad, hal. 26 dan M.G.A.,
   Alwasiyat, hal. 40.
19 M.G.A., Alwasiyat, hal. 40, dan Tukhfah Bagdad, hal. 26.
20 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
21 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
22 M.G.A. Al-Istifta, hal, 86.
23 M.G.A., Istiftha, hal. 86.
24 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 42.
25 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 30.
26 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 41.
27 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 26.
28 M.G.A., Istifta, hal. 85.
29 M.G.A., Istifta, hal. 85.
30 M.G.A., Istifta, hal. 84.
31 M.G.A., Istifta, hal. 85.
32 M.G.A., Al-Istifta, hal, 86.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

3 Mei, 2008 at 3:10 pm (1. LOVE AFFAIR MIRZA)

Sebuah kisah 1001 malam mungkin membuat kita  sedikit  relax
daripada  menceritakan  terus menerus watak-watak keyahudian
Mirza Ghulam  Ahmad  dan  anak-anak  buahnya.  Sebuah  kisah
asmara  dimana  Mirza  Ghulam Ahmad menjadi tokoh Majnunnya,
banyak diketahui masyarakat India.
 
Sheik Abubakar  Najar  seorang  penulis  India  yang  mashur
menceritakan  kisah  seribu  satu  malam  itu  dengan judul:
"Taukah tuan tentang Mirza Ghulam Ahmad yang jatuh cinta?"1
 
Artikel ini tidak ditulis sebagai suatu romance  atau  kisah
humor.  Ini adalah kisah nyata. Meskipun kedengarannya nanti
sebagai suatu romance fantasi, namun cerita ini berasal dari
tulisan  yang  orisinil  dari pahlawan yang ada dalam cerita
tersebut yaitu Mirza Ghulam  Ahmad  dari  Qadian  yang  oleh
pengikut-pengikutnya  diakui  sebagai Almasih, Almahdi, Nabi
dan Rasul.
 
Ketika itu umur Mirza Ghulam Ahmad mencapai 50 tahun  lebih.
Keadaannya   kian   hari  kian  bertambah  lemah  disebabkan
seringnya  penyakit-penyakit  datang  menyerang.   Ia   juga
mendapat serangan penyakit pada matanya.
 
Akan tetapi tidak disangka-sangka pada suatu ketika mendadak
sorot mata Mirza menyala lagi. Apa gerangan yang menyebabkan
mata  sakit  itu  bersinar  kembali.  Ah,  seorang  dara ayu
bernama Muhammadi Begum telah tertangkap oIeh pandangan mata
Mirza. Dara itu adalah puteri dari paman ibunya, Mirza Ahmad
Beg. Maka  sudah  menjadi  suratan  takdir  bahwa  pandangan
pertama Mirza Ghulam menjadi titik mula terbakarnya sang api
cinta dalam kalbunya. Dan  mujurlah  kiranya,  sebab  ketika
Mirza  GhuIam  Atmad  jatuh cinta, ia telah jadi rasul akhir
zaman, sehingga harapannya  untuk  mempersunting  sang  dara
tidak akan menemui kesulitan maupun rintangan.
 
Akan  tetapi  sayang  sekali  bahwa  apa  yang telah terjadi
adalah  sebaliknya.  Ayah  sang  dara  itu  ternyata   tidak
tertarik  pada  kerasulan  Mirza.  Lebih-lebih lagi pinangan
terhadap anaknya, ia tidak sudi  mengorbankan  anaknya  bagi
memenuhi  hasrat  nafsu  Mirza  Ghulam  yang  sudah tua lagi
sakit-sakitan itu. Apalagi  reaksi  sang  dara,  ia  spontan
menolak mentah-mentah pinangan nabi Ahmadiyah itu.
 
Mirza Ghulam Ahmad tidak menduga sama sekali, bahwa ia telah
menerima jawaban yang sangat mengecewakannya; Karena itu  ia
segera  mengumumkan  tentang  wahyu yang baru saja ia terima
dari Tuhannya. Ia berkata bahwa Tuhan telah  mempertunangkan
Mirza dengan dara ayu itu secara ghaib (spirituil). Dan bagi
keluarga dara Muhammadi Begum, demikian  kata  Mirza,  Tuhan
akan   memberi   berkah   bila  nantinya  mereka  menyetujui
pertunangan itu secara resmi. Juga Mirza  tidak  ketinggalan
memberi  satu  peringatan  keras,  yaitu bila mereka menolak
lamarannya itu atau  mengawinkan  anaknya  dengan  laki-laki
lain,  maka suami yang bukan Mirza itu akan mati dalam waktu
dua setengah tahun kemudian, dan ayah sang  dara  akan  mati
dalam   waktu  tiga  tahun  sesudah  perkawinan  itu.  Mirza
mengumumkan wahyu-wahyunya itu melalui risalahnya  serta  ia
bagi-bagikan  pada  khalayak  ramai. Hal ini pernah ia tulis
dalam kitabnya: "ainae kemalati  Islam"  halaman  552.  Juga
tertulis  dalam  kitab  Ahmadiyah  "Facts  About  Ahmadiyyah
Movement" halaman 34.
 
Dalam kitabnya yang lain yaitu "izalatil auham" halaman  396
Mirza mengumumkan, bahwa Tuhan telah bersabda padanya:
 
  "Bahwa puteri Ahmad Beg akan menjadi salah seorang
   isterinya, tetapi keIuarganya akan menentangmu dan akan
   berusaha agar supaya perkawinanmu itu tidak terlaksana.
   Akan tetapi jangan kuatir karena Allah akan memenuhi
   janjiNya dan menyerahkan puteri itu padamu, dan tidak
   seorangpun yang sanggup menghalangi apa yang telah
   dikehendaki Allah."
 
Sungguhpun demikian orang-tua gadis itu  sama  sekali  tidak
terpengaruh  oleh  wahyu  nabi  Qadian itu, dan dengan tegas
ditolaknya lamaran Mirza.  Tatkala  Mirza  Ghulam  mendengar
lamarannya telah ditolak, maka hatinya jadi gelisah kemudian
segera  ia  umumkan  wahyunya  yang  baru  saja  ia  terima,
tersebut  dalam  kitab Asmani Risalat halaman 40 yang isinya
antara lain:
 
  "Aku Allah telah menikahkan gadis itu padamu, hai
   Mirza!" Tak ada perubahan atas kata-kataKu dan bila
   rnereka melihat kekuasaanKu terjelma, mereka akan
   berpaling dan berkata bahwa itu adalah sihir semata."
 
Juga dalam kitabnya yang lain yaitu Tukhfah  Baqdad  halaman
28,  Mirza  berkata  bahwa Tuhannya telah menyampaikan wahyu
padanya, antara lain:
 
  "Bergembiralah engkau hai Mirza, bahwa Aku menikahkan
   engkau dan Aku telah kawinkan gadis itu dengan engkau."
 
Sekali lagi wahyu-wahyu Mirza Ghulam  tersebut  tidak  cocok
dengan  kejadian  yang sebenarnya. Apa yang terjadi kemudian
telah membawa kehidupan  Mirza  Ghulam  jadi  semakin  susah
karena  cintanya  tidak terbalas. Sebaliknya orang-tua gadis
itu tetap menolak serta menganggap segala daya  upaya  Mirza
itu sebagai kejenakaan belaka.
 
Tidak   lama  kemudian  Mirza  kembali  mengumumkan  tentang
dirinya melalui berita berbahasa Arab dan ditujukannya  pada
para Ulama Syeikh-syeikh, dengan kata-kata:
 
  "Telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, dan waktunya
   telah terjadi bersama-sama berkahNya yang telah
   mengumumkan Muhammad sebagai Rasul dan menjadikan
   beliau sebagai utusan terbaik serta manusia terbaik.
   Maka inilah kebuktian yang disampaikan juga kepadaku,
   bahwa ramalanku menjadi kenyataan dan aku tidak berkata
   tentang sesuatu sebelum Tuhan berkata padaku."
 
Tampaknya Mirza Ghulam  sedang  bergembira  karena  turunnya
wahyu  itu,  tapi  anehnya  ia masih tampak sedih dan letih.
Semuanya  hidupnya  berangsur-angsur  turun  serta  meredup,
akhirnya  ia  menjadi  buah  tertawaan  orang  banyak karena
wahyu-wahyunya selalu meleset.
 
Dengan sisa kekuatan yang ada Mirza  Ghulam  terpaksa  harus
membalas olok-olokan orang-orang itu serta berusaha menutupi
kelemahannya.  Dalam  risalahnya  tertanggal  10  juli  1888
Masehi,  ia  membalas  mereka  yang memperolokkan itu dengan
kata-kata:
 
  "Mereka tidak percaya tanda-tandaku lalu mengejekku;
   tetapi Allah akan menjadikan hidupku jaya dan
   mengembalikan segala ejekan itu pada diri mereka
   sendiri. Inilah wahyu dan inilah kehendak Allah dan Dia
   tidak merobah kehendakNya. Dia berbuat sesukaNya.
   Sesungguhnya hai Mirza Aku beserta engkau dan engkau
   dengan Aku, kelak Tuhanmu akan mengangkat dirimu pada
   kedudukan yang terpuji."
 
Adapun yang dimaksud dengan kata-kata  "terpuji  itu"  ialah
bahwa   perkawinannya  dengan  gadis  itu  akan  terlaksana.
Selanjutnya  ia  mengumumkan  dalam  kitab  Dafa  elwathawis
halaman   228,   sebagai   berikut:   "Biarlah  mereka  yang
mengingkari kebenaran akan diperingatkan dan menyesali  diri
mereka, demikian ramalanku pasti tepat."
 
Semua itu adalah klimaks dari reaksi Mirza Ghulam, dimana ia
telah mengancam  lewat  wahyu-wahyunya.    Bahwa  ia   telah
mengumumkan pertunangannya dengan Begum kemudian pertunangan
itu ternyata diselenggarakan sendiri oleh Allah. Kemudian ia
umumkan    perkawinannya    dan   perkawinannya   itu   juga
diselenggarakan oleh Allah  karena  atas  kehendakNya  pula.
Akhirnya  Mirza menegaskan bahwa semua itu pasti terjadi dan
harus terjadi.
 
Dalam kitab  Ahmadiyah,  "Facts  About  Ahmadiyah  Movement"
halaman 31, seorang bernama Mesum Beg menulis satu pembelaan
terhadap Al-Majnun Mirza Ghulam bahwa keluarga  besar  Ahmad
Beg  dimana  sang  dara itu berada, ternyata mereka ini kena
pengaruh hukum  maupun  tradisi  yang  berlaku  di  kalangan
masyarakat Hindu, yaitu bahwa satu perkawinan antar keluarga
dekat seperti Mirza Ghulam    dengan  Muhammadi  Begum  itu,
tidak  dapat  dibenarkan.  Hal  ini, kata Mesum Beg, terjadi
juga tatkala Nabi Muhammad  akan  mengawini  puteri  Zainab.
Maka jelaslah letak persoalan yang sebenarnya, mengapa Ahmad
Beg menolak mengawinkan  anaknya  dengan  Mirza  yang  masih
kerabat  dekat itu. Rupa-rupanya ia mengikuti satu peraturan
bukan dari Islam. Benarkah itu semua?  Sheik  Najjaar  tidak
banyak menaruh perhatian pada pembelaan Mesum Beg.
 
Bagaimana  kisah  selanjutnya  dari  love  affair Mirza itu?
Sembuhkah sukma Mirza  dari  derita  asmara.  Sayang  sekali
semua  yang diimpi-impikan Mirza tidak terjadi dan bagaimana
dengan  Mirza?  Hatinya  makin  remuk  lebih-lebih   setelah
didengarnya  kabar bahwa keluarga gadis itu memutuskan untuk
mengawinkan puterinya dengan seorang pemuda bernama:  Sultan
Muhammad. Mirza Ghulam sangat sedih ia menangis dan menangis
akhirnya ia menulis surat pada setiap  keluarga  gadis  itu,
mula-mula  memberi peringatan, tapi akhirnya ia mohon dengan
sangat  karena  tak  tahan  lagi  hidup  tanpa  gadis   itu.
Permohonannya  tidak  mendapat  jawaban.  Bahkan  di  antara
mereka yang menolak permohonan Mirza itu adalah  keluarganya
sendiri,  ialah anak isteri dari Fazl Ahmad. Akibatnya Mirza
Ghulam kena pukul lebih hebat lagi.
 
Maka ia lalu  bertindak  sesuatu  yang  tidak  disukai  oleh
Agama,   yaitu   memerintahkan   anaknya  untuk  menceraikan
isterinya dengan segera. Terjadilah  perceraian  itu.  Lebih
dari  itu, puteranya yang lain yang tidak menyukai cara-cara
yang diperbuat ayahnya itu, telah dihardik oleh  Mirza  dari
lingkungannya,  bahkan  ia  tidak  diberi hak untuk mewaris.
Peristiwa ini tersebut dalam kitab  Seeratul  Mahdi  halaman
22.
 
Mirza  Ghulam  Ahmad menjadi seorang pecemburu tidak karuan;
ia mengirim utusan-utusan pada keluarga gadis itu  dan  juga
pada pamannya, mohon belas kasihan agar perkawinan gadis itu
dengan Sultan Muhammad dibatalkan saja. Permohonannya itu ia
umumkan  dalam  kitab  Seeratul  Mahdi  halaman  174.  Namun
utusan-utusan itu tidak membawa hasil yang diharapkan. Mirza
tidak  dikasihani  oleh  keluarga gadis itu, juga tidak oleh
gadis itu sendiri. Bahkan suatu peristiwa  yang  mengejutkan
Mirza  Ghulam  telah  terjadi.  Pada  tanggal  7  April 1892
Masehi, ketika pengikut-pengikut Mirza Ghulam  sedang  asyik
berdo'a  dalam  mesjid  agar  perkawinan  itu  batal, diluar
mesjid  terjadilah  keramaian  dimana  pernikahan  dara  ayu
Muhammadi    Begum    dengan    sultan    Muhammad,   tengah
dilangsungkan.
 
Tidak ada yang lebih  hebat  terpukul  selain  Mirza  Ghulam
Ahmad,  suatu  pukulan  yang  sekaligus  menghantam hati dan
prestigenya. Ia jadi patah hati, putus harap.  Dalam  harian
Al-Hakam vol 5 no. 29 tertanggal 1-8-l90l, ia menulis:
 
  "Sesungguhnya gadis ini belum menjadi isteriku, namun
   demikian jangan kira aku tidak akan mengawininya,
   sebagaimana aku telah katakan sebelumnya. Dan
   barangsiapa yang mencemoohkan aku, akan mendapat malu.
   Karena gadis ini masih hidup maka ia akan menemui aku
   dalam suatu perkawinan yang akan datang. Ini bukan
   hanya harapan melainkan suatu keharusan, karena Allah
   telah menyampaikan padaku tentang ini dan Allah tidak
   rnerobah KehendakNya."
 
Mirza Ghulam menanti-nanti harapannya itu, akan tetapi waktu
yang  dinanti-nantikan tidak kunjung datang, sedang ia telah
terlanjur mengumumkan wahyu-wahyunya, antara lain ia berkata
bila  pinangannya  ditolak,  maka  suami Begum yang sekarang
akan mati setelah dua setengah tahun kemudian, menyusul ayah
sang Begum enam bulan kemudian.
 
Maka  waktu  yang dinanti-nantikan itu telah tiba; dan waktu
itulah yang menjadi bukti kebohongan Mirza Ghulam.   Mungkin
akan  menjadi  kebanggaan  baginya bila yang ia ramalkan itu
akan terlaksana.  Akan tetapi yang  jelas,  kesialan  selalu
mengejar  hidup Mirza Ghulam. Ia hidup berantakan, isterinya
yang pertama tidak bahagia lagi.
 
Dua setengah tahun telah berlalu, dua sejoli itu masih hidup
bahagia.  Ketika perang dunia pertama itu pecah, suami Begum
ikut dalam peperangan, ia mendapat luka-luka tetapi kemudian
sembuh  dan  hidup  kembali bersama isterinya bertahun-tahun
dalam damai dan bahagia.
 
Pada tahun 1908,  jauh  sebelum  perang  dunia  pertama  itu
pecah,  Mirza  Ghulam  Ahmad  sudah  berangkat  mati  akibat
penyakit kolera yang dideritanya. Satu hal  yang  aneh  bagi
orang-orang  yang  mengetahui  kisah Mirza Ghulam ini, ialah
bahwa pengikut-pengikutnya masih bersitegang  ingin  membela
nabi yang sial itu, agar tertutup rasa malu akibat kegagalan
Mirza memikat sang dara Begum.
 
Pembelaan mereka  ditujukan  pada  dunia  diluar  Ahmadiyah,
yaitu  bahwa  apa  yang diramalkan nabi India itu mengandung
makna yang lain  daripada  yang  dikatakan.    Dr.  Nuruddin
khalifah  Ahmadiyah yang pertama, telah mengumumkan apa yang
menjadi   percakapan    orang    banyak,    yaitu    tentang
ramalan-ramalan  Mirza  yang selalu meleset, terutama sekali
tidak jadinya ia kawin dengan gadis pujaannya itu.
 
Dalam Review of Religion, vol. 7, no. 6 tanggal 8 Juni 1908,
Nuruddin berkata:
 
  "Kalau sekiranya salah seorang dari anak-anak atau cucu
   Mirza Ghulam Ahmad kejadian telah mengawini salah
   seorang puteri dari keturunan Muhammadi Begum, maka
   yang demikian itulah yang sebenarnya dari ramalan Mirza
   Ghulam telah terlaksana."
 
Demikian pembelaan kaum Ahmadiyah  terhadap  nabinya.    Dan
demikian  pula kisah yang mengaku rasul, nabi, Al-Masih, dan
Al-Mahdi yang dinanti-nantikan telah menjadi korban  asmara.
Kisah yang sungguh terjadi, kisah Al-Majnun bertepuk sebelah
tangan, lucu dan patut dikasihani.
 
Satu hal yang nyata dan benar dapat diangkat dari kisah yang
diceriterakan kembali oleh Sheik Najjar itu, yaitu kegagalan
Mirza  Ghulam  Ahmad  mempersunting  seorang  dara  yang  ia
dambakan.   Kegagalan  inilah yang menghiasi kehidupan Mirza
dalam segala  aspek.    Ia   adalah   manusia   yang   gagal
segala-galanya.
 
Catatan kaki:
1 Abubakar Najjar, Do  You  know  about  Mirza  in
  love?  Islamic Publication  Bureau Athlone Cape South
  Africa, series no. 5 (terjemahan bebas)

Permalink 1 Komentar

« Previous page · Next page »