Subsidi BBM Menyesatkan

Istilah Subsidi BBM Menyesatkan. Mengapa Dipakai Untuk Menaikkan Harga Lagi??

Kwik Kian Gie

Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126%.

Mari kita segera saja melakukan kalkulasinya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Ani) memberi keterangan kepada Rakyat Merdeka yang dimuat pada tanggal 24 April 2008.

Angka-angka yang dikemukakannya adalah angka-angka yang terakhir disepakati antara Pemerintah dan DPR, yang sekarang tentunya sudah ketinggalan lagi.

Maka dalam perhitungan yang saya tuangkan ke dalam tiga buah Tabel Kalkulasi saya menggunakan angka-angkanya Menteri Ani yang diperlukan untuk mengetahui berapa persen bagian bangsa Indonesia dari minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi Indonesia. Berapa jumlah penerimaan Pemerintah dari Migas di luar pajak. Jadi yang saya ambil angka-angka yang masih dapat dipakai walaupun banyak angka yang sudah ketinggalan oleh perkembangan, seperti harga minyak mentahnya sendiri. Angka kesepakatan antara Pemerintah dan Panitya Anggaran harga minyak masih US$ 95 per barrel. Sekarang sudah di atas US$ 120. Saya mengambil US$ 120 per barrel.

Keseluruhan data dan angka yang menjadi landasan kalkulasi saya tercantum dalam tabel-tabel kalkulasi yang bersangkutan.

Setiap Tabel kalkulasi sudah cukup jelas. Untuk memudahkan memahaminya, saya jelaskan sebagai berikut.

Menteri Ani antara lain mengemukakan bahwa lifting (minyak mentah yang disedot dari dalam perut bumi Indonesia ) sebanyak 339,28 juta barrel per tahun. Dikatakan bahwa angka ini tidak seluruhnya menjadi bagian Pemerintah. (baca : bagian milik bangsa Indonesia). Kita mengetahui bahwa 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Maka mereka berhak atas sebagian minyak mentah yang digali. Berapa bagian mereka? Menteri Ani tidak mengatakannya. Tetapi kita bisa menghitungnya sendiri berdasarkan angka-angka lain yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut.

Menteri Ani memberi angka-angka sebagai berikut.

Lifting : 339,28 juta barrel per tahun

Harga minyak mentah : US$ 95 per barrel

Nilai tukar rupiah : Rp. 9.100 per US$

Penerimaan Migas diluar pajak : Rp. 203,54 trilyun.

Dari angka-angka tersebut dapat dihitung berapa hak bangsa Indonesia dari lifting dan berapa persen haknya perusahaan asing. Perhitungannya sebagai berikut.

Hasil Lifting dalam rupiah : (339.280.000 x 95) x Rp. 9.100 = Rp. 293,31 trilyun.

Penerimaan Migas Indonesia : Rp. 203,54 trilyun. Ini sama dengan (203,54 : 293,31) x 100 % = 69,39%. Untuk mudahnya dalam perhitungan selanjutnya, kita bulatkan menjadi 70% yang menjadi hak bangsa Indonesia.

Jadi dari sini dapat diketahui bahwa hasil lifting yang miliknya bangsa Indonesia sebesar 70%. Kalau lifting seluruhnya 339,28 juta barrel per tahunnya, milik bangsa Indonesia 70% dari 339,28 juta barrel atau 237,5 juta barrel per tahun.

Berapa kebutuhan konsumsi BBM bangsa Indonesia? Banyak yang mengatakan 35,5 juta kiloliter per tahun. Tetapi ada yang mengatakan 60 juta kiloliter. Saya akan mengambil yang paling jelek, yaitu yang 60 juta kiloliter, sehingga konsumsi minyak mentah Indonesia lebih besar dibandingkan dengan produksinya.

Produksi yang haknya bangsa Indonesia : 237,5 juta kiloliter.

Konsumsinya 60 juta kiloliter. 1 barrel = 159 liter. Maka 60 juta kiloliter sama dengan 60.000.000.000 :159 = 377,36 juta barrel.

Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang dikatakan Menteri Ani tentang harga minyak mentah US$ 95 per barrel, saya ambil US$ 120 per barrel.

Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang diungkapkan Menteri Ani tentang nilai tukar adalah Rp. 9.100 per US$, saya ambil Rp. 10.000 per US$.

TABEL III

Hasilnya seperti yang tertera dalam Tabel III, yaitu Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 35,71 trilyun, walaupun dihadapkan pada keharusan mengimpor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rakyatnya. Produksi minyak mentah yang menjadi haknya bangsa Indonesia 237,5 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter yang sama dengan 377,36 juta barrel. Terjadi kekurangan sebesar 139,86 juta barrel yang harus dibeli dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrelnya dan nilai tukar diambil Rp. 10.000 per US$. Toh masih kelebihan uang tunai.

TABEL II

Apalagi kalau kita merangkaikan semua data kesepakatan terakhir antara Pemerintah dengan Panitya Anggaran DPR. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Ani kepada Rakyat Merdeka tanggal 24 April yang lalu kesepakatannya adalah sebagai berikut.

Lifting : 339,28 juta barrel per tahun
Harga : US$ 95 per barrel
Nilai tukar : Rp. 9.100 per US$
Penerimaan Migas di luar pajak : Rp. 203,54 trilyun.

Kalkulasi tentang uang yang harus dikeluarkan dan uang yang masuk seperti dalam Tabel I.

Kita lihat dalam Tabel I tersebut bahwa kelebihan uang tunainya sebesar Rp. 82,63 trilyun. Ketika itu Pemerintah sudah teriak bahwa kekurangan uang dalam APBN dan minta mandat dari DPR supaya diperbolehkan menggunakan uang APBN sebesar lebih dari Rp. 100 trilyun, yang disetujui oleh DPR.

TABEL I

Dalam Tabel II saya mengakomodir pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitya Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$.

Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun kan milik rakyat Indonesia juga? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I.

MENGAPA?
Mengapa Pemerintah mempunyai pikiran bahwa subsidi sama dengan pengeluaran uang tunai? Mengapa DPR menyetujuinya? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar buat saya yang sudah saya kemukakan selama 10 tahun dalam bentuk puluhan tulisan di berbagai media massa. Dibantah tidak, digubris tidak.

Sekarang saya mengulanginya lagi, karena masalahnya sudah menjadi kritis dalam dua aspek. Yang pertama, kesengsaraan rakyat sudah sangat parah. Kedua, kenaikan harga BBM lagi bisa memicu kerusuhan sosial. Kali ini jangan main-main. Semoga saya salah.

PIKIRAN BINGUNG YANG ZIG-ZAG

Ketika harga BBM di tahun 2005 dinaikkan dengan 126%, bensin premium menjadi Rp. 4.500 per liter. Ketika itu, harga bensin ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 61,5 per barrel.

Pemerintah mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel.

Ketika harga minyak mentah turun sampai sekitar US$ 57 dan Wapres JK ditanya wartawan apakah harga BBM akan diturunkan, beliau menjawab “tidak”. Lantas harga minyak meningkat sampai US$ 80. Wartawan bertanya lagi kepadanya, apakah harga BBM akan dinaikkan? Dijawab : “Tidak, dan tidak akan dinaikkan walaupun harga minyak mentah meningkat sampai US$ 100 per barrel.”

Lantas Presiden mengumumkan bahwa kalau harga minyak sudah US$ 120 pemerintah akan kekurangan uang untuk memberikan subsidi kepada rakyatnya dalam jumlah besar, sehingga APBN akan jebol. Maka terpaksa menaikkan harga BBM pada akhir Mei dengan sekitar 30 %. Jadi sangatlah jelas bahwa Presiden menganggap subsidi BBM sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah.

Pada tanggal 13 Mei jam 22.05 Metro TV menayangkan Today’s Dialogue, di mana Wapres Jusuf Kalla mengakui bahwa pemerintah akan kelebihan uang, yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur.

Jadi dalam pengadaan BBM pemerintah kekurangan uang karena harus memberikan subsidi, atau kelebihan uang yang akan dipakai untuk membangun infrastruktur?

Penutup
Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah? Buat urusan perut rakyat yang termiskin yang notabene pemilik minyak, janganlah lebih mementingkan iklan – iklan.

Tunggu artikel-artikel berikutnya di KoranInternet ini. Artikel-artikel berikutnya akan membahas masalah penentuan harga BBM untuk rakyatnya ini dari segi disiplin ilmu cost accounting beserta landasan falsafahnya yang nampaknya tidak dikuasai dan tidak dipahami oleh para teknokrat, tetapi selalu bersikap gebrak dulu dengan sikap ”biar bodoh asal sombong”. Pokoknya gebrak dan gertak. Boleh – boleh saja, tetapi kalau lantas menyengsarakan rakyat ya ayolah berdebat keras!

Source: koraninternet.com

21 Komentar

  1. aNa_aLfatiya said,

    analisis yang menarik..🙂
    saya justru tak berpikir sejauh itu.. ^^

  2. ee said,

    Pendapatan Negara dari Migas untuk pembiayaan APBN yg hilang. Kalau pendapatan itu balik ke rakyat, nggak ada jatah buat dibagi-bagi ke pejabat, bayar gaji PNS, TNI & Polri ama buat bayar hutang dong. Lha siapa yang membiayai APBN? Hutang lagi? Tapi emang amit2 deh pemerintah takeran kesejahteraan ekonominya kiblatnya ke barat pake GDB jadi dikejarlah investasi, padahal itu tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat. Pola ini hanya membawa kesejahteraan bagi pemilik modal, bukan bagi rakyat yg tidak punya modal. GDB hanyalah kuda troya yg diciptakan para kapitalis, ya semacam berhala/Tuhan modern di tingkat negara.

  3. Bee said,

    Pak Kwik, Kalau lifting minyak mentah dipakai buat konsumsi dalam negeri berarti tidak ada penerimaan migas donk. Kalau dipakai sendiri kan berarti gak dijual. Jadi Rp203.54T itu tidak ada. Bukan begitu?

  4. William said,

    Pak Kwik, bagaimana jika harga minyak dalam negri kita lepaskan saja ke harga pasaran dunia.njadi, masing2 pemain bbm: pertamina, shell, bp, petronas, dll bebas menentukan harga jual mereka ditiap spbu. Katakanlah misalnya spbu pertamina menjual 9.000 di bekasi, spbu shell menjual 9.200, spbu petronas menjual 9.100, dstnya… Jadi rakyat bebas memilih spbu yg menurut mereka terbaik bagi kebutuhan mobil mereka…

    Saat itu pemerintah tidak perlu menganggarkan subsidi 100trilyun pertahun lagi. Uang sebanyak itunbisa dipergunakan untuk membangun dan mengoperasikan puluhan rumah sakit gratis, ratusan sekolah gratis di setiap propinsi di inonesia. Juga bisa membangun infrastruktur sebanyak2nya…

    Memang pertama perlakuan lepas subsidi ini akan menyakitian bagi rakyat ini, tapi hanya bersifat sementara. Perusahaan akan menaikkan gaji, infrastruktur mantap, sekolah dan rumah sakit gratis… Akhirny kondisi menjadi memadai..

    Permainan kotor bbm subsidi yg dijual ke industri juga tidak ada lagi… Bukankah yg paling menikmati subsidi adalah rakyat yg mampu membeli kendaraan?

    Terkait pendapatan ekspor minyak mentah, seperti yg Pak Kwik sajikan diatas.. Pemerintah tetap mendapatkan pendapatan, bedanya tidak ada subsidi lagi ke rakyat yg mampu… Krn dana itu sudah dialihkan ke sekolah dan rumah sakit gratis

  5. faisal suhaimi said,

    mohon bantunya,, boleh saya bertanya? semoga bisa dijawab,,!

    1. apakah semua kebutuhan konsumsi BBM(jadi) di Indonesia, semuanya di Impor dari luar negeri???

    2. apakah Indonesia mengolah minyak mentah menjadi BBM(jadi) di Indonesia sendiri???

    3. apakah indonesia sama sekali tidak bisa membuat BBM(jadi) di dalam negeri?

    4. apakah semua minyak mentah yang di hasilkan di Indonesia 100% di ekspor ke luar dan 100% pula Indonesia mengimpor dalam bentuk BBM(jadi) ? apakah seperti itu?

    • killa said,

      1. tidak seluruhnya di impor dari luar negeri… yang di impor itu untuk memenuhi kuota. Karena Hasil Produksi Kita tidak mencukupi untuk konsumsi BBM seluruh rakyat yang cenderung meningkat dari tahun ketahun.

      2 & 3.Indonesia mengolah minyak mentah jadi BBM (jadi) melalui Kilang-kilang yang tersebar di Indonesia. kilang DUMAI (riau), PLAJU (sumsel), BALIKPAPAN (kalsel), CILACAP (jateng), BALONGAN (jabar) dan KASIM (papua).

      4.sesuai dengan UU BPH Migas, Minyak Mentah (crude) di Indonesia di eksplorasi oleh Pertamina dan KPPS asing. Kemudian di Bagi Hasil (lifting) antara Pemerintah dan Perusahaan tersebut.
      kembali kemasalah ekspor import
      dulu Indonesia mengekspor crude keluar negeri dan mengimpor crude luar (Karena harga crude Indonesia lebih mahal ketimbang crude luar negeri) dan Indonesia di untungkan oleh ekspor tersebut.
      Tapiiii….sekarang, seiring meningkatnya umlah konsumsi BBM di Indonesia dan Menurunnya cadangan crude Indonesia, maka INDONESIA tidak lagi mengekspor crude (keluarnya Indonesia dari OPEC), tetap mengimpor crude dari luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi BBM rakyat.

      Ada juga sebagian BBM jadi yang import dari luar Negeri karena hasil produksi Kilang tidak mencukupi total keseluruhan Konsumsi BBM Indonesia, ini dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan BBM Indonesia.

  6. RIVEL said,

    Subsidi Bbm hanya akan menguntungkan orang yg mampu membeli kendaraan, bagaimana dengan rakyat yg tidak memiliki kendaraan?… Apa adil orang yg punya 30 mobil yg dipakai untuk kebutuhan usaha yg setiap hari menerima subsidi? 30×25 liter= 750 liter bbm bersubsidi yg pemerintah berikan kepada pengusaha setiap hari. Coba badingkan dengan ygtidak memiliki kendaraan tidak menerima subsidi. Makanya yg kaya lebih kaya karena selalu menerima subsidi. 750×3000 = 2.250.000 setiap hari x30 hari = 67,5juta setiap bulan yg di terima oleh pengusaha. Rakyat yg tidak punya mobil dapat 0 Rp…..
    Bagi saya Subsidi BBM tidak tepat karena merugikan rakyat kecil yg tidak punya kendaan. Subsidi BBM kalau tidak di cabut itu seperti Narkoba yg di berikan kepada rakyat. Yang menikmati Subsidi BBM orang mampu bukan rakyat miskin.
    Indonesia negara kaya. Kekayaannya hanya habis di korupsi & subsidi BBM.
    Subsidi BBM adalah peninggalan penguasa lama untuk mengelabui pikiran rakyat, rakyat tanpa Subsidi akan mengamuk seperti orang kecanduan NARKOBA…. BRUTAL, Mari kita sadar dancintailah Indonesia….

    Bantulah Indonesia & selamatkan dari tangan koruptor. 10 tahun kedepan bila subsidi di cabut & INDONESIA bebas korupsi dari saat ini maka INDONESIA akan berubah menjadi negara yg makmur. (Manado)
    RIVEL F. NGANTUNG

  7. buntaram said,

    Maaf, Perlu diralat yang dimaksud penerimaan sebesar : Rp. 203,54 trilyun. itu dari minyak dan gas atau hanya minyak bumi (crode oil) saja.
    dan tolong di hitungkan sesungguhnya hasil acumulasi penjualan BBM untuk kendaraan umum yang bersubsidi sebesar Rp. 4500 per liter maupun harga jual BBM industri Rp. 6000 per liter (setelah dikurangi biaya operasional dan produksi) dari volume impor 139,86 juta barel, diperhitungkan akan diterima dan menjadi milik Pertamina apa dikembalikan ke Pemerintah, mengingat dalam hitungan dalam tabel II dan III diatas Pemerintah sudah menanggung biaya pembelian impor seluruhnya sebesar Rp. 120,91 trilyun. Berapa juta barel jumlah BBB yang disubsidi untuk Transportasi umum, khusus dan industri? kalau kembali kepemerintah akan menambah surplus Pemerintah (bangsa Indonesia)
    Terima kasih, menunggu jawaban

  8. wresni wiro said,

    Saya juga wong cilik, tapi wong cilik yg mandiri dan mengerti bahwa subsidi BBM adalah suatu kesalahan dan tidak produktif. Subsidi BBM harus dikurangi atau dihapus sama sekali, agar pemerintah punya banyak dana untuk pembangunan. Lihatlah banyak gedung sekolah yg rusak, infrastruktur kita jelek dan banyak pengangguran di negeri ini. Dengan jumlah APBN yang besar pemerintah akan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Uang subsidi BBM dapat dialihkan untuk kepentingan rakyat miskin yang tidak mampu, menambah dana bantuan sosial, biaya kesehatan masyarakat dll. Saya tidak perlu hitung2an Kwik Kian Gie dan alasan2nya yang kampungan. Mungkin Kwik nggak punya duit buat beli pertamax makanya dia menolak kenaikan harga BBM. Partai2 politik yang menolak kenaikan BBM cuma cari muka kepada rakyat dan tidak tulus.

  9. angahudin said,

    bagus semua artikelnya dan jawaban yang ada di sini. marilah kita berpikir dengan arif dan bijaksana kalau minyak naik masyarakat juga kena dampaknya tidak naik pemerintah kerepotan mendanai subsidi, dan sekarang kita harus berpikir mencari alternatip lain untuk menggantikan bbm untuk kendaraan kita, listrik dan yang lainnya.
    Atau langkah yang saya rasa tepat dengan memasang sensor minyak pada kendaraan yang berpusat di suatau tempat sehingga pengisian BBM dapat di kontrol dengan benar, apa bila kendaraan tersebut menggunakan BBM lain { subsidi } kendaraan tersebut akan rusak dengan sendirinya.

  10. Umar Hasan said,

    Saya membenarkan kalkulasi pak Kwik, namun siapa tahu kami kelewat satu atau beberapa hal, maka perlu dilakukan pertemuan para ahli ekonomi, anggaran dan perminyakan untuk merampungkan masalah ini. Mohon pemerintah mensponsori pertemuan ini agar dapat dicapai kesimpulan yang diterima oleh berbagai pihak yang ahli dalam hal ini. Boleh pertemuan tertutup agar tidak mengundang polemik.
    Trima kasih,
    Umar Hasan

  11. Rivel Ferat Ngantung TONDANO. SULUT said,

    Indonesia negara yg kaya Raya akan sumber daya alam mulai Pertambangan Emas, besi, tembaga, nikel, logam, batubara, minyak dan gas bumi, memiliki lahan pertanian yg luas, kekayaan laut yg banyak, iklim yg menunjang, dst….. Tapi sangat disayangkan Indonesia tidak dapat mengolah dengan baik sehingga rakyat kekurangan, Contoh BBM selalu menkadi masalah utama.,. Katanya Bbm harus disubsidi agar rakyat senang tapi pada kenyataan sebaliknya rakyat masih kekurangan dan rakyat miskin tetap ada…. Kalau subsidi BBM 200 Triliun /tahun dan subsidi ini dikelola dengan baik 10 tahun akan datang Indonesia jadi negara makmur. Kalau subsidi Bbm diberikan langsung kepada rakyat susah pasti akan lebih baik, perhitungan subsidi yg diberikan langsung kepada Rakyat miskin / keluarga mendapat 10jt/Tahun X 1jt Keluarga miskin = 100 Triliun. Sisanya pake bayar utang Luar Negeri 10tahun x100T =1000Triliun ini baru perhitungan Subsidi BBM belum penhasilan NEGARA. yg lain….. Sebenarnya Negara ini sedang di Tipu dan rakyat Tertipu dengan subsidi…. Yg menikmati subsidi adalah orang kaya bukan Rakyat MISKIN karena Rakyat MISKIN tidak memiliki kendaraan. Contoh pengusaha kaya yg punya Kendaraan 100 X 30 liter kebutuhan BBM X 5000 = Rp.15jtX25 Hari kerja = 375 jt/ bln yg diterima pengusaha kaya setiap bulan…. PERTANYAAN apakah Pemerintah pernah berbuat seperti ini kepada rakyat miskin?… Yang KAYA semakin KAYA yg MISKIN tetap MISKIN…… PERCUMA BBM DISUBSIDI KARENA ITU HANYA UNTUK ORANG KAYA!!!!!!!!!!!! SADAR?

    • Rivel Ferat Ngantung TONDANO. SULUT said,

      Segera hapus SUBSIDI BBM dan berikan subsidi tersebut buat orang miskin bukan bUAt PENGUSAHA KAYA…. MERDEKA!!!!!!

  12. suhindro wibisono said,

    WOW .. . . !! Harga Premium/Solar akan jadi Rp.9.500,- per liter !!

    http://swinspiration.blogspot.com/2013/05/mimpi-nyata-ke-surga.html?m=1

  13. andri irfan said,

    Saya bingung dengan artikel anda. Kalkulasi anda diatas ada yang keliru menurut saya. Coba anda perhatikan baik2 pada perhitungan jumlah komsumsi bbm indonesia pertahun adalah 60 juta kiloliter. Anda menulis angka 60 juta kilo liter dengan angka 60.000.000.000 : 159 = 377,36 juta barrel. Selanjutnya anda melakukan perhitungan dalam tabel dan dapat lah hasil dimana pemerintah mempunyai kelebihan uang sebesar 35, 71 triliun. Kalau angka yang anda tampil kan diatas benar maka tidak ada yang salah dengan perhitungan anda. Hanya saja angka yang anda tampil kan diatas itu salah maka terjadilah kesalahan dalam perhitungan anda. Coba anda perhatikan baik baik apakah 60 juta jumlah nol nya ada 10 (60.000.000.000) seperti yang anda tuliskan diatas? Seharusnya angka 60 juta jumlah nol ada 7 (60.000.000). Sedangkan angka yang anda sebutkan diatas adalah 60 miliar bukan 60 juta. Jadi otomatis secara keseluruhan perhitungan anda diatas salah dan cukup menyesatkan bagi orang yang kurang teliti dalam membaca nya. Saya mohon artikel anda ini segera anda koreksi, agar tidak terjadi kekeliruan opini.

  14. andri irfan said,

    Saya bingung dengan artikel anda. Kalkulasi anda diatas ada yang keliru menurut saya. Coba anda perhatikan baik2 pada perhitungan jumlah komsumsi bbm indonesia pertahun adalah 60 juta kiloliter. Anda menulis angka 60 juta kilo liter dengan angka 60.000.000.000 : 159 = 377,36 juta barrel. Selanjutnya anda melakukan perhitungan dalam tabel dan dapat lah hasil dimana pemerintah mempunyai kelebihan uang sebesar 35, 71 triliun. Kalau angka yang anda tampil kan diatas benar maka tidak ada yang salah dengan perhitungan anda. Hanya saja angka yang anda tampil kan diatas itu salah maka terjadilah kesalahan dalam perhitungan anda. Coba anda perhatikan baik baik apakah 60 juta jumlah nol nya ada 10 (60.000.000.000) seperti yang anda tuliskan diatas? Seharusnya angka 60 juta jumlah nol ada 7 (60.000.000). Sedangkan angka yang anda sebutkan diatas adalah 60 miliar bukan 60 juta. Jadi otomatis secara keseluruhan perhitungan anda diatas salah dan cukup menyesatkan bagi orang yang kurang teliti dalam membaca nya. Saya mohon artikel anda ini segera anda koreksi, agar tidak terjadi kekeliruan opini, banyak juga pembaca yang kurang teliti.

  15. James said,

    perlu di kalkulasi ulang

  16. karengkang said,

    @andri irfan : jgn sok teliti klo anda sendiri yg tidak teliti. 1 kilo liter itu 1.000 liter. 1 juta liter itu 1.000.000 liter. kalo juta kilo ya milyar donk dodol,,1 milyar itu kyk gini nulisnya : 1.000.000.000. nah kalo 60 milyar itu kyk gini nulisnya : 60.000.000.000, nolnya memang 10,,

    yg jd pertanyaan itu, nilai penerimaan migas, itu angkanya masuk penerimaan dr minyak ga? soalnya kan ngomongnya migas,, nah klo masuk dr minyak yg di perut bumi Indonesia, brarti angka itu salah donk, klo ga masuk yg dr perut bumi Indonesia sih ok.

    trus, rakyat kan beli BBMnya, nah duit beli BBM itu masuk ke pertamina yg sm aj dgn pemerintah kan? apakah itu udah masuk ke penerimaan migas? klo blm, msh salah donk angka penerimaan migas, hrs ditambahkan pula dgn hasil jual BBM ke rakyat. Lagian kayaknya rakyat beli BBM ke pertamina ga mungkin masuk ke penerimaan migas, krn Rp. 6.000 x 60jt kilo liter = 360 triliun. kalo harga 4500, berarti penerimaan dr jual BBM ke rakyat ada 270 triliun, sdgkn penerimaan migas cm 203,64 triliun. Jd angka 360 triliun, atau selama ini 270 triliun, angkanya ada dimana?

    trus, dr ngolah minyak mentah menjadi BBM kan perlu biaya, nah mustinya perlu dimasukkan jg ke tabel/perhitungan kan.

    trus, alokasi penerimaan gas, apa bs gitu aj buat nambal biaya kebutuhan minyak? kan bs aj malah jdnya gas yg diturunkan harganya kan, jd bukan dialokasikan ke kebutuhan minyak, soalnya klo main tambal2 gitu aja kan pendapatan pemerintah msh banyak lg yang lain, begitu pula dengan kebutuhan pemerintah kan msh banyak yg lain.
    tambahan: Kmrn sempat harga gas mau dinaikkan, loh ini ada apa lagi? gas kan tinggal ngambil di perut bumi Indonesia, ga ada impor gas kan? malahan ekspor kan krn berlebih dr kebutuhan nasional? apa biaya produksinya jauh naik? kalo ga, ya ga ada alasan donk naikin harga gas,, biaya produksi sama semua operasionalnya brp betul sih per liter, palingan ga sampe 1.000 per kg. Klo 1.000 per Kg kan jdnya gas 12 kilo cm Rp.12.000 per liter. Nah katanya gas 3Kg itu disubsidi. Lah ini subsidi apa lagi ini. *cm bs geleng-geleng kepala*

    kesimpulannya, memang untuk BBM, Indonesia memang msh butuh impor minyak, namun dengan harga terkini kalo dikalkulasikan dengan seksama, pemerintah tidak ada mensubsidi sama sekali, malahan banyak mendapatkan keuntungan. Jadi, yang diperlukan adalah dihitung kembali dengan seksama dan transparansi dr pemerintah.

  17. karengkang said,

    edit : Rp.12.000 per tabung.

  18. GEORGE MUSA LEWIER said,

    Masing-masing punya perhitungan dan asumsi yang berbeda, maka
    untuk fairnya didiskusikan saja di forum akademisi

  19. GEORGE MUSA LEWIER said,

    Masing-masing punya dasar perhitungan yang berbeda >>> hasilnya beda. Untuk lebih fair disiskusikan di forum akademisi dengan peserta semua pihak yang terkait

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: