Mengkritisi Pernyataan Din Syamsuddin

Oleh AM Waskito (Pengamat Sospol, tinggal di  Bandung)

Seharusnya, jika mau memadamkan api, siramlah air. Jangan memadamkan api dengan menyiramkan bensin. Bukan api menjadi padam, malah semakin berkobar. Itulah gambaran pernyataan yang dilontarkan Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyyah, ketika meresmikan Gedung Dakwah Muhammadiyyah di Tuban, 12 Juli 2008. (Republika, 13 Juli 2008).

Sebagaimana disebutkan Republika, menurut Din, Islam masih menjadi bagian dari masalah bangsa, salah satunya karena kurangnya SDM yang berkualitas. “Kita belum bisa berperan, faktornya kita tidak lagi mempunyai SDM yang mampu menjawab perubahan bangsa, utamanya runtuhnya ekonomi menengah umat Islam,” kata Din Syamsuddin.

Menurut Din Syamsuddin, umat Islam tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi lebih baik introspeksi diri. “Karena ini sebenarnya adalah faktor pada diri kita sendiri. Misalnya dulu, sebelum dan di awal kemerdekaan, umat Islam mampu berbuat. Namun sekarang, setiap persoalan yang ada, kita selalu yang pertama memunculkan masalah,” kata Din lebih jauh.

Namun ujungnya, Din menyatakan kesiapannya dicalonkan menjadi wakil presiden, bahkan menjadi presiden sekalipun. Hanya saja, dia menekankan agar pencalonan itu melalui proses pembahasan dengan berbagai pihak, termasuk mempertimbangkan faktor dukungan. (Umat Islam Perlu Introspeksi. Republika, 13 Juli 2008, halaman B2).


Din menasehati umat Islam agar introspeksi diri, tetapi dengan melontarkan kalimat-kalimat yang menyudutkan. Islam dikesankan sebagai pembawa masalah bagi bangsa ini. Seharusnya, Din introspeksi dulu, sebelum menyuruh umat.

Pernyataan Serius


Jujur saja, tidak ada bangganya mengkritisi pemikiran tokoh-tokoh elit, seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Syafi’i Ma’arif, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, dll. termasuk Din Syamsuddin. Kita tidak merasa bahagia dengan mengkritik pernyataan tokoh-tokoh. Tetapi suatu waktu, ketika pernyataan itu sudah melampaui batas, bukan kebaikan juga dengan mendiamkannya. Siapa saja yang punya dalil, silakan keluarkan; yang punya hujjah, silakan tunjukkan; yang punya analisis, silakan bentangkan; demi membela Islam.


Kita sepakat dengan Din Syamsuddin, bahwa SDM Muslim yang berkualitas sangat penting. Pernyataan ini shahih 100 %. Begitu pula, kita setuju bahwa ekonomi klas menengah Islam di Indonesia telah hancur berkeping-keping. Dalam dua persoalan itu, kita sepakat sepenuhnya.

Tetapi benarkah pernyataan, bahwa Islam selalu menjadi masalah di Indonesia? Benarkah kalimat Din ini, “Namun sekarang, setiap persoalan yang ada, kita (umat Islam –pen.) selalu yang pertama memunculkan masalah”?


Pernyataan seperti di atas, kalau meminjam kata orang Jawa Timur, bisa disebut ngelamak (kurang ajar). Bukan maksud hati hendak mengadili pernyataan Din, tetapi menyebut Islam sebagai sumber masalah kehidupan bangsa Indonesia, adalah benar-benar menyesatkan, ahistoris, dan tendensius. Seseorang harus menghadirkan banyak bukti-bukti, sebelum melontarkan pernyataan yang bisa menodai sejarah Islam di Indonesia.

Jasa Islam bagi Indonesia


Mula-mula harus disadari, Islam adalah agama mayoritas di tengah bangsa yang terdiri dari ratusan etnik dan multi kultur ini. Tanpa Islam, bangsa Indonesia akan terpecah-belah menjadi banyak negara-negara berdasar kesukuan, seperti di Afrika dan Eropa. Para sejarawan mengakui, bahwa pemersatu bangsa Indonesia yang multi etnik adalah Islam.


Dalam sejarah pergolakan nasional, Islam menyumbang peranan besar dalam melawan kolonial, sampai tercapai kemerdekaan. Hingga di era perang kemerdekaan pun, posisi Bung Tomo, Jendral Soedirman, atau M. Toha, mewakili perjuangan Islam. Begitu pula dengan organisasi-organisasi pergerakan seperti Syarikat Dagang Islam (SDI), Syarikat Islam (SI), Jong Islaminten Bond (JIB), MIAI, Masyumi, dll. yang telah berjuang sejak jaman kolonial. Banyak sejarawan Muslim menyayangkan ketika tonggak kebangkitan nasional justru dikaitkan dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), padahal organisasi itu bersifat ekskusif, kedaerahan, dan mewakili aparat pribumi yang mengabdi penjajah.


Dari sisi komitmen pembangunan, umat Islam tidak pernah membuat masalah, mereka mendukung negara ini sejak merdeka, saat Orde Lama, maupun Orde Baru. Baru muncul masalah ketika regim berkuasa bertindak sewenang-wenang, seperti ketika Soekarno-Hatta tunduk di bawah perjanjian Renville, atau Soekarno semakin otoriter dan menganak-emaskan PKI. Begitu pula ketika Orde Baru hendak memaksakan Pancasila sebagai azas tunggal.


Sikap politik umat Islam Indonesia secara genetis selalu mendukung pembangunan. Bahkan umat Islam selalu mengalah terhadap kebijakan negara. Hal itu tampak nyata ketika di awal Orde Baru, almarhum Bapak Prawoto Mangkusasmito ingin merehabilitasi partai Masyumi. Berbagai cara damai telah dilakukan, melalui dialog dan surat-menyurat, tetapi hasilnya nihil. Orde Baru melanjutkan kebijakan Orde Lama, menyebut Masyumi sebagai partai terlarang. Akhirnya, mantan-mantan Masyumi membentuk lembaga dakwah, DDII.


Islam juga memberi sumbangan moralitas bagi bangsa Indonesia. Betapa besarnya pengaruh moral itu hingga setiap orang dewasa yang bekerja selalu berkata, “Kerja apa saja boleh, asalkan halal.” Masyarakat memahami kalau mencuri, merampok, berzina, mabuk-mabukan, madat, korupsi, dll. semua itu buruk dan dilarang agama. Ini semua adalah karena pengaruh moral Islam.

Islam juga mendukung pendidikan nasional, melalui lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan secara swadaya, seperti pesantren, madrasah, sekolah Islam, panti asuhan, dan lainnya. Bahkan umat Islam berperan membentuk konstruksi bahasa Indonesia, sebelum pemerintah membentuk lembaga bahasa Indonesia secara resmi. Sejak lama, para ulama, dai, dan muballigh di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dakwah, secara lisan maupun tulisan. Kosa kata bahasa Arab dalam bahasa kita sangat banyak.


Begitu pula, sumbangan Islam bagi kehidupan spiritual bangsa Indonesia. Islam memberikan bagi bangsa Indonesia tradisi spiritual kenabian, seperti shalat, puasa Ramadhan, shalat Jum’at, zakat, infaq, sedekah, hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, manasik Haji, busana Muslimah, dll.


Bahkan Islam memberikan sistem pembelaan diri yang sangat tangguh, yaitu Jihad fi Sabilillah. Tidak ada satu pun ancaman teritorial yang ditakutkan, selama umat Islam masih memiliki senjata Jihad. Meskipun di era-era terakhir, kemuliaan Jihad secara keji diidentikkan dengan aksi-aksi terorisme.


Jangan dilupakan pula, bahwa di balik integrasi NKRI ada sumbangan tokoh Islam, yaitu almarhum Bapak Muhammad Natsir, mantan Ketua Masyumi. Melalui mosi integral di tahun 1950, beliau menyerukan agar bangsa Indonesia kembali menjadi NKRI dan membubarkan sistem federasi RIS.


Dapat disimpulkan, jasa Islam bagi Indonesia sangatlah besar. Tanpa Islam, mustahil akan lahir sebuah negara bernama Indonesia. Justru kita balik bertanya, apa sumbangan ideologi-ideologi lain seperti nasionalisme, militerisme, sekularisme, ideologi agama non Islam, dan ideologi-ideologi lainnya bagi bangsa Indonesia? Apa jasa mereka bagi negeri ini? Kehancuran Indonesia saat ini tidak lepas dari peranan ideologi-ideologi tersebut. Hebatnya lagi, “Mereka selalu membuat sampah, dan umat Islam yang harus membersihkannya.”


Lihatlah kasus AKKBB! Mereka melakukan provokasi sehingga terjadi insiden Monas. Sedangkan dalam iklan-iklannya, mereka berlagak sok cinta Indonesia, sok nasionalis sejati, sok peduli kebangsaan. Na’udzubillah!

Memahami Akar Masalah


Ketika terlontar pernyataan tidak enak, mungkin Din Syamsuddin ingin mengkritik umat Islam, misalnya dalam kasus Monas dan Ahmadiyyah. Atau kasus-kasus lain dimana aktivis Islam tampak sadis, kejam, radikal, ekstrim, dan seterusnya. Tetapi dengan mengatakan, umat Islam selalu menjadi sumber masalah bangsa, itu sangat menyakitkan.


Mestinya ketika melihat masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para aktivis gerakan Islam di Indonesia, harus dilihat dari tiga sisi:


Pertama, masalah-masalah itu merupakan respon atas kebuntuan birokrasi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Contoh, sweeping oleh FPI atau penolakan kenaikan BBM, hal itu muncul ketika birokrasi tidak mampu memberi solusi seperti yang diharapkan.


Kedua, masalah-masalah itu merupakan hasil dari konspirasi untuk memojokkan Islam. Sejarah konspirasi di Indonesia sangat panjang, sejak Hatta terlibat pencoretan “7 kata Piagam Jakarta”, konflik DI-TII, gerakan Ali Moertopo dengan Opsus, kasus Adah Jaelani, Haji Ismail Pranoto, Komando Jihad, peristiwa Priok, Talangsari, DOM, bahkan sampai peledakan Bom Bali. Di semua sisi itu tidak lepas dari konspirasi untuk merusak citra gerakan Islam di Indonesia.


Ketiga, masalah-masalah itu merupakan persoalan hilir yang muncul sebagai akibat rusaknya urusan di hulu. Banyak sekali masalah-masalah yang masuk kategori ini. Misalnya, fenomena kemiskinan muncul karena dominasi sistem kapitalisme; radikalisme pemuda Islam muncul karena ketidak-adilan hukum yang merajalela; ambruknya bisnis kaum santri karena “dicekik” oleh birokrasi, asosiasi pengusaha sekuler, dan Chinese overseas; buruknya SDM Muslim karena sistem pendidikan materialis dan berbiaya mahal; dan sebagainya.


Semua itu adalah realitas hilir yang muncul ketika di hulunya sudah rusak. Jangan selalu menyalahkan umat Islam, jangan selalu memojokkan aktivis Islam, karena sebagian besar masalah-masalah yang ada, bukan karena ulah umat Islam. Cobalah lihat para koruptor! Sebagian besar mereka bukanlah para aktivis Islam, tetapi orang sekuler-nasionalis. Jika ada aktivis, rata-rata mereka adalah aktivis yang “menunggangi” Islam demi kepuasan syahwat. Kemuliaan Islam tidak bisa dikaitkan dengan semua kerusakan perilaku itu.

Trouble Maker Sebenarnya


Seharusnya Din Syamsuddin tidak ragu-ragu menunjuk tokoh-tokoh elit seperti Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, Abdurrahman Wahid, Azyumardi Azra, Nurcholish Madjid, dll. Mereka itu terus-menerus membuat masalah di negeri ini. Kehancuran hidup umat Islam Indonesia saat ini adalah produk “kepintaran” Amien Rais dalam politik. Amien yang semula dianggap tokoh Reformasi, ternyata menjadi lokomotif penarik gerbong liberalisasi di Indonesia. Seharusnya, tokoh-tokoh semacam ini yang harus dikritik sekeras-kerasnya. Mereka itulah trouble maker dalam arti sesungguhnya. Para pemuda Islam jangan segan lagi mengkritik dan mencela orang-orang seperti itu, sebab keraguan kita selama ini telah membuahkan penderitaan besar bagi umat Islam Indonesia.


Garis batas antara yang haq dan bathil sudah nyata. Habib Riezieq menyebutnya “Yaumul furqan”. Maka janganlah lagi merasa ragu-ragu, untuk membela umat Rasulullah Saw. Dalam Al Qur’an, “Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, maka janganlah kalian menjadi bagian dari orang-orang yang ragu-ragu.” (Surat Yunus: 94).


Semoga ke depan Din Syamsuddin lebih berhati-hati dalam membuat pernyataan. Jangan sengaja menyakiti hati umat, agar Allah Ta’ala tidak menetapkan hisab yang sulit baginya! Wallahu a’lam bisshawaab

source :suara-islam.com

14 Komentar

  1. Marjoni said,

    Saya rasa respon anda trhdap komentar din itu brlebihan, justru saya mempertanyakan krdibiltas anda dlm memperjuangkan islam. Din yg saya knal selama ini adalah pejuang islam sejati baik lewat muhammadiyah maupun kiprah internasionaknya dlm mewakili islam

    • jamin amora said,

      Ah yang namanya manusia,siapapun dia tidak ada yg sempurna,kecuali nabi saw.Tidak usahlah fanatik2 amat terhadap seseorang kecuali pada nabi saw.

  2. Bardian said,

    ingat!!!! SESAMA MUSLIM ADALAH SAUDARA!!!!!

    SAYA SEPENDAPAT AGAR PAK DIN SYAMSUDDIN BISA LEBIH BERHATI-HATI DALAM MELONTARKAN PERNYATAAN, JANGAN SAMPAI MALAH BIKIN MASALAH BARU, DAN PAK DIN MEMAKAN LUDAH SENDIRI BAHWA “…… setiap persoalan yang ada, kita selalu yang pertama memunculkan masalah,”

    nAMUN BUAT SANG PENGKRITIK, BERBAIK SANGKALAH BAHWEA pak din syamsuddin ADAL;AH OTRANG YANG TAK PERLU DIPERTANYAKAN KREDIBILITASNYA SEBAGAI SEORANG MUSLIM.

  3. ahmad said,

    saya setuju dengan pernyataan bahwa umat islam harus instropeksi diri. karena selama ini, saya melihat bahwa banyak orang di tubuh islam yang merasa diri paling benar sehingga kemungkinan kebenaran dari luar selalu saja dicurigai bahkan di tolak.
    yang terpenting sekarang, bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana korupsi berhenti dan pelaku-pelakunya di hukum. perbedaan saya pikir adalah hal yang natural dan tidak bisa ditumpas, yang harus dilakukan adalah menerima perbedaan sebagai fakta meski kita tidak setuju.
    yang harus dipertandingkan adalah hal-hal yang positif untuk kemajuan seluruh rakyat indonesia tanpa pandang bulu.
    ayo maju dan tetap instropeksi.

  4. agung said,

    aku gak tau arti golongan din islam

  5. M.Arsyad Gafar,SH said,

    Bahkan saya merasa haqqul yakin bahwa salah satu masalah besar bangsa ini ada pada “orang2 cerdas” seperti Din Samsudin ini….!!!

    • abu muhammad said,

      Sangat setuju.. pernyataannya menyakitkan ummat.
      Dan perjuangannya untuk islam perlu dipertanyakan. Sepertinya perjuangan utk negerinya lebih dikedepankan!

  6. Maryadi said,

    Islam dibangun dengan akhlak yg baik..tetapi ada yg menentangnya yaitu ahklak buruk..perangilah ahklak buruk itu jika ia menghalangimu seperti Muhammad memerangi orang-orang kafir, musyrik dan munafik..Selama kita berpegang pada Al-Quran dan sunnah…maju terus.

  7. ihsan said,

    Seharusnya Din Syamsuddin ini harus lebih hati2 mengeluarkan pernya taan apalagi terkesan memojokkan umat Islam.Terus terang bahwa seka rang ini umat Islam di Indonesia hampir tidak ada mempnyai tokoh utama yg bisa dijadikan panutan.Ada yg kelihatannya intelek tetapi malah mem bela paham PLURALISME,Liberalisme,ber-mesra2 dgn Ahmadiyah.Dan terakhir dalammasalah Syi’ah saling berbantahan,ada yg bilang sesat, ada yg bilang “Syi’ah tdk sesat”.Salah satu yg bilang tdk sesat itu ya Din Syamsuddin sendiri,entah apa alasannya bilang tdk sesat,padahal dia adalah Ketua MUI Pusat. Perbedaan Sunni dgn Syi’ah itu bukan sekedar masalah cabang atau ranting,tetapi adalah masalah aqidah dan Sunnah Rasulullah SAW. Rukun Islam dan Rukun Iman nya sudah beda,ada Imam yg 12 orang yg harus diimani,”kawin mut’ah “yg mirip dgn zina,ber”haji” ke Karbala dan tawaf sekeliling makam Husein dan lain2(sgt banyak). Mana itu peran sdr. Din sbg ketua MUI/Muhammadiyah menegakkan yg Haq dan menghindarkarn yg Bathil? Ingat tanggung jawab anda!!!

    • widodo adi wijaya said,

      Brow yang di omongin pak din tu bener bedanya sunni ma syi’ah itu ni pahami ea sunni itu kita mengikuti jejak rosul n jejak semua para sahabat.. Sedangkan syi’ah dia mengimani rosul cuma mengikuti jejak langkah ali doang gitu ms pak mb’ ea tolong dipahami dulu n pak din kan bilang jangan menyalahkan orang lain n intropeksi diri .. Buktinya pelaku koruptor itu adalah orang2 qta..cntohe nazarudin,angelina dll. Bukti kecil tu..

  8. Imam Samudra said,

    Siapa yang ragu terhadap kebenaran islam sesudah dia beriman maka batalah keimananya ….MURTAD

  9. widodo adi wijaya said,

    Saya sependapat dg pak din masalahnya pelaku KORUPSI BANGSA INDONESiA itu rata2 pelakunya orang2 qta. Orang muslim buktinya angelina, nazzarudin, joko susilo pelaku koruptor itu adalah rata2 adalah orang2 qta maka apa yg dibilang pak din bener qta itu blm punya sdm yg brkualitas yg blm bs mnjwb perubahan jls apa yg di omongkan pak din benar.. Makane dipikir dulu jangn pd emosi bodoh.. Anda itu udahlah intropeksi

  10. Doni Batubara said,

    Perlu kita pahami pernyaan beliau diatas ini secara menyeluruh. Pak Din Syamsudin tdk ada mengatakan Islam lah yg telah menjadi masalah, namun Oknum2 nya lah yg berbuat seperti itu. Dan memang Umat Muslim pada Posisi Mayoritas di Republik ini.

    Pada Kenyataannya, Saya fikir apa yg telah Beliau sampaikan tersebut, memang sebuah hal yg realistis. Mengingat dari Pemberitaan Media yg menempakan hampir semua pelaku tindak kriminal yg diberitakan, didominasi oleh org2 yg mempunyai Keyakinan atau Beragama Islam.

    So, Saya kira tdk ada yg perlu utk kita kritik atau juga bahkan utk kita peringatkan!
    Bahkan harusnya kita dgn objektif, dpt mengambil Ikhtibar dari apa yg telah di sampaikan Beliau ini barusan.

    Menjadikan semua ini tantangan kedepannya. Dengan cara mengevaluasi atau Inropeksi guna bersegera melakukan Rehabilitasi terhadap diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: