INDONESIAKU

Ada Apa di Balik Kenaikan Harga BBM, Kajian Naif Atas Kenaikan Harga


“BBM naik tinggi, susu tak terbeli.. orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi….” (petikan lirik lagu Galang Rambu Anarki – Iwan Fals)

Lagi-lagi, akhirnya harga BBM dinaikkan kembali. Istana Presiden/Wapres beserta para jongos setia-nya terus mensosialisasikan ketidakadilan dibalik subsidi BBM dan kebijakan (seolah-olah) pro poor BLT’nya melalui berbagai lini kekuasaan. Rupanya mereka tidak pernah ngerti atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu bahwa menaikkan harga BBM membawa dampak efek bola salju inflasi dan peningkatan pengangguran. Beban hidup, kian menghimpit sementara daya beli makin menurun. Angka-angka Statistik memang sangat mudah dimainkan dan dimanipulasi sesuai selera, apalagi jika oleh mereka yang berkuasa..

Siapa bilang subsidi BBM hanya menguntungkan orang kaya saja? Nyatanya efek dari naiknya BBM berpengaruh bukan hanya pada psikologi sebagian besar masyarakat kita, tapi berpengaruh nyata pula pada kenaikan harga-harga di berbagai sektor kehidupan. Bagi kita masyarakat kelas menengah, apalagi bagi pejabat-pejabat di sekitaran istana sana maupun bagi para pengusaha, kenaikan harga BBM yang diikuti dengan inflasi di berbagai sektor mungkin tidak terlalu signifikan berpengaruh terhadap kehidupan, tapi tidak bagi masyarakat kebanyakan! Orang-orang ‘kuat’ bisa bersandar pada penghasilannya, atau mencari obyek yang bisa diserahi beban (misalnya dengan menaikkan harga produk atau mengurangi pengeluaran) atas kenaikan harga BBM dan harga-harga lainnya. Sementara masyarakat kebanyakan hanya bisa pasrah, menerima nasib sambil menghibur diri dalam ketidakberdayaan.

Sampai beberapa hari kemarin kendatipun BBM’nya belum resmi naik, di luaran sana harga-harga sudah mulai dan masih terus merangkak. Antrean di SPBU-SPBU terus memanjang. Sebelum kenaikan harga BBM diresmikan saja harga-harga komoditas lain sudah mulai naik, apalagi setelah resmi tentunya. Beberapa hari belakangan ini harga Premium di pengecer non-SPBU yang biasanya 5000/liter di kota2 besar Jawa dan Sumatera telah berganti harga menjadi minimal 6.000/liter. Belum lagi harga-harga barang lainnya yang juga ikut merangkak. Sebuah proses latihan adaptasi mungkin.

Pantaskah di negara penghasil minyak bumi yang masih relatif miskin ini harga BBM dibuat setara harga pasaran dunia?! Daya beli masyarakat kita masih rendah bung! Dengan pendapatan perkapita hanya 810 US$ haruskah kita membayar hingga Rp. 6000/liter Premium. Iran yang memiliki GNP 2,5 kali Indonesia pun menjual Premium hanya Rp. 820/liter bagi rakyatnya. Malaysia saja yang pendapatan perkapitanya lebih dari 4 kali kita menjual BBM hanya Rp. 4870/liter, saat harga di Indonesia masih Rp. 4500/liter. Tak usahlah membandingkan dengan Jepang, Saudi Arabia ataupun Amerika Serikat jika tidak ingin dada kita kian terasa sesak. Yang lucunya lagi, saat harga minyak dunia naik harga BBM di kita harus dinaikkan, namun tatkala harga minyak dunia sedang turun, harga BBM (yang seolah-olah masih) bersubsidi tidak mengenal kata turun.

Selamat datang kembali kebijakan BLT yang (seolah-olah) pro-poor. 100.000/bulan hanya lah pigura ‘pemanis’ ditengah kian beratnya beban hidup. Ini hanyalah solusi palsu (& ad hoc). Pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) Plus tahun 2005 lalu pun sudah terbukti gagal mencegah dari bertambah miskinnya rakyat. Berdasarkan hasil Susenas BPS 2006, ketika harga BBM dinaikkan bulan Maret dan Oktober 2005 lalu, terjadi pula peningkatan angka kemiskinan dari 15,97% pada Februari 2005 menjadi 17,75% rakyat Indonesia yang miskin pada bulan Maret 2006 lalu. Belum lagi efek-efek sosial lainnya seperti kecemburuan, kemalasan, ketergantungan, dll pada masyarakat.

Biaya sekolah pun tetap mahal tidak juga kunjung gratis. Program peningkatan infrastruktur pedesaan yang dijanjikan saat kenaikan BBM tahun 2005 pun entah seberapa efektif realisasinya. Mungkin hanya sektor kesehatan yang agak mendingan belakangan ini, meskipun cuma mendapatkan pelayanan kelas 2 tapi mereka yang miskin masih lebih terperhatikan, itupun karena menterinya cukup peduli dan tidak mau begitu saja dikendalikan oleh kekuatan para pemodal. Tampaknya semua ini hanyalah program ‘pembungkam-an’, ‘pil penenang’ bagi masyarakat bawah dan aparat rendahan.

Rupanya masyarakat (bawah) dari hari ke hari bukan hanya dibohongi dan dibuat kian tak berdaya, kemandiriannya pun digerogoti sedikit demi sedikit. Bukan hanya pemerintahan nya dan negara yang dibuat kian terjerat dan tergantung pada kekuatan asing, rakyat pun dibawa-bawa. Cash program hanyalah sebuah program karitatif murahan. Betul rakyat miskin yang katanya perlu lebih diperhatikan mendapat iming-iming hadiah tunai, yang mungkin sedikit meringankan mereka dari efek domino kenaikan harga BBM. Tapi itu hanya berlaku selama setahun paling, sedangkan turun nya daya beli dan kian tinggi beban biaya hidup akibat inflasi dan meningkatnya pengangguran efek dari kenaikan BBM itu akan terus berlanjut. Yang terjadi dengan rakyat kita sekarang bukan hanya kurang gizi Pak, tapi didorong pula untuk mati perlahan. Untungnya ini terjadi di Indonesia neg’RI kita tercinta ini, salah satu bangsa yang terkenal dan sudah terbukti memiliki tingginya ketabahan dan daya tahan masyarakatnya dalam menghadapi berbagai deraan dan cobaan.

Kabar terakhir lainnya, pemerintah melalui Meneg BUMN berencana menjual Krakatau Steel ke Perusahaan Multinasional Metal yang rupanya sudah melakukan pendekatan untuk itu sejak 10 thn yg lalu, tapi ditolak oleh Gusdur dan Megawati. Mas Amien Rais pun memiliki dokumen tentang rencana privatisasi pada 44 BUMN Strategis, termasuk BNI, Telkom, Garuda juga Krakatau Steel. Tidak perlu pula lah diceritakan betapa lemahnya nilai tawar negara terhadap perusahaan-perusahaan multinasional Migas yang masih bercokol dan terus menguras kekayaan neg’RI kita tercinta ini.

Apapun argumen yg diberikan, ada yang keliru dengan kebijakan-kebijakan semacem itu apalagi kalau sampai dilaksanakan. Itu sama aja dengan menjual sawah, traktor, motor, hanya untuk bayar sedikit utang ke tengkulak dilanjut dengan foya-foya atas penjualan tersebut. Jangan dilupakan pula, para pembeli ini sangat senang bersahabat dengan antek-antek setipe jongos’nya Amangkurat. Dan merekapun akan sangat berterima kasih pada panitia yg telah memuluskan rencana nya menguasai ‘sawah’ barunya itu. Rupanya kebijakan ekonomi kita belakangan ini didikte dan dikuasai oleh operator-operator kekuasaan dan ekonom-ekonom neo liberal yang bukan hanya lihai namun di back up pula oleh lembaga-lembaga keuangan multilateral (IMF,WB,WTO,dll), negara-negara kapitalis dan perusahaan-perusahaan multinasional. Begundal-begundal Neo-kolonialis.

Betul kata Rizal Ramli, visi pemerintahan SBY itu layaknya visi mahasiswa kos-kosan. Kalau tidak punya uang ngutang, tidak punya uang lagi jual HP, jeans, Laptop,dll. Menurutnya pemerintahan SBY pun demikian, cari utang luar dan dalam negeri, menjual aset-aset BUMN, dan naikin harga-harga. Drajat Wibowo dan beberapa anggota DPR menawarkan sejumlah solusi alternatif untuk menyelamatkan APBN tanpa perlu menaikkan harga BBM, tapi tidak digubris pemerintah. Revrisond Baswir dan sejumlah ekonom non antek-antek neoliberal/imperialis pun sudah menggambarkan bahwa tanpa menaikkan BBM bersubdsidi di dalam negeri pun kenaikan harga minyak dunia bukannya memberatkan malahan menguntungkan bagi keuangan negara/APBN. Lantas kemana larinya kenaikan Penerimaan (PMB/ Penerimaan Minyak Bumi) akibat kenaikan harga minyak bumi dalam APBN/ keuangan negara kita ini??

Rupanya ada kepentingan ideologis, ‘pengendalian’ (baca:penjajahan) dan bisnis BBM internasional dibalik kebijakan kenaikan harga BBM ini. Namun ternyata pemerintahan SBY-JK lebih bersedia berdiri tegak dan lebih mengerti cara menjadi pembela kaum imperialis (dan komprador/antek-anteknya), daripada membela rakyatnya yang kian tercekik dan terhimpit ini. Masih pantaskah kita berharap kepada pemerintah untuk melindungi negeri ini dari jeratan dan tindasan kapitalisme global dan neo-kolonialisme?!

Ini persoalan keberpihakan!! Logika yang dipakai dalam kebijakan kenaikan harga BBM adalah logika pedagang, bukan logika negarawan. Masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan perekonomian bangsa ini. Jangan karna rakyat sudah apatis dan terbiasa survive dan adaptif lantas kita bisa sewenang-wenang. Ekonomi (bangsa/negara) bukan sekedar technical-rasional lho tuankuu… Apalagi kalo ujung-ujungnya kian menggadaikan martabat dan kemandirian bangsa!

Hidup SBY-JK, Profisiat!!
Selamat datang negara RI kapitalistik yang sebetulnya b’pemimpi(n)kan para ‘kamuflator’ ta bernurani, antek-antek dan operator neoliberlisme dan neokolonialisme…
Salam

“MoeFth”
http://kppfoundation.blogspot.com

http://profiles.friendster.com/24394833

1 Komentar

  1. benn_keifer said,

    Sallut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: