3 Mei, 2008 at 5:45 pm (7. BASHIRUDDIN M.A. VERSUS NAGA RAKSASA)

Keistimewaan Khalifah Ahmadiyah yang kedua  ini  bukan  saja
ahli  kashaf memperoleh info-info militer yang rinci dan top
secret dari peperangan Dunia yang kedua, melainkan  ia  juga
yang   empunya   ru'yah  (mimpi)  tentang  nasib  kehancuran
Komunisme. Entah bagaimana caranya  menghancurkan  komunisme
itu.  Yang  pasti, bahwa ia dan Ahmadiyahnya tidak melakukan
peperangan dengan senjata pedang atau lainnya  melainkan  ia
lakukan dengan senjata do'a yang konon sangat ampuh.
 
Mungkin ada proses-proses pendahuluan yang terjadi menjelang
masa hancurnya Komunisme  itu.  Mungkin  proses  itu  adalah
peperangan dengan senjata entah dengan siapa, mungkin dengan
Inggris,  Amerika  atau  dengan  negara-negara  lain.   Baru
setelah  kekalahan  menimpa  Komunisme  Russia,  sebagaimana
kekalahan  kaum  facist   melawan   sekutu,   maka   barulah
pasukan-pasukan  Ahmadiyah melancarkan serbuan besar-besaran
ke  negeri  taklukan  sekutu  itu.  Kalau  mereka  berbicara
lantang,   bahwa   di   samping  missi-missi  Kristen  aktif
menyiarkan  agamanya,  terdapat  pula  di  sana  missi-missi
Ahmadiyah  menyebarkan  Islam versi Ghulam Ahmad. Missi yang
terakhir ini meskipun berbeda dengan anutan kaum kolonialis,
akan  tetapi  mudah  menaruh  diri dan mudah memperoleh izin
kerja, terutama karena identitasnya telah dikenal lama.
 
Peristiwa kehancuran facist nazi  Jerman  Itali  dan  Nippon
dikabarkan oleh Tuhan  liwat rentetan kashaf dan wahyu, maka
juga peristiwa kehancuran Komunisme  dikabarkan  Tuhan  pada
Bashir  liwat  ru'yah.  Apakah  ada  proses  pendahuluannya,
seperti kehancuran facist mula-mula harus melalui peperangan
dunia,  Ahmadiyah dalam hal ini tidak berbicara apa-apa Yang
penting dan menarik untuk diketahui disini  ialah  cara-cara
Bashiruddin  mengalahkan Komunis itu. Hal ini ia tulis dalam
salahsatu kitabnya, dengan judul pasal: "Ru'yahku  berkenaan
dengan hancurnya Komunis."1 Ceritanya adalah berikut ini:
 
  "Duapuluh empat tahun yang lalu, aku pernah melihat
   dalam suatu mimpi, suatu padang luas. Pada waktu itu
   aku tengah berdiri di tengah-tengah dari padang luas
   itu. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seekor naga
   raksasa bergerak mendekatiku. Naga itu kelihatannya
   sedang melata dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi
   yang lain sambil menelan mengunyah apa saja yang ada di
   sekitarnya. Akhirnya,makhluk yang mengerikan itu tiba
   di tempat dimana aku sedang berdiri, dan beberapa orang
   berada di sekitarku. Makhluk itu menelan hidup-hidup
   setiap orang yang berada di dekatku Akhirnya tibalah
   saatnya giliran seorang Ahmadiyah menjadl korban. Aku
   lihat orang ini berusaha lari menyelamatkan dirinya.
   Kemudian dengan tongkat di tanganku kawan Ahmadiyah
   tadi aku tolong. Hanya sayang oleh cepatnya sang naga
   bergerak, aku tak dapat mengejarnya. Meskipun demikian
   aku tak putus asa dan tetap mengejarnya sambil berusaha
   menghalang-halangi naga itu memakan kawanku. Ketika
   dicapainya sebuah pohon, kawanku tadi langsung
   memanjatnya; tetapi belum sampai ia ke puncaknya,
   kepala naga itu telah berada di depannya. Dengan
   sekejap saja mulut naga itu telah melahap korbannya.
 
Sesudah itu, naga tadi tiba-tiba berbalik dan menuju  padaku
dengan  murka  karena  aku berusaha merintanginya. Ketika ia
akan  menerkam  diriku,  mendadak  sebuah  carpai   (semacam
balai-balai  tempat  tidur  dengan alas tali yang dianyamkan
pada bingkainya) berada tepat  di  dekatku.  Aku  loncat  ke
atasnya  kemudian  dengan  masing-masing kakiku, aku berdiri
siap pada bingkainya. Ketika itu  mahluk  jahat  tadi  makin
dekat padaku, dan beberapa orang bertanya padaku, apakah aku
sanggup mengalahkannya, padahal Nabi s.a.w.  telah  bersabda
bahwa tidak seorangpun sanggup mengalahkan mahluk itu.
 
Barulah  kemudian  aku  meyakini bahwa mahluk itu tidak lain
adalah GOG dan MAGOG pada siapa hadits Nabi  itu  ditujukan.
Maka   aku   angkat   tanganku  tinggi-tinggi  memohon  do'a
padaTuhan  bagi  pertolonganNya.   Kepada   orang-orang   di
sekitarku  yang  meragukan menyangsikan aku mengalahkan naga
itu,  aku  tegaskan  bahwa  aku  tidak   melawannya   dengan
kekuatanku melainkan dengan kekuatan do'a.
 
Ketika aku sedang asyik berdo'a, sesuatu kejadian yang ajaib
telah terlihat pada mahluk jahat itu. Ia tidak lagi bergerak
cepat,  malahan  bergerak  pelahan  dan  malas.  Kemudian ia
berhenti tampaknya  lelah  dan  lemas  dan  akhirnya  lumpuh
bersimpuh  di  bawah  aku  berdiri.  Tubuhnya  mulai mencair
sedikit demi sedikit dan akhirnya tubuh itu meleleh  menjadi
larutan  mengalir  ke  segala arah. Tammatlah riwayat mahluk
jahat itu, kemudian aku sampaikan pada orang-orang bagaimana
ampuhnya kekuatan do'a yang kuucapkan tadi."
 
Demikianlah konon kisah Bashiruddin Mahmud Ahmad mengalahkan
naga raksasa yang amat jahat itu. GOG dan MAGOG adalah  nama
lain  dari  mahluk  jahat itu, juga ia dinamakan: YA'JUJ dan
MA'JUJ.2 Siapakah mereka Gog Magog atau Ya'juj  Ma'juj  itu,
Ahmadiyah  menjawab  bahwa  mereka  adalah: Russia, Inggris,
Amerika dan kawan-kawannya.3
 
Mimpi duel antara  Bashir  dengan  Ular  naga  atau  Komunis
Russia  itu  terjadi  pada  tahun 1921, kemudian diceritakan
oleh Bashir dalam kuliahnya  di  Lahore  pada  tahun  1945.4
Apakah  gerangan  yang terjadi pada tahun 1921 an di daratan
luas negara Russia, dimana  ratusan  juta  ummat  diperintah
secara  despotisme  oleh  pengabdi-pengabdi  Leninisme  atau
Komunisme itu? Tiga tahun sebelumnya, nabi kaum komunis  itu
telah  memerintahkan  angkatan perang Russia untuk menyerang
negeri-negeri  Turkistan,  Idil  Ural,  Krimea,  Azerbaijan,
Ingush,  Kiva,  Alasha Urdu dan Bukhara. Semua negeri-negeri
itu adalah negeri-negeri Islam  yang  merdeka.  Bukan  hanya
penaklukan   wilayah   yang   dilakukan  pasukan  Lenin  itu
melainkan pemusnahan kaum  Muslimin  telah  mereka  kerjakan
secara  biadab.  Doktrin  yang  ditanamkan  dalam  hati  dan
pikiran mereka telah mereka cetuskan dalam  suatu  perbuatan
yang  paling  mengerikan.  Doktrin  itu  mereka peroleh dari
nabinya Lenin dan dari tokoh-tokoh lain  pembina  Komunisme,
yang antara lain berbunyi:
 
  "Untuk menghadapi agama dan pikiran-pikiran kerohanian,
   yang paling penting untuk dikerjakan ialah memusnahkan
   akar-akar dimana agama itu mulai tumbuh maupun
   berkembang."5
 
Kemudian  Lenin  melanjutkan  ultimatumnya  terhadap   agama
dengan kata-kata:
 
  "Partai Komunis akan memerangi lembaga-lembaga agama
   dengan senjata ideologi, dengan pers, dengan
   pidato-pidato dan lain-lain cara."6
 
Doktrin di atas itulah yang dititipkan pada angkatan  perang
Russia  ketika  mereka  menyerang  kaum muslimin di rumahnya
masing-masing. Angka-angka  yang  konkrit  tentang  kematian
muslimin  sulit  untuk  dihitung  lagi.  Baru saja di negeri
Kremia, penduduk muslimin sebanyak lima juta jiwa tertinggal
400.000  saja.  Komunis  telah  melakukan pemusnahan seluruh
segi-segi  hidup  kaum  muslimin  sampai  ke   akar-akarnya.
Kendati  demikian  parahnya  situasi,  namun  ummat Muhammad
s.a.w.  itu  masih  sanggup  untuk  bangkit  dan   menerjang
kekuatan  ular  naga  raksasa  itu  dengan jihad. Di Bukhara
ulama-ulama memimpin pasukan  mujahidin  menangkis  serangan
gila  kaum  Komunis itu. Mereka para mujahidin itu bertempur
mati-matian  sampai  syahid  hingga  tahun  1924.  Di  Khiva
pasukan  mujahidin  bertempur sampai titik darah yang akhir,
dimana pasukan-pasukan Junaid Khan sanggup  bertahan  sampai
tahun 1928.7
 
Pemusnahan   terhadap   tempat-tempat   ibadah,   di  Kremia
misalnya, terdapat 1.558 buah  mesjid  tertinggal  700  buah
saja.    Itupun    telah   dijadikan   rumah-rumah   hiburan
kedai-kedai,  club-club  pertemuan  memperdalam   komunisme,
gudang-gudang   senjata   dan  rumah-rumah  museum.8  Hampir
Sembilan puluh  ribu  mesjid  yang  terdapat  di  Turkistan,
Azerbaijan,  Kaukasus, Idil-ural, dan Siberia selatan, telah
diubah oleh hamba-hamba komunis  itu  menjadi  tempat-tempat
seperti di atas.
 
Pada   tahun  1921,  pasukan  Komunis  melakukan  pemusnahan
terhadap bahan makanan  rakyat  muslimin,  perampokan  harta
benda  yang tak terbilang banyaknya. Pada tahun 1922, harian
resmi negara "Isvetzia"  melaporkan  bahwa  kelaparan  telah
melanda   negeri  dimana  kaum  Muslimin  berdiam,  menyusul
jatuhnya   korban-korban   kematian   yang   tak   terhingga
jumlahnya.   Sampai   tahun   1944   masih  dapat  ditemukan
catatan-catatan kematian ummat Islam  di  Karachae,  Ingush,
Balkar, Chechen, Daghistan Kizlyar, dan Kaukasus Utara.9
 
Adalah  sulit  untuk  mengatakan dengan lisan maupun tulisan
betapa hebatnya malapetaka  yang  telah  menimpa  Islam  dan
ummatnya    di    negara-negara    Komunis    itu.   Lembaga
Marxist-Leninisme yang  berkedudukan  di  Moskow  menyatakan
hasil pemusnahan itu secara ringkas:
 
  "... di Soviet Russia kehidupan sosial serta keyakinan
   yang berlandaskan agama telah musnah untuk
   selama-lamanya."10
 
Demikianlah Ular naga Komunis Rusia telah menelan  mengunyah
mangsanya,  bahkan  terus-  menerus  berbuat demikian hingga
waktu-waktu yang tak tertentu.
 
Bagaimana  dengan  Bashiruddin  dan  Ahmadiyahnya?  Semenjak
tahun-tahun   dua-puluhan   hingga  45  tahun  kemudian,  ia
menjabat sebagai  khalifall  II  Ahmadiyah,  yang  dikatakan
sebagai  khalifah  ummat  Muslimin dengan jemaat Islami yang
disebut  Ahmadiyah  itu.  Lantas,   apakah   gerangan   yang
diperbuat Bashiruddin pada masa tahun 20-an itu?
 
Ia  tertidur,  dan  dalam  tidurnya  yang  nyenyak  itu,  ia
bermimpi  indah.  Ia  bermimpi  sedang  berhadapan  langsung
dengan  Komunis  Russia.  Hanya  saja  Komunis  Russia  yang
diimpikan Bashir berupa Ular naga raksasa yang  kekuatannya,
ternyata  seperti  seekor  Bekicot  saja.  Sebab kemudian ia
telah berhasil  mengalahkan  Ular  naga  itu,  hanya  dengan
sepotong do'a  yang  menyebabkan sang  Naga meleleh bagaikan
kena larutan garam belaka.
 
Tatkala  ia  bangun,   ia   merasa   bangga   karena   hasil
kemenangannya  itu;  Bahkan  ia  catat  dengan  rapi  dan ia
kuliahkan di  universitas  Lahore  tentunya  sebagai  kuliah
"sejarah  runtuhnya  Gog Magog menurut impiannya." Bukan itu
saja yang dikerjakan Tukang mimpi Bashiruddin ini. Bahkan ia
sebagai khalifah dengan gagahnya berkata:
 
  "Pada zaman sekarang ini tindakan yang gila untuk
   berpropaganda guna hancurnya suatu AGAMA melalui jalan
   kekerasan senjata telah lenyap. Karena itu Agama ISLAM
   tidak lagi memerlukan pertahanan dirinya dengan
   kekuatan senjata."11
 
Betapa pandainya Bashir  dengan  ucapannya  itu.  Apakah  ia
sudah  research  ataukah ia mensinyalir atau kira-kira saja.
Ataukah    ia    buta    pandangan    maupun    buta    akan
peristiwa-perisliwa yang terjadi selama ia hidup. Ataukah ia
masa bodoh dengan  peristiwa  pembunuhan  yang  kejam  itu?!
Padahal  selama  20  tahun, yaitu semenjak ia mendapat mimpi
istimewa sampai pada  saat  mimpinya  itu  ia  kuliahkan  di
Universitas Lahore tahun 1945, selama itu pula telah terjadi
di depan matanya tindakan-tindakan gila guna hancurnya agama
ISLAM  dan  penganut-penganutnya  oleh tangan besi Ular naga
Komunisme Soviet.
 
Bashiruddin dan Ahmadiyahnya, apakah  mereka  buta  terhadap
peristiwa  jatuhnya  korban-korban  kematian  ummat muslimin
Kremia, Turkistan, Bukhara, Azerbaijan dan di  tempat-tempat
lain, oleh tindakan biadab Leninisme komunisme?
 
Mereka   sebenarnya   tidak  buta  akan  peristiwa-peristiwa
pembunuhan itu, bahkan mereka mengetahui, namun mereka punya
pandangan  sendiri  dan  punya  alasan  untuk  tidak menaruh
perhatian  akan  peristiwa-peristiwa  itu.  Ucapannya   yang
senewen,  bahwa  tindakan  gila  guna  hancurnya suatu agama
dengan jalan kekerasan telah lenyap pada zaman sekarang ini,
merupakan cetusan "fatwa" yang didasari pada pendirian bahwa
Islam  bukan   ummat   Muslimin   Kremia   dan   sebagainya.
Bashiruddin dan Ahmadiyahnya dengan lantang berkata:
 
  "Islam bukan kaum muslimin tanah Arab; Islam bukan kaum
   Muslimin Afghanistan, Syria, Iran. Islam adalah
   mempunyai claim international. Islam harus dalam satu
   JEMAAT ISLAMI dengan seorang IMAM dan
   pengganti-penggantinya sebagai KHALIFAH."12
 
Itulah alasan mereka! Bahkan andaikan  ucapan-ucapan  Bashir
tersebut diperpanjang maka dapat dipastikan pula bahwa Islam
bukan  kaum  Muslimin  Kremia,  Islam  bukan  kaum  muslimin
Turkistan; Islam bukan kaum muslimin Palestina. Sebab Islam,
mempunyai claim internasional maka harus  ada  organisasinya
yang  internasional;  harus  ada  Jema'at  Islami  di  bawah
seorang IMAM  dan  diganti  dengan  KHALIFAH-KHALIFAH.  Jika
semua itu belum ada maka orang-orang Ahmadiyah akan menjawab
di hadapan ALLAH Ta'ala  bahwa  masih  belum  tiba  waktunya
untuk jihad di saat saat itu.13
 
Padahal  justru  semua  itu  telah  diadakan! Sebuah Jema'at
Islami telah terbentuk, AHMADIYAH namanya; seorang Imam atau
Nabi  atau  Al Mahdi atau Al Masih telah datang MIRZA GHULAM
AHMAD namanya, dan khalifah-khalifah telah  datang  bergilir
berganti  seperti  Nuruddin,  Basiruddin serta menyusul yang
lain .
 
Bagalmana dengan jihad? Claim internasional  telah  tercapai
dengan    terbentuknya    Ahmadiyah    plus    nabinya   dan
khalifah-khalifahnya. Apakah Ahmadiyah akan  menjawab  bahwa
jihad  sudah  dilancarkan, yaitu jihad "berdo'a dalam mimpi"
tatkala  tidur  mendengkur?  Sehingga  sang   NAGA   KOMUNIS
bagaikan  bekicot  kena larutan garam, meleleh hancur karena
do'a Basir yang manjur.
 
Jika demikian maka bravo buat  si  Basir  dan  Ahmadiyahnya.
Sungguh suatu kemenangan yang gemilang. Padahal kenyataannya
sejak kemenangan dalam mimpi sampai masa 20 tahun  kemudian,
sang  Naga  Komunis  ternyata  masih hidup utuh, masih ganas
masih biadab dan masih melahap korban jutaan ummat Muslimin.
Apakah  do'a  Basir  hanya khususiyah saja, apakah doa Basir
mirip do'a bapaknya Ghulam Ahmad tatkala wabah  pes  melanda
Punjab, tatkala tikus di rumah Mirza lebih dihargai tuhannya
dari pada jiwa  manusia  tetangganya  yang  mati  tergeletak
karena bukan Ahmadiyah?
 
Tentu  saja  do'a kemenangan dan keselamatan hanya bagi kaum
Ahmadiyah. Bagi kaum muslimin Turkistan, Kremia,  Azerbaijan
dan  lain-lain  tempat,  do'a  Basiruddin tidak naik ke atas
tapi jatuh ke GOT!
 
Lebih stress lagi  ialah  pendirian  Ahmadiyah  yang  angkuh
terhadap mereka yang bukan Ahmadiyah. Baik itu kaum Muslimin
Turkistan, Azerbaijan, Kremia,  Bukhara,  Palestina  dan  di
tempat-tempat   lain,  Ahmadiyah  telah  menjatuhkan  vonnis
"tidak  berampun"  terhadap  mereka.   Melalui   khalifahnya
Basiruddin Mahmud Ahmad putera sang nabi India itu berfatwa:
 
  "Barang siapa mengingkari seorang NABI menurut istilah
   Agama Islam disebut KAFIR! Demikian pula seorang yang
   tidak taat pada KHALIFAH zamannya menurut Islam disebut
   FASIK! Bahkan bila kita tinjau lebih dalam, orang yang
   tidak taat pada khalifah zamannya bukan saja berakibal
   fasik tapi membawa manusia ke arah ke-KAFIRAN!"14
   
  "Bahwa semua orang Islam harus percaya kepada NABI
   MIRZA GHULAM AHMAD. Kalau tidak berarli mereka tidak
   mengikuti ajaran Al-Qur'an. Dan siapa-siapa yang tidak
   mengikuti Al-Qur'an maka ia bukan MUSLIM. Dan
   barangsiapa mengingkari seorang Nabi menurut istilah
   agama Islam disebut KAFIR!"15
 
Kaum  Muslimin  yang  terkena   vonnis   itu   jelas   bukan
orang-orang   pengikut   Ahmadiyah.  Mereka  tidak  mengakui
Basiruddin menjadi Khalifah.  Mereka  tidak  mengakui  Mirza
Ghulam  Ahmad menjadi NABI atau IMAM ZAMANnya atau apa saja.
Dalam  pikiran  mereka  tidak  terlintas  sedikitpun   untuk
mengakui orang-orang OADIAN INDIA itu jadi apa saja.
 
Ahmadiyah   mencap   mereka  FASIKIN,  ummat  yang  fasik  !
Tikus-tikus yang nyengir di kolong rumah  Ghulam  Ahmad  dan
pengikut-pengikutnya lebih berharga dari jiwa mereka. Karena
penolakannya terhadap kenabian orang  India  itu,  Ahmadiyah
mencap kaum muslimin mati jahiliyah, KAFIR TANPA AMPUNAN!
 
Catatan kaki:
 1 Bashiruddin Mahmud Ahmad, The Economic Structure of
   Islamic Society, 1962, Rabwah Ahmadiyya Muslim Foreign
   Missions Office, hal. 149/150.
 2 Sinar Islam, no. 13 th. XV/1965, hal. 15/16.
 3 idem.
 4 Bashiruddin Mahmud Ahmad, The Economic Structure of
   Islamic Society, 1962, Rabwah Ahmadiyya Muslim Foreign
   Missions Office, prakata.
 5 M. Rafiq Khan, Islam in China, Delhi, National
   Academy, 1963, hal. 74: (to overcome religion and
   supertitious ideas, the most important thing to do is
   to destroy the roots from where religlon sprouts).
 6 idem, hal 75: (the party, would fight the religious
   fog with ideological weapons alone, our press, our
   words ...)
 7 idem, hal. 79.
 8 Prof Nur. Muh. Khan, di bawah lindungan palu arit,
   Jakarta manar, 1956, hal 70.
 9 idem
10 M. Rafiq Khan, Islam in China, hal. 72: (The
   institute claims that .... in the USSR the social and
   ideological roots of religion have been torn out for
   ever").
11 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 13: (In
   the present age that particular form of insanity which
   sought to propogate or destroy a religion by the sword
   has almost disappeared; and Islam is no longer under
   the necessity of defending itself by the sword).
12 Bashiruddin M.A., Apakah Ahmadiyah itu? terjemah
   Abdulwahid H.A., Djakarta Djemaah Ahmadiyah Indonesia,
   1963, hal. 21-22.
13 idem, hal. 13.
14 Majallah Sinar Islam, No. 13, 1965, hal. 8 dan Imam
   Zaman, hal. 10.
15 Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa, hal. 19.

Permalink 25 Komentar