3 Mei, 2008 at 5:33 pm (4. INSTRUMENT BRITTANIA)

Kepercayaan kaum Muslimin akan kedatangan  kembali  Al-Masih
Al-Mauud  berikut  Imam  Mahdi  mempunyai  effek-effek  yang
menguntungkan bagi ummat di  luar  Islam.  Kaum  Orientalis,
Kaum   Kristen   juga   kaum   Hindu  menaruh  simpati  pada
orang-orang yang mengangkat  dirinya  sebagai  Al-Masih  dan
Imam  Mahdi.  Bahkan  mereka  bersedia menaruh namanya dalam
sejarah dunia. Keuntungan yang  utama  bagi  Inggris  karena
munculnya  Al-Masih  dan  Imam  Mahdi  itu  ialah  timbulnya
perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak bisa dielakkan
lagi.  Salah  seorang  yang  terkenal  dari banyak imam-imam
Mahdi yang muncul dalam jajahan Inggris  itu  adalah:  Mirza
Ghulam  Ahmad,  yang sudah kita ketahui sepak terjangnya. Ia
dan alirannya sangat dininabobokkan oleh musuh-musuh Islam.
 
Akan  tetapi  apakah  yang  terjadi  kemudian?!  Pengalaman-
pengalaman   pahit   yang   baru   dialami   Inggris   dalam
pemberontakan Imam Mahdi  sultan  Muhammad  Ahmad  Donggola,
sehingga tewasnya Jenderal Gordon, akan merupakan peringatan
keras bagi diri Inggris sendiri. Bukan  saja  ratu  Victoria
dan   seluruh  istana  Buckingham  yang  terkejut  mendengar
kematian Gordon yang dicintai itu, bahkan seluruh  Brittania
merasa  terkejut.  Maka  hari-hari sesudah itu, bagi Inggris
merupakan  saat-saat  yang  harus  berhati-hati  dan  selalu
menaruh  curiga  pada  setiap  orang yang mengangkat dirinya
imam Mahdi.
 
Betapapun  Maharani   Victoria   mengenal   dan   mengetahui
kesetiaan  serta  pengabdian  Mirza  Ghulam  Ahmad  dan para
sesepuhnya pada Inggris, namun sikap  yang  diambil  Inggris
setelah  terjadi  pemberontakan imam Mahdi Sudan itu, maupun
pemberontakan Urabhi Pasha di  Mesir  dan  kegiatan-kegiatan
militant   sayid   Jamaluddin   Al-Afghani,   telah  berobah
bertolak-belakang  dari  sikap   yang   sebelumnya.   Tabiat
penjajah  dan  tabiat Kristennya mulai menonjol, curiga, dan
sangat berhati-hati terhadap setiap imam Mahdi  bahkan  pada
setiap  ulama-ulama  Islam.  Sang  Ratu mulai berpikir-pikir
jangan-jangan Imam Mahdi India Mirza Ghulam Ahmad  itu  akan
mentauladani  Mahdi-mahdi  yang  lain, yakni terkandung niat
menentang tuannya juga.
 
Itulah sebabnya ratu Victoria melemparkan  umpan  pancingan,
menyodorkan syarat kelangsungan hidup bagi setiap imam Mahdi
yang baru. Syarat-syarat sang Ratu antara lain berbunyi:
 
  "Bila itu datangnya dari Tuhan, ia akan tetap tegak,
   akan tapi dengan syarat bahwa ia tidak punya maksud
   kekerasan dalam tujuan hidupnya."1
 
Mirza  Ghulam   Ahmad   merasa   terdorong   hatinya   untuk
menyampaikan  perasaannya pada sang Ratu, yang mungkin masih
ragu-ragu akan kesetiaan dari Mirza  Ghulam  dan  alirannya.
Dengan demikian tidak ada jalan lain bagi Mirza Ghulam Ahmad
kecuali mengutarakan isihatinya sebagai bukti  setia  tunduk
dan  taat pada Inggris. Dengan bahasa yang halus serta penuh
ta'zim Mirza Ghulam mengirim sepucuk surat kepada sang Ratu,
sebagai  apa  yang  dikatakan Ahmadiyah kemudian bahwa surat
itu tidak lain adalah "A Present to The Empress" hadiah yang
paling  berharga  bagi sang Ratu dan sekaligus bagi Inggris.
Mirza berkata dalam suratnya:
 
  "Jika Baginda Yang mulya mau membuktikan tanda-tanda
   kebenaran patik, maka patik janjikan dalam masa satu
   tahun akan terbukti. Selanjutnya patik sanggup berjanji
   serta berdo'a bahwa pada masa kini dan masa
   selanjutnya, daerah ini akan selalu aman dan sentosa.
   Dan sekiranya patik ini palsu, maka patik bersedia
   menjalani hukuman yang seberat-beratnya seperti
   digantung, dimana Baginda yang mulya berkuasa
   melakukannya."2
 
Itulah hadiah Mirza pada ratunya  dan  tuannya  Inggris.  Ia
kelihatan  bukan  lagi  sebagai  manusia  melainkan  sebagai
boneka yang bersedia menerima hukuman dari tuannya. Ia telah
mengabdi,  setia,  taat dan hormat serta menjamin wilayahnya
aman; dan ia pada  akhirnya,  inilah  yang  terpenting  bagi
Inggris,   telah   melarang  pengikut-pengikutnya  dan  kaum
Muslimin melakukan jihad terhadap  Inggris.  Kesemuanya  itu
adalah  hadiah-hadiah  istimewa  yang  membuat ratu Yictoria
gembira dan terharu.
 
Apa saja yang hendak kau perbuat hai Mirza, lakukanlah!  Dan
Mirzapun  berbuat  apa  saja menurut kehendak hatinya. Pihak
Inggris tidak ambil pusing  dengan  tingkah-laku  Mirza  dan
pengikut-pengikutnya.   Bahkan  menurut  Ahmadiyah  sendiri,
Mirza Ghulam pernah menulisi sang Ratu Inggris  yang  isinya
antara lain:
 
  "Hai ratu bumi Islamlah Engkau, supaya engkau selamat,
   Islamlah!"
 
Menurut  Ahmadiyah  siapakah  yang  berani  pada  saat   itu
menyampaikan  amanat  Islam  kepada  penguasa yang ada, atau
pada bangsa yang menjajah, kalau tidak Mirza Ghulam  Ahmad?!
Kemudian Mirza dengan suara lantang berkata:
 
  "Biar mati tuhan orang Kristen itu! Dan saya ini diutus
   untuk memecah salib dan membunuh babi."
 
Bravo Mirza, siapa orangnya yang berani berkata sekeras itu,
menghina  tuhan  menghina  salib  dan  menghina lauk-pauknya
sekaligus. Siapa pula kalau tidak Mirza Ghulam  Ahmad,  kata
Ahmadiyah  bangga.  Sejarah  akan  bertanya  pada  Ahmadiyah
apakah reaksi dari ratu Victoria Inggris maupun kaum Kristen
karena  hinaan  yang  dilancarkan  nabi India itu? Reaksinya
sepi saja, tidak ada apa-apa bahkan tidak ada niat bagi Ratu
Inggris  maupun  kaum  Kristen  untuk  menutup  mulut  Mirza
ataupun  menangkapnya.  Katakanlah  bahwa  surat  itu  tidak
dibuang ke bak sampah atau ke dapur istana, melainkan sempat
dibacakan sang wazir di hadapan sang Ratu.  Reaksinya  tetap
masa  bodoh saja dengan gonggongan Mirza. Bahkan yang dibuat
Inggris adalah sebaliknya. Mereka menanggapi surat Mirza itu
penuh  kepuasan,  sebab  dengan surat itu Mirza Ghulam Ahmad
telah meyakinkan pengikut-pengikutnya maupun  kaum  Muslimin
di  luar  jemaatnya,  bagaimana  sikap jantan dan keberanian
yang ia miliki menghadapi musuh Islam yang paling kuat  itu.
Sehingga  Ahmadiyah  sendiri mengomentari kejantanan nabinya
dengan pujian,  bahwasanya  dialah  yang  berjihad  terhadap
Inggris.
 
Sebaliknya dari pihak Inggris maupun Kristen yakin dan pasti
akan tumbuhnya kepercayaan baru  dalam  hati  kaum  Muslimin
India  tentang  kebulatan  tekad dan kebenaran misinya Mirza
Ghulam, bahwa ia memang Al-Masih, Al-Mahdi  dan  nabi  akhir
zaman sesudah kenabian Muhammad. Kalau itu sudah bersemi dan
tumbuh dalam hati kaum Muslimin, maka tidak  mustahil  bahwa
mayoritas Muslimin India akan berkurang baik kwalitas maupun
jumlahnya, akan mulai  luntur  iman  semula  yang  ada  pada
mereka,  akan terganggu alam pikiran dan jiwa mereka, bahkan
mereka akan dilanda  kebingungan.  Ulama-ulama  mereka  akan
berbeda   pendapat,   konflict   aqidah   dan   fatwa   yang
bersimpang-siur dan akhirnya perpecahan yang ditunggu-tunggu
musuh Islam tidak dapat dielakkan lagi.
 
Semua  itu  sudah  terjadi  dan  memang benar perpecahan itu
tidak  dapat  dielakkan  lagi.   Itulah   sebabnya   Inggris
mengambil  sikap yang tidak kepalang-tanggung terhadap Mirza
dan alirannya, ia mendapat jaminan jalan terus, bahkan  kaum
Hindupun akan menyilahkan Mirza dan Ahmadiyahnya jalan terus
dan rintangan ataupun  gangguan  terhadapnya  dan  alirannya
akan  diberantas demi pelebaran sayap imperialisnya dan demi
kesatuan India yahg kokoh, seperti  yang  dicanangkan  tokoh
Hindu Dr. Shanker Dase Mehra.
 
Maka  marilah  kita  melihat  bagaimana  Mirza  Ghulam Ahmad
menfatwakan cinta kasihnya  pada  Inggris,  yang  luar-biasa
itu. Dalam Tiryacal-Qulub halaman 15 blirza menulis:
 
  "Sebagian besar perjalanan hidupku ialah mendukung dan
   membela pemerintah Inggris ... Saya selalu menganjurkan
   agar setiap Muslim haruslah menjadi pengabdi pada
   pemerintah ini, dan sanubari mereka janganlah ada
   sedikitpun niat meniru-niru perbuatan menumpah-
   numpahkan darah oleh Imam Mahdi atau Messiah yang
   begitu fanatik memberi ajaran-ajaran bodoh dan sempit."
 
Kemudian Mirza melanjutkan  fatwanya  tentang  syarat  utama
sebagai   hiasan   iman  setiap  muslim;  ia  berkata  dalam
At-Tabligh halaman 41:
 
  "Sesungguhnya tidak menyempurnakan hak atau tidak
   berterima kasih kamu pada Inggris berarti tidak
   menyempurnakan hak atau tidak berterima-kasih kamu
   kepada ALLAH."
 
Dalam Tabligh-i-risalat vol. VII,  halaman  10  Mirza  telah
menjawab pada Gubernur Punjab pada tanggal 24 Februari 1898,
antara lain:
 
  "Bahwa dalam perjalanan hidupku sejak awal hingga aku
   berusia 60 tahun ini, aku telah berusaha baik dengan
   lidahku maupun dengan tulisan-tulisanku dalam kemampuan
   diriku untuk mengalihkan perasaan kaum Muslimin menjadi
   sayang dan simpati serta menaruh goodwill terhadap
   Inggris, dan menghapuskan hasrat maupun idee-idee untuk
   berjihad. Dan aku banyak melihat bahwa apa yang telah
   kuusahakan berhasil meresap kedalam hati banyak
   Muslim."
 
Kemudian dalam Tabligh-i-risalat, vol. VII halaman 17, Mirza
menulis    tentang    keyakinannya    bahwa   usaha-usahanya
mempengaruhi Muslimin, tidak sia-sia. Ia berkata:
 
  "Saya yakin bahwa setelah pengikut-pengikutku
   bertambah, maka mereka yang percaya pada doktrin jihad
   akan makin berkurang. Oleh karena menerima aku sebagai
   Messiah dan Mahdi maka sekaligus berarti taat pada
   perintahku, yaitu dilarang berjihad terhadap Inggris.
   Bahkan wajib atas mereka berterima-kasih dan berbakti
   pada kerajaan itu."
 
Dalam Hammatul Busyra halaman 50 Mirza Ghulam Ahmad berkata:
 
  "Sesungguhnya kerajaan Inggris telah berbuat baik pada
   kaum Muslimin India. Karena itu tidak boleh rakyat
   India yang beragama Islam melakukan pekerjaan durhaka
   dan mengangkat pedang atas kerajaan yang baik budi itu;
   Juga mereka tidak boleh membantu seseorang yang berbuat
   durhaka baik dengan perkataan maupun dengan isyarat
   atau harta untuk menentang Inggris. Dan sekalian
   perkara ini telah diharamkan. Barangsiapa masih mau
   berbuat demikian, maka ia telah durhaka kepada Allah
   dan Rasul-Nya."
 
Maka akan berkata  pula  orang-orang  Jahat,  demikian  kata
Mirza   Ghulam,   bahwa   kerajaan  Inggris  telah  membantu
pendeta-pendeta   Kristen   dan   menolong   mereka   dengan
ikhtiarnya  untuk mengKristenkan Muslimin. Maka apakah dosa,
sehingga kamu sekalian hendak  berbuat  jahat  pada  Inggris
yang telah berbuat baik pada kamu? Maka ketahuilah bahwa aku
siap membela pemerintahan ini.  Dalam  salahsatu  jawabannya
pada  missionaris Kristen yang berusaha memisahkan perpaduan
antara Mirza Ghulam Ahmad dengan Inggris, Mirza menulis:
 
  "Saya menjamin bahwa bagi pemerintahan Inggris di sini,
   sayalah bentengnya dan tempat berlindungnya daripada
   segala bencana dan nasib sial. Dan tuhan menyampaikan
   kabar baik padaku bahwa Dia tidak akan menyusahkan
   INGGRIS selama aku di tengah-tengah mereka."3
 
Hal  ini  dikarenakan,  kata  Ahmadiyah  selanjutnya,   sama
kejadiannya  ketika  Tuhan  tidak  mendatangkan  siksa  pada
musyrikin  Mekkah  sebab  wujud  Rasulullah  saw.   ada   di
tengah-tengah  mereka.  Tersebut  dalam surah Al-Anfal ayat.
33.  Kemudian  Ahmadiyah  bertanya  jika  Rasulullah   dapat
dijadikan  azimat  dan  benteng  oleh Tuhan bagi orang-orang
Mekkah padahal mereka mengadakan perlawanan  keras  terhadap
Islam, apakah Mirza Ghulam Ahmad tidak boleh dijadikan jimat
dan benteng INGGRIS oleh  Allah  swt.  yang  sekalipun  anti
Islam,   tetapi  setidak-tidaknya  memberi  kebebasan  untuk
mempertahankan dan  menyiarkan  Islam.4  Akhirnya  Ahmadiyah
bertanya:
 
  "Apa TUHAN juga salah, yang memberitahukan kepada
   hazrat Ahmad bahwa wujud hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.
   menjadi jimat dan benteng INGGRIS?!"343
 
Tentu saja tuhan Mirza Ghulam Ahmad tidak  salah,  dan  juga
hazrat  Mirza Ghulam boleh sekali menjadi azimat dan benteng
bagi  Inggris.  Sebab  keinginan  Inggris   keinginan   ratu
Victoria  ialah  adanya  suara  suci dari seorang nabi India
yang mengaku sebagai nabi Muslim  pula,  dimana  suara  sang
nabi  itu  dapat  menyusup  ke  hati Muslimin India sebagai:
"fatwa, hadits ala Qadian, larangan,  tabu  berjihad,  haram
dan dosa, kwalat dan terkutuk bila menentang Inggris."
 
Setelah  wujud Mirza Ghulam Ahmad menjadi azimat dan benteng
bagi Inggris maka ia  kemudian  dengan  tandas  mencanangkan
tugas sucinya, dengan kata-kata:
 
  "Kata 'PEPERANGAN' jangan diartikan dalam hal ini,
   berperang dengan pedang atau senjata lain, oleh karena
   TUHAN sendiri telah melarang jihad semacam itu. Adalah
   perlu ditandaskan bahwa pada masa AL-MASIH perang
   dengan pedang maupun senjata apa saja telah dilarang!"5
 
Demikian bunyi hadits qudsi nabi India  yang  baru  diterima
dari  tuhannya. Maka akan selalu terdengar dari getaran tali
senar Mirza Ghulam Ahmad, suara-suara  paduan  dari  sympony
Brittania.  Politik  inilah  yang  dijalankan  Inggris yakni
melaksanakan   cita-cita    imperialisnya    dengan    jalan
menunggangi  kelemahan-kelemahan  yang  tampak  pada  bangsa
India  dengan  mengadu-dombakan  sesama  mereka.  Dan  dalam
kalangan  ummat  Islam,  Inggris mendapatkan bantuannya dari
pionnya Mirza Ghulam  Ahmad.  Syahdan  tidak  lama  kemudian
segala   janji   keamanan   yang   diberikan  Inggris  untuk
melindungi  Mirza  dan  alirannya  telah  bersatu-padu   dan
terbalaslah  azimat  dengan  azimat, benteng dengan benteng,
cintakasih yang tidak  bertepuk  sebelah  tangan.  Jelasnya,
Inggris  mengumumkan  sikapnya  yang pasti menjadi pelindung
rindang  atas  diri  Mirza  dan  Ahmadiyahnya.  Yang  sangat
menarik   untuk  disampaikan  disini  ialah,  bahwa  jaminan
perlindungan dari Inggris atas Mirza itu  disampaikan  liwat
Tuhan  baru  kemudian  Tuhan  mewahyukan pada Mirza. Kiranya
Inggris menjadikan tuhan Mirza sebagai  satelit  penghubung.
Karena   fungsinya   hanya   sebagai  penghubung  maka  cara
menyampaikannya tuhan Mirza berbahasa Inggris pula.  Sungguh
berbahagia  Mirza Ghulam Ahmad tatkala pada tahun 1900 turun
wahyu padanya:
 
  "Inggris dengan segala kebaikannya akan berada
   disampingmu dan membantu engkau ya Mirza, sebagaimana
   AKU Allah telah berada selalu di sampingmu. Mereka yang
   selalu mencari kebenaran tidak akan pernah merasa
   takut."6
 
Dan akhirnya, meskipun Mirza  Ghulam  Ahmad  tidak  memahami
bahasa Inggris, namun tuhannya mengirim wahyu padanya dengan
bahasa Inggris sebagai berikut:
 
  "AKU cinta padamu wahai Mirza, dan Aku akan menjadikan
   jemaatmu besar."7
 
Demikianlah  hubungan  kasih  sayang   timbal-balik   antara
TriTunggal: Mirza Ghulam Ahmad, TUHAN-nya dan INGGRIS.
 
Catatan kaki:
 1 (if this of GOD, it will stand, if there is no harm done).
 2 J.D. Shams, H.A., Islam That Prophet, 1943, Rabwah
   Ahmadiya M.F.M.O., hal. 30: (" .... if Your Imperial
   Mayesty wishes to see any sign in support of my truth,
   I am sure that within a year it will be done; further,
   I can pray that this era shall pass in peace and
   prosperity. And if I am false, I would be ready to bear
   the severest punishment, such as hanging, which Your
   Mayesty can inflict.")
 3 J.D. Shams, H.A., Islam That Prophet, hal. 72: (I
   can say that this Government I am as a fortress and
   refuge from calamities and misfortunes. And GOD has
   given me the good news that He will not inffict upon
   them affliction while I am among them).
 4 M. Abdul Hayee H.P. Ahmadiyah dan Inggris, 1969, D.A.I.
   cab. Bandung, hal. 28.
 5 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, 1961,
   Ahmadiyya. M.F.M.O. Rabwah, hal. 1 (the word "battle"
   must not be taken to mean that the same would be fought
   wth this sword or gun for GOD has forbidden jihad of
   this kind. It being necessary that in the Promised
   Messiah's time fighting of this kind should be
   prohibited as the Holy Qur'an already directs).
 6 J.D. Shams, H.A., Islam That Prophet, hal. 72; (in
   November 1900 God revealed to him the following: "the
   English were well disposed towards you, verily God on
   the same side as you. Those who look towards heaven
   shall not fear").
 7 idem, hal. 66: (Tough he had no knowledge of English
   God revealed to him in English the following: "I love
   you, I shall give you a large party of Islam).
Iklan

Permalink 20 Komentar