ASNAGHAS WAHYU (WAHYU YANG DATANG DARI IBLIS)

3 Mei, 2008 at 3:35 pm (2. ASNAGHAS WAHYU)

Habislah sudah masa relax dengan Mirza; kini beralih kembali
pada sepak-terjang  yang  menyakitkan.   Ia mengetahui bahwa
kegagalan-kegagalan itu tidak bisa  dibiarkan  begitu  saja.
Harus ada usaha untuk menyembunyikannya dengan cara baik.
 
Satu  hal yang sering terjadi, jika seorang berkata terhadap
dirinya sendiri: "Aku adalah orang terkuat," maka orang  itu
sebenarnya  bukan  terkuat melainkan termasuk dalam kategori
orang sembarangan.   Kebetulan  sekali  Mirza  Ghulam  Ahmad
terlibat  keseluruhannya  dalam situasi macam orang di atas.
Ia  sangat  membangga-banggakan  dirinya,  bahkan   tuhannya
sendiri  mengangkat  ia  pada  derajat  kemuliaan yang tiada
taranya.
 
Namun demikian, sejarah sangat meragukan  kebenaran  derajat
kemuliaannya itu.    Dan  keraguan  ini justru sangat tepat,
bila kita lihat sepak terjangnya yang begitu berbelit-belit.
Bahkan ia  pribadi  yang sangat mentah.  Ia dan Ahmadiyahnya
adalah  satu  topengan,  dimana  wajah  dibalik  topeng  itu
merupakan    contoh    figur   kepalsuan   dan   kemunafikan
semata-mata.  Anehnya wajah yang disembunyikan  dengan  baik
itu,     dikupas     sendiri     olehnya     maupun     oleh
pengikut-pengikutnya. Pada bab-bab yang  sudah,  kita  telah
mengetahui watak-watak    keyahudiannya.        Maka   untuk
selanjutnya kita akan mengetahui bahwa  Mirza  Ghulam  Ahmad
maupun  Ahmadiyahnya  sangat  menyukai watak keyahudian itu,
yaitu watak yuharrifunal  kalimah  an-mawadhi'ih  dan  watak
Judas Eskariot dalam kisah perjanjian barunya kaum Nasrani.
 
Ia   memperoleh   gelar   dari  pengikut-pengikutnya  berupa
sebutan: "s.a.w." atau sallalahu alaihi wasallam, satu gelar
yang lazim  disampaikan  pada  Nabi Muhammad.  Kadang-kadang
bila di Inggriskan gelar itu,  maka  sesudah  menyebut  nama
Mirza  Ghulam  Ahmad ditambah dibelakangnya dengan: "On Whom
be Peace and Blessing of GOD upon Him" yakni upon Mirza.1
 
Sesudah itu, tidak ada lagi orang yang bisa menyamai  Mirza;
Tidak juga seorang Nabi maupun seorang Rasul. Dengan lantang
ia berkata:
 
  "Jangan kamu samakan Aku dengan siapapun, dan jangan
   siapapun disamakan dengan Aku."2
 
Kemudian Mirza menambah lagi kata-katanya:
 
  "Sesungguhnya telapak kakiku ini di atas satu menara
   yang disudahi atasnya sekalian ketinggian."3
 
Ia melanjutkan derajat ke-AKU-annya dengan berkata:
 
  "Aku lahir sebagai satu kodrat Tuhan yang berjasad. Aku
   adalah kodrat Tuhan dan ada lagi beberapa wujud yang
   jadi mazhar cermin, tempat zahir kodrat kedua. Sebab
   itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa menanti
   kodrat tuhan yang kedua itu."4
 
Siapa yang dimaksud Mirza dengan kodrat  kedua  itu,  kurang
jelas.  Mungkin  itu  rohul kudus dariTuhan sesudah kematian
Mirza.5 Kelihatannya mirip dengan Trinitas ummat Kristen.
 
Selanjutnya sebagai kodrat Tuhan yang berjasad, Mirza Ghulam
Ahmad  masih  ada  padanya  beberapa wujud yang lain, antara
lain tuhannya sendiri telah berkata padanya:
 
  "Wahai sang rembulan, wahai sang surya Mirza, Engkau
   dari AKU, dan Aku dari Engkau."6
 
Mirza Ghulam sangat terharu mendapat panggilan dari tuhannya
"sang  rembulan  dan  sang surya." Perpaduan Engkau dari Aku
dan Aku dari Engkau, benar-benar  telah  menggambarkan  satu
keadaan  dimana  Tuhan sangat membutuhkan Mirza serta sangat
menghormatinya. Ia mengatakan bahwaTuhan telah  memanggilnya
sang  rembulan  oleh  karena  ia  laksana rembulan dari sang
surya. Dan kemudian ia laksana sang surya, dan Tuhan laksana
rembulan, oleh karena dari Mirzalah bulan Tuhan itu mendapat
sinar dan akan bersinar cahaya kemenanganNya.7
 
Ternyata Mirza Ghulam Ahmad adalah bagian  dari  Tuhan  yang
aktif dan ia juga terbikin dari Tuhannya. Berkata tuhan pada
Mirza Ghulam:
 
  "Wahai Mirza, Engkau terbikin dari Air-KU, akan tetapi
   mereka itu terbikin dari bibit yang lemah."8
 
Melihat wahyu tuhan  yang  hebat  di  atas,  kaum  Ahmadiyah
segera  mempersiapkan  jawaban  bila  ada serangan dari luar
yang memang sangat tidak masuk  akal  itu.  Bagaimana  bisa,
Mirza terbikin dari Air Tuhan? Ahmadiyah untuk ini menjawab:
 
  "Telah jelas bahwa wahyu-ilham, nubuwah-nubuwah dan
   sebagainya termasuk urusan mutasyabihaat, mengandung
   makna spekulatip yang dapat diartikan macam-macam.
   Dalam hubungan ini perlu diperhatikan pula orang yang
   mengatakan itu. Dengan demikian kita dapat terhindar
   dari tidak memberikan tafsiran yang bertentangan dengan
   maksud orang yang mengatakan sendiri. Ini adalah kaidah
   para ahli dalam ilmu"9
 
Oleh karena itu, kata Ahmadiyah  selanjutnya,  marilah  kita
lihat  apa  yang  dikatakan  oleh  Mirza  Ghulam  Ahmad.  Ia
berkata:
 
  "Yang dimaksud 'air-KU' ialah: air iman, air istiqamah,
   air taqwa, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan
   pada Allah yang datang dari Dia juga. Fasyal adalah
   kepengecutan yang datang dari setan."10
 
Lebih lanjut Ahmadiyah menunjukkan  contoh  dalam  Al-Qur'an
yang sama dengan wahyu "Air-KU" itu. Misalnya Tuhan berkata:
 
  "Khuliqal insaanu rnin 'ajal-artinya: manusia itu
   dijadikan dari kecepatan. (surah Anbiya 37) dan ayat:
   Khalaqakum min dhu'fin: kamu telah dijadikan dari
   kelemahan. (surah Rum 54). Benarkah manusia itu
   dijadikan dari kecepatan? benarkah ,manusia dijadikan
   dari kelemahan? Jelaslah bahwa wahyu itu mengandung
   isti'arah yaitu kiasan."11
 
Demikian penjelasan kaum Ahmadiyah dalam rangka  menafsirkan
wahyu  "Air-KU"  yang menakjubkan itu. Secara sepintas lalu,
mungkin alam  pikiran  bisa  menerima  cara  pembelaan  kaum
Ahmadiyah  itu, termasuk ucapan isti'arah Mirza. Akan tetapi
sejarah  nabi  India  dan  pengikut-pengikutnya  itu   tidak
bermaksud  beristi'arah  atau  berkias.  Sebab meskipun pada
kenyataannya  ada  tulisan-tulisan  Mirza   sendiri   maupun
tulisan  pengikut-pengikutnya  yang  segera  mengatasi  atau
membela maupun menafsirkan ucapan-ucapan  Mirza-Ghulam  yang
keliwat    batas   itu,   namun   pada   hakikatnya   karena
faktor-faktor tertentu, mereka  tidak  dapat  menyembunyikan
figur yang sebenarnya dari nabi India itu.
 
Faktor  yang  pertama  ialah,  cara atau macam contoh-contoh
yang dikemukakan mereka itu serba terlanjur, tergelincir dan
blunder. Faktor yang kedua, dan inilah faktor yang terutama,
ialah, terletak pada sang nabi  India  itu  sendiri.  Antara
lain, faktor kejiwaannya, faktor kondisi tubuhnya dan faktor
sejarah yang terjadi  disekelilingnya  maupun  yang  terjadi
sebelum ia muncul dengan seribu satu macam pangkat itu.
 
Allah  s.w.t.  berfirman  dalam  Al-Qur'an, surah At-Thaariq
ayat  5  dan  6,  bahwa  manusia  dijadikan  dari  air  yang
terpencar.  ("khuliqa min main- dzaafiq") surah Al-Mursalaat
ayat 20, bahwa manusia dijadikan dari air yang kotor. ("Alam
nakhluqum  min main mahiin?"). Itulah "air" kejadian manusia
yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim.  Jelas  bahwa  mereka
itu  ("wa  hum" dijadikan dari-min maa'in dzafiq, wa hum min
maain mahiin, wa hum min fasyal).
 
Sedangkan wahyu Tuhan  pada  Mirza  Ghulam  Ahmad  bahwa  ia
terbikin  dari  "airTuhan"  hanyalah  satu  kiasan  semata?!
Terserah bila itu hendak dipaksakan menjadi satu kias. Namun
yang  jelas itu bukan hanya satu kias belaka; melainkan juga
satu  bukti  betapa  tingginya  derajat  Mirza   pada   sisi
tuhannya.
 
Contoh kedua yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu: ayat 54 surah
Rum,  kamu  dijadikan  dari   kelemahan,   "khalaqakum   min
dhu'fin."  Ayat ini sebenarnya masih panjang, tapi Ahmadiyah
hanya mengambil  sepotong  ayat  saja.  Kembali  pada  hobby
mereka lagi. Padahal lengkapnya ayat itu berbunyi:
 
  "Allah menjadikan kamu dari lemah (min dha'fin, bukan
   dhu'fin), kemudian sesudah lemah itu kamu dijadikan
   kuat, dan sesudah kuat itu kamu balik lagi menjadi
   lemah dan tua. Dia menjadikan apa yang dikehendakiNya.
   Dia mengetahui lagi Kuasa."
 
Jelas  bahwa  Ahmadiyah   terang-terangan:   memotong   ayat
Al-Qur'an,  merobah  dha'fin  menjadi  dhu'fin,  mengartikan
lemah dengan arti kias, padahal lemah di  situ  adalah  arti
yang sebenarnya. Satu perbuatan blunder !
 
Contoh ketiga yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu ayat 249 dari
surah Al-Baqarah. Ayat tersebut dikutip sebagai berikut:
 
  "Faman syariba minhu fa-laisa minni. Diartikan oleh
   Ahmadiyah, siapa yang minum daripadanya (air-sungai)
   dia bukan daripada-KU." Ahmadiyah langsung bertanya:
   "Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air
   sungai itu dia dari Tuhan? Ini senada dengan ilham
   hazrat Ahmad di atas (anta min maina-pen.)12
 
Ayat 249 suratul Baqarah di atas pernah kami kutip dalam bab
ketiga,   ketika   membahas   watak-watak  ke-yahudian  kaum
Ahmadiyah. Ayat tersebut sebenarnya  masih  panjang,  tetapi
pihak  Ahmadiyah hanya mengambil sepotong saja. Kembali pada
hobby  mereka  lagi,  yuharrifunal  kalimah   an-mawadhi'ih.
Padahal lengkapnya ayat ini berbunyi:
 
  "Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia
   berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu
   sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya
   bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan
   airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
   tangan, maka ia adalah pengikutku."
 
Itulah   arti  yang   sebenarnya   sesuai   dengan   sejarah
terjadinya  peristiwa  itu. Bukan diartikan seperti kehendak
kaum Ahmadiyah bahwa yang minum air dari  sungai  itu  bukan
daripada-KU    (yakni    TUHAN).   Jelas   bahwa   Ahmadiyah
terang-terangan   berbuat:    memotong    ayat    Al-Qur'an,
mengaburkan  sejarah  yang  difirmankan  oleh Allah, merobah
makna yang sebenarnya dengan makna kiasan.  Suatu  perbuatan
blunder!  Dari  faktor  pertama  ini  saja, sudah lebih dari
cukup bagi sejarah untuk memberi merek abadi pada kaum Mirza
Ghulam  Ahmad sebagai kaum Musailimah pendusta dan sekaligus
sebagai kaum Yahudi India.
 
Lebih-lebih faktor kedua,  Mirza  Ghulam  dan  kaumnya  akan
telanjang  bulat  di  atas  panggung sejarah mempertontonkan
segala   kemunafikannya.   Mirza   Ghulam   Ahmad    terlalu
membesar-besarkan   dirinya,  ataukah  tuhannya  yang  sudah
terlalu menyanjung-nyanjung Mirza?  Perhatikanlah  bagaimana
Tuhan berkata tentang Mirza:
 
  "Ya Ahmad, Allah memberkahimu" ('ya Ahmad barakallah
   fika')13
   
  "Ya Ahmad, nama-Mu bisa sempurna, tapi nama-Ku tidak
   bisa sempurna." ('ya Ahmad yutimmu ismuka, wa la
   yutimmu ismii')14
   
  "Wahai Ahmadku, kebahagiaan untukmu." ('busyra laka ya
   Ahmadii')15
   
  "Wahai Ahmadku, Engkaulah tempat keperluanku, dan
   Engkau beserta Aku." ('ya Ahmadi Anta muraadi wa
   ma'ii.')16
 
Demikian beberapa kali tuhan memanggil Ahmad, sebagai pujian
serta  sanjungan  yang tak habis-habisnya. Nama Mirza Ghulam
Ahmad bisa "sempurna" kata tuhan, tetapi nama tuhan  sendiri
"tidak  bisa  sempurna."  Satu  hal  yang luar-biasa, betapa
urgentnya nama nabi India itu bagi tuhannya.
 
Bagaimana penjelasan Ahmadiyah tentang wahyu di atas, apakah
kira-kira  tidak  keliru  atau  salah cetak? Bagi Ahmadiyah,
karena itu adalah wahyuTuhan maka tidak ada yang keliru atau
salah cetak. Bahkan penjelasan dari wahyu yang luarbiasa itu
diberikan oleh Mirza Ghulam  sendiri.  Ia  mengatakan  bahwa
wahyu  "namamu  bisa sempurna" itu artinya: bahwa ia (Mirza)
akan mati dan  pujian  baginya  akan  habis  pula.  Kemudian
dengan  wahyu:  "Nama-KU tidak bisa sempurna" diartikan oleh
Mirza,   bahwa,   puji-pujian   bagi   Allah   tidak    akan
habis-habisnya.17
 
Penjelasan  Mirza  Ghulam  tersebut bertolak belakang dengan
wahyu Tuhan yang ia terima. Bagaimana bisa demikian,  namamu
bisa  sempurna,  diartikan  tidak  sempurna, mati dan habis.
Sedangkan, nama-KU tidak bisa sempurna,  diartikan  sempurna
dan kekal? Blunder lagi, bukan?!
 
Meskipun  demikian  tuhan  membutuhkan  Mirza Ghulam. Bahkan
lebih dari kebutuhan,  ia  menjadi  pilihan  bagi  tuhannya.
Untuk iniTuhan berkata pada Mirza:
 
  "Engkau Mirza terpandang di hadirat-Ku, AKU pilih
   engkau bagi Diri-KU." ('wa Anta wajiihun fi hadhroti
   ikhtartuka li nafsii')18
   
  "Engkau kepada-KU hai Mirza, di suatu martabat yang
   tidal: diketahui oleh manusia." (wa Anta minni
   bimanzilatin la ya'lamuhal khalq)19
   
  "Allah memujimu dari Arasy-Nya." (yahmadukallah min
   arsyihi)20
   
  "AKU Allah memujimu dan menyampaikan salam sejahtera
   padamu." (nahmaduka wa nushalli)21
   
  "AKU banyak menyampaikan salam padamu." (Alaika salaam
   katsir minni)22
   
  "Ya nabi Allah, tadinya AKU tidak kenal padamu." (ya
   nabiallah kuntu la a'rifuka)23
   
  "Wahai gunung-gunung dan burung-burung! ingatlah AKU
   bersama Dia dengan perasaaan asyik dan terharu." (ya
   jibaalu awwibii ma'ahu wath-thair)24
   
  "Engkau beserta AKU dan AKU beserta Engkau, rahasiamu
   itu adalah rahasia-KU." (Anta ma'i wa Ana ma'aka'
   sirruka sirri)25
 
Demikian limpahan puji dari tuhan  pada Mirza Ghulam  Ahmad.
Karenanya    tidak    aneh   kalau   Mirza   Ghulam   berani
memperlihatkan segala sepak terjangnya bahkan kalau perlu ia
marah   dan  marah  sekali.  Sebab  kemarahan  Mirza  adalah
kemarahan Tuhannya. Berkata Tuhan pada Mirza:
 
  "Bila Engkau marah, AKU-pun marah juga, dan bila Engkau
   suka pada seseorang, AKU-pun juga suka padanya." (idzha
   ghadibta ghadibtu wa kullama ahbabta ahbabtu)26
 
Keberanian Mirza lebih galak  lagi,  tatkala  Tuhan  memberi
kabar wahyu padanya:
 
  "Bersamamu wahai Mirza,' tentara di langit dan di
   bumi." (wa ma'aka jundus samaawati wal aradhiin)27
 
Kemudian Tuhan memberi satu jaminan pada Mirza  bahwa  tidak
akan  ada  siksaan  bila  di  suatu  tempat ada Mirza Ghulam
Ahmad. Tuhan Mirza berkata:
 
  "Dan sesungguhnya Allah tidak akan mendatangkan adzab
   pada mereka jika engkau berada di tengah-tengah
   mereka." (ma kanallahu liyuadzdzibahum wa Anta fihim)28
   
  "Aku besertamu, beserta keluargamu dan beserta
   orang-orang yang mencintaimu." (inni ma'aka wa ma'a
   ahlika kullu man ahabbaka)29
   
  "Siapa yang datang padamu, maka ia telah datang
   pada-KU." (man ja'aka ja'ani)30
   
  "Allah memujimu dan mengangkatmu pada derajat yang
   tinggi." (sabbahakallahu wa rafa'aka)31
   
  "Jika tidak karena Engkau ya Mirza, AKU tidak jadikan
   Alam ini." (Lau laka lama khalaqtul aflaaka)32
 
Bukan main, tidak dijadikan alam kalau  tidak  karena  Mirza
Ghulam Ahmad!  Alangkah  hebat kedudukan Mirza. Apakah  lagi
yang kurang untuk  ditambahkan  untuk  mempertinggi  derajat
Mirza  Ghulam  di  sisi  tuhannya?  Tentu saja hal itu masih
kurang, kata Mirza dan Ahmadiyahnya. Bahkan itu  masih  jauh
daripada derajat yang diperoleh Mirza Ghulam Ahmad.
 
Wahyu-wahyu  yang lebih hebat lagi turun melimpah pada Mirza
Ghulam dari tuhannya.  Ia  selalu  berhubungan  denganTuhan.
Kadang-kadang   Tuhan   turun   untuk  memujinya,  dan  pada
saat-saat yang sangat luar biasa, Mirza Ghulam naik  menemui
tuhannya.  Situasi  kerohanian  yang tiada tara bandingannya
itu,  bagi  sejarah  Islam  hampir-hampir   dilupakan   atau
dilewati  begitu  saja.  Mungkin satu hal yang pasti mengapa
sejarah tidak ambil pusing dengan peristiwa  "orang  Qadian"
itu, ialah bahwa Mirza Ghulam Ahmad disebabkan faktor-faktor
yang  sudah  disebutkan  terdahulu,   bukan   seorang   yang
kelimpahan   wahyu   dari  tuhan,  melainkan  ia  memperoleh
wahyu-wahyu iblis. Dan memang itulah kenyataannya.
 
Catatan kaki:
 1 Mirza Bashir Ahmad, Durr-i-Manthur, Rabwah Ahmadiyya
   Muslim Foreign Mission Office, 1960, hal.1 - juga lihat
   Khutbatul Ilhamiyah hal. muka dan Tukhfah Bagdad, hal.
   muka.
 2 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah ilhamiyah, hal. 6 (La
   tagisuni Bii Ahadin Wala Ahadin Bii.)
 3 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah lihamiyah, hal. 10 (Wa
   inna qadami hadihi ala Manaratin khutima Alaihi kullu
   rif'atinn).
 4 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, terjemah A. Wahid
   H.A. Jakarta Neraca Trading Company, 1949, hal. l2.
 5 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, hal. 13.
 6 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, Rabwah
   m.f.m.o., 1961, hal. 45: dan - Istifta hal. 80: (ya
   qamar ya syamsu Anta mimu wa Ana minka).
 7 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, hal.
   45: (that God made me first, the moon for I came like
   the moon from the real sun, and, then, He became the
   Moon; for, through me shone and will shine, the light
   of His Glory.)
 8 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
 9 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
10 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 37.
11 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 38.
12 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
   Bakry, hal. 38.
13 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 21.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
15 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
16 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
17 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, hal. 29.
18 Mirza G.A., Tukhfah Bagdad, hal. 26 dan M.G.A.,
   Alwasiyat, hal. 40.
19 M.G.A., Alwasiyat, hal. 40, dan Tukhfah Bagdad, hal. 26.
20 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
21 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
22 M.G.A. Al-Istifta, hal, 86.
23 M.G.A., Istiftha, hal. 86.
24 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 42.
25 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 30.
26 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 41.
27 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 26.
28 M.G.A., Istifta, hal. 85.
29 M.G.A., Istifta, hal. 85.
30 M.G.A., Istifta, hal. 84.
31 M.G.A., Istifta, hal. 85.
32 M.G.A., Al-Istifta, hal, 86.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: