3 Mei, 2008 at 3:44 pm (4. MIRZA TUKANG LAKNAT)

Pada suatu hari seorang  ulama  maulvi  sahib  dari  Aligarh
bernama  Muhammad  Ismail  Sahib  telah  melontarkan tuduhan
tuduhan pada Mirza Ghulam Ahmad. Menurut Mirza sendiri ulama
tersebut  adalah imam dari mesjid Aligarh, seorang sastrawan
yang   kenamaan.   Akan   tetapi   celakanya,   kata   Mirza
melanjutkan,    bahwa    ulama    itu    telah   melancarkan
tuduhan-tuduhan gila pada Mirza. Ia  menggunakan  kecurangan
dan kebohongan terhadap diri Mirza.
 
Segala  fitnahannya itu telah diterbitkan oleh sahabat Mirza
Ghulam Ahmad bernama dokter Jamaluddin.1
 
Maulvi Muhammad Ismail Sahib dalam fitnahannya menuduh Mirza
Ghulam Ahmad dengan kata-kata:
 
  "Orang ini, yakni Mirza, sama sekali tidak berwenang
   dan tak mencapai apa-apa dalam lapangan sastra."
 
Mendengar tuduhan Ismail sahib itu, Mirza  bangkit  marahnya
spontan menjawab:
 
  "O, tuan, saya tidak mendakwai suatu kearifan atau ilmu
   tentang dunia ini; apakah yang saya buat dengan ilmu
   kelicikan duniawi itu, tetapi bagi saya satu hal saja
   sudah cukup yakni bahwa kemurahan tuhanku telah datang
   membantu saya dan memberkati saya dengan ilmu
   pengetahuan yang tak berasal dari sekolah atau sekolah
   tinggi manapun juga, melainkan dari Guru dari langit
   jua. Jika saya buta-huruf bagaimana kehormatan saya
   direndahkan karenanya? Bahkan sebaliknya itu adalah
   kebanggaan bagi saya sebab bukan saja pengajar saya
   melainkan juga pengajar seluruh makhluk-makhluknya
   sendiri (yakni Nabi Muhammad) adalah seorang buta huruf
   atau ummi."
 
Jelasnya Mirza Ghulam  Ahmad  tidak  merasa  terhina  dengan
tuduhan  Ismail  Sahib  itu,  sebab  ia  tidak  belajar dari
sekolah tapi dari langit jua. Itulah  kemuIiaan  sebagaimana
yang diterima setiap nabi.
 
Kemudian    Maulvi    Muhammad   Ismail   Sahib   meneruskan
tuduhan-tuduhannya pada Mirza Ghulam Ahmad dengan  perkataan
perkataannya yang tajam:
 
  "Saya tidak dapat percaya bahwa orang itu (Mirza) juga
   menulis karangan-karangan yang baik."
 
Maka  Mirza  Ghulam  Ahmad  dengan  emosi  tak   tertahankan
menangkis  kata-kata  lawannya  itu  dengan  jawaban-jawaban
lantang:
 
  "Tak mengherankan kalau saudara tak percaya sebab
   kepercayaan seperti itu tak tercapai oleh orang-orang
   kafir yang melihat sendiri nabi suci sekalipun dan jika
   mereka itu tidak diberi malu, keunggulan nabi suci tak
   akan dapat jadi terang atau nyata bagi mereka... Dan
   apa yang keluar dari mulut Maulvi  Sahibpun boleh jadi
   benar juga, sebab tidak syak lagi kata-kata Qur'an suci
   jauh melebihi kemampuan akal nabi di dalam hal gaya
   bahasanya pilihan kata-katanya dan kearifannya...
   Demikian pula buku-buku yang dikarang dan juga
   diterbitkan oleh hamba yang hina ini sesungguhnya hasil
   dari bantuan Ilahi dan buku-buku itu sungguh melampaui
   kecakapan dan kemampuan yang sebenarnya dari pada hamba
   yang hina ini... Bahwa ada orang yang berkata kemudian
   bahwa buku-buku ini bukan hamba yang mengarangnya."
 
Terasa legalah  bagi  Mirza  Ghulam  setelah  seluruh  emosi
kemarahannya  terlontarkan  pada Ismail Sahib. Padahal tanpa
mengeluarkan  kemarahan  demikian  Mirza  Ghulam  seharusnya
sudah  lega  dengan serangan lawannya itu. Bukankah ia sudah
diidentikkan   nasibnya   dengan   nabi   Muhammad   s.a.w.?
Perbedaannya  di  sini  ialah  bahwa  pada  zaman Mirza yang
meragukan maupun yang membantah ialah seorang muslim,  bukan
seorang kafir.
 
Bagi Ismail Sahib sendiri, la tidak menghentikan serangannya
sampai di situ melainkan ia  bertambah  gencar  serangannya.
Berkata Ismail pada Mirza:
 
  "Sayid Ahmad seorang Arab yang saya kenal sebagai
   seorang yang berkata benar..., setelah hadir pada
   setiap kesempatan yang penting untuk menguji dan
   menyelidiki dia (Mirza Ghulam) maka dia (sayid) itu
   berpendapat bahwa dia (Mirza Ghulam) memiliki
   tenaga-tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu"
 
Mau apa lagi Mirza Ghulam Ahmad? Empat belas abad yang silam
nabi  Muhammad  s.a.w.  dituduh  juga  sebagai  seorang yang
memiliki tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu. Seharusnya
Mirza Ghulam lebih lega lagi dengan tuduhan itu. Akan tetapi
dengan kemarahannya yang meluap berkata:
 
  "Mari kita panggil anak-anak lelaki kamu dan anak-anak
   lelaki kami dan perempuan-perempuan kamu dan
   perempuanperempuan kami dan orang-orang kamu dan
   orang-orang kami, kemudian baiklah kita berdo'a dengan
   sungguh-sungguh dan memohon laknat Allah atas
   pendusta."
 
Ismail Sahib tidak ambil-pusing dengan  panggilan  anak-anak
kamu  dan anak-anak kami itu, melainkan ia terus melancarkan
serangannya pada Mirza dengan berkata:
 
  "Kalau saya memikirkan kalimat-kalimat yang diwahyukan
   padanya maka saya sekali-kali tak dapat percaya bahwa
   kalimat-kalimat itu wahyu."
 
Ada-ada saja  yang  dituduhkan  Ismail  pada  Mirza  Ghulam;
dengan sendirinya kalau ia tidak percaya pada kenabian Mirza
Ghulam Ahmad, bagaimana ia bisa percaya pada kalimat-kalimat
wahyunya   itu?   Namun  demikian  tuduhan  sudah  terlanjur
dilontarkan dan bagi Mirza sendiri tidak ada alternatip lain
selain  melabrak  lawannya  itu  dengan pukulan-pukulan yang
jitu. Mirza Ghulam Ahmad berkata:
 
  "Tentu saja, keturunan-keturunan yang tentang mereka
   itu tuhan berkata: Dan mereka itu menolak
   pekabaran-pekabaran kami dengan mendustakannya.
   Keturunan-keturunan itupun tidak percaya. Fir'aun tidak
   percaya; alim ulama dan orang farisi (orang-orang
   munafik di zaman nabi Isa) tidak percaya; Abu Jahal dan
   Abu Lahab tidak percaya."
 
Maka Ismail Sahibpun termasuk dari keturunan-keturunan  yang
tidak  percaya  itu. Celakalah ulama Islam dari Aligarh ini,
ia telah dipersamakan dengan kaum  kafir  zaman  nabi.  Akan
tetapi  bagi  Ismail Sahib sendiri, ia mempunyai alasan kuat
untuk tidak mempercayai Mirza  Ghulam  Ahmad,  baik  sebagai
nabi  maupun  sebagai  Al Masih Al-Mauud. Itulah sebabnya ia
masih suka melancarkan serangannya untuk Mirza Ghulam  Ahmad
yang pemarah itu. Ia berkata pada Mirza:
 
  "Bahwa ia Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya penerima
   ilham atau wahyu itu tidak selaras dengan kuasa ghaib
   dan menjawab dengan berkata: bahwa orang yang menolak
   harus datang melihat adalah suatu alasan yang tidak
   dapat dipertanggung jawabkan."
 
Mirza Ghulam Ahmad menjawab:
 
  "Perkara-perkara ini bukan dari seorang manusia
   melainkan dari DIA... maka pemuja kebenaran yang
   manakah dapat menolaknya sebagai perkara-perkara
   palsu?"
 
Demikian beberapa tuduhan Ismail  Sahib  pada  Mirza  Ghulam
Ahmad  yang sangat mirip dengan tuduhan kaum kafir pada nabi
Muhammad  s.a.w.  Suatu  kebahagiaan  buat  Mirza  jika   ia
menerima  tuduhan itu apa adanya. Bukankah ia senasib dengan
nabi?
 
Catatan kaki:
1 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, Darul Kutubil
  Islamiyah, Jakarta, 1960, hal. 31.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: