3 Mei, 2008 at 3:10 pm (1. LOVE AFFAIR MIRZA)

Sebuah kisah 1001 malam mungkin membuat kita  sedikit  relax
daripada  menceritakan  terus menerus watak-watak keyahudian
Mirza Ghulam  Ahmad  dan  anak-anak  buahnya.  Sebuah  kisah
asmara  dimana  Mirza  Ghulam Ahmad menjadi tokoh Majnunnya,
banyak diketahui masyarakat India.
 
Sheik Abubakar  Najar  seorang  penulis  India  yang  mashur
menceritakan  kisah  seribu  satu  malam  itu  dengan judul:
"Taukah tuan tentang Mirza Ghulam Ahmad yang jatuh cinta?"1
 
Artikel ini tidak ditulis sebagai suatu romance  atau  kisah
humor.  Ini adalah kisah nyata. Meskipun kedengarannya nanti
sebagai suatu romance fantasi, namun cerita ini berasal dari
tulisan  yang  orisinil  dari pahlawan yang ada dalam cerita
tersebut yaitu Mirza Ghulam  Ahmad  dari  Qadian  yang  oleh
pengikut-pengikutnya  diakui  sebagai Almasih, Almahdi, Nabi
dan Rasul.
 
Ketika itu umur Mirza Ghulam Ahmad mencapai 50 tahun  lebih.
Keadaannya   kian   hari  kian  bertambah  lemah  disebabkan
seringnya  penyakit-penyakit  datang  menyerang.   Ia   juga
mendapat serangan penyakit pada matanya.
 
Akan tetapi tidak disangka-sangka pada suatu ketika mendadak
sorot mata Mirza menyala lagi. Apa gerangan yang menyebabkan
mata  sakit  itu  bersinar  kembali.  Ah,  seorang  dara ayu
bernama Muhammadi Begum telah tertangkap oIeh pandangan mata
Mirza. Dara itu adalah puteri dari paman ibunya, Mirza Ahmad
Beg. Maka  sudah  menjadi  suratan  takdir  bahwa  pandangan
pertama Mirza Ghulam menjadi titik mula terbakarnya sang api
cinta dalam kalbunya. Dan  mujurlah  kiranya,  sebab  ketika
Mirza  GhuIam  Atmad  jatuh cinta, ia telah jadi rasul akhir
zaman, sehingga harapannya  untuk  mempersunting  sang  dara
tidak akan menemui kesulitan maupun rintangan.
 
Akan  tetapi  sayang  sekali  bahwa  apa  yang telah terjadi
adalah  sebaliknya.  Ayah  sang  dara  itu  ternyata   tidak
tertarik  pada  kerasulan  Mirza.  Lebih-lebih lagi pinangan
terhadap anaknya, ia tidak sudi  mengorbankan  anaknya  bagi
memenuhi  hasrat  nafsu  Mirza  Ghulam  yang  sudah tua lagi
sakit-sakitan itu. Apalagi  reaksi  sang  dara,  ia  spontan
menolak mentah-mentah pinangan nabi Ahmadiyah itu.
 
Mirza Ghulam Ahmad tidak menduga sama sekali, bahwa ia telah
menerima jawaban yang sangat mengecewakannya; Karena itu  ia
segera  mengumumkan  tentang  wahyu yang baru saja ia terima
dari Tuhannya. Ia berkata bahwa Tuhan telah  mempertunangkan
Mirza dengan dara ayu itu secara ghaib (spirituil). Dan bagi
keluarga dara Muhammadi Begum, demikian  kata  Mirza,  Tuhan
akan   memberi   berkah   bila  nantinya  mereka  menyetujui
pertunangan itu secara resmi. Juga Mirza  tidak  ketinggalan
memberi  satu  peringatan  keras,  yaitu bila mereka menolak
lamarannya itu atau  mengawinkan  anaknya  dengan  laki-laki
lain,  maka suami yang bukan Mirza itu akan mati dalam waktu
dua setengah tahun kemudian, dan ayah sang  dara  akan  mati
dalam   waktu  tiga  tahun  sesudah  perkawinan  itu.  Mirza
mengumumkan wahyu-wahyunya itu melalui risalahnya  serta  ia
bagi-bagikan  pada  khalayak  ramai. Hal ini pernah ia tulis
dalam kitabnya: "ainae kemalati  Islam"  halaman  552.  Juga
tertulis  dalam  kitab  Ahmadiyah  "Facts  About  Ahmadiyyah
Movement" halaman 34.
 
Dalam kitabnya yang lain yaitu "izalatil auham" halaman  396
Mirza mengumumkan, bahwa Tuhan telah bersabda padanya:
 
  "Bahwa puteri Ahmad Beg akan menjadi salah seorang
   isterinya, tetapi keIuarganya akan menentangmu dan akan
   berusaha agar supaya perkawinanmu itu tidak terlaksana.
   Akan tetapi jangan kuatir karena Allah akan memenuhi
   janjiNya dan menyerahkan puteri itu padamu, dan tidak
   seorangpun yang sanggup menghalangi apa yang telah
   dikehendaki Allah."
 
Sungguhpun demikian orang-tua gadis itu  sama  sekali  tidak
terpengaruh  oleh  wahyu  nabi  Qadian itu, dan dengan tegas
ditolaknya lamaran Mirza.  Tatkala  Mirza  Ghulam  mendengar
lamarannya telah ditolak, maka hatinya jadi gelisah kemudian
segera  ia  umumkan  wahyunya  yang  baru  saja  ia  terima,
tersebut  dalam  kitab Asmani Risalat halaman 40 yang isinya
antara lain:
 
  "Aku Allah telah menikahkan gadis itu padamu, hai
   Mirza!" Tak ada perubahan atas kata-kataKu dan bila
   rnereka melihat kekuasaanKu terjelma, mereka akan
   berpaling dan berkata bahwa itu adalah sihir semata."
 
Juga dalam kitabnya yang lain yaitu Tukhfah  Baqdad  halaman
28,  Mirza  berkata  bahwa Tuhannya telah menyampaikan wahyu
padanya, antara lain:
 
  "Bergembiralah engkau hai Mirza, bahwa Aku menikahkan
   engkau dan Aku telah kawinkan gadis itu dengan engkau."
 
Sekali lagi wahyu-wahyu Mirza Ghulam  tersebut  tidak  cocok
dengan  kejadian  yang sebenarnya. Apa yang terjadi kemudian
telah membawa kehidupan  Mirza  Ghulam  jadi  semakin  susah
karena  cintanya  tidak terbalas. Sebaliknya orang-tua gadis
itu tetap menolak serta menganggap segala daya  upaya  Mirza
itu sebagai kejenakaan belaka.
 
Tidak   lama  kemudian  Mirza  kembali  mengumumkan  tentang
dirinya melalui berita berbahasa Arab dan ditujukannya  pada
para Ulama Syeikh-syeikh, dengan kata-kata:
 
  "Telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, dan waktunya
   telah terjadi bersama-sama berkahNya yang telah
   mengumumkan Muhammad sebagai Rasul dan menjadikan
   beliau sebagai utusan terbaik serta manusia terbaik.
   Maka inilah kebuktian yang disampaikan juga kepadaku,
   bahwa ramalanku menjadi kenyataan dan aku tidak berkata
   tentang sesuatu sebelum Tuhan berkata padaku."
 
Tampaknya Mirza Ghulam  sedang  bergembira  karena  turunnya
wahyu  itu,  tapi  anehnya  ia masih tampak sedih dan letih.
Semuanya  hidupnya  berangsur-angsur  turun  serta  meredup,
akhirnya  ia  menjadi  buah  tertawaan  orang  banyak karena
wahyu-wahyunya selalu meleset.
 
Dengan sisa kekuatan yang ada Mirza  Ghulam  terpaksa  harus
membalas olok-olokan orang-orang itu serta berusaha menutupi
kelemahannya.  Dalam  risalahnya  tertanggal  10  juli  1888
Masehi,  ia  membalas  mereka  yang memperolokkan itu dengan
kata-kata:
 
  "Mereka tidak percaya tanda-tandaku lalu mengejekku;
   tetapi Allah akan menjadikan hidupku jaya dan
   mengembalikan segala ejekan itu pada diri mereka
   sendiri. Inilah wahyu dan inilah kehendak Allah dan Dia
   tidak merobah kehendakNya. Dia berbuat sesukaNya.
   Sesungguhnya hai Mirza Aku beserta engkau dan engkau
   dengan Aku, kelak Tuhanmu akan mengangkat dirimu pada
   kedudukan yang terpuji."
 
Adapun yang dimaksud dengan kata-kata  "terpuji  itu"  ialah
bahwa   perkawinannya  dengan  gadis  itu  akan  terlaksana.
Selanjutnya  ia  mengumumkan  dalam  kitab  Dafa  elwathawis
halaman   228,   sebagai   berikut:   "Biarlah  mereka  yang
mengingkari kebenaran akan diperingatkan dan menyesali  diri
mereka, demikian ramalanku pasti tepat."
 
Semua itu adalah klimaks dari reaksi Mirza Ghulam, dimana ia
telah mengancam  lewat  wahyu-wahyunya.    Bahwa  ia   telah
mengumumkan pertunangannya dengan Begum kemudian pertunangan
itu ternyata diselenggarakan sendiri oleh Allah. Kemudian ia
umumkan    perkawinannya    dan   perkawinannya   itu   juga
diselenggarakan oleh Allah  karena  atas  kehendakNya  pula.
Akhirnya  Mirza menegaskan bahwa semua itu pasti terjadi dan
harus terjadi.
 
Dalam kitab  Ahmadiyah,  "Facts  About  Ahmadiyah  Movement"
halaman 31, seorang bernama Mesum Beg menulis satu pembelaan
terhadap Al-Majnun Mirza Ghulam bahwa keluarga  besar  Ahmad
Beg  dimana  sang  dara itu berada, ternyata mereka ini kena
pengaruh hukum  maupun  tradisi  yang  berlaku  di  kalangan
masyarakat Hindu, yaitu bahwa satu perkawinan antar keluarga
dekat seperti Mirza Ghulam    dengan  Muhammadi  Begum  itu,
tidak  dapat  dibenarkan.  Hal  ini, kata Mesum Beg, terjadi
juga tatkala Nabi Muhammad  akan  mengawini  puteri  Zainab.
Maka jelaslah letak persoalan yang sebenarnya, mengapa Ahmad
Beg menolak mengawinkan  anaknya  dengan  Mirza  yang  masih
kerabat  dekat itu. Rupa-rupanya ia mengikuti satu peraturan
bukan dari Islam. Benarkah itu semua?  Sheik  Najjaar  tidak
banyak menaruh perhatian pada pembelaan Mesum Beg.
 
Bagaimana  kisah  selanjutnya  dari  love  affair Mirza itu?
Sembuhkah sukma Mirza  dari  derita  asmara.  Sayang  sekali
semua  yang diimpi-impikan Mirza tidak terjadi dan bagaimana
dengan  Mirza?  Hatinya  makin  remuk  lebih-lebih   setelah
didengarnya  kabar bahwa keluarga gadis itu memutuskan untuk
mengawinkan puterinya dengan seorang pemuda bernama:  Sultan
Muhammad. Mirza Ghulam sangat sedih ia menangis dan menangis
akhirnya ia menulis surat pada setiap  keluarga  gadis  itu,
mula-mula  memberi peringatan, tapi akhirnya ia mohon dengan
sangat  karena  tak  tahan  lagi  hidup  tanpa  gadis   itu.
Permohonannya  tidak  mendapat  jawaban.  Bahkan  di  antara
mereka yang menolak permohonan Mirza itu adalah  keluarganya
sendiri,  ialah anak isteri dari Fazl Ahmad. Akibatnya Mirza
Ghulam kena pukul lebih hebat lagi.
 
Maka ia lalu  bertindak  sesuatu  yang  tidak  disukai  oleh
Agama,   yaitu   memerintahkan   anaknya  untuk  menceraikan
isterinya dengan segera. Terjadilah  perceraian  itu.  Lebih
dari  itu, puteranya yang lain yang tidak menyukai cara-cara
yang diperbuat ayahnya itu, telah dihardik oleh  Mirza  dari
lingkungannya,  bahkan  ia  tidak  diberi hak untuk mewaris.
Peristiwa ini tersebut dalam kitab  Seeratul  Mahdi  halaman
22.
 
Mirza  Ghulam  Ahmad menjadi seorang pecemburu tidak karuan;
ia mengirim utusan-utusan pada keluarga gadis itu  dan  juga
pada pamannya, mohon belas kasihan agar perkawinan gadis itu
dengan Sultan Muhammad dibatalkan saja. Permohonannya itu ia
umumkan  dalam  kitab  Seeratul  Mahdi  halaman  174.  Namun
utusan-utusan itu tidak membawa hasil yang diharapkan. Mirza
tidak  dikasihani  oleh  keluarga gadis itu, juga tidak oleh
gadis itu sendiri. Bahkan suatu peristiwa  yang  mengejutkan
Mirza  Ghulam  telah  terjadi.  Pada  tanggal  7  April 1892
Masehi, ketika pengikut-pengikut Mirza Ghulam  sedang  asyik
berdo'a  dalam  mesjid  agar  perkawinan  itu  batal, diluar
mesjid  terjadilah  keramaian  dimana  pernikahan  dara  ayu
Muhammadi    Begum    dengan    sultan    Muhammad,   tengah
dilangsungkan.
 
Tidak ada yang lebih  hebat  terpukul  selain  Mirza  Ghulam
Ahmad,  suatu  pukulan  yang  sekaligus  menghantam hati dan
prestigenya. Ia jadi patah hati, putus harap.  Dalam  harian
Al-Hakam vol 5 no. 29 tertanggal 1-8-l90l, ia menulis:
 
  "Sesungguhnya gadis ini belum menjadi isteriku, namun
   demikian jangan kira aku tidak akan mengawininya,
   sebagaimana aku telah katakan sebelumnya. Dan
   barangsiapa yang mencemoohkan aku, akan mendapat malu.
   Karena gadis ini masih hidup maka ia akan menemui aku
   dalam suatu perkawinan yang akan datang. Ini bukan
   hanya harapan melainkan suatu keharusan, karena Allah
   telah menyampaikan padaku tentang ini dan Allah tidak
   rnerobah KehendakNya."
 
Mirza Ghulam menanti-nanti harapannya itu, akan tetapi waktu
yang  dinanti-nantikan tidak kunjung datang, sedang ia telah
terlanjur mengumumkan wahyu-wahyunya, antara lain ia berkata
bila  pinangannya  ditolak,  maka  suami Begum yang sekarang
akan mati setelah dua setengah tahun kemudian, menyusul ayah
sang Begum enam bulan kemudian.
 
Maka  waktu  yang dinanti-nantikan itu telah tiba; dan waktu
itulah yang menjadi bukti kebohongan Mirza Ghulam.   Mungkin
akan  menjadi  kebanggaan  baginya bila yang ia ramalkan itu
akan terlaksana.  Akan tetapi yang  jelas,  kesialan  selalu
mengejar  hidup Mirza Ghulam. Ia hidup berantakan, isterinya
yang pertama tidak bahagia lagi.
 
Dua setengah tahun telah berlalu, dua sejoli itu masih hidup
bahagia.  Ketika perang dunia pertama itu pecah, suami Begum
ikut dalam peperangan, ia mendapat luka-luka tetapi kemudian
sembuh  dan  hidup  kembali bersama isterinya bertahun-tahun
dalam damai dan bahagia.
 
Pada tahun 1908,  jauh  sebelum  perang  dunia  pertama  itu
pecah,  Mirza  Ghulam  Ahmad  sudah  berangkat  mati  akibat
penyakit kolera yang dideritanya. Satu hal  yang  aneh  bagi
orang-orang  yang  mengetahui  kisah Mirza Ghulam ini, ialah
bahwa pengikut-pengikutnya masih bersitegang  ingin  membela
nabi yang sial itu, agar tertutup rasa malu akibat kegagalan
Mirza memikat sang dara Begum.
 
Pembelaan mereka  ditujukan  pada  dunia  diluar  Ahmadiyah,
yaitu  bahwa  apa  yang diramalkan nabi India itu mengandung
makna yang lain  daripada  yang  dikatakan.    Dr.  Nuruddin
khalifah  Ahmadiyah yang pertama, telah mengumumkan apa yang
menjadi   percakapan    orang    banyak,    yaitu    tentang
ramalan-ramalan  Mirza  yang selalu meleset, terutama sekali
tidak jadinya ia kawin dengan gadis pujaannya itu.
 
Dalam Review of Religion, vol. 7, no. 6 tanggal 8 Juni 1908,
Nuruddin berkata:
 
  "Kalau sekiranya salah seorang dari anak-anak atau cucu
   Mirza Ghulam Ahmad kejadian telah mengawini salah
   seorang puteri dari keturunan Muhammadi Begum, maka
   yang demikian itulah yang sebenarnya dari ramalan Mirza
   Ghulam telah terlaksana."
 
Demikian pembelaan kaum Ahmadiyah  terhadap  nabinya.    Dan
demikian  pula kisah yang mengaku rasul, nabi, Al-Masih, dan
Al-Mahdi yang dinanti-nantikan telah menjadi korban  asmara.
Kisah yang sungguh terjadi, kisah Al-Majnun bertepuk sebelah
tangan, lucu dan patut dikasihani.
 
Satu hal yang nyata dan benar dapat diangkat dari kisah yang
diceriterakan kembali oleh Sheik Najjar itu, yaitu kegagalan
Mirza  Ghulam  Ahmad  mempersunting  seorang  dara  yang  ia
dambakan.   Kegagalan  inilah yang menghiasi kehidupan Mirza
dalam segala  aspek.    Ia   adalah   manusia   yang   gagal
segala-galanya.
 
Catatan kaki:
1 Abubakar Najjar, Do  You  know  about  Mirza  in
  love?  Islamic Publication  Bureau Athlone Cape South
  Africa, series no. 5 (terjemahan bebas)

1 Komentar

  1. dildaar80 said,

    Khabar-khabar Ghaib TentangMuhammadi Begum

    Latar Belakang Khabar Ghaib

    UNTUK memahami hal ini, perlu diketahui terlebih dahulu apa sebenarnya tujuan khabar ghaib ini. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam sendiri menulis, “Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa telah mendapati sepupu saya dan keluarganya (Ahmad Beg dengan yang lain-lainnya – Pen.) tenggelam di dalam pemahaman dan amalan yang salah dan juga tenggelam di dalam amalan tradisi dan bidah. Dan mereka, tenggelam dalam kehidupan yang mewah dan mengikuti hawa nafsu. Dan mereka, mengingkari adanya Tuhan dan membuat fasad. (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 566) Mereka orang-orang yang betul-betul kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan, mereka mengingkari takdir yang baik dan buruk. Mereka betul-betul orang atheis.” (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 567)

    Tentang keadaan mereka ini, jelas sekali dari peristiwa di bawah ini sebagaimana yang diterangkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam:
    “Suatu malam terjadi hal seperti ini: Seseorang datang kepada saya menangis. Melihat yang menangis, saya merasa khawatir, dan saya bertanya kepadanya, ‘Siapakah yang meninggal?’ Dia berkata, ‘Bahkan lebih dari itu. Saya duduk bersama mereka. Orang itu yang telah murtad dari agama Tuhan, maka dari antara mereka ada seseorang yang mencaci Rasulullah ‘alaihissalaam kotor sekali. Suatu cacian yang begitu kotornya yang tidak pernah keluar dari mulut orang kafir sendiri. Dan, saya lihat mereka menginjak-nginjak Alquran. Dan, mereka mengatakan sesuatu yang begitu kotornya; sehingga dengan ikut mengatakannya saja, lidah kita akan menjadi kotor. Dan, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada wujudnya. Di dunia ini, tidak ada yang harus disembah. Itu hanya satu kedustaan yang diucapkan para pendusta.’

    Saya berkata kepadanya, ‘Apakah saya tidak melarang untuk duduk dengan mereka? Takutlah kepada Allah. Di masa datang jangan sekali-kali duduk dengan mereka. Dan bertaubatlah.’” (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 568)

    Pendeknya, demikianlah keadaan orang-orang itu ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam mendakwakan diri sebagai Utusan Allah. Bagi mereka yang mengingkari adanya Tuhan, dakwa seperti itu hanya menggerakkan mereka untuk mencemoohkan dan menghina Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam dengan sangat lancang (kurang ajar). Dan, mereka berkata:
    فليأتنا بئاية إن كان من الصّادقين
    “Bawalah suatu tanda untuk kami, jika dia termasuk orang yang benar.” (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 568)

    Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam bersabda, “Mereka menulis sepucuk surat yang isinya mencaci Rasulullah ‘alaihissalaam dan Alquran, serta meminta tanda dari Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa. Dan, mereka menyebarluaskan surat itu. Dalam hal ini, orang yang bukan Islam, yakni: orang Hindu dan Kristen, banyak menolong mereka. Dan, mereka pembangkang yang sangat luar biasa.” (Surat ini ada pada Surat Khabar Shasmae Nur, tahun 1885)

    Terhadap tuntutan tanda dari mereka ini, mendorong beliau ‘alaihissalaam untuk berdoa:
    و قلت يا رب يا رب انصر عبدك و اخذل أعداءك
    Saya berkata, “Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami! Tolonglah hamba Engkau ini, dan hinakanlah musuh Engkau.” (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 569)

    Sebagai jawaban, Tuhan memberikan tanda melalui wahyu yang untuknya orang-orang sedang menunggu dengan penuh kegelisahan, “Aku telah melihat kenakalan dan kejahatan mereka. Maka dalam masa dekat, Aku akan melimpahkan kepada mereka berbagai macam musibah. Dan, Aku akan menghancurkan mereka. Dan dalam masa dekat, engkau akan melihat apa yang akan Aku kerjakan terhadap mereka. Aku berkuasa atas segala sesuatu. Aku akan membuat perempuan-perempuan mereka janda, dan membuat anak-anak perempuan mereka yatim. Dan membuat rumah-rumah mereka, kosong dari penghuni. Supaya, mereka mendapat hukuman atas perbuatan mereka. Tapi, Aku tidak akan meghancurkan mereka sekaligus. Tapi, akan menghancurkan mereka sedikit-sedikit supaya mereka kembali dan menjadi sebagian dari orang yang bertaubat. Dan laknat-Ku, akan menimpa mereka dan seluruh rumah mereka, dan kepada orang-orang dewasa, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan mereka, dan laki-laki mereka, dan tamu-tamu yag ada di rumah mereka. Dan mereka semuanya, akan menjadi orang yang dilaknat.” (‘Ainah Kamalat-e-Islam, hal. 569)

    Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, jelaslah bahwa Tuhan akan membuat para wanita mereka janda dan anak-anak perempuan mereka yatim. Tapi ada syarat untuk kembali kepada Allah atau bertaubat, sehingga mereka mendapatkan keselamatan.

    Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam menjelaskan hal tersebut di bawah ini:
    “Kalau Ahmad Beg memberikan anak perempuannya (Muhammadi Begum), maka dia dan keluarganya akan mendapatkan berkat kerohanian yang banyak sekali sebagaimana Ummi Habibah binti Abu Sofyan dan Saudah binti Zam’ah radhiyallaahu ‘anhuma menikah dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, telah memberikan berkah kepada keluarga dan suku mereka sehingga semuanya masuk Islam.”

    Wahyu Tuhan telah menerangkan bahwa beliau ‘alaihissalaam tidak akan menikahinya dalam masa 3 tahun sesudah wahyu tersebut; sedangkan orang yang menikahinya dalam masa 2½ tahun akan mengalami kehancuran. Dan sesudah perempuan itu menjadi janda, baru beliau ‘alaihissalaam akan menikahinya. Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam menerangkan sendiri, “Tuhan Maha Kuasa dan Maha Bijaksana berfirman kepada saya agar anak perempuan Ahmad Beg ini dinasihati untuk menikah. Dan, katakan kepada mereka: ‘Seluruh perlakuan terhadap kamu hanya akan terjadi dengan syarat ini. Dan pernikahan ini, bagi kamu akan menjadi sebuah tanda berkat dan rahmat bagimu. Dan kamu akan mendapatkan rahmat dan berkat-berkat’—sebagaimana yang tertera pada selebaran tanggal 20 Februari 1888. Tapi kalau mengingkari pernikahan, maka akhir kehidupan puteri ini akan sangat buruk. Orang itu akan meninggal 2½ tahun sejak hari pernikahan. Dan demikian juga ayah anak-perempuan ini, akan mati dalam masa 3 tahun. Dan rumah tangga mereka akan ditimpa perselisihan, kesulitan dan musibah. Dan di masa-masa tersebut pun, puteri tersebut akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dan mengalami kesedihan.” (‘Aina Kamalat-e-Islam, hal 286)

    Wahyu Tuhan telah menerangkan hal-hal lainnya lagi:

    1. Mirza Ahmad Beg akan menikahkan anak perempuannya itu dengan lelaki lain. Ini terlihat pada wahyu, “Mereka mendustakan tanda-tanda-Ku. Dan beserta itu mereka pun mencemoohkannya. Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa akan menghukumnya dan mengembalikan anak-perempuan itu kepadamu.

    2. Kalau mereka tidak bertaubat, maka Tuhan akan menimpakan bermacam musibah sehingga mereka akan mengalami kehancuran. Dan rumah mereka, akan penuh dengan janda. Dan kemurkaan Tuhan, ada di sekitar rumah mereka. Tapi kalau mereka kembali, Tuhan pun akan kembali kepada mereka dengan rahmat-Nya.

    (Kedua kutipan itu sangat jelas sekali sehingga tidak memerlukan penjelasan. Dalam hal ini jelas sekali adanya syarat taubat. Dan diterangkan, bahwa orang-orang yang dikhabarkan akan hancur, kalau mereka tidak taubat. Jika mereka tidak taubat, maka azab pasti akan turun. Namun, kalau mereka kembali, maka Tuhan akan kembali kepada mereka dengan rahmat-Nya.)

    3. Bukti yang ketiga tentang hal ini bahwa di dalam khabar tersebut ada syarat taubat nampak dalam wahyu di bawah ini yang telah disebutkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam, “Saya melihat secara kasyaf bahwa perempuan itu (neneknya Muhammadi Begum) dan nampak di wajahnya bekas menangis. Maka saya berkata kepadanya, ‘Wahai perempuan, bertaubatlah sebab bencana akan menimpa anak-anakmu dan musibah akan menimpamu. Seorang lelaki akan meninggal, dan darinya yang tinggal hanya anjing-anjing.”
    Dari kata “bertaubatlah”, jelas sekali bahwa musibah yang akan menimpa keluarga ini akan bisa dihindari melalui taubat.

    Dan mengatakan bertaubatlah kepada neneknya Muahammadi Begum, Tuhan bermaksud menjelaskan bahwa pintu taubat terbuka luas.

    Selain dari dosa besar, semua dosa kecil dijauhkan melaui doa. Karena itu, di dalam doa ‘Athahiyyat, kita diajarkan:
    ربّنا اغفرلي ولوالديّ
    “Wahai Tuhan kami, ampuni hamba dan kedua orang tua hamba.”
    Begitu juga kita diajarkan doa untuk keturunan kita:
    ربّ اجعلني مقيم الصّلوة ومن ذريّتي
    “Wahai Tuhan-Ku, jadikanlah hamba dan keturunan hamba: Orang yang mendirikan shalat.”

    Pendeknya, dengan mengatakan bertaubatlah menerangkan bahwa dalam hal ini yang menjadikan taubat sebagai syarat, maka untuknya pintu sangat terbuka luas; sehingga, dengan doa dan istighfarnya nenek, membuat musibat si cucu akan hilang (menjauh). Apalagi, kalau dia sendiri yang bertaubat dan beristighfar.

    Pernyataan Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam

    “Kami sedikitpun tidak merasa perlu untuk memohon kepada Keluarga Muhammadi Begum, untuk menikah dengan puteri mereka (Muhammadi Begum); sebab semua keperluan-keperluanku telah Tuhan penuhi; anak-anak keturunan Dia telah anugerahkan dan dari antara anak yang merupakan lampu penerang agama, bahkan seorang anak lainyang akan lahir dalam jangka waktu tidak lama lagi yang namanya Mahmud Ahmad—diberi nama oleh Tuhan—yang sangat penuh dedikasi/kesabaran dalam pekerjaan-pekerjaan. Jadi, permohonan jodoh ini, hanya sebagai tanda, supaya para penentang Islam di dalam keluarga itu, Allah perlihatkan dengan kekuasaan dahsyat yang jika mereka meliahtnya maka berkat dan rahmat akan turun kepada mereka; dan menjauhkan musibah-musibah itu yang tidak lama lagi akan turun. Jika mereka menolaknya, maka Tuhan akan menurunkan kemarahannya sebagai peringatan kepada mereka. )

    Maka, terbuktilah bahwa tujuan sebenarnya dari khabar ghaib Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam bukanlah ini: bahwa Muhammadi Begum menikah dengan saya. BAHKAN, inilah makna khabar ghaib itu yaitu: Ahmadi Begum dan Sulthan Muhammad jika tidak bertaubat, maka di waktu 3 tahun dan 2½ tahun akan binasa. Dan sesudah kebinasaannya, maka Muhammadi Begum menjadi janda dan akan menikah dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam.

    Lihatlah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam sendiri menulis tentang selebaran tanggal 20 Februari 1886 berikut ini:

    1. Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa telah menzahirkan khabar ghaib ini bagi orang-orang yang menolak untuk menikahkannya dengan yang lemah ini bahwa: Di antara mereka yang bernama Ahmad Beg, kalau tidak menikahkan putri sulungnya dengan saya, maka dia akan mati dalam waktu sampai 3 tahun bahkan kurang darinya. Dan orang yang menikahinya, maka dari sejak hari pernikahan sampai 2½ tahun akan mati. Dan akhirnya, perempuan itu akan menikah dengan saya.

    2. Berikut ini, dalil yang lebih jelas dari di atas, yang membuktikan bahwa Muhammadi Begum akan datang untuk menikah dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam—sesudah matinya Ahmad Beg dan Sulthan Muhammad—adalah, “Suaminya dan ayahnya, akan mati dalam tempo 3 tahun. Sesudah kematian keduanya, Kami akan membawa perempuan itu kepadamu.” (Karamatus-Shadiqin, Title)

    3. Dalil yang lebih jelas dari ini yang membuktikan bahwa maksud sesungguhnya dari khabar ghaib ini bukanlah menikah, bahkan tentang kebinasaannya Ahmad Beg dan Sulthan Muhammad: Tujuan sesungguhnya dari khabar ghaib ini adalah kebinasaan keduanya itu. Dan menikahnya perempuan ini dengan saya, adalah sesudah kematian mereka. Dan itupun, hanya bertujuan untuk lebih membuka mata tentang kecemerlangan tanda itu, bukannya sebagai tujuan yang sesungguhnya.” (Anjam-e-Atham, hal. 216)

    Sekarang, sampai dimana mereka mengambil manfaat dari syarat taubat itu, Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa Maha Mengetahui Dia tahu apa yang akan terjadi kepada mereka. Ini kita bisa lihat dalam wahyu berikut:
    (رأيت هـاـذه المرأة و أثر البكاء على وجهها فقلت ايتها المرأة) توبي توبي فإن البلآء على عقبك والمصيبة نازلة عليك يموت ويبقى منه كلاب متعددة – (تبليغِ رسالت ، صفـه .123 جلـد1 )
    “Wahai perempuan! Bertaubatlah, bertaubatlah azab akan turun atasmu dan atas anak perempuan dari anak perempuanmu (dari dua lelaki yaitu Ahmad Beg dan Sulthan Muhammad). Salah satu akan mati (yakni dia tidak akan bertaubat. Tapi yang kedua akan mengambil faedah dari syarat bertaubat. Dan dengan demikian perempuan itu tidak akan menjadi janda, maka tidak akan menikah lagi). Dan tinggallah anjing-anjing menggonggong.” (Tabliigh-e-Risaalat, halaman 123, Jilid I)—Bahwa, kenapa pernikahan itu tidak terjadi yakni mengajukan keberatan tanpa sebab.

    Dalam wahyu ini, jelas sekali bahwa di antara Ahmad Beg dan Sulthan Muhammad salah satunya tidak akan mengambil faedah dari syarat taubat dan akan mati. Dan yang satu lagi akan mengambil faedah dan akan selamat. يموت — Yamuut adalah sighah fi’il mudhari’ untuk tunggal (wahid) yang berarti: Seorang lelaki akan mati.

    Sekarang dengan membahas hal-hal di atas, kita sudah membuktikan bahwa hakikat khabar ghaib Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam adalah:

    1. Ahmad Beg akan menikahkan anak perempuannya dengan orang lain ( يردّها إليك ).
    2. Sesudah menikah, kalau tidak bertaubat, maka Ahmad Beg dan menantunya akan mati dalam masa 3 tahun. Dan karenanya, anak perempuan dengan menjadi janda akan menikah dengan saya. (Selebaran tanggal 30 Pebruari 1886)
    3. Dari antara dua lelaki yang tidak akan mengambil faedah dari Syarat Taubat, maka akan mati (يموت).
    4. Lelaki yang satu lagi akan mengambil faedah dari Syarat Taubat. Dan dengan bertaubat, ia akan selamat.
    5. Anak perempuan itu tidak menjadi janda, karenanya nikah tidak akan terjadi.
    6. Karena nikah hanya bisa jadi kalau telah menjadi janda. (Anjam Atham, h. 216)

    Khabar Ghaib Telah Sempurna

    Singkatnya, khabar ghaib Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam terdiri dari hal-hal diatas. Sekarang marilah kita perhatikan dengan seksama. Lihatlah! Apakah hal-hal yang telah diterangkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam telah sempurna atau belum? Kenyataan telah menerangkan, bahwa apa saja yang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam telah khabarghaibkan, telah sempurna secara hurup ke hurup.

    1. Ahmad Beg telah umenikahkan Muhammadi Begum kepada Mirza Sulthan Muhammad. 7 April 1892
    2. Ahmad Beg tidak mengambil faedah dari syarat taubat. Dan lima bulan 24 hari sesudah hari pernikahan yakni 30 Desember 1892 telah mati dan wahyu (يموت) dari segi ini telah sempurna.
    3. Sulthan Muhammad telah mengambil faedah dari syarat taubat. Dia bertaubat maka dia selamat. Wahyu (يموت) dari segi kedua pun telah sempurna.
    4. Karena Sulthan Muhammad telah selamat dengan mengambil faedah dari syarat taubat, maka Muhammadi Begum tidak menjadi janda.
    5. Karena tidak menjadi janda, maka pernikahan dengan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam pun tidak terjadi (nikah bisa terjadi sesudah menjadi janda). (Anjam-e-Atham, h. 216)
    6. Orang yang mengumumkan keberatan tidak bosan-bosannya mengumumkan keberatan (kritikan), maka dengan sendirinya termasuk ke dalam wahyu:
    يبقى منه كلاب متعدّدة
    “Yang bersisa darinya hanya anjing-anjing yang menggonggong.”
    Semua keterangan kami tercakup dalam dua hal ini:
    1. Di dalam khabar ghaib ada syarat taubat; dan
    2. Sulthan Muhammad mengambil faedah dari syarat taubat.

    Bukti Taubatnya Sulthan Muhammad

    SEKARANG kewajiban kami adalah membuktikan, bahwa Sulthan Muhammad telah bertaubat. Dan betul-betulkah dia telah mengambil faedah dari syarat yang ada pada khabar ghaib itu?
    Maka ingatlah! Ada lima bukti tentang taubatnya:

    1. Yang paling pertama adanya bukti tentang adanya fitrat manusia untuk bertaubat dari Sulthan Muhammad. Ini jelas sekali ketika keduanya dikhabarkan akan binasa dalam waktu tertentu, maka ketika Ahmad Beg mati di waktu yang telah ditentukan itu, maka secara fitrat Sulthan Muhammad bisa mengambil pelajaran, bahwa kalau tidak bertaubat dia pun akan mati di waktu yang telah ditentukan.
    Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam telah menulis:
    a. Maka seorang bijak bisa berfikir, bahwa sesudah matinya Ahmad Beg yang kematiannya itu merupakan sebagian dari khabar ghaib. Maka, apa yang terjadi pada bagian yang lainnya? Seolah-olah dia mati dalam keadaan hidup. Kami menerima dua surat dari para sesepuhnya. Yang pertama, ditulis oleh Tuan Hakim yang tinggal di Lahore. Di dalamnya menerangkan tentang taubat dan istighfarnya. Melihat keadaan itu kami menyimpulkan bahwa khabar kematian Sulthan Muhammad tidak akan terjadi pada waktu yang telah ditentukan. (Selebaran tanggal 6 September 1894)
    b. Dan ketika Ahmad Beg mati, maka semua sanak-saudaranya merasa takut sekali. Mereka telah mengalihkan perhatian kepada doa secara khusuk dan penuh takut. Kami dengar bahwa ibu menantu Ahmad Beg sampai sekarang jantungnya belum kembali normal. Maka, Tuhan melihat bahwa keadaan mereka itu bukanlah drama semata. Maka pada waktu itu juga, janji telah sempurna. (Hujjatullah, hal.11, cet. 1897)
    2. Bukti kedua tentang taubatnya Sulthan Muhammad adalah suratnya ini:
    Dari komplek Anbalah: 21/3/13
    Semoga Saudaraku ada dalam lindungan-Nya.
    Saya berterimakasih atas ingatnya Tuan kepada saya. Saya sejak dulu menganggap Almarhum Hadhrat Mirza Sahib sebagai orang suci, pengkhidmat Islam dan berjiwa bersih yang selalu ingat kepada Tuhan. Saya tidak pernah mengingkari bahwa saya sebagai murid/pengikut beliau ‘alaihissalaam. Hanya sayangnya, karena disebabkan beberapa hal, saya tidak bisa bergaul dekat dan menyerap kesucian beliau ‘alaihissalaam, sewaktu beliau ‘alaihissalaam hidup.
    Yang selalu mengharapkan kebaikanmu,
    Mirza Sulthan Muhammad
    Dari Anbalah

    (Surat ini tertera pada Ensklopedia Agama, halaman 780, 1945)

    Kata-kata di atas kalau ditulis oleh orang biasa, maka bukanlah suatu hal yang penting. Tetapi, Sulthan Muhammad yang tentangnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam telah mengabarkan kematiannya, dan jandanya akan menjadi isteri beliau ‘alaihissalaam Hal ini, ditulis dalam berbagai buku dan selebaran beliau ‘alaihissalaam. Seharusnya, dia memusuhi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam. Dan juga, beliau ‘alaihissalaam banyak menulis tentang taubatnya Sulthan Muhammad dan beliau juga mengetahui dengan baik tentang hal ini. Kalau sekiranya tidak bertaubat, kenapa tidak membantahnya? Kalau membantah, maka akan terbukti Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam adalah seorang pendusta. Maka, kata-kata bahwa saya menganggap beliau dari dahulu sampai sekarang sebagai seorang suci dan pujian-pujian lainnya, bukanlah hal yang biasa, tapi suatu mukjizat.

    3. Bukti ketiga tentang taubatnya Sulthan Muhammad, keterangannya sendiri:
    “Mertua saya betul-betul mati sesuai dengan khabar ghaib. Tapi, Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang…. Saya berkata dengan iman bahwa khabar ghaib pernikahan bagi saya bukan penyebab keraguan. Sedangkan tentang baiat: Saya bersumpah bahwa keyakinan dan keimanan saya terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam, saya pikir Tuan-tuan yang sudah baiat pun tidak bisa mengalahkannya. Sedangkan tentang hati saya, Tuan-tuan bisa memperkirakannya bahwa orang-orang Arya disebabkan oleh Lekhram dan orang-orang Kristen, disebabkan oleh Atham, mereka siap memberi saya ratusan ribu Rupees supaya saya membawa Tuan Mirza ke Pengadilan, maka saya akan menjadi orang yang sangat kaya. Tapi keyakinan dan keimanan itulah yang telah menghalangi saya.” (Pernyataan ini terdapat di dalam Surat khabar Al-Fadhl, 91-13 Juni 1921)

    4. Bukti keempat tentang taubatnya Sulthan Muhammad adalah tulisan putera Sulthan Muhammad yang pertama, Mirza Ishaaq Beg.

    بسم الله الرّحمــاــن الرّحيم
    Tuan-tuan yang terhormat,
    السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته
    PERTAMA, saya ingin menerangkan pengakuan saya.
    Demi Allah, saya masuk ke Jemaat Ahmadiyah bukan karena serakah atau tekanan dari seseorang. Bahkan, sesudah mengadakan penyelidikan yang lama dan mendalam. Saya mengimani bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam benar di dalam segala dakwaan beliau. Dan, beliau ‘alaihissalaam betul-betul Utusan-Nya. Dan terbukti, kebenaran perkataan dan amalan beliau ‘alaihissalaam sehingga tidak meragukan bagi pengenal kebenaran. Semua khabar ghaib beliau ‘alaihissalaam telah sempurna.

    INI adalah soal lain bahwa: Sebagian orang yang berprasangka buruk atau disebabkan tidak paham menerangkan bahwa beberapa khabar ghaib tidak sempurna, hal ini telah menipu orang-orang umum. Misalnya, khabar ghaib tentang Ahmad Beg dan yang lainnya. Mereka menuntut bukti di setiap tempat bahwa khabar ghaib ini telah sempurna. Padahal, ini pun telah sempurna dengan jelas sekali.

    Sebelum lebih lanjut mengenai khabar ghaib ini, saya ingin menerangkan bahwa khabar ghaib ini bersifat peringatan. Allah memberi banyak khabar ghaib yang bersifat peringatan melalui para Nabi-Nya, bertujuan supaya orang bersangkutan bisa memperbaiki diri dan bertaubat sebagaimana Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa befirman di dalam Alquran.
    و ما نرسل باْلأايات إلاَّ تخويفاً
    “Mengapa kami memberi para Nabi tanda-tanda supaya mereka takut.”
    Di dalamnya Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa menerangkan tujuan sebenarnya dari pemberian khabar ghaib yang bersifat peringatan, yaitu: Supaya mereka memperbaiki diri. Ketika suatu kaum merasa takut kepada Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa dan memusatkan perhatian di dalam perbaikan diri, maka Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa pun akan menjauhkan azab daripadanya. Seperti halnya peringatan azab terhadap kaum Nabi Yunus ‘alaihissalaam.
    ولمَـَّا وقع عليهم الرّجز

    Di dalam keadaan ini, khabar ghaib yang bersifat peringatan, tidaklah penting—untuk sempurna secara kata demi kata. Demikian juga yang terjadi pada peristiwa ini. Ketika keluarga dan kaum Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam mencemoohkannya, sampai-sampai mereka mengingkari Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, mengingkari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Alquran, serta menyebarkan selebaran: Menuntut satu tanda. Maka, Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa melalui Utusan-Nya memberi khabar ghaib.
    Berdasarkan khabar ghaib ini, kakak saya—Ahmad Beg—telah mengalami kebinasaan. Dan keluarga yang lainnya melihat kejadian ini, merasa takut dan mulai berusaha memperbaiki diri. Dan, bukti yang tidak bisa dibantah bahwa sebagian besar dari mereka telah menerima Jemaat Ahmadiyah. Maka, Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa berdasarkan sifat ghafar-Nya telah merubah kemarahan menjadi kasih sayang. Kemudian, saya dengan sesungguh-sungguhnya mengumumkan bahwa khabar ghaib ini pun telah sempurna. Saya memohon kepada orang-orang yang terhalang oleh khabar ghaib ini di dalam menerima kebenaran Jemaat.

    Berimanlah kepada Al-Masih Zaman.
    Aku bersumpah, demi Tuhan: Inilah Al-Masih yang dijanjikan yang tentangnya Baginda Nabi Muhammad ‘alaihissalaam telah mengabarkannya. Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam:
    Datanglah kepadaku dengan benar, di sanalah letaknya kebaikan
    Dari segala arah ada binatang buas. Akulah bintang keselamatan
    Sesudah satu masa, maka berhembus udara yang sejuk
    Kemudian hanya Tuhan Yang Tahu: Kapan hari ini dan musim bunga ini, akan datang kembali?
    Yang amat lemah

    Mirza Muhammad Ishaaq Beg
    Kabupaten Lahore
    (Surat ini terdapat pada Surat Khabar Al-Fadhl, 26 Februari 1932)
    5. Bukti kelima tentang taubatnya Sulthan Muhammad adalah tentang Hadhrat Masih Mau’uud ‘alaihissalaam kepada mereka yang mengemukakan keberatan.
    Beliau ‘alaihissalaam bersabda, “Keputusan perkara ini adalah mudah. Kalau ingin cepat, katakan saja kepada menantunya Ahmad Beg, yaitu: Sulthan Muhammad—supaya menyebarkan selebaran pendustaan (bahwa dia tidak bertaubat – Pen.). Kemudian kita lihat, apakah janji (kematian itu) tidak mengenainya: Kalau dia tidak mati, maka saya adalah pendusta!
    Pasti maut tidak akan menimpanya, waktu itu tidak akan datang, kalau dia tidak lancang. Maka kalau ingin cepat, bangunlah. Dan, jadikanlah dia lancang dan jadi pendusta. Dan suruhlah dia menyebarkannya. Dan lihatlah penampakkan takdir Tuhan.” (Anjam-e-Atham, Note halaman 32)
    Sesudah pengumuman ini, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam masih hidup selama 12 tahun, tapi tidak ada satu ulama yang dapat membuat Sulthan Muhammad maju ke depan untuk membuat selebaran bahwa dia tidak bertaubat.

    Kenapa Sulthan Muhammad Tidak Baiat?

    SEBAGIAN ghair Ahmadi selalu berkata bahwa kami terima bahwasanya Sulthan Muhammad telah taubat. Tapi yang menjadi persoalan di sini: Dia tidak baiat.

    Jawabannya adalah seperti ini:
    Khabar ghaib ini menjadi sempurna pada 1886-1888. Dan Syarat Taubat ada pada Selebaran tanggal 20 Februari dan 15 Juli 1888. Pada waktu itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam belum mendakwakan sebegai Nabi maupun sebagai Isa yang Dijanjikan dan Imam Mahdi. Dan beliau ‘alaihissalaam belum mengambil baiat. Bahkan, kalau ada yang datang untuk minta baiat, beliau ‘alaihissalaam bersabda, “ لَسْتُ بمِـَأْمُوْرٍ –Saya tidak mendapat perintah.”

    Baiat dimulai pada tahun 1889 sehingga waktu itu belum ada masalah antara Ahmadi dan ghair Ahmadi; karena baru pada tahun 1900, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam baru menamai Jemaat beliau: Firqah Ahmadiyah Muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: