3 Mei, 2008 at 3:00 pm (6. CABIKLAH TIRAI ITU)

Satu  ucapan  tidak  beres  yang  berkali-kali   dilontarkan
Ahmadiyah.  Namun demikian kalau sekiranya hendak ditanggapi
obrolan Ahmadiyah itu, hanya semata-mata  for  the  sake  of
arguments   saja,  katakanlah  bahwa  menjadi  raja-raja  di
kalangan ummat Islam itu adalah satu kenikmatan dari  Allah,
lantas  menjadi  nabi-nabi,  yang  mana mereka itu? Satu hal
yang pasti ialah bahwa Ahmadiyah hanya  memiliki  satu  nabi
saja sesudah Nabi Muhammad s.a.w., yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Jika ini dikatakan satu kenikmatan pula, maka yang  dimaksud
ialah kenikmatan buat Mirza sendiri, ketuarganya maupun para
pengikut-pengikutnya  yang  setia.  Bahkan  kenikmatan   itu
begitu  besarnya  sehingga Ahmadiyah berani mengatakan bahwa
ayat-ayat  6  dan  7  dari  surah  Al-Fatihah,  tidak   lain
ditujukan bagi datangnya Mirza Ghulam.
 
Jelasnya, menurut Ahmadiyah bahwa dari surah Al-Fatihah ayat
6 dan ayat 7 yang berbunyi:
 
  "Tunjukilah kami ke jalan yang lurus yaitu jalan yang
   telah Engkau tunjukkan kepada orang-orang yang telah
   Engkau beri nikmat."
 
Ayat ini, demikian Ahmadiyah, ialah ayat di mana Allah telah
memerintahkan   kepada  ummat  Islam  supaya  sebagai  ummat
meminta kepadaNya, agar nikmat-nikmat yang  pernah  diterima
oleh  ummat  dahulu  terutama  kaum  Bani  Israiel  (Yahudi)
diberikan pula pada mereka. Apakah nikmat-nikmat itu?  Tidak
lain,   kata   Ahmadiyah,   ialah   menjadi   raja-raja  dan
nabi-nabi.1
 
Jadi bagi kaum Muslimin yang selalu mengucapkan  do'a  dalam
Al-Fatihah  pada  waktu mereka melakukan shalat, tujuh belas
kali  sehari  semalam  itu,  ternyata  do'a   mereka   telah
dikabulkan  Tuhan yaitu, dengan munculnya Mirza Ghulam Ahmad
dari India, sebagai satu-satunya  nabi.  Pantas  juga  kalau
orang-orang pengikut Mirza mengatakan bahwa kedatangan Mirza
sebagai fadhlan kabiran (buat siapa?!)
 
Last but not least, untuk lebih banyak mengenal model  watak
ke-Yahudian  kaum  Ahmadiyah  ini,  kita melihat satu uraian
lagi dari mereka, dimana  satu  khabar  gembira  dari  Tuhan
telah turun pada Mirza Ghulam Ahmad, isi kabar itu ialah
 
   "Hai Mirza engkau dari Aku dan Aku dari engkau."2
 
Wahyu Tuhan di atas sangat menggembirakan Mirza Ghulam, akan
tetapi  bagaimana  mengartikannya? Satu hal yang tidak beres
pada Ahmadiyah; bagaimana Tuhan bisa  dikatakan  dari  Mirza
dan  Mirza  dikatakan dari Tuhan? Apanya yang dari Tuhan dan
apanya Tuhan yang dari Mirza Ghulam?  Ada  lagi  wahyu  yang
bikin Mirza Ghulam Ahmad lebih bergembira:
 
   "Wahai bulan (Mirza) engkau dari padaKu dan
    Aku dari padamu."3
 
Andaikata wahyu Tuhan itu diartikan harafiah, maka kata-kata
itu jelas keluar dari akal tidak waras. Tentu saja Ahmadiyah
menolak tuduhan semacam itu. Maka inilah  pengertian  mereka
yang  disodorkan  ke  tengah-tengah  pengikutnya.  Mula-mula
dikemukakan  bahwa  Nabi  Muhammad  pernah   bersabda   pada
Sayyidina Ali r.a.:
 
   "Hai Ali engkau dari padaku, dan aku dari padamu."4
 
Kemudian dikemukakan contoh lain, yaitu ketika Nabi Muhammad
bersabda pada suku Asy'ari, ialah:
 
   "Mereka dari padaku dan aku dari pada mereka."5
 
Akhirnya  Ahmadiyah  bertanya  tentang  contoh-contoh   yang
dikemukakannya  itu:  anehkah  itu  dan  ganjilkah?  Dijawab
sendiri oleh Ahmadiyah: "Ini senafas dengan ilham  di  atas,
yakni ilham Tuhan pada Mirza di atas."6
 
Tentu  saja  kalau  Ahmadiyah  yang menjawab, tidak aneh dan
tidak  ganjil  wahyu  Tuhan  pada  Mirza  itu.  Akan  tetapi
obrolan-obrolan  mereka  itu lebih daripada aneh dan ganjil,
malah sangat tidak beres maupun tidak karuan.
 
Bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, beliau s.a.w.  daripada
suku  Asy'ari  dan suku tersebut dari pada Nabi, ucapan yang
demikian itu wajar, sebab terjadi antara dua jenis yang sama
yaitu  manusia.  Juga sabda beliau s.a.w. pada sayyidina Ali
tersebut di atas,  wajar  pula  adanya.  Bahwa  Nabi  adalah
sepupu  Ali  bin  Abi Thalib r.a., Nabi dipelihara ayah Ali,
dan  Ali  diambil  Nabi,  dikawinkan  pada  puteri   beliau,
kemudian Nabi bersaudara dengan Ali, maka sungguh bahwa Nabi
dari pada Ali dan Ali dari pada Nabi  s.a.w.  Terserah  pada
Ahmadiyah  kini  kalau  mereka  hendak  menurunkan  martabat
Ketuhanan pada dan menjadi martabat  manusia  seperti  Mirza
Ghulam  Ahmad  itu;  suatu  kebodohan pada akal yang cerdik.
Bahkan kecerdikan itu bertambah-tambah karena  ucapan-ucapan
mereka yang salah. Antara lain Ahmadiyah mengemukakan contoh
ayat-ayat al-Qur'an yang diartikan  menurut  selera  mereka,
misalnya  ayat  249  dari  surah Al-Baqarah. Anak buah Mirza
Ghulam Ahmad ini mengartikan ayat tersebut sebagai berikut:
 
  "Siapa yang minum dari padanya (air sungai) dia bukan
   dari padaKU." (faman syariba minhu falaisa minni).7
 
Kemudian Ahmadiyah bertanya: "Apakah ini berarti bahwa orang
yang tidak minum air sungai itu dia dari pada TUHAN?" Inipun
senada dengan ilham Tuhan pada Mirza di atas tadi.8
 
Cobalah perhatikan bagaimana Ahmadiyah telah mengubah  makna
dari  ayat tersebut dan sekaligus mengubah jalannya sejarah.
Mereka   suka   mengambil    ayat-ayat    Al-Qur'an    hanya
potong-potongannya  saja.  Tentu saja mereka bermaksud untuk
menguatkan ucapan-ucapan mereka. Padahal  kelengkapan  makna
dari surah Al-Baqarah ayat 249 itu ialah sebagai berikut:
 
  "Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia
   berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu
   sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya
   bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan
   airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
   tangan, maka ia adalah pengikutku."
 
Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah terjadinya
peristiwa   itu.   Bukan  diartikan  seperti  kehendak  kaum
Ahmadiyah, bahwa yang minum air dari sungai  itu,  ia  bukan
dari  padaKu  (TUHAN).  Ini pengertian yang dibuat-buat atau
sikap    ke-Yahudiannya     dengan     yuharrifun-al-kalimah
an-mawadhi'ih, selalu tampak menyolok pada mereka.
 
Contoh  lain  daripada watak-watak menyalah-gunakan arti dan
tujuan  dari  ayat-ayat  Al-Qur'an,  dikemukakan  lagi  oleh
golongan  Mirza Ghulam Ahmad ini. Ahmadiyah mengatakan bahwa
kedatangan  Imam  Mahdi  yang  dinanti-nantikan  itu   telah
disabdakan Nabi Muhammad dalam sabda beliau:
 
  "Sesungguhnya bagi kedatangan Imam Mahdi itu ada dua
   tanda yang belum pernah terjadi sejak dijadikan langit
   dan bumi oleh Allah. Tanda itu ialah: akan terjadi
   gerhana bulan pada permulaan bulan puasa dan gerhana
   matahari pada pertengahan bulan puasa yang sama.
   Kejadian serupa ini belum pernah terjadi sejak
   dijadikannya langit dan bumi oleh Allah."
 
Tanda-tanda tersebut yang dinyatakan dalam hadits  di  atas,
telah  terjadi  sesuai  dengan  berita  yang  tertera, yaitu
terjadi pada tahun 1311 hijriah atau bertepatan dengan tahun
1894 masehi.9
 
Tanda-tanda yang istimewa itulah yang menyongsong kedatangan
Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi yang dinanti-nantikan.
Menurut  Ahmadiyah  keistimewaan  tanda-tanda dari datangnya
Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Mahdi  Al-Ma'huud  itu,  telah
disinggung  secara  nyata,  baik  dalam  kitab Beibel maupun
dalam Al-Qur'anul Karim.10
 
Lebih lanjut meneruskan, bahwa Yesus telah  memberi  isyarat
akan  saat-saat  kedatangan  beliau  yang  kedua kalinya itu
dalam kitab Beibel. Dalam surat Mattius  24;29,  tanda-tanda
itu dikatakan:
 
  "Maka sejurus kemudian daripada ketika sengsara itu,
   matahari akan dikelamkan, dan bulan juga tiada akan
   bercahaya."11
 
Itulah kutipan  Ahmadiyah  dari  Beibel  yang  menggambarkan
saat-saat  kedatangan  Yesus  kembali. Orang-orang Ahmadiyah
ini ternyata berbicara cukup  hanya  pada  dua  tanda  saja.
Tanda  pertama,  matahari  akan dikelamkan, dan tanda kedua,
bulan tiada akan bercahaya. Apabila  kita  melihat  sepintas
saja akan kejadian-kejadian dari matahari dan bulan di atas,
maka kita melihat seolah-olah memang sudah  terjadi  gerhana
bulan  dan matahari, dalam bulan yang sama pula. Akan tetapi
pada  kenyataannya  peristiwa  bulan  tidak  bercahaya   dan
matahari   akan  dikelamkan  itu,  sama  sekali  bukan  satu
gerhana,  sebagaimana   yang   diuraikan   kaum   Ahmadiyah.
Melainkan  satu  peristiwa yang terjadi pada saat-saat dunia
akan kiamat. Dan bukan itu saja tanda-tanda yang  ada  dalam
kalimat Mattius 24: 29 itu, melainkan lebih dari itu. Justru
disinilah kelihatan lagi hobby dari  kaum  Ahmadiyah,  bahwa
mereka  senang  sekali  memotong-motong  ayat-ayat Al-Qur'an
maupun kalimat-kalimat dalam Beibel. Padahal  kalimat  dalam
Mattius  24:  29  itu  masih  panjang,  dan  bila diteruskan
bunyinya:
 
  "... dan segala bintang di langit akan gugur, dan
   segala kuat-kuasa yang di langit itupun akan
   berguncang-gancing."
 
Apa sebab Ahmadiyah membatasi  tanda-tanda  itu  hanya  pada
matahari kelam dan bulan tiada bercahaya? Jawabnya diberikan
oleh mereka sendiri. Hanya tanda-tanda itu saja yang disebut
sebab   tanda-tanda   yang  menyongsong  datangnya  Al-Mahdi
Al-Mahuud Mirza Ghulam Ahmad Qadiani.
 
Yang menarik buat cerita di sini,  ialah  bahwa  kepercayaan
orang-orang  Kristen  tentang  "the  second coming"nya Yesus
Kristus itu, telah diambil  alih  dan  dioper  oleh  seorang
lain,  yang  mungkin  mengaku  dirinya  sebagai  baruz  atau
inkarnasinya Yesus Israeli itu.  Justru  orang  istimewa  si
pengoper  kedudukan  Yesus ini, tidak lain juga Mirza Ghulam
Ahmad. Alhasil entah harus berapa  kali  nama  Mirza  Ghulam
disebut-sebut  dalam  tulisan ini. Pokoknya ia menjadi tokoh
dalam  cerita  di  sini.  Tentu  saja  tokoh  pahlawan  buat
keluarga  pengikut-pengikutnya dan mereka yang antipati pada
Islam dan ummatnya.
 
Alangkah bahagia  Ahmadiyah  bahwa  kitab  suci  orang-orang
Kristen  telah menyambut kedatangan Mirza, dan sungguh lebih
berbahagia lagi bila Al-Qur'anul Karim ikut  menyambut  pula
padanya.   Kelihatannya  Tuhan  benar-benar  menaruh  segala
pengharapanNya pada orang India ini.
 
Dan memang itulah yang  dinyatakan  sendiri  oleh  Ahmadiyah
bahwa  Al-Qur'anul  Karim  bukan saja menyambut Mirza Ghulam
sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN12 melainkan juga sebagai  IMAM
MAHDI   yang   DINANTI-NANTIKAN.  Mengutip  dari  Al-Qur'an,
Ahmadiyah berkata:
 
  "Kitab suci Al-Qur'an berbicara tentang hari
   kebangkitan itu:
   
   Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan
   bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari
   serta bulan telah dihimpunkan.' (Antara lain Qur'an 75:
   7-10)
   
   Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan
   jatuhnya dua gerhana sekaligus terjadi dalam satu bulan
   yang sama, yaitu bulan Ramadhan seperti yang tersebut
   dalam hadits. Dua gerhana sekaligus itu mengambil
   tempat persis pada tahun 1311 hijrah atau 1894
   masehi." 13
 
Demikian  uraian  Ahmadiyah  dan   kutipannya   dari   surah
Al-Qiyamah  ayat 7 sampai dengan ayat 10. Marilah kita lihat
bagaimana kaum Ahmadiyah dalam hal ini putera  Mirza  Ghulam
sendiri, telah bersilat pena.
 
Mula-mula  Ahmadiyah  mengambil  dari  surah  Al-Qiyamah itu
jumlah 4 (empat) ayat, yaitu dengan menulis di  pojok  kanan
dari  terjemahannya  angka-angka:  Al-Qur'an  75: 7-10, yang
berarti ayat ketujuh  sampai  dengan  kesepuluh  dari  surah
Al-Qiyamah  telah  dikutipnya.  Akan  tetapi anehnya, mereka
tidak menterjemahkan empat ayat, melainkan  hanya  dua  ayat
saja, yaitu ayat ketujuh sampai dengan kedelapan.
 
Kedua,  cara  Ahmadiyah  menterjemahkan  dua ayat, tujuh dan
delapan dari  surah  Al-Qiyamah  itu  jauh  menyimpang  dari
maknanya  bahkan dari peristiwa yang terkandung di dalamnya.
Mereka,  anak  buah  Mirza  Ghulam   ini   menterjemahkannya
ayat-ayat itu sebagai berikut:
 
  "Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan
   bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari
   serta bulan telah dihimpun."14
 
Kemudian Ahmadiyah  mengartikan  matahari  dan  bulan  telah
dihimpun itu, dengan kata-kata:
 
  "Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan
   dengan terjadinya dua gerhana dalam satu bulan, yaitu
   bulan Ramadhan. sebagaimana yang tersebut dalam hadits."15
 
Yang  ketiga,  Ahmadiyah  sengaja  berbuat  dengan  memotong
ayat-ayat   Al-Qur'an   itu   dan  menterjemahkannya  dengan
semaunya, supaya dapat mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan
peristiwa  munculnya  Imam  Mahdi India, Mirza Ghulam Ahmad.
Satu perbuatan yang lucu dan memalukan.
 
Tidak  lain  surah  75:  7-10  itu   terkandung   didalamnya
saat-saat  terjadinya  hari  kiamat.  Surahnya  sudah  jelas
disebut: surah Al-Qiyamah. Dan isi dari ayat-ayat  7  sampai
dengan sepuluh itu adalah:
 
  "apabila pemandangan sangat mencengangkan serta
   menakutkan, dan bulan telah gelap cahayanya, dan
   matahari dan bulan telah dihimpun, rusak peredarannya,
   ketika itu, manusia bertanya: ke manakah kita akan
   lari?!"
 
Jelas  bahwa  ayat-ayat  tujuh  sampai  dengan  sepuluh  itu
menggambarkan peristiwa datangnya hari kiamat. Tidaklah kita
lihat bahwa ayat  sebelumnya,  yakni  ayat  enam,  merupakan
soal:  "apakah  hari kiamat itu?" Maka Allah s.w.t. menjawab
dari soal itu pada ayat  sesudahnya  yaitu  ayat-ayat  tujuh
sampai ayat-ayat seterusnya.
 
Satu  penipuan  dan  kedustaanlah yang dilakukan orang-orang
Yahudi dari desa Qadian India  ini.  Mereka  selalu  mencari
jalan  buat melogiskan maupun meyakinkan orang-orang yang di
luar jemaatnya, dengan cara apa saja. Satu hal  yang  ajaib,
adakah   orang-orang  Ahmadiyah  sendiri  sudah  tidak  bisa
memakai logikanya? Kita ingin tahu dimana  tafsir  Al-Qur'an
yang  menyebut  seperti  model  Ahmadiyah  bahwa: "dan bulan
telah gelap cahayanya," diartikan: gerhana  bulan.  Kemudian
"dan  matahari  serta  bulan  telah dihimpun" diartikan: dua
gerhana dalam satu bulan dari tahun 1311 hijrah  itu.  Jelas
tidak mungkin ada tafsir maupun pengertian seperti cara-cara
yang  dilakukan  kaum  Mirza  itu.  Mereka   banyak   sekali
mengubah-ubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al-Qur'anul
Karim secara seenaknya  saja  asal  bisa  dicocokkan  dengan
munculnya Mahdi Mirza Ghulam Ahmad.
 
Catatan kaki:
 1 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17.
 2 lih: Analyst, facts about Ahmadiyya movement, Lahore
   ahmadiyya Anjuman Isha'at-i-islam, 1951, hal. 21.:
   (anta minni wa ana minka)
 3 Mirza Ghulam Ahmad, fountain of Christianity, Rabwah
   Ahmadiyya muslim missions office, 1961, hal. 45: (ya
   qamar ya syamsu anta minni wa ana minka).
 4 Saleh Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid Bakry
   BA., Ujung Pandang, Jema'at Ahmadiyah Indonesia, 1972,
   hal. 38/39.
 5 idem no. 46.
 6 idem no. 46 dan 47.
 7 lih: Saleh Nahdi, bantahan atas tuduhan Wahid Bakry,
   hal. 38.
 8 idem no. 49, hal. 38.
 9 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 25.
10 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, Rabwah,
   the Ahmadiyya muslim foreign missions office, 1961,
   hal. 47: (its uniqueness is enhanced by the fact that
   it is also mentioned in the new testament and in the
   holy Qur'an).
11 lih: idem - no 52: ( immediately after the
   tribulation of those days shall the sun be darkened and
   the moon shall not give her light.)
12 lih: Suara Ansharulah no. 3 & 4. 1955. hal. 18.
13 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, hal. 47:
   (the holy Quran speaks of the Day of Awakening and goes
   on: "it is when the sight is dazzled and the moon is
   eclipsed and the sun and the moon are conjoined. The
   conjoining refers to the occurence of the two eclipses
   in the same month, the month of ramadhan as in the
   hadith. The eclipses took place in 1311 hejira or 1894
   A.D.)
14 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmah, Invitation, hal. 47:
   (it is when the sight is dazzled and the moon is
   eclipsed and the sun and the moon are conjoined).
15 lih: Bashiruddin. MA., invitation, hal. 47: (the
   conjoining refers to the occurence of the two eclipses
   in the same month, the month of ramadhan as in the
   hadith.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: