3 Mei, 2008 at 2:26 pm (2. VONNIS YANG MENGEJUTKAN)

Oleh  karena  itu,  demikian  Ahmadiyah  melanjutkan,  perlu
kiranya dijelaskan ala kadarnya arti "khataman" didalam ayat
tersebut yang dijadikan sumber salah mengerti oleh  sebagian
orang.1
 
Kata-kata:   bertentangan  dengan  kandungan  Al-Qur'an  dan
sabda-sabda  Rasulullah,   dan   kata-kata:   sumber   salah
mengerti,  tampaknya  tidak mempunyai effek-effek yang berat
pada mereka "sebagian orang itu." Padahal  kenyataannya  itu
adalah  sebaliknya; effek-effek itu telah disuarakan sendiri
oleh Ahmadiyah, yaitu effek yang paling berat bagi "sebagian
orang  itu," yakni bagi orang-orang yang menentang kandungan
Al-Qur'an dan sabda Nabi Muhammad s.a.w. adalah  kafir  buat
mereka.  Kemudian  kata-kata:  "sebagian orang-orang Islam,"
kami   garis-bawahi,   oleh   karena   kata-kata    tersebut
seolah-olah  tidak  mengandung  problema  yang  serius  atau
persoalan-persoalan    yang    perlu    dibahas;    demikian
kelihatannya. Padahal jika diteliti dengan seksama kata-kata
sebagian orang-orang Islam itu, mengandung  isi  yang  berat
atau  jumlah  yang  sangat  banyak.  Sebagian orang tentunya
orang-orang  sang  berada  di  luar  Ahmadiyah,  dan   kalau
dibandingkan  dengan jumlah pengikut-pengikut Ahmadiyah maka
sebagian orang-orang itu, mungkin sudah dua-ratus kali lebih
banyak  dari  pengikut  Ahmadiyah.  Bahkan  lebih  dari itu,
mungkin sudah empat  ratus  juta  kaum  Muslimin  yang  oleh
Ahmadiyah  dikatakan:  "telah  bertentangan dengan kandungan
Al-Qur'an dan sabda-sabda Rasulullah s.a.w. atau dengan kata
lain,  tidak  mengikuti Al-Qur'an dan sabda Nabi s.a.w. atau
dengan kata lain tidak mengakui Mirza Ghulam  Ahmad  sebagai
Nabi  atau  dengan kata lain, mengingkari seorang nabi Mirza
Ghulam, yang menurut istilah Islam adalah kafir!2
 
Tegasnya ratusan  juta  kaum  Muslimin  yang  non  Ahmadiyah
adalah  kafir,  demikian  vonnisnya kaum Mirza Ghulam Ahmad.
Maka  untuk  kata-kata:  "sebagian  orang-orang  Islam"  itu
hendaknya    dihapus    saja    dan   sebaliknya   Ahmadiyah
berterus-terang bila menyebut jumlah yang sebenarnya, jangan
bermain  diplomasi.  Belum  lagi  kaum  Muslimin  yang hidup
sebelum  pendiri  Ahmadiyah  itu  muncul,  generasi-generasi
sampai  pada  Tabi'in  dan  para Sahabat Nabi s.a.w., mereka
telah bertentangan dengan  faham  Ahmadiyah  yang  menabikan
orang  dari  Qadian itu, dan alangkah malangnya nasib mereka
yang salah mengerti itu. Ataukah mereka adalah orang-orang -
hanifan,  karena belum kedatangan seorang nabi (Mirza Ghulam
Ahmad)?!
 
Pendirian bahwa Ahmadiyahlah yang  haq,  oleh  karena  hanya
mereka   yang   memiliki   nabi   baru   itu,   maka   untuk
persiapan-persiapannya untuk menguatkan landasan berpijaknya
Mirza   Ghulam   Ahmad   diatas   kenabiannya   itu,   tidak
tanggung-tanggung  lagi,  mereka   menggunakan   dalil-dalil
Al-Qur'an dan sabda-sabda Nabi Muhammad s.a.w.
 
Kemball  pada  pegangan  mereka  yang  mula-mula  yakni kata
"khatam" dari khataman nabiyin, menurut Ahmadiyah, perkataan
khatam  adalah  perkataan  yang  ratusan kali dapat dijumpai
dalam kata-kata lainnya yang  menerangkan  arti  yang  jelas
yaitu  bukan  penghabisan atau penutup. Didalam Itqaan juz I
ditulis, bahwa Imam Suyuthi adalah "khatam" bagi orang-orang
Muhaqqiq,  padahal  orang Muhaqqiq (penyelidik) tidak pernah
henti-hentinya di dunia ini. Muhammad Rasyid Ridha, pujangga
Mesir  yang kenamaan menulis dalam tafsir Fatihahnya halaman
148 tentang Syeikh Muhammad Abduh: "khatimul -  A-immah  ini
tidak  berarti  Muhammad  Abduh  itu  sebagai  penutup  dari
pemimpin-pemimpin  (Imam).  Seorang  penyair  yang  kenamaan
yaitu  Abu Tamam dikatakan "khatam Asy-Syu'ara" penyair yang
termulya. Tentu tidak dapat  dikatakan  penutup  dari  semua
penyair  yang penghabisan. Singkatnya arti khatam tidak lain
ialah mulya dan kalimat tersebut dalam ayat tadi dimaksudkan
Nabi  Muhammad  s.a.w.  sebagai  Nabi  termulya  dari  semua
nabi-nabi.3 Demikian Ahmadiyah menjelaskan.
 
Benarkah  bahwa  Suyuthi,  Abduh  dan   Abu   Tamam   adalah
orang-orang  yang  digelari  "khatam"?  Jika  salah  seorang
muridnya     atau     banyak     muridnya     atau     semua
pengikut-pengikutnya   mengatakan   bahwa   Suyuthi   adalah
Muhaqqiq termulya, Abduh adalah Imam yang termulya, dan  Abu
Tamam  adalah  penyair yang termulya, maka biarkanlah mereka
berkata demikian. Itu adalah hak mereka. Bahkan jika  mereka
mengatakan   bahwa   ketiga  orang  tersebut  bergelar  yang
penghabisan  atau  penutup,  itupun   adalah   hak   mereka.
Keyakinan  yang  mereka  utarakan  tentang  ketiga orang itu
adalah relatip. Kita dan siapapun juga berhak untuk  menolak
kedudukan khatam pada mereka itu.
 
Sebaliknya,   jika   Ahmadiyah  mempopulerkan  pengertiannya
tentang khatam dalam khataman nabiyin dari Al-Ahzab ayat  40
itu  dengan menuduhkan pada ratusan juta kaum Muslimin bahwa
pendapat mereka  telah  bertentangan  dengan  kandungan  isi
Al-Qur'an  dan  sabda Nabi Muhammad s.a.w.. yang menimbulkan
effek  paling  berat  dalam  pandangan  Agama  Islam,  yakni
menjadi  kafir,  belum lagi mereka-mereka yang hidup sebelum
munculnya tokoh Qadian itu  sampai  pada  para  Tabi'in  dan
sahabat-sahabat  Nabi,  maka  atas  penilaian Ahmadiyah yang
gegabah itu, akan kita lihat satu persatu.
 
Selanjutnya Ahmadiyah  mengatakan  bahwa  sekiranya  sebagai
perumpamaan   kita  terima  arti  dan  pengertian  sementara
orang-orang itu, bahwa khatam  itu  berarti  penutup,  dapat
pula  diartikan  penutup,  nabi-nabi  yang membawa syariat.4
Sekali lagi Ahmadivah ingin mendekatkan pengertiannya dengan
pengertian  kaum  muslimin.  Namun untuk menyebut bahwa Nabi
Muhammad  adalah  Nabi  pertutup   yang   membawa   syariat,
pengertian yang demikian tidak bisa diterima.
 
Pengertian  yang  benar  adalah  yang diberikan oleh ratusan
juta kaum  muslimin,  bahwa  Nabi  Muhammad  adalah  penutup
segala   nabi-nabi.   Tidak  lagi  ditambahi,  yang  membawa
syari'at.  Itu  hanya  satu  helah,  dimana  Ahmadiyah  akan
berkata bahwa kesempatan untuk datang nabi baru sesudah Nabi
Muhammad akan ada. Dan satu hal yang pasti bagi mereka bahwa
nabi  yang  akan  datang  itu  telah ada, yakni Mirza Ghulam
Ahmad, dengan tambahan di belakangnya:  nabi  ghair  tasyri'
(nabi yang tidak membawa syariat).
 
Jika  Ahmadiyah  mengatakan  lagi bahwa sebab-sebab turunnya
ayat 40 dari  surah  Al-Ahzab  itu,  juga  dikarenakan  atau
dimaksudkan  Allah  untuk  membela  nama  baik nabi Muhammad
dikarenakan beliau mengawini  bekas  istri  anak  angkatnya,
maka  andaikata  yang  diniatkan mereka itu demikian, justru
jalan  yang  mereka  tempuh  itu  keliru.  Jelasnya,   bahwa
Ahmadiyah  dengan  hanya  mengutamakan kata khataman nabiyin
saja yang diartikan termulya, mereka merasa telah mengangkat
nama baik Nabi Muhammad s.a.w.; padahal yang utama dari ayat
40 Al-Ahzab itu  terletaknya  pada  ayat:  "Aba  Ahadin  min
rijalikum"  (bukan  ayah  seorang di antara laki-laki kamu),
hal ini telah diabaikan dan di sinilah letak salah  jalannya
mereka.
 
Surah  Al-Ahzab  ayat 40, adalah mengandung salah-satu hukum
dari hukum-hukum Allah untuk menunjukkan  pada  kaum  kuffar
bahwa  apa  yang  telah dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. yakni
mengawini bekas istri anak angkat beliau (Zaid) adalah boleh
dan  haq. Inilah hukum Allah dan inilah pembelaan Allah pada
Rasul-Nya. Adapun ayat "Rasulullah" dan  "khataman  nabiyin"
pengertiannya  adalah  pesuruh  Allah dan Nabi penutup semua
nabi. Pengertian inipun  adalah  hukum  Allah,  ketetapanNya
yang  harus diketahui semua manusia, termasuk orang-orangnya
Mirza Ghulam Ahmad, bahwa jumiah 124  ribu  nabi  itu  telah
diakhiri dengan kenabian Muhammad s.a.w.
 
Ahmadiyah   mengatakan,   bahwa   ayat  tersebut  tidak  ada
hubungannya sedikitpun dengan soal  ada  atau  tidak  adanya
Nabi  sesudah  Nabi Muhammad s.a.w., padahal justru beberapa
kitab-kitab Ahmadiyah  berbicara  tentang  khataman  nabiyin
dari  Al-Ahzab  ayat  40  itu,  selalu  menghubung-hubungkan
dengan  alasan-alasan  yang  memungkinkan   munculnya   nabi
sesudah  Ke-Nabian  Muhammad  s.a.w.  Kenyataannya Ahmadiyah
berbicara:
 
  "Banyak orang mengatakan bahwa kata "Khataman
   Nabi-"yin" yang tercantum dalam Al-Qur'an Surah Ahzab
   ayat 40 maknanya ialah Nabi Muhammad s.a.w. itu Nabi
   penutup dengan pengertian, bahwa sesudah beliau tak
   akan datang lagi Nabi sekalipun hanya nabi-ikutan atau
   nabi tak membawa syari'at. Benarkah arti ayat termaksud
   demikian? Ahmadiyah menjawab: "Baik menurut sebab
   musabab turunnya ayat, menurut jalan uraian Al-Qur'an
   mengenai soal kenabian menurut pengertian Rasulullah
   s.a.w. dengan para sahabat menurut para pujangga dan
   orang suci terdahulu maupun menurut lughah, pengertian
   tersebut di atas tidak benar."5
 
Jelasnya  Ahmadiyah  selalu  menghubung-hubungkan  ayat   40
Al-Ahzab  itu  dengan soal ada atau adanya nabi sesudah nabi
Muhammad.
 
Maka untuk pengertian kata "khatam"  dari  khataman  nabiyin
surah  Al-Ahzab  ayat  40  itu,  tidak  ada arti lain selain
pengertian: penutup! Dan tidak  perlu  menambah  embel-embel
syari'at  di  belakang penutup itu. Demikian tafsir Jalalain
Al-Misbahul-Munir, tafsir Syaukani, tafsir Kabir  (Mafatihul
ghaib)  dari  Muhammad  Arrazi  Fahruddin  -  Kairo-1324 H -
Amelia syarafia hal. 581, tafsir Ruhul Ma'ani (Alusi)  sayid
Mahmud  Alusi  -  1270 H - juz 22 - Al-Muniriyah Mesir, hal.
30, juga tafsir-tafsir lainnya, tidak menyebutkan pengertian
lain melainkan arti "penutup" dari semua nabi-nabi.
 
Selanjutnya  Ahmadiyah  berkata;  bahwasanya  kalimat khatam
dapat pula dibaca "khatim" yang  berarti  hiasan  bagi  sang
pemakainya.  Apabila  diartikan  demikian,  maka  Rasulullah
s.a.w. itu  bagaikan  hiasan  indah  bagi  nabi-nabi.  Dalam
Fathul-Bayan  juga  dikatakan,  bahwa  nabi  Muhammad s.a.w.
adalah bagaikan hiasan cincin yang dipakai  oleh  para  nabi
karena   beliau   nabi   termulia.6   Kemudian  masih  dalam
pengertian khatam itu, Ahmadiyah berkata:
 
  "Jadi, perkataan "khataman nabiyin" berarti cap atau
   stempel daripada nabi-nabi. Yakni Nabi Muhammad s.a.w.
   ialah kebagusan daripada segala nabi-nabi."7
 
Ahmadiyah mengartikan cincin dan stempel buat Nabi  Muhammad
sebagai  kiasan  dan  menafsirkannya  dengan  kebagusan atau
termulia merupakan  cara-cara  orang  yang  telah  kehabisan
bahan, hanya dengan maksud memanjang-manjangkan pujian palsu
pada Nabi s.a.w. Apakah bukan satu  penghinaan,  kalau  Nabi
Muhammad  dikiaskan  sebagai cincin yang dipakai jari-jemari
para Nabi, dan stempel daripada Nabi-nabi? Yang patut  ialah
jika  Nabi  Muhammad  dikiaskan dengan benda maka seharusnya
para Nabi dikiaskan dengan benda juga. Misalnya  baris-baris
kalimat  dalam  suatu  surat  (warkah)  yang disudahi dengan
stempel. Baris-baris kalimat itu adalah  para  Nabi,  warkah
itu  adalah bumi, dan stempel (cap) itu adalah Nabi Muhammad
saw. Pada hamparan warkah itulah kalimat-kalimat  yang  rapi
merupakan  barisan  Nabi-Nabi  dimana  kesudahan  dari baris
Nabi-nabi ditutup dengan stempel yakni  Nabi  Muhammad.  Cap
atau  stempel  itu  sendiri lebih bagus dan lebih mulia dari
barisan kalimat, dan cap itu pula yang  menyudahi  (menutup)
kalimat-kalimat  itu. Pengibaratan inilah kiranya yang lebih
memadai dari pada cara-cara yang dikemukakan Ahmadiyah.
 
Catatan kaki:
1 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 33.
2 lih: Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, hal. 19
3 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang pandang Ahmadiyah, hal. 35
4 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal.35
  dan lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah bag. I,
  Ujung Pandang Rapen, 1972, hal. 11
5 lih: Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah, hal. 8/10.
6 lih: Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 34.
7 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa Imam Mahdi a.s.
  terjemah Malik Ahmad Khan.

1 Komentar

  1. Draco said,

    Sangat tepat jika tafsir khaataman Nabiyyiina diserahkan kepada rasulullah Muhammad saw. Dan sangat aneh jika kita selaku umat Muhammad saw tidak mau mengakui penjelasan rasulullah Muhammad saw tentang makna Khaataman Nabiyyiina.

    Dalam Kitab Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda :

    “مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بنيانا فأحسنه وأجمله. إلا موضع لبنة من زاوية من زواياه. فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون: هلا وضعت هذه اللبنة! قال فأنا اللبنة. وأنا خاتم النبيين”.

    Artinya : Perumpamaan ku dan perumpamaan para nabi sebelum aku seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan kemudian dibaguskan dan disempurnakan kecuali salah satu tempat bagi batu dari satu sudut bangunannya. Kemudian mulailah manusia berkeliling dan terkagum-kagum dengannya dan berkata : “Mengapa tidak kamu letakkan batu ini ?” Nabi saw berkata : “Maka akulah batu itu. dan aku خَاتَمَ النَّبِيِّنَ (khaataman Nabiyyiina)”.

    Nabi Muhammad saw mengumpakan dirinya seperti 1 batu yang belum dipasang dalam deretan batu-batu lainnya pada sebuah bangunan yang indah nan megah. Orang-orang kagum terhadap bagunan tersebut namun terasa kurang ketika masih ada 1 buah batu yang belum di pasang. Dan ketika batu tersebut dipasang maka sempurnalah bagunan tersebut. Dan batu tersebut merupakan batu terakhir yang dipasang.

    suatu bangunan yang indah nan megah serta sempurna tidak memerlukan batu lain untuk dipasang karena sudah tidak ada tempat yang memungkinkan.

    Maka khaataman Nabiyyiina adalah penyempurna dan sekaligus penutup para nabi.

    Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa Rasulullah saw bersabda :

    في أمتي كذابون ودجالون سبعة وعشرون منهم أربع نسوة وإني خاتم النبيين لا نبي بعدي

    Artinya : Di dalam ummatku muncul para pendusta dan dajjal sebanyak 27 orang dan 4 diantaranya wanita. Sesungguhnya aku خَاتَمَ النَّبِيِّنَ (khaataman Nabiyyiina), tidak ada nabi setelah aku.

    Dalam Musnad Ahmad dari Tsauban diriwayatkan bahwa Rasulullahs aw bersabda :

    سيكون في أمتي كذابون ثلاثون كلهم يزعم انه نبي وأنا خاتم النبيين لا نبي بعدي

    artinya : Kelak akan muncul di dalam ummatku para pendusta dan dajal [sebanyak] 30 orang. Setiap dari mereka pura-pura berkata benar bahwa sesungguhnya dia seorang nabi. Dan aku adalah خَاتَمَ النَّبِيِّنَ (khaataman Nabiyyiina) yang tidak ada seorang nabi pun setelah aku

    Maka, apakah masih kita akan katakan bahwa penjelasan rasulullah Muhammad saw tersebut salah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: