3 Mei, 2008 at 2:06 pm (6. LAMPU ALADIN DI TANGAN MIRZA)

Sudah  tentu  yang  jatuh  hati  padanya  adalah   puteranya
Bashiruddin, cucu-cucunya dan orang-orang yang buta hati dan
buta pikiran. Kepalsuan yang begitu kentara  ternyata  dapat
disulap-sulap    menjadi    elok    dan   bergelora   berkat
propaganda-propaganda obralan dan pakaian-pakaian  kebesaran
yang menyolok.
 
Keistimewaan  Mirza  Ghulam  Ahmad  yang  explosiv itu bukan
hanya terdapat  pada  nama-nama  keturunan-keturunan  maupun
kelir  kulitnya,  bahkan jauh daripada itu, lebih banyak dan
lebih   istimewa   lagi   terdapat   pada    pangkat-pangkat
gelar-gelar maupun jabatan-jabatan yang menjadi miliknya.
 
Bukan  kepalang-tanggung hebatnya, tidak seorang Nabi maupun
seorang Rasul sebelumnya yang  memperoleh  kedudukan  begitu
tinggi,  mulia,  seperti  yang pernah diperoleh Mirza Ghulam
Ahmad. Bahkan lebih tinggi, lebih mulia dari  Yesus  Kristus
yang  dianak-Tuhankan  oleh kaum Kristen. Letak kehebatannya
ialah  bahwa  semua  milik  Mirza  Ghulam  Ahmad   diperoleh
langsung dari Tuhannya. Maka marilah berkenalan dengan orang
Qadian  yang  superior  ini.  Mirza  Ghulam  Ahmad  mendapat
julukan  Pelindang  "telur" Islam.1 Tidak dijelaskan mengapa
Islam dikiaskan dengan  telur  itu.  Setidak-tidaknya  telur
gampang  sekali  retak atau pecah. Alangkah lemahnya kondisi
Islam sehingga dikiaskan  sebagai  telur  belaka  dan  Mirza
Ghulam  Ahmad  adalah orangnya, pelindung dari keretakan dan
pecah itu, ataukah ia  yang  mengerami  dan  sekaligus  yang
menetaskan telur itu?!
 
Beralih   pada   gelar-gelarnya   yang  lain,  Mirza  Ghulam
dikatakan  sebagai  penjaga  kebun  Allah.2   Mungkin   yang
dimaksud  kebun di situ adalah Islam atau sorga? Pendek kata
demikian pendapat Ahmadiyah, pribadi Mirza Ghulam Ahmad  itu
patut   dihormati   sebab  ia  berkhasiat  sebagai  "kibriti
ahmar."3 Oleh wujudnya itu maka  nampaklah  kehidupan  agama
Islam.
 
Selanjutnya  Mirza  Ghulam  Ahmad  adalah  mujaddid  akbar,4
kepala dari semua pembaharu  yang  dikirim  ke  dunia  untuk
memperbaharui  Islam  yang  di  dalam akidah-akidahnya telah
terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi. Bahkan  lebih  dari
pada  mujaddid  akbar,  Mirza  Ghulam  turunnya ke dunia ini
sebagai "Fadhlan kabiran"  bagi  ummat  manusia.5  Kemudian
masih juga perihal turunnya Mirza Ghulam ke dunia, Ahmadiyah
berkata:
 
  "Pada hakikatnya ketika Imam Zaman turun ke bumi maka
   besertanya turun ribuan cahaya demi cahaya, dan di
   persada langit terjadi suatu suasana kemeriahan, dan
   terjadilah suatu penyebaran rohaniyat dan nuraniyat
   yang menggugahkan orang-orang berbakat suci. Pendeknya
   barangsiapa yang mempunyai bakat untuk menerima ilham
   semenjak itulah ia mulai menerima ilham."6
 
Dan siapakah Imam Zaman itu? Maka pada saat ini, kata  Mirza
Ghulam  Ahmad,  'aku  berkata  tanpa merasa takut dan gentar
sedikitpun,  dengan  kerunia  dan  anugerah   Allah   Ta'ala
menyatakan:   "Imam   Zaman   itu  adalah  alcu  sendiri."'7
Bagaimana Hadits mengenai Imam Zaman itu? Ahmadiyah  berkata
telah  mengutip  sebuah  Hadits,  akan  tetapi  sayang tidak
menyebut  tentang  isi  maupun  perawi-perawinya;  Dikatakan
dalam Hadits itu bahwa, "barangsiapa yang kembali ke hadirat
Allah dalam keadaan tidak menahu atau tidak mengenal tentang
Iman  Zamannya,  ia akan datang dengan mata buta dan matinya
berada dalam keadaan jahiliyah"!8
 
Demikian vonnis  Ahmadiyah  terhadap  Muslimin  maupun  yang
bukan Muslim, yang berada di luar aliran Mirza Ghulam Ahmad;
kalau tidak mau tahu atau tidak mau kenal  Imam  Zaman  itu,
maka ia mati jahiliah!
 
Ingin  tahu  bagaimana  akhlak Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad
itu? Ahmadiyah dengan lantang berkata:
 
  "Pada diri Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad telah cocok
   sepenuhnya kandungan ayat: Innaka la-'ala khuluqin
   'azhim."9
   
   Innaka la 'ala khuluqin azhim, Al-Qur'anul-Karim ayat 4
   suratul-Qalam, yang disampaikan Allah s.w.t. kepada
   Nabi Muhammad s.a.w. sebagai insan kamil yang dihiasi
   ahlak mulia, dengan enaknya diambil alih begitu saja
   oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kualitet dari akhlaknya
   sendiri. Ia merasa telah memiliki segala-galanya. Di
   tangannya ada lampu aladin, tinggal ia menggosok maka
   segala keinginannya terkabul!
 
Perhatikanlah kini sebaris pantun yang ditujukan pada  Mirza
Ghulam Ahmad, dibuat oleh pengikut-pengikutnya yang setia:
 
   "Wujudnya meliputi segala-gala.
   sedang engkau hanya sebagian
   Kau akan binasa jika
   melarikan diri dari padanya."10
 
Pantun diatas bukan saja satu peringatan keras  bagi  mereka
yang melarikan diri dari lingkungan rumah Mirza Ghulam Ahmad
tatkala wabah pes melanda Punjab termasuk Qadian,  melainkan
juga  satu  peringatan  keras  buat  setiap orang yang tidak
masuk Ahmadiyah, bahwa mereka akan binasa, yakni mati  kafir
jahiliyah!  Kemudian ia, Mirza Ghulam Ahmad, dikenal sebagai
khatamal aulia', yakni wali yang paling sempurna.11
 
Disamping kata khatam yang diartikan sempurna itu,  ternyata
Ahmadiyah  memberi  arti lain juga yakni: akhir. Sebab Mirza
Ghulam Ahmad mengambil lagi kedudukan yang lebih  meyakinkan
dengan  berkata:  Aku  adalah Wali yang terakhir sebab tidak
ada wali sesudahku. Yang dimaksud tidak ada  wali  sesudahku
ialah  wali-wali yang berada di luar lingkungan Ahmadiyah.12
Mereka bukan wali dan tidak bisa jadi  wali,  kecuali  kalau
mereka  mau  masuk  menjadi  pengikut-pengikut  Mirza Ghulam
Ahmad.
 
Langkah-langkah berikut yang  ditempuh  Mirza  Ghulam  Ahmad
adalah  langkah-langkah  yang paling berani, dalam arti kata
ceroboh, dari seorang Qadian yang mengaku dirinya Muslim.
 
Sesudah dikenal sebagai khatamal aulia' Mirza Ghulam dikenal
juga    sebagai    Muhaddats   yakni   orang   yang   diajak
bercakap-cakap oleh  Allah.13  Bahkan  Ahmadiyah  mengatakan
dari  tingginya  derajat  Mirza  Ghulam Ahmad, sampai-sampai
Allah Taala dengan sangat terbukanya  bercakap-cakap  dengan
beliau.14  Seringkali  terjadi  soal  jawab  dan  waktu  itu
ditanya, waktu itu juga datang jawaban.15
 
Last but not least, Ahmadiyah berkata:
 
  "Dan DIA (ALLAH) membuka tabir dari sebagian wajahNya
   yang bercahaya dan mengkilap itu. Bukan itu saja,
   bahkan seringkali demikian rupa seolah-olah Allah
   Ta'ala tengah bergurau dengan beliau."16
 
Explosive bukan! belum lagi, Mirza Ghulam  belum  meledakkan
seluruh ambisinya. Bagaimana hendak diartikan oleh Ahmadiyah
kata-kata: seolah-olah Allah Ta'ala tengah  bergurau  dengan
beliau?!
 
Lebih  dari  itu,  mungkin  dikarenakan  Mirza  Ghulam sudah
melihat dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan  mengkilap
itu  maka  wajah  Mirza  kena kecipratan cahaya mengkilapnya
Tuhan. Salah seorang cucunya  yang  bernama:  Mirza  Mubarak
Ahmad   tokoh   pimpinan  dalam  instansi  tahrikjadid  yang
mengemudikan missi-missi  Ahmadiyah  di  luar  Pakistan  dan
India,   menyanjung   kakeknya  Mirza  Ghulam  Ahmad  dengan
kalimat-kalimat yang amat mengesankan:
 
  "Ketika hari raya Adha tiba, demikian Mubarak Ahmad
   bercerita, setelah beliau (Mirza Ghulam) duduk di kursi
   dan mulai berpidato, nampak seakan-akan beliau berada
   di alam lain. Mata beliau hampir-hampir tertutup dan
   wajah suci beliau begitu bercahaya nampaknya
   seakan-akan Nur Ilahy itu menyelimutinya dalam keadaan
   luar-biasa bercahaya dan terang. Pada saat itu wajah
   beliau sukur dipandang dan dari kening beliau cahaya
   demikian memancar-mancar, sehingga, menyilaukan tiap
   orang yang memandangnya."17
 
Selanjutnya  sang  cucu  meneruskan  puja-pujinya   terhadap
kakeknya  dengan  mengatakan  bahwa  beliau  (Mirza  Ghulam)
adalah Satu nur yang dizhahirkan ke  dunia  untuk  menyinari
ummat  manusia.18  Beliau  adalah  juga  Bulan  Purnama yang
sempurna.19
 
Dengan gelar satu Nur dan Bulan Purnama yang  sempurna  itu,
maka  sebenarnya  Mirza Ghulam Ahmad boleh dipastikan, bahwa
pada wajahnya terdapat satu  cahaya  yang  sedap  dipandang.
Akan  tetapi  kalau  mengingat kata-kata Mubarak Ahmad bahwa
Mirza pada keningnya  ada  cahaya  demikian  memancar-mancar
sehingga  menyilaukan  setiap  orang yang memandangnya, maka
apakah gerangan kiranya cahaya yang melekat  di  dahi  Mirza
Ghulam itu?! Kalau tidak sinar cahaya sang surya, mungkinkah
ia cahaya mercusuar, yang langsung menyorot  mata-mata  para
pengikutnya  dari jarak yang tidak jauh, katakanlah tiga mil
laut?!
 
Catatan kaki:
 1 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman,
   terjemah: R. Ahmad Anwar, 1996, P.P. Majlis Chuddamul
   Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, hal. 17.
 2 lih.  idem hal. 17.
 3 lih.  idem hal. 17.
 4 lih. Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah selayang pandang,
   Khuddamul Ahmadiyah, Surabaya 1963, hal. 27
 5 lih. Saleh A. Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah 1, Ujung
   Pandang, RAPEN, 1972, hal. 23.
 6 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman, hal. 10
 7 idem, hal. 32.
 8 idem hal. 10 dan lih. majallah Ahmadiyah Sinar
   Islam-no.13, 1965, Bandung, Yayasan Wisma Damai, hal.8
 9 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam Zaman, hal. 15.
10 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Imam Zaman, hal. 18.
11 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 9.
12 lih. Mirza Ghulam Ahmad, idem, hal. 10: (wa ana khatam-al
   auliya' Ia wali ba'di illal lazhi huwa minni wa ala ahdi.)
13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, alih bahasa R. Ahmad
   Anwar, Bandung Yayasan Wisma Damai, 1966, hal. 43.
14 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman,
   hal. 20
15 lih. Idem, hal. 20.
16 lih. Idem, hal. 20.
17 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal. 83.
18 lih. idem hal. 87.
19 lih. idem, hal. 5.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: