3 Mei, 2008 at 1:51 pm (3. AHMAD TERAKHIR)

Berbicara tentang nama AHMAD dalam surat  Ash-Shaf  ayat  6,
dimana  tersirat  di  dalamnya  ucapan  Nabi  Isa  a.s. yang
menyampaikan kabar gembira (mubasysyiran) tentang  datangnya
seorang  Nabi  di kemudianku (mim ba'di ismuhu) yang bernama
AHMAD, tidak lain yang dituju dari ucapan beliau  a.s.  itu,
adalah Nabi Muhammad s.a.w.
 
Ucapan  Nabi  Isa a.s. dengan kata-kata "di kemudianku" itu,
tidak akan meloncati seorang Nabi  yang  benar-benar  datang
tepat  sesudah  dirinya.  Lebih-lebih  lagi, dan inilah yang
harus menjadi perhatian, bahwa Al-Qur'an adalah Kalam  Allah
yang  diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dengan demikian
beliaulah orang pertama yang mengetahui  akan  makna  tujuan
serta  seluruh  yang  tersirat dalam ayat-ayat Allah. Dengan
kata lain, Nabi Muhammad  Pesuruh  Allah  yang  menyampaikan
kabar  gembira dan kabar takut (basyiiran wa nadziiran) pada
ummat manusia, tidak akan menyembunyikan sesuatu kabar  dari
Allah  seperti  yang tersurat dalam Al-Qur'an surah Ash-Shaf
ayat 6 itu.
 
Jika itu memang ditujukan pada seorang AHMAD dari INDIA dari
desa QADIAN, maka Nabi Muhammad s.a.w. pasti mensabdakannya.
Juga para sahabat Nabi, para Tabiiin maupun yang  sesudahnya
akan  menyebut  "milik siapa Ahmad" pada surah Ash-Shaf itu.
Padahal Nabi tidak  menyabdakan,  tidak  juga  para  sahabat
maupun Tabi'in.
 
Jelaslah  kiranya  bahwa cara-cara yang dipakai Mirza Ghulam
dan Ahmadiyahnya, mencapai konklusi  yang  terang  di  sini,
bahwa  aliran  Qadiani  dan  pendirinya  itu telah melakukan
penghinaan  yang  terang-terangan  terhadap  Nabi   Muhammad
s.a.w.
 
Mereka sebenarnya telah menyepelekan tugas suci yang dipikul
Nabi  Muhammad,  menerima  kebenaran,   menyampaikan   serta
menegakkan kebenaran itu. Tingkah laku maupun cara-cara yang
demikian itulah yang paling disebar-sebarkan Ahmadiyah dalam
kitab-kitab mereka.
 
Yang  haq  atas  nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6 itu,
ialah  seorang  yang  menerima  wahyu  itu  sendiri,   AHMAD
MUHAMMAD  s.a.w. Ribuan tahun sebelum beliau s.a.w. memangku
jabatan Rasul dan Nabi yaitu tatkala Nabi  Musa  a.s  diutus
oleh Allah untuk bani Israil, tersebut dalam sebuah do'anya;
beliau a.s. memohon:
 
   "Ya Allah jadikanlah hamba sebagai pengikut AHMAD."1
 
Kemudian sahabat Salman Al-Farisi tatkala berada  di  Baitul
Maqdis,  beliau  mendengar  dari seorang rahib, yang berkata
padanya:
 
  "Wahai Salman, sesungguhnya Tuhan sedang mengutus
   seorang Rasul bernama AHMAD. Ia mau makan dari
   pemberian hadiah, akan tetapi ia menolak atas pemberian
   sedekah. Di antara pundaknya terdapat tanda dari
   khataman Nubuwah. Ketahuilah wahai Salman, bahwa
   saat-saat sekarang inilah kedatangannya."2
 
Dan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh  Imam  Malik,
Dharimi, Tirmidzi, An-Nasa'i, Bukhari dan Muslim, dari Jabir
ibn Muth'am, beliau s.a.w. bersabda:
 
  "Padaku ada beberapa nama-nama, Aku bernama Muhammad,
   aku bernama AHMAD, Al-Mahi (yang menghapuskan)
   kekafiran, Al-Hasyir (yang mengumpulkan) ummat dibawah
   naunganku, dan Al-Aghib (yang penghabisan) dimana tidak
   ada Nabi sesudahku."
 
Demikianlah tentang nama Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat  6.
Adapun  yang  dipakai  alasan  oleh  Mirza  Ghulam Ahmad dan
Ahmadiyahnya, baik Hadits maupun Al-Qur'an,  hanyalah  suatu
penipuan belaka. Tidak sepotong ayatpun dalam Al-Qur'an yang
menyebut-nyebut nama Mirza Ghulam. Juga tidak sehuah Hadits.
Jika  memang  ada,  maka  Mirza Ghulam dan Ahmadiyahlah yang
mengada-adakan.  Bahkan  andaikata  ada  sebuah  nama  Ahmad
kiriman  Tuhan  yang  ditujukan  pada Mirza Ghulam, maka itu
adalah kiriman yang datang dari  Tuhannya  Mirza.  Sebab  ia
rupa-rupanya  memiliki  Tuhan  yang  khas yang hanya menjadi
miliknya. Kelak akan  dijumpai  dalam  beberapa  kitab-kitab
Ahmadiyah, Tuhan khas milik Mirza Ghulam itu.
 
Catatan kaki:
 1 lih. Abul-Qasim as-Suhaily, ar-Raudul Unuf,
   1332/1914, Marokko Sultanul Maghrib, hal. 106:
   (Allahummaj 'alni min ummati Ahmad).
 2 lih. dr. Abdul-Aziz Muhammad Azzam, Muhammad Rasul-ul
   A'zham, 1394/ 1974, majlis a'lalisy-syuun al-Islamiyah,
   Cairo, hal. 24.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: