3 Mei, 2008 at 1:30 pm (4. MIRZA GHULAM AHMAD DUPLIKAT SIR SYED AHMAD KHAN)

Success yang dicapai  Ahmadiyah  mungkin  dapat  mengaburkan
pandangan  kaum  muslimin  akan  tetapi  tidak demikian pada
pandangan Ulama-ulama. Justru sebaliknya, dari success  yang
dicapai   Ahmadiyah  itu  timbullah  kecurigaan  Ulama-ulama
terhadapnya. Kelahirannya yang baru kemarin, bangunnya  yang
kesiangan  dan  daerah-daerah  yang  dibabatnya  bukan hutan
lagi,  adalah  sebab-sebab  diantara  sebab  timbulnya  rasa
curiga.
 
Usaha-usaha  untuk mengenal Ahmadiyah telah disiapkan dengan
baik oleh penulis-penulis India, Pakistan,  maupun  di  luar
kedua  negara  itu.  Akan  tetapi sebagaimana dikatakan oleh
Muhammad Iqbal, bahwa cara-cara mereka memperkenalkan  masih
belum  memuaskan  karena  methode-methode yang dipakai untuk
itu kurang effektif.
 
Jelaslah kiranya, bahwa  untuk  mengetahui  "Apa  dan  Siapa
Ahmadiyah"   sampai  kepada  lubuk  dasarnya,  pada  hakikat
dirinya latar belakang munculnya, kekuatan berpijaknya serta
bayangan   tempat  berteduhnya,  akan  memerlukan  ketekunan
menggarap dan ketelitian menelaah kitab-kitab Ahmadiyah baik
yang  Qadiani  maupun  yang Lahore. Alhasil kita harus masuk
liwat belakang dari pintu dapur  Ahmadiyah,  dimana  masakan
Mirza Ghulam Ahmad ini, digarap.
 
Nama  "AHMADIYAH"  bukan  pertama  kalinya ada setelah Mirza
Ghulam Ahmad membentuk atau mengadakannya. Jauh-jauh sebelum
Mirza  Ghulam  dikenal, nama Ahmadiyah itu telah ada. Ketika
Mirza Ghulam  masih  bocah  jadi  masih  belum  ada  apa-apa
padanya,  Sir  syed  Ahmad, Khan (1817-1898) pendiri Aligarh
yang mashur itu,  pada  tahun  1842  membukukan  hasil-hasil
kuliyah-kuliyahnya  dengan judul: "Al-Khutbatu-Al-Ahmadiyah"
Ketika itu Mirza masih berumur kurang lebih tujuh tahun.
 
Bahkan jauh-jauh lagi di belakang syed Ahmad Khan, kira-kira
600  tahun  sebelum  Mirza  Ghulam lahir, nama Ahmadiyah itu
telah ada. Syed Ahmad al-Bedawi, seorang pejuang Islam  yang
mashur,  mendirikan  suatu  Thariqat  yang  menggunakan nama
beliau sendiri, ialah Ahmadiyah atau Bedawiyah.1
 
Bagi Mirza Ghulam Ahmad, adalah lebih tepat bila  gerakannya
itu memakai nama "Mirzaiyah" atau "Qadianiah." Tetapi ia dan
pengikut-pengikutnya  tidak   menghendaki   nama-nama   itu.
Berkata seorang tokoh Ahmadiyah:
 
"Nama   'Ahmadiyah   Qadian'   itu   selalu  digunakan  oleh
orang-orang yang memusuhi Ahmadiyah. Jadi  bukan  nama  yang
tepat  beliau ambil sesuai dengan kebenaran tetapi yang made
in orang lain itu yang dipilihnya. Jujurkah begini? Bukankah
ini karena sentimen, dengki,' dan benci?"2
 
Maka  yang benar ialah yang resmi digunakan oleh orang-orang
Ahmadiyah  sendiri   terhadap   gerakannya   yakni   gerakan
Ahmadiyah  atau Ahmadiyah movement. Nama inilah yang sering,
ditulis  dalam  sejarah  pergerakan  Islam,  sebagai   suatu
gerakan  yang  bermerk Islam, merek yang telah dipasang oleh
Mirza Ghulam Ahmad dan pengikut-pengikutnya.
 
Penilaian terhadap  aliran  ini  oleh  orang-orang  di  luar
Ahmadiyah, sebagaimana telah disebutkan, akan sedikit banyak
mengambil tempat di sini. Di antara mereka yang tidak  boleh
ditinggalkan  begitu saja ialah penilaian Prof. H.A.R. Gibb;
beliau berkata tentang Ahmadiyah:
 
 "Gerakan Ahmadiyah mulai melangkah sebagai suatu
  pergerakan Liberal dan gerakan pembaharuan yang
  bersifat damai yang membawa minat ke arah satu langkah
  baru kepada mereka yang sudah kehilangan kepercayaannya
  dalam Agama Islam yang tua. Pendiri gerakan ini, Mirza
  Ghulam Ahmad tidak saja mengaku sebagai Mahdi dari
  Islam dan sebagai Messiah dari Kristen akan tetapi
  jtaga sebagai penjelmaan (Avatar) dari Khrisna."
 
Gibb kemudian menambah lagi:
 
 "Bahwa gerakan Ahmadiyah ini adalah gerakan Sinkretis
  sebagai reaksi terhadap gerakan Aligarh, dimana Mirza
  Ghulam Ahmad menuntut sebagai pembawa wahyu untuk
  mentafsirkan baru Islam bagi keperluan zaman baru "3
 
Demikian ulasan Prof. Gibb. Yang perlu  digaris-bawahi  dari
ucapan-ucapan   beliau,   diantaranya  ialah  bahwa  gerakan
Ahmadiyah adalah gerakan Sinkretis sebagai  reaksi  terhadap
gerakan Aligarhnya Sir syed Ahmad Khan.
 
Lebih   terarah   lagi   pada  wujud  yang  sebenarnya  dari
Ahmadiyah, ialah penilaian Pujangga  Islam  Muhammad  Iqbal.
Beliau berkata:
 
 "Di Barat daya India, negeri dimana keadaan maupun
  kondisinya lebih orisinil, primitip dari negeri-negeri
  lain di Indla, gerakan yang dilahirkan Sir syed Ahmad
  Khan segera mendapat reaksi serta ditandingi dan
  diikuti dengan seksama oleh suatu gerakan baru, yakni
  Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad, suatu aliran mistik yang
  aneh, mencakup mistik-mistik bangsa Smit dan Arya,
  dimana ajaran-ajarannya tidak lagi mementingkan
  keutamaan jiwa yang bersih sebagaimana lazimnya pada
  ajaran-ajaran sufi, melainkan terarah dan terpusat pada
  cita-cita dan kepuasan seseorang yangmengaku dirinya
  sebagai Messiah yang dijanjikan."4
 
Kemudian lebih tertuju  pada  orangnya  daripada  alirannya,
ialah  penilaian  seorang  penulis muslimah dan sufiyah yang
mashur Maryam Jameelah. Beliau berkata tentang Mirza  Ghulam
Ahmad:
 
 "Bahwa hampir semua langkah-langkah, cara-cara maupun
  idea-idea Sir syed Ahmad Khan, diambil oleh Mirza
  Ghulam dan diterapkan dengan seksama, sambil
  menyelipkan fatwa bahwa jihad melawan Inggris adalah
  kejahatan yang terkutuk."5
  
Dari penilaian-penilaian tersebut  di  atas  terhadap  Mirza
Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya , ternyata nama Sir syed Ahmad
Khan  selalu  ada  dan  disebut-sebut  sebagai  tokoh   yang
mendahului   Mirza   Ghulam  dalam  segala  aspek.  Hal  ini
mendorong kita untuk mengenal lebih dahulu  pendiri  Aligarh
tersebut sebelum sampai pada pendiri Ahmadiyah. Kendati dari
pihak Ahmadiyah jelas tidak membenarkan apa yang  dinyatakan
oleh  Gibb,  Iqbal,  dan Jameelah terhadap diri Mirza Ghulam
dan alirannya, akan tetapi tidaklah dapat  diabaikan  begitu
saja kebenaran-kebenaran dari ucapan-ucapan mereka itu.
 
Mungkin  Mirza  Ghulam  Ahmah  tidak  pernah duduk di bangku
sekolahnya syed Ahmad Khan, dan mungkin juga ia bukan  murid
Sir  syed,  namun tidaklah berlebih-lebihan untuk mengatakan
di  sini,  bahwa  menarik  kesimpulan   dari   ucapan-ucapan
tokoh-tokoh  di  atas, jelas bahwa Mirza Ghulam Allmad telah
berguru pada syed Ahmad Khan secara absentia.
 
Karenanya mengenal Mirza Ghulam Ahmad melalui suatu  langkah
perkenalan  pada  syed  Ahmad  Khan,  adalah jalan yang enak
ditempuh serta memudahkan.
 
Catatan kaki:
1 lih. Gibb, Islam dalam Lintasan sejarah, hal. 130.
2 lih.Saleh A. .Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan
  Wahid Bakry, hal.88
3 lih.Gibb, Islam dalam lintasan sejarah hal.153, dan lih:
  Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, 1954, Jakarta,
  Tinta Mas, terjemah L.E. Hakim, hal.77
4 lih syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal,
  hal.277: ("in the north-West of India, a Country more
  primitive and saint-ridden than the rest of India, the
  syed's movement was soon followed by reaction of
  Ahmadism - a strange mixture of Semetic and Aryan
  mysticism with whom spiritual revival consist not in
  the purification of the individuals inner life
  according to the principles of the old Islamic sufism,
  but in satisfying the expectant attitude of the masses
  by providing  a promised Messiah")
5 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, 1968,
  Lahore-Mohammad Yusuf Khan, hal.54: ("Mirza Ghulam
  Ahmad followed faithfully in the footstep of his
  Master. In declaring it most desirable to shed one's
  blood in the cause of British imperialism but
  condemning jihad as a crime, he was merely carrying
  sayyid Ahmad Khan's ideas to their logical conclusion).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: