TRAGEDI BERDARAH KARBALA

Pendahuluan

Pertengahan abad pertama Hijirah, yaitu masa pasca kekhalifahan Abu Bakar bin Abu Quhafah, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Imam Ali bin Thalib, Muawiyah yang tadinya menjabat gubernur Syam (Suriah) atas pilihan Utsman bin Affan mengangkat dirinya sebagai khalifah setelah berhasil menyingkirkan khalifah yang sah, Imam Hasan bin Ali yang menggantikan Imam Ali dan berbasis di Madinah.

Ketika Muawiah Bin Abi Sufyan menemui ajalnya, anaknya yang bernama Yazid menggantikan kedudukannya di atas singgasana khalifah yang saat itu sudah benar-benar menyerupai kerajaan tiran dan sarat ironi.  Seperti ayahnya, karena naik tanpa restu umat dan syariat, Yazid mencari baiat dengan cara paksa dari umat. Di pihak lain, sebagai tokoh yang paling berpengaruh di tengah umat, putera Fatimah Azzahra dan cucu tercinta Rasul, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib yang tinggal di Madinah, diincar oleh Yazid. Beliau dikirimi surat dan pesan agar memilih  satu diantara dua pilihan; baiat kepada Yazid atau  mati.

Saat menolak pilihan pertama, baiat, Imam Husain tiba-tiba diserbu ribuan surat dari penduduk Kufah, Irak. Mereka menyatakan siap mengadakan perlawanan bersenjata atas Yazid bin Muawiyah dan membaiat Imam Husain sebagai khalifah dengan syarat beliau datang ke Kufah untuk mengoordinasi dan mengomandani pasukan perlawanan. Tadinya Imam keberataan memenuhi ajakan itu karena orang Kufah sudah lama beliau ketahui sulit dipegang janjinya.

Namun, keberatan itu membuat beliau semakin dibanjiri surat sampai akhirnya beliau tak kuasa untuk menolak saat  surat-surat terakhir penduduk Kufah berisikan ancaman mereka untuk mengadukan beliau kepada Allah di hari kiamat kelak bahwa beliau telah menolak kebangkitan melawan penguasa tiran, bahwa beliau telah menyia-nyiakan kekuatan dan kesempatan yang tersedia untuk menumbangkan penguasa zalim dan kejam, bahwa beliau tidak mengindahkan jeritan, derita, dan harapan kaum mustahd’afin, dan bahwa beliau tidak berani mengorbankan jiwa dan raga demi melawan penguasa durjana. Sang Imam tak berkutik, meskipun beliau tahu semua itu belum tentu mencerminkan loyalitas penduduk Kufah dengan resiko apapun. Saat itulah Imam merasa dihadapkan pada ketajaman lensa sejarah yang hanya mau merekam bukti dan kenyataan di depan mata umat, bukan dogma-dogma sakral tentang hakikat non-derawi. Jadi, kebangkitan Imam tadinya bukan berarti harus keluar dari menuju Kufah, tetapi karena secara kasat mata di Kufah sudah tersedia kesempatan dan kekuatan untuk menumbangkan Yazid, beliau harus keluar untuk memastikan benarkah kesempatan itu memang ada.

Maka, meskipun dengan berat hati dan keyakinan penuh bahwa beliau akan menghadapi marabahaya, undangan penduduk Kufah itu akhirnya beliau penuhi. Beliau mengirim utusannya, Muslim bin Aqil untuk meninjau keadaan yang sesungguhnya di Kufah. Di Kufah, Muslim mendapati rakyat benar-benar sedang diterjang gelora semangat perlawanan. Karenanya, Muslim menyampaikan berita gembira itu kepada Imam Husain lewat surat. Imam berangkat menuju Kufah bersama rombongannya yang berjumlah ratusan orang,  setelah beliau singgah terlebih dahulu ke Mekkah.

Ketika Imam sedang dalam perjalanan panjang menuju Kufah, keadaan di kota ini berubah total. Nyali penduduk tiba-tiba ciut dan keder setelah diancam habis-habisan oleh gubernur Kufah yang berdarah dingin, Ubaidillah bin Ziyad. Semua menutup pintu rapat-rapat dan tak ada yang berani keluar untuk bicara dan berkumpul lagi soal gerakan perlawanan. Hanya segelintir orang yang masih setia kepada Muslim bin Aqil dan siap menyongsong segala resiko. Namun akhirnya mereka ditangkap. Muslim dihabisi dengan cara yang sangat sadis. Jasadnya yang tanpa kepala dipertontonkan di pasar Kufah, dan penduduk terpaksa pura-pura ikut bergembira atas kematian Muslim.

Perubahan itu tercium Imam Husain dan rombongannya ketika sudah mendekati Kufah. Mendengar itu, rombongan Imam banyak yang terguncang kemudian memilih mundur dan keluar dari barisan Imam. Jumlah pengikut beliau akhirnya surut drastis, hanya tinggal beberapa wanita dan anak kecil serta puluhan orang. Namun, karena masih ada setumpuk alasan seperti yang dapat Anda baca dalam menu Falsafah Peristiwa Karbala dan  Falsafah Peringatan Tragedi Karbala, putera pasangan suci Imam Ali dan Fatimah Azzahra itu tetap melanjutkan perjalanan sampai kemudian berhadapan dengan pasukan kiriman gubernur Kufah pimpinan Hur bin Yazid Arriyahi. Pasukan itu dikirim sengaja untuk menghadang rombongan Imam. Berikut ini adalah penggalan kisah akhir perjalanan beliau yang kami sadur dari buku Husain, Beheshti-e Mau’ud (Husain, Sorga yang Dijanjikan), karya penulis Iran Ny. Farida Gulmohammadi

8 Komentar

  1. Rizma Adlia said,

    Setiap tempat adalah karbala, setiap hari adalah Assyura,,

  2. rizki rangger said,

    adaada sajah…

  3. penagih hutang_IMF said,

    bagus kok…
    saranku..KUASAILAH SEJARAH..DENGAN SEJARAH..MAKA DUNIA ADA DI GENGGAMAN TANGANMU…..BELAJARLAH DARI PENGALAMAN…KARENA PENGALAMAN ADALAH GURU YANG PALING BAIK..

  4. camperenik said,

    ini sejarah apa dongeng?
    bagusnya dicantumkan riwayat-riwayat yg mendukung cerita tersebut…

  5. t-rah dan tie said,

    org yg tidak belajar sej…
    berkemungkinan sej itu akan berulang…
    jd sama-samalah kita pelajari sej

  6. sulabesi sangaji said,

    Dimana bisa cari buku “Umur Umat Islam” Ya? Sepertinya di dalam buku itu juga terdapat beberapa tata “sejarah” yang bisa dikaji.

  7. cahyaning said,

    kalau masih ada yang mau menulis tentang sejarah islam berarti dia masih mau mempelajari tentang islam.entah saduran atau apapun mengenai islam. dilanjut Ki…

  8. Faizal said,

    :-(

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: