<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: ISRAEL KONSPIRASI?</title>
	<atom:link href="http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dhymas.wordpress.com</link>
	<description>Waspada Dan Bersikaplah AWAS!!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Dec 2009 04:28:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Mirza</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1691</link>
		<dc:creator>Mirza</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 08:14:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1691</guid>
		<description>Terima kasih khususnya kepada penulis dan para comment yang menuturkan panjang lebar tentang Israel. Apalagi dengan keterangan dari Al-Qur&#039;an dan Alkitab yang lumayan lengkap. Semoga info ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan lebih memperjelas informasi yang ada sekarang ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih khususnya kepada penulis dan para comment yang menuturkan panjang lebar tentang Israel. Apalagi dengan keterangan dari Al-Qur&#8217;an dan Alkitab yang lumayan lengkap. Semoga info ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan lebih memperjelas informasi yang ada sekarang ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: koko</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1535</link>
		<dc:creator>koko</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 23:25:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1535</guid>
		<description>terima kasih. infonya bermanfaat,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih. infonya bermanfaat,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: kotono</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1197</link>
		<dc:creator>kotono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:13:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1197</guid>
		<description>nyi roro kidul sama raja solomon kawinan ... nonton film dimana mas?? hhhheheheh..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nyi roro kidul sama raja solomon kawinan &#8230; nonton film dimana mas?? hhhheheheh..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: kotono</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1196</link>
		<dc:creator>kotono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:13:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1196</guid>
		<description>nyi roro kidul sama nabi raja solomon kawinan ... nonton film dimana mas?? hhhheheheh..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nyi roro kidul sama nabi raja solomon kawinan &#8230; nonton film dimana mas?? hhhheheheh..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: salim</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1098</link>
		<dc:creator>salim</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:09:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1098</guid>
		<description>lo harta kekayaan Raja Salomo ke pantai selatan, emangnya ada hubungan apa? apa ratu kidul itu bininya Raja Salomo.

ini hanya pikiran sempit, yang tidak tahu sumbernya darimana asalnya. kalau nulis jangan asbun, asal bunyi aje. buktiin donk. apa gak salah tuh.

wong Barus itu pelabuhan terbesar kok, dimana utusan Raja Salomo dan keturunannya datang ke Barus, TAPANULI, TANAH BATAK.

dari budayanya saja sudah kelihatan, kasihan anda menulis ini, hanya buang-buang waktu, karena fanatisme sempit dan cetek pemikirannya...

saya sudah bilang ini batu, tapi anda bilang ini roti, ya sudah, saya telah beritahu itu batu kok malah dimakan, ya makanlah biar rontok gigimu....

he he ... ini hanya joke ok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lo harta kekayaan Raja Salomo ke pantai selatan, emangnya ada hubungan apa? apa ratu kidul itu bininya Raja Salomo.</p>
<p>ini hanya pikiran sempit, yang tidak tahu sumbernya darimana asalnya. kalau nulis jangan asbun, asal bunyi aje. buktiin donk. apa gak salah tuh.</p>
<p>wong Barus itu pelabuhan terbesar kok, dimana utusan Raja Salomo dan keturunannya datang ke Barus, TAPANULI, TANAH BATAK.</p>
<p>dari budayanya saja sudah kelihatan, kasihan anda menulis ini, hanya buang-buang waktu, karena fanatisme sempit dan cetek pemikirannya&#8230;</p>
<p>saya sudah bilang ini batu, tapi anda bilang ini roti, ya sudah, saya telah beritahu itu batu kok malah dimakan, ya makanlah biar rontok gigimu&#8230;.</p>
<p>he he &#8230; ini hanya joke ok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: SidikRizal - +6281.385.386.583</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1078</link>
		<dc:creator>SidikRizal - +6281.385.386.583</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:53:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1078</guid>
		<description>Jadi semakin jelas lah sudah apa yang disampaikan Bung Karno, &quot;Go to Hell with your aid&quot;. Mengapa seorang Soekarno sampe mengatakan begitu kepada negara adidaya seperti AS dan sekutunya. Artinya Bung Karno sudah paham betul, bahwa Indonesia memang termaktub di dalam Kitab Taurat, Injil dan Al-Qur&#039;an dalam beragam nama. Sekalipun itu masih dalam bentuk penafsiran, tapi perlu diingat bahwa penafsiran dan penterjemahan itu tidaklah sembarangan keluar dari pikiran orang biasa atau sekadar muncul dari semburat lintasan pikiran akal manusia BODOH.

Coba kita perhatikan penyajian beberpa teman kita di atas, benang merah yang menghubungkan Israel dengan Indonesia mulai dari silsilah keturunan yang bukan saja menyerupai, tapi juga memang tertuang dalam banyak penulisan para ahli dan cendekiawan kelas dunia (salah satunya adalah Bung Karno, kita maklumkan sementara ini).

Tentunya masih segar dalam ingatan kita bagaimana seorang Tolkien (penulis trilogi klas dunia best seller book dan film paling laku dan menghibur, &quot;The Lord of the RIng&quot;), DIa menggambarkan tokoh penyelamat utama &quot;the Ring&quot; adalah bangsa Hobbit.

Bukanlah kebetulan yang &quot;aneh&quot; dan luar bioasa, ternyata bangsa Hobbit adalah sebuah temuan fosil tua di pulau Sumatra (Andalas).

berikut tulisan dari seorang peneliti luar negeri:
Hobbits of Indonesia were different human species

By Roger Highfield, Science Editor
Last Updated: 7:01pm BST 20/09/2007

Three old bones from a left wrist offer a new twist in the long running debate about the so called hobbits of Indonesia, suggesting they were indeed a small and different kind of human species, rather than modern humans with a growth disorder.
 	
Three years ago, Prof Mike Morwood, of the University of New England, in Armidale, Australia, and colleagues made headlines worldwide when they announced the discovery of 18,000-year-old remains of Homo floresiensis in the Liang Bua Cave on the Indonesian island of Flores.

The human evolutionary cousin, nicknamed the hobbit after the diminutive people in JRR Tolkein&#039;s Lord Of The Rings, stood only three foot tall and was thought to be an entirely new species of human, with a brain about the size of a chimpanzee&#039;s.

Ever since there has been debate whether or not the bones were actually from pygmies - even today there are pygmies on the island - and not a new species of human that lived between 120,000 and 10,000 years ago. One idea is that they suffered from microcephaly, a disorder that limits brain growth.

Today in the journal Science an analysis of three wrist bones of one of the fossil specimens (called LB1) led by Matthew Tocheri of the Smithsonian Institution, Washington, and including Prof Morwood and colleagues in Indonesia and America shows that the bones are primitive and shaped differently compared to both the wrist bones of both humans and of Neanderthals, suggesting they do represent a different kind of human.

The Hobbit&#039;s wrist is basically indistinguishable from an African ape - nothing at all like that seen in modern humans and Neanderthals.

Using cutting-edge 3D technology the team shows how there are big differences between the wrist bones of human - whether dwarf, normal or giant - and nonhuman primates, so the bones offer a powerful way to distinguish different species.
advertisement

&quot;This study offers one of the most striking confirmations of the original interpretation of the hobbit as an island remnant of one of the oldest human migrations to Asia,&quot; said Tocheri.

&quot;Before I saw these wrist bones, I had no definitive opinion regarding the hobbit debates,&quot; said Tocheri. &quot;But these hobbit wrist bones do not look anything like those of modern humans. They&#039;re not even close.&quot;

For example, the human trapezoid is boot-shaped, while in LB1 the same bone is wedge-shaped. Also, the LB1 wrist bones are closer in shape to living african apes and earlier fossil species like australopithecus and Homo habilis.

The team believes these differences imply that LB1has retained characteristics of a primitive wrist and thus represents a human lineage that appeared before the modern wrist evolved with Homo sapiens and the Neanderthals, who share an ancestor that lived between 0.5 and one million years ago.

The distinctive shapes of wrist bones form during the first trimester of pregnancy while most growth disorders do not begin to affect the skeleton until well after that time. Thus, they argue, the hobbits are the descendants of an ancestor that had migrated out of Africa and branched off the human family tree before the branches that include modern humans, their cousins the Neanderthals and their last common ancestor.

LB1 was also found with stone flaking technology comparable to that found in Africa, this provides additional support for the idea that the earliest of our ancestors to use and make stone tools retained a primitive kind of wrist, with the wrist of modern humans and Neanderthals having evolved between 1.8 and 0.8 million years ago to help them make and use tools better.

&quot;Other work on the Liang Bua hominid material is in progress on the LB1 hands, feet, teeth and pelvis - all of which tell a similar story,&quot; Prof Morwood told The Daily Telegraph. &quot;Homo floresiensis represents a very old, small-bodied, small-brained hominid lineage that dispersed out of Africa before the appearance of large bodied, large brained Homo erectus.&quot;

Another member of the team that announced the hobbit, Prof Richard &quot;Bert&quot; Roberts of the University of Wollongong, added: &quot;To my mind, it&#039;s yet another piece of strong evidence in support of the &#039;hobbit&#039; having an ancient lineage - not something closely related to modern humans, let alone a diseased individual of our species.

&quot;Importantly, this new study continues to undermine claims that the &#039;hobbit&#039; suffered from a medical condition known as microcephaly - that is, a modern human with an abnormally small brain - by looking at a part of the anatomy far removed from the head: namely, the wrist bones.

&quot;Microcephalics do not have unusually shaped wrist bones, but the hobbit does - and the features of the wrist bones are echoed in the primitive traits seen in many other parts of the skeleton, including the skull, which has been almost the sole focus of attention of the pro-microcephaly camp.&quot;

kemudian liat tulisan lainnya, seperti berikut ini:

Hobbit-Like Human Ancestor Found in Asia
Hillary Mayell
for National Geographic News
October 27, 2004

Scientists have found skeletons of a hobbit-like species of human that grew no larger than a three-year-old modern child (See pictures). The tiny humans, who had skulls about the size of grapefruits, lived with pygmy elephants and Komodo dragons on a remote island in Indonesia 18,000 years ago.

Australian and Indonesian researchers discovered bones of the miniature humans in a cave on Flores, an island east of Bali and midway between Asia and Australia.

_ Printer Friendly

Email to a Friend
What&#039;s This?
SHARE
Digg StumbleUpon Reddit
RELATED

    * Controversy Over Famed Ancient Skull: Ape or Human?
    * 1.8-Million-Year-Old Hominid Jaw Found
    * Does Wounded Skull Hint at Neandertal Nursing?
    * Skull Fossil Opens Window Into Early Period of Human Origins
    * Java Skull Raises Questions on Human Family Tree
    * Fossils From Ethiopia May Be Earliest Human Ancestor

Scientists have determined that the first skeleton they found belongs to a species of human completely new to science. Named Homo floresiensis, after the island on which it was found, the tiny human has also been dubbed by dig workers as the &quot;hobbit,&quot; after the tiny creatures from the Lord of the Rings books.

The original skeleton, a female, stood at just 1 meter (3.3 feet) tall, weighed about 25 kilograms (55 pounds), and was around 30 years old at the time of her death 18,000 years ago.

The skeleton was found in the same sediment deposits on Flores that have also been found to contain stone tools and the bones of dwarf elephants, giant rodents, and Komodo dragons, lizards that can grow to 10 feet (3 meters) and that still live today.

Homo floresienses has been described as one of the most spectacular discoveries in paleoanthropology in half a century—and the most extreme human ever discovered.

The species inhabited Flores as recently as 13,000 years ago, which means it would have lived at the same time as modern humans, scientists say.

&quot;To find that as recently as perhaps 13,000 years ago, there was another upright, bipedal—although small-brained—creature walking the planet at the same time as modern humans is as exciting as it was unexpected,&quot; said Peter Brown, a paleoanthropologist at the University of New England in New South Wales, Australia.

Brown is a co-author of the study describing the findings, which appears in the October 28 issue of the science journal Nature. The National Geographic Society&#039;s Committee for Research and Exploration has sponsored research related to the discovery. The find will be covered in greater detail in a documentary airing early next year on the National Geographic Channel.

&quot;It is totally unexpected,&quot; said Chris Stringer, director of the Human Origins program at the Natural History Museum in London. &quot;To have early humans on the remote island of Flores is surprising enough. That some are only about a meter tall with a chimp-size brain is even more remarkable. That they were still there less than 20,000 years ago, and [that] modern humans must have met them, is astonishing.&quot;

The researchers estimate that the tiny people lived on Flores from about 95,000 years ago until at least 13,000 years ago. The scientists base their theory on charred bones and stone tools found on the island. The blades, perforators, points, and other cutting and chopping utensils were apparently used to hunt big game.

In an accompanying Nature commentary, Marta Mirazón Lahr and Robert Foley, both with the Leverhulme Centre for Human Evolutionary Studies at the University of Cambridge, England, describe Homo floresiensis as changing our understanding of late human evolutionary geography, biology, and culture.

HMMM.... kita bangsa Indonesia tidak memahami, betapa negara kita adalah tempat berkumpulnya sebuah bangsa yang sangat besar dan diperhitungkan oleh dunia Internasional. Dalam hal ini orang Yahudi atau bangsa Israel sangat serius dengan segala hiruk pikuk di negara kita, jadi jangan heran bila kita akan selalu jadi perhatian dunia internasional, terutama Free-Masonry dan tentunya negara tempat Zionis Internasional bermarkas yakni Amerika Serikat dan Israel.

Bagaimana dengan kaum Muslimin yang mayoritas di negara Indonesia, apakah mereka (atau kita = bagi kaum muslimin yang membaca tulisan saya ini) akan mengabaikan dan membiarkan RAHASIA BESAR kekayaan dunia yang terpendam di bumi Nusantara ini lepas ke tangan kaum Zionis Internasional. Dan tidaklah saya MENGANGKAT MASALAH SARA atau mau mengundang kebencian terhadap kelompok, suku, bangsa dan agama lain, JUSTRU saya INGIN mengingatkan agar terciptanya perdamaian dunia maka haruslah kita mengetahui segala tanda-tanda, pertanda, simbol, lambang, sinyalemen, insting atau singkatnya ilmu pengetahuan dunia (dan apa yang saya maksudkan adalah bukan saja ilmu dunia tapi juga ilmu semua agama, Yahudi, Kristen, Islam dan agama dunia seperti Hindu, Budha, Konghucu, Kepercayaan Jawa, Shinto, dan lain-lain (termasuk agama-agama dean kepercayaan animisme serta dinamisme dunia maupun lokal).
Di situ banyak sekali pelajaran tentang manifestasi kehadiran Setan ke dalam dunia Manusia dan Jin. Cobalah kita pelajari dan pegang 1 (dan hanya satu) keyakinan untuk memperteguh hati kita agar tidak jadi GILA dan NYELENEH seperti kebanyakan para (maaf) 
DUKUN, PARANORMAL.
Saya tidak pernah bilang bahwa intuisi, insting, perkiraan, ramalan, dugaan mereka adalah kNGACO atau NYELENEH. Namun apa-apa yang datangnya tidak berdasarkan petunjuk dari Tuhan (tentunya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Suci) maka patut untuk kita selidik ULANG berkali-kali. Yang ekstrim adalah JANGAN PERCAYA.

Tapi, dalam kaidah kajian keilmuan yang memang bersifat ilmiah, setiap pendapat, tulisan, dan berita atau cerita (termasuk &quot;apa-apa&quot; yang mereka sebut dengan &quot;kitab suci&quot; yang datang dari tuhan), harus jelas silsilah, asal-usul sumber pendapat, tulisan dan berita atau sumber ceritanya.

Klaim subyektif bukan ukuran di sini, kalo mau jujur, cara yang paling aman adalah dengan membenturkan segala &quot;apa-apa&quot; yang mau kita anggap sebagai &quot;ilmu pengetahuan&quot; itu dengan tes ujian berulang-ulang (atau menguji HIPOTHESA) hingga menjadi sebuah THESIS yang penuh kajian uji akurat dan relevansi.

ARTINYA...................... BANGSA INDONESIA terbukti secara &quot;klinis&quot; memang sebuah bangsa yang BESAR dan akan menentukan akhir perjalanan sejarah dunia.
lihat peristilahan &quot;LAUT PANTAI SELATAN -- Nyi Roro Kidul&quot; yang sangat erat kaitannya dengan penimbunan harta kekayaan emas dunia (perlu kajian mendalam dan penelitian yang akurat ke dalam laut Pantai Selatan Indonesia) hingga ke kepulauan King Solomon (Kerajaan Sulaiman).

Bila ingin mendiskusikan dan membahasnya lebih jauh lagi bahwa Indonesia adala h sebuah bangsa Besar, silakan hubungi saya di e-mail atau telepon saya di atas. Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi semakin jelas lah sudah apa yang disampaikan Bung Karno, &#8220;Go to Hell with your aid&#8221;. Mengapa seorang Soekarno sampe mengatakan begitu kepada negara adidaya seperti AS dan sekutunya. Artinya Bung Karno sudah paham betul, bahwa Indonesia memang termaktub di dalam Kitab Taurat, Injil dan Al-Qur&#8217;an dalam beragam nama. Sekalipun itu masih dalam bentuk penafsiran, tapi perlu diingat bahwa penafsiran dan penterjemahan itu tidaklah sembarangan keluar dari pikiran orang biasa atau sekadar muncul dari semburat lintasan pikiran akal manusia BODOH.</p>
<p>Coba kita perhatikan penyajian beberpa teman kita di atas, benang merah yang menghubungkan Israel dengan Indonesia mulai dari silsilah keturunan yang bukan saja menyerupai, tapi juga memang tertuang dalam banyak penulisan para ahli dan cendekiawan kelas dunia (salah satunya adalah Bung Karno, kita maklumkan sementara ini).</p>
<p>Tentunya masih segar dalam ingatan kita bagaimana seorang Tolkien (penulis trilogi klas dunia best seller book dan film paling laku dan menghibur, &#8220;The Lord of the RIng&#8221;), DIa menggambarkan tokoh penyelamat utama &#8220;the Ring&#8221; adalah bangsa Hobbit.</p>
<p>Bukanlah kebetulan yang &#8220;aneh&#8221; dan luar bioasa, ternyata bangsa Hobbit adalah sebuah temuan fosil tua di pulau Sumatra (Andalas).</p>
<p>berikut tulisan dari seorang peneliti luar negeri:<br />
Hobbits of Indonesia were different human species</p>
<p>By Roger Highfield, Science Editor<br />
Last Updated: 7:01pm BST 20/09/2007</p>
<p>Three old bones from a left wrist offer a new twist in the long running debate about the so called hobbits of Indonesia, suggesting they were indeed a small and different kind of human species, rather than modern humans with a growth disorder.</p>
<p>Three years ago, Prof Mike Morwood, of the University of New England, in Armidale, Australia, and colleagues made headlines worldwide when they announced the discovery of 18,000-year-old remains of Homo floresiensis in the Liang Bua Cave on the Indonesian island of Flores.</p>
<p>The human evolutionary cousin, nicknamed the hobbit after the diminutive people in JRR Tolkein&#8217;s Lord Of The Rings, stood only three foot tall and was thought to be an entirely new species of human, with a brain about the size of a chimpanzee&#8217;s.</p>
<p>Ever since there has been debate whether or not the bones were actually from pygmies &#8211; even today there are pygmies on the island &#8211; and not a new species of human that lived between 120,000 and 10,000 years ago. One idea is that they suffered from microcephaly, a disorder that limits brain growth.</p>
<p>Today in the journal Science an analysis of three wrist bones of one of the fossil specimens (called LB1) led by Matthew Tocheri of the Smithsonian Institution, Washington, and including Prof Morwood and colleagues in Indonesia and America shows that the bones are primitive and shaped differently compared to both the wrist bones of both humans and of Neanderthals, suggesting they do represent a different kind of human.</p>
<p>The Hobbit&#8217;s wrist is basically indistinguishable from an African ape &#8211; nothing at all like that seen in modern humans and Neanderthals.</p>
<p>Using cutting-edge 3D technology the team shows how there are big differences between the wrist bones of human &#8211; whether dwarf, normal or giant &#8211; and nonhuman primates, so the bones offer a powerful way to distinguish different species.<br />
advertisement</p>
<p>&#8220;This study offers one of the most striking confirmations of the original interpretation of the hobbit as an island remnant of one of the oldest human migrations to Asia,&#8221; said Tocheri.</p>
<p>&#8220;Before I saw these wrist bones, I had no definitive opinion regarding the hobbit debates,&#8221; said Tocheri. &#8220;But these hobbit wrist bones do not look anything like those of modern humans. They&#8217;re not even close.&#8221;</p>
<p>For example, the human trapezoid is boot-shaped, while in LB1 the same bone is wedge-shaped. Also, the LB1 wrist bones are closer in shape to living african apes and earlier fossil species like australopithecus and Homo habilis.</p>
<p>The team believes these differences imply that LB1has retained characteristics of a primitive wrist and thus represents a human lineage that appeared before the modern wrist evolved with Homo sapiens and the Neanderthals, who share an ancestor that lived between 0.5 and one million years ago.</p>
<p>The distinctive shapes of wrist bones form during the first trimester of pregnancy while most growth disorders do not begin to affect the skeleton until well after that time. Thus, they argue, the hobbits are the descendants of an ancestor that had migrated out of Africa and branched off the human family tree before the branches that include modern humans, their cousins the Neanderthals and their last common ancestor.</p>
<p>LB1 was also found with stone flaking technology comparable to that found in Africa, this provides additional support for the idea that the earliest of our ancestors to use and make stone tools retained a primitive kind of wrist, with the wrist of modern humans and Neanderthals having evolved between 1.8 and 0.8 million years ago to help them make and use tools better.</p>
<p>&#8220;Other work on the Liang Bua hominid material is in progress on the LB1 hands, feet, teeth and pelvis &#8211; all of which tell a similar story,&#8221; Prof Morwood told The Daily Telegraph. &#8220;Homo floresiensis represents a very old, small-bodied, small-brained hominid lineage that dispersed out of Africa before the appearance of large bodied, large brained Homo erectus.&#8221;</p>
<p>Another member of the team that announced the hobbit, Prof Richard &#8220;Bert&#8221; Roberts of the University of Wollongong, added: &#8220;To my mind, it&#8217;s yet another piece of strong evidence in support of the &#8216;hobbit&#8217; having an ancient lineage &#8211; not something closely related to modern humans, let alone a diseased individual of our species.</p>
<p>&#8220;Importantly, this new study continues to undermine claims that the &#8216;hobbit&#8217; suffered from a medical condition known as microcephaly &#8211; that is, a modern human with an abnormally small brain &#8211; by looking at a part of the anatomy far removed from the head: namely, the wrist bones.</p>
<p>&#8220;Microcephalics do not have unusually shaped wrist bones, but the hobbit does &#8211; and the features of the wrist bones are echoed in the primitive traits seen in many other parts of the skeleton, including the skull, which has been almost the sole focus of attention of the pro-microcephaly camp.&#8221;</p>
<p>kemudian liat tulisan lainnya, seperti berikut ini:</p>
<p>Hobbit-Like Human Ancestor Found in Asia<br />
Hillary Mayell<br />
for National Geographic News<br />
October 27, 2004</p>
<p>Scientists have found skeletons of a hobbit-like species of human that grew no larger than a three-year-old modern child (See pictures). The tiny humans, who had skulls about the size of grapefruits, lived with pygmy elephants and Komodo dragons on a remote island in Indonesia 18,000 years ago.</p>
<p>Australian and Indonesian researchers discovered bones of the miniature humans in a cave on Flores, an island east of Bali and midway between Asia and Australia.</p>
<p>_ Printer Friendly</p>
<p>Email to a Friend<br />
What&#8217;s This?<br />
SHARE<br />
Digg StumbleUpon Reddit<br />
RELATED</p>
<p>    * Controversy Over Famed Ancient Skull: Ape or Human?<br />
    * 1.8-Million-Year-Old Hominid Jaw Found<br />
    * Does Wounded Skull Hint at Neandertal Nursing?<br />
    * Skull Fossil Opens Window Into Early Period of Human Origins<br />
    * Java Skull Raises Questions on Human Family Tree<br />
    * Fossils From Ethiopia May Be Earliest Human Ancestor</p>
<p>Scientists have determined that the first skeleton they found belongs to a species of human completely new to science. Named Homo floresiensis, after the island on which it was found, the tiny human has also been dubbed by dig workers as the &#8220;hobbit,&#8221; after the tiny creatures from the Lord of the Rings books.</p>
<p>The original skeleton, a female, stood at just 1 meter (3.3 feet) tall, weighed about 25 kilograms (55 pounds), and was around 30 years old at the time of her death 18,000 years ago.</p>
<p>The skeleton was found in the same sediment deposits on Flores that have also been found to contain stone tools and the bones of dwarf elephants, giant rodents, and Komodo dragons, lizards that can grow to 10 feet (3 meters) and that still live today.</p>
<p>Homo floresienses has been described as one of the most spectacular discoveries in paleoanthropology in half a century—and the most extreme human ever discovered.</p>
<p>The species inhabited Flores as recently as 13,000 years ago, which means it would have lived at the same time as modern humans, scientists say.</p>
<p>&#8220;To find that as recently as perhaps 13,000 years ago, there was another upright, bipedal—although small-brained—creature walking the planet at the same time as modern humans is as exciting as it was unexpected,&#8221; said Peter Brown, a paleoanthropologist at the University of New England in New South Wales, Australia.</p>
<p>Brown is a co-author of the study describing the findings, which appears in the October 28 issue of the science journal Nature. The National Geographic Society&#8217;s Committee for Research and Exploration has sponsored research related to the discovery. The find will be covered in greater detail in a documentary airing early next year on the National Geographic Channel.</p>
<p>&#8220;It is totally unexpected,&#8221; said Chris Stringer, director of the Human Origins program at the Natural History Museum in London. &#8220;To have early humans on the remote island of Flores is surprising enough. That some are only about a meter tall with a chimp-size brain is even more remarkable. That they were still there less than 20,000 years ago, and [that] modern humans must have met them, is astonishing.&#8221;</p>
<p>The researchers estimate that the tiny people lived on Flores from about 95,000 years ago until at least 13,000 years ago. The scientists base their theory on charred bones and stone tools found on the island. The blades, perforators, points, and other cutting and chopping utensils were apparently used to hunt big game.</p>
<p>In an accompanying Nature commentary, Marta Mirazón Lahr and Robert Foley, both with the Leverhulme Centre for Human Evolutionary Studies at the University of Cambridge, England, describe Homo floresiensis as changing our understanding of late human evolutionary geography, biology, and culture.</p>
<p>HMMM&#8230;. kita bangsa Indonesia tidak memahami, betapa negara kita adalah tempat berkumpulnya sebuah bangsa yang sangat besar dan diperhitungkan oleh dunia Internasional. Dalam hal ini orang Yahudi atau bangsa Israel sangat serius dengan segala hiruk pikuk di negara kita, jadi jangan heran bila kita akan selalu jadi perhatian dunia internasional, terutama Free-Masonry dan tentunya negara tempat Zionis Internasional bermarkas yakni Amerika Serikat dan Israel.</p>
<p>Bagaimana dengan kaum Muslimin yang mayoritas di negara Indonesia, apakah mereka (atau kita = bagi kaum muslimin yang membaca tulisan saya ini) akan mengabaikan dan membiarkan RAHASIA BESAR kekayaan dunia yang terpendam di bumi Nusantara ini lepas ke tangan kaum Zionis Internasional. Dan tidaklah saya MENGANGKAT MASALAH SARA atau mau mengundang kebencian terhadap kelompok, suku, bangsa dan agama lain, JUSTRU saya INGIN mengingatkan agar terciptanya perdamaian dunia maka haruslah kita mengetahui segala tanda-tanda, pertanda, simbol, lambang, sinyalemen, insting atau singkatnya ilmu pengetahuan dunia (dan apa yang saya maksudkan adalah bukan saja ilmu dunia tapi juga ilmu semua agama, Yahudi, Kristen, Islam dan agama dunia seperti Hindu, Budha, Konghucu, Kepercayaan Jawa, Shinto, dan lain-lain (termasuk agama-agama dean kepercayaan animisme serta dinamisme dunia maupun lokal).<br />
Di situ banyak sekali pelajaran tentang manifestasi kehadiran Setan ke dalam dunia Manusia dan Jin. Cobalah kita pelajari dan pegang 1 (dan hanya satu) keyakinan untuk memperteguh hati kita agar tidak jadi GILA dan NYELENEH seperti kebanyakan para (maaf)<br />
DUKUN, PARANORMAL.<br />
Saya tidak pernah bilang bahwa intuisi, insting, perkiraan, ramalan, dugaan mereka adalah kNGACO atau NYELENEH. Namun apa-apa yang datangnya tidak berdasarkan petunjuk dari Tuhan (tentunya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Suci) maka patut untuk kita selidik ULANG berkali-kali. Yang ekstrim adalah JANGAN PERCAYA.</p>
<p>Tapi, dalam kaidah kajian keilmuan yang memang bersifat ilmiah, setiap pendapat, tulisan, dan berita atau cerita (termasuk &#8220;apa-apa&#8221; yang mereka sebut dengan &#8220;kitab suci&#8221; yang datang dari tuhan), harus jelas silsilah, asal-usul sumber pendapat, tulisan dan berita atau sumber ceritanya.</p>
<p>Klaim subyektif bukan ukuran di sini, kalo mau jujur, cara yang paling aman adalah dengan membenturkan segala &#8220;apa-apa&#8221; yang mau kita anggap sebagai &#8220;ilmu pengetahuan&#8221; itu dengan tes ujian berulang-ulang (atau menguji HIPOTHESA) hingga menjadi sebuah THESIS yang penuh kajian uji akurat dan relevansi.</p>
<p>ARTINYA&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. BANGSA INDONESIA terbukti secara &#8220;klinis&#8221; memang sebuah bangsa yang BESAR dan akan menentukan akhir perjalanan sejarah dunia.<br />
lihat peristilahan &#8220;LAUT PANTAI SELATAN &#8212; Nyi Roro Kidul&#8221; yang sangat erat kaitannya dengan penimbunan harta kekayaan emas dunia (perlu kajian mendalam dan penelitian yang akurat ke dalam laut Pantai Selatan Indonesia) hingga ke kepulauan King Solomon (Kerajaan Sulaiman).</p>
<p>Bila ingin mendiskusikan dan membahasnya lebih jauh lagi bahwa Indonesia adala h sebuah bangsa Besar, silakan hubungi saya di e-mail atau telepon saya di atas. Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agus Syafie</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1012</link>
		<dc:creator>Agus Syafie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 18:58:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1012</guid>
		<description>Sepuluh Suku Israel Yang Hilang

Pada tahun 721 SM Samaria, ibukota Kerajaan Israel (Israel Utara), jatuh karena serangan pasukan Asyur (Assyria). Akhjirnya Sepuluh suku Israel dibuang ke Asyur, dan terjadi diaspora (penyebaran) suku-suku Israel ke berbagai penjuru. Bangsa -bangsa kuat saling beradu memperebutkan kawasan Timur Tengah. Kejayaan bangsa Asyur diganti oleh bangsa Babel (Babylonia), tahun 603SM. Di masa kejayaan Babel, Kerajaan Selatan Yehuda jatuh, Jerusalem dihancurkan (587SM), dan berlangsunglah masa pembuangan di Babel. Kerajaan Persia (538-332SM) merebut hegemoni Babel. Sebagian suku Jehuda dan Benyamin, kembali ke Judea. Namun sepuluh suku Israel lain, tidak pernah kembali sebagaimana dua suku itu. 

Beberapa raja Persia tersebut dalam Alkitab, yaitu Cyrius (Koresy, Yes45:1); Xerxes (Ahasyweros, Est1:1); Artexerxes (Artahsasta, Neh2:1) dan Darius (Dan6:1). Kejayaan Persia selama 3 abad di seluruh kawasan Timur Tengah, Timur Dekat, dan seputar Mediterania bagian timur melahirkan bahasa Aram sebagai ‘lingua franca’ dan memudahkan migrasi. Masa Persia berakhir ketika Aleksander Agung, dalam waktu relatif singkat menguasai kawasan Makedonia hingga India. Kawasan kekuasaan dinasti-dinasti Yunani (332-167SM) yang lebih luas dari Persia, semakin memudahkan migrasi. Suku-suku Israel meninggalkan Asyur, menuju ke timur, setelah itu tidak ada lagi berita, sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku Israel Yang Hilang“ (The Ten Lost Tribes of Israel). sehingga bahasa Yunani menjadi ‘lingua franca’. 

beberapa yang ditemukan:

Pathans/Pasthun (Afghanistan-Pakistan) 

Pathans menganggap diri mereka sebagai anak-anak Israel, meskipun mereka beragama Islam. Bangsa Pathans memiliki kemiripan dengan kebiasaan Israel kuno. Bangsa Pathans kini tinggal di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Mereka disebut Afghans atau Pishtus menurut bahasanya. Di Afghanistan, jumlah mereka sekitar enam juta jiwa, dan di Pakistan sekitar tujuh hingga delapan juta jiwa dan dua juta jiwa lagi hidup seperti suku Baduy. Bukti-bukti yang menarik adalah beberapa nama suku-suku yang sama dengan suku-suku Israel seperti suku Harabni yakni Reuben, suku shinwari adalah Shimeon, suku Levani - Lewi, suku Daftani - Naftali, suku Jaji - Gad, suku Ashuri - Asher, suku Yusuf Su, anak-anak Yusuf, suku Afridi - Ephraim, dan seterusnya. Pasthun atau Pathans mengaku mempunyai hubungan dengan Kerajaan Israel kuno dari suku Benjamin dan keluarga Saul. Menurut tradisi, Saul mempunyai seorang anak, bernama Jeremia yang memiliki anak bernama Afghana. Menurut Injil 2 Raja-raja, Tawarikh 1 dan 2, sepuluh suku Israel dibuang ke Halah, Havor, sungai Gozan dan kota-kota Maday. Beberapa kemiripan Tradisi Pathans dengan Israel kuno: memiliki sunat untuk anak laki-laki pada hari kedelapan, Patrilineal (Garis Bapak), menggunakan Talith (Jubah Doa) Tsitsit, pernikahan (Hupah), kebiasaan wanita (pembasuhan di sungai), pernikahan dari pihak keluarga ibu atau bapak (Yibum), Sangat menghormati bapak, larangan memakan daging kuda dan unta, Shabbat dengan menyiapkan 12 roti Hallah, menghidupkan lilin pada saat Shabbat, hari Yom Kippur, menyembuhkan penyakit dengan bantuan kitab Mazmur (menempatkan kitab Mazmur dibawah kepada pasien, nama-nama Ibrani di desa-desa dan menyebut nama Musa, dan menggunakan symbol bintang Daud. Mereka hidup sebagai suku-suku yang terpencar dan memiliki hokum tradisi yakni Pashtunwali atau hukum Pasthun yang mirip dengan hukum Torah. Pathans bertradisi pernikahan ipar, yang mengharuskan saudara laki-laki menikahi janda saudaranya yang meninggal tanpa keturunan, sama seperti Israel kuno (Ul 25:5-6). Pathans juga bertradisi mengorbankan kambing penebusan, sama seperti masa Israel kuno yang membebankan dosa seluruh bangsa pada domba yang diusir ke gurun dan disembelih (Im16).

Kashmir (India) 

Di India bagian utara yakni Kashmir terdapat sekitar 5-7 juta jiwa. Terdapat nama Ibrani di lembah dan didesa-desa di Kashmir seperti Har Nevo, Beit Peor, Pisga, Heshubon. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa bangsa Kashmir keturunan sepuluh suku Israel yang hilang pada pembuangan pada 722 BCE. Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Orang Kashmir memiliki hari raya Pasca pada musim semi, saat dilakukan penyesuaian perbedaan penanggalan candra dan surya, dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang Jahudi. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmiri menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan; tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip, dan merayakan beberapa hari raya Jahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran bait Allah pertama (seperti Hannukah).

Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar)

Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Menashe”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut. Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku (”Lu” berarti suku, dan “si” berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Jahudi, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai “Y’wa”, dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah ber-‘breastplate’, ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe. Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Jahudi. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Melakukan praktek pemujaan berhala dan mempercayai klenik sehubungan dengan roh dan setan. Percaya reinkarnasi tapi percaya Tuhan di sorga akan membantu dalam kesusahan. 

Ch’iang-min (Cina)

Orang-orang Ch’iang atau Ch’iang-min (sekitar 250 ribu orang, 1920) bermukim di Propinsi Sechuan, Cina bagian barat, di daerah pegunungan sebelah barat Sungai Min, dekat perbatasan Tibet [Thomas Torrance “The History, Customs and Religion of the Ch’iang People of West China” (1920) dan “China’s First Missionaries: Ancient Israelites” (1937)]. Mereka menganggap diri sebagai imigran dari barat yang datang ke tempat tersebut setelah berjalan selama tiga tahun tiga bulan. Orang Cina menganggap mereka sebagai barbar, dan mereka menilai orang Cina sebagai penyembah berhala (Ch’iang-min percaya hanya pada satu tuhan dan menyebutnya ‘Yawei’ ketika berada dalam kesulitan). Ch’iang-min mempraktekkan persembahan korban yang dilakukan imam, jabatan yang hanya bisa dijabat oleh pria yang sudah menikah (Im 21:7,13) dan diwariskan turun-temurun. Para imam mengenakan jubah putih bersih dan bersurban khusus. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Kel20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan “cacat” (Im21:17-23). Para imam Ch’iang-min menggunakan tali pengikat jubah, dan sebatang tongkat berbentuk seperti ular (kisah Musa di gurun). Setelah berdoa, para imam membakar bagian dalam dan daging korban sembelihan, dan mengambil bagian pundak, dada, kaki dan kulit, sementara dagingnya dibagikan kepada pemberi persembahan. Saat persembahan, mereka mengibarkan 12 bendera di sekitar altar untuk menjaga tradisi bahwa mereka berasal dari satu bapak yang memiliki 12 anak. (Mereka bertradisi sebagai keturunan Abraham dan berleluhur seorang bapak dengan 12 anak). Di antara orang Ch’iang, terdapat tradisi mengoleskan darah pada ambang pintu demi keselamatan dan keamanan rumah, pernikahan ipar, tudung kepala bagi wanita, memberi nama anak pada usia 7 hari hingga menjelang malam ke-40. 

Disadur dari : Napak Tilas Suku Israel yang “Hilang”, Agen Akulturasi Jalur Sutra. Heri Muliono, M.Sc, Ir ( 6 Juli 2001). Disusun oleh : Christian P. S</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepuluh Suku Israel Yang Hilang</p>
<p>Pada tahun 721 SM Samaria, ibukota Kerajaan Israel (Israel Utara), jatuh karena serangan pasukan Asyur (Assyria). Akhjirnya Sepuluh suku Israel dibuang ke Asyur, dan terjadi diaspora (penyebaran) suku-suku Israel ke berbagai penjuru. Bangsa -bangsa kuat saling beradu memperebutkan kawasan Timur Tengah. Kejayaan bangsa Asyur diganti oleh bangsa Babel (Babylonia), tahun 603SM. Di masa kejayaan Babel, Kerajaan Selatan Yehuda jatuh, Jerusalem dihancurkan (587SM), dan berlangsunglah masa pembuangan di Babel. Kerajaan Persia (538-332SM) merebut hegemoni Babel. Sebagian suku Jehuda dan Benyamin, kembali ke Judea. Namun sepuluh suku Israel lain, tidak pernah kembali sebagaimana dua suku itu. </p>
<p>Beberapa raja Persia tersebut dalam Alkitab, yaitu Cyrius (Koresy, Yes45:1); Xerxes (Ahasyweros, Est1:1); Artexerxes (Artahsasta, Neh2:1) dan Darius (Dan6:1). Kejayaan Persia selama 3 abad di seluruh kawasan Timur Tengah, Timur Dekat, dan seputar Mediterania bagian timur melahirkan bahasa Aram sebagai ‘lingua franca’ dan memudahkan migrasi. Masa Persia berakhir ketika Aleksander Agung, dalam waktu relatif singkat menguasai kawasan Makedonia hingga India. Kawasan kekuasaan dinasti-dinasti Yunani (332-167SM) yang lebih luas dari Persia, semakin memudahkan migrasi. Suku-suku Israel meninggalkan Asyur, menuju ke timur, setelah itu tidak ada lagi berita, sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku Israel Yang Hilang“ (The Ten Lost Tribes of Israel). sehingga bahasa Yunani menjadi ‘lingua franca’. </p>
<p>beberapa yang ditemukan:</p>
<p>Pathans/Pasthun (Afghanistan-Pakistan) </p>
<p>Pathans menganggap diri mereka sebagai anak-anak Israel, meskipun mereka beragama Islam. Bangsa Pathans memiliki kemiripan dengan kebiasaan Israel kuno. Bangsa Pathans kini tinggal di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Mereka disebut Afghans atau Pishtus menurut bahasanya. Di Afghanistan, jumlah mereka sekitar enam juta jiwa, dan di Pakistan sekitar tujuh hingga delapan juta jiwa dan dua juta jiwa lagi hidup seperti suku Baduy. Bukti-bukti yang menarik adalah beberapa nama suku-suku yang sama dengan suku-suku Israel seperti suku Harabni yakni Reuben, suku shinwari adalah Shimeon, suku Levani &#8211; Lewi, suku Daftani &#8211; Naftali, suku Jaji &#8211; Gad, suku Ashuri &#8211; Asher, suku Yusuf Su, anak-anak Yusuf, suku Afridi &#8211; Ephraim, dan seterusnya. Pasthun atau Pathans mengaku mempunyai hubungan dengan Kerajaan Israel kuno dari suku Benjamin dan keluarga Saul. Menurut tradisi, Saul mempunyai seorang anak, bernama Jeremia yang memiliki anak bernama Afghana. Menurut Injil 2 Raja-raja, Tawarikh 1 dan 2, sepuluh suku Israel dibuang ke Halah, Havor, sungai Gozan dan kota-kota Maday. Beberapa kemiripan Tradisi Pathans dengan Israel kuno: memiliki sunat untuk anak laki-laki pada hari kedelapan, Patrilineal (Garis Bapak), menggunakan Talith (Jubah Doa) Tsitsit, pernikahan (Hupah), kebiasaan wanita (pembasuhan di sungai), pernikahan dari pihak keluarga ibu atau bapak (Yibum), Sangat menghormati bapak, larangan memakan daging kuda dan unta, Shabbat dengan menyiapkan 12 roti Hallah, menghidupkan lilin pada saat Shabbat, hari Yom Kippur, menyembuhkan penyakit dengan bantuan kitab Mazmur (menempatkan kitab Mazmur dibawah kepada pasien, nama-nama Ibrani di desa-desa dan menyebut nama Musa, dan menggunakan symbol bintang Daud. Mereka hidup sebagai suku-suku yang terpencar dan memiliki hokum tradisi yakni Pashtunwali atau hukum Pasthun yang mirip dengan hukum Torah. Pathans bertradisi pernikahan ipar, yang mengharuskan saudara laki-laki menikahi janda saudaranya yang meninggal tanpa keturunan, sama seperti Israel kuno (Ul 25:5-6). Pathans juga bertradisi mengorbankan kambing penebusan, sama seperti masa Israel kuno yang membebankan dosa seluruh bangsa pada domba yang diusir ke gurun dan disembelih (Im16).</p>
<p>Kashmir (India) </p>
<p>Di India bagian utara yakni Kashmir terdapat sekitar 5-7 juta jiwa. Terdapat nama Ibrani di lembah dan didesa-desa di Kashmir seperti Har Nevo, Beit Peor, Pisga, Heshubon. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa bangsa Kashmir keturunan sepuluh suku Israel yang hilang pada pembuangan pada 722 BCE. Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Orang Kashmir memiliki hari raya Pasca pada musim semi, saat dilakukan penyesuaian perbedaan penanggalan candra dan surya, dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang Jahudi. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmiri menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan; tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip, dan merayakan beberapa hari raya Jahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran bait Allah pertama (seperti Hannukah).</p>
<p>Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar)</p>
<p>Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Menashe”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut. Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku (”Lu” berarti suku, dan “si” berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Jahudi, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai “Y’wa”, dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah ber-‘breastplate’, ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe. Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Jahudi. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Melakukan praktek pemujaan berhala dan mempercayai klenik sehubungan dengan roh dan setan. Percaya reinkarnasi tapi percaya Tuhan di sorga akan membantu dalam kesusahan. </p>
<p>Ch’iang-min (Cina)</p>
<p>Orang-orang Ch’iang atau Ch’iang-min (sekitar 250 ribu orang, 1920) bermukim di Propinsi Sechuan, Cina bagian barat, di daerah pegunungan sebelah barat Sungai Min, dekat perbatasan Tibet [Thomas Torrance “The History, Customs and Religion of the Ch’iang People of West China” (1920) dan “China’s First Missionaries: Ancient Israelites” (1937)]. Mereka menganggap diri sebagai imigran dari barat yang datang ke tempat tersebut setelah berjalan selama tiga tahun tiga bulan. Orang Cina menganggap mereka sebagai barbar, dan mereka menilai orang Cina sebagai penyembah berhala (Ch’iang-min percaya hanya pada satu tuhan dan menyebutnya ‘Yawei’ ketika berada dalam kesulitan). Ch’iang-min mempraktekkan persembahan korban yang dilakukan imam, jabatan yang hanya bisa dijabat oleh pria yang sudah menikah (Im 21:7,13) dan diwariskan turun-temurun. Para imam mengenakan jubah putih bersih dan bersurban khusus. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Kel20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan “cacat” (Im21:17-23). Para imam Ch’iang-min menggunakan tali pengikat jubah, dan sebatang tongkat berbentuk seperti ular (kisah Musa di gurun). Setelah berdoa, para imam membakar bagian dalam dan daging korban sembelihan, dan mengambil bagian pundak, dada, kaki dan kulit, sementara dagingnya dibagikan kepada pemberi persembahan. Saat persembahan, mereka mengibarkan 12 bendera di sekitar altar untuk menjaga tradisi bahwa mereka berasal dari satu bapak yang memiliki 12 anak. (Mereka bertradisi sebagai keturunan Abraham dan berleluhur seorang bapak dengan 12 anak). Di antara orang Ch’iang, terdapat tradisi mengoleskan darah pada ambang pintu demi keselamatan dan keamanan rumah, pernikahan ipar, tudung kepala bagi wanita, memberi nama anak pada usia 7 hari hingga menjelang malam ke-40. </p>
<p>Disadur dari : Napak Tilas Suku Israel yang “Hilang”, Agen Akulturasi Jalur Sutra. Heri Muliono, M.Sc, Ir ( 6 Juli 2001). Disusun oleh : Christian P. S</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agus Syafie</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1009</link>
		<dc:creator>Agus Syafie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 18:37:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1009</guid>
		<description>Selain itu, Pulau Sumatera sangat kaya akan emas sehingga orang China menjulukinya Kintcheou (Pulau Emas). 

Mungkinkah semua itu kebetulan belaka? kita harus selidikki lagi kebenarannya...

Thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Selain itu, Pulau Sumatera sangat kaya akan emas sehingga orang China menjulukinya Kintcheou (Pulau Emas). </p>
<p>Mungkinkah semua itu kebetulan belaka? kita harus selidikki lagi kebenarannya&#8230;</p>
<p>Thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agus Syafie</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1008</link>
		<dc:creator>Agus Syafie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 18:33:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1008</guid>
		<description>Dalam kitab ”Perjanjian Lama” disebutkan sekitar tahun 1500 SM, Raja Sulaiman mengirimkan ekspedisi ke Ophir (Ofir). Dari situ ekspedisi membawa 420 talenta emas. Pada 945 Raja Sulaiman (bukan Raja Sulaiman di atas) mengirim lagi kapal-kapalnya ke Ofir untuk mencari emas. 

Pulau Jelai
Mungkin Ofir terletak di Sumatera karena di daerah Tapanuli Selatan terdapat pegunungan Ofir. Di sebelah Timur Ofir ditemukan lagi gunung lain, Gunung Amas (Gunung Emas).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kitab ”Perjanjian Lama” disebutkan sekitar tahun 1500 SM, Raja Sulaiman mengirimkan ekspedisi ke Ophir (Ofir). Dari situ ekspedisi membawa 420 talenta emas. Pada 945 Raja Sulaiman (bukan Raja Sulaiman di atas) mengirim lagi kapal-kapalnya ke Ofir untuk mencari emas. </p>
<p>Pulau Jelai<br />
Mungkin Ofir terletak di Sumatera karena di daerah Tapanuli Selatan terdapat pegunungan Ofir. Di sebelah Timur Ofir ditemukan lagi gunung lain, Gunung Amas (Gunung Emas).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Agus Syafie</title>
		<link>http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1007</link>
		<dc:creator>Agus Syafie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 18:30:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dhymas.wordpress.com/israel-konspirasi/#comment-1007</guid>
		<description>Batak Israeli 


BANGSO BATAK TOBA, KETURUNAN ISRAEL YANG HILANG

Edisi - Revisi

Batak - Israeli)

Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat,
negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari
dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama
Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini
disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.
Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas
kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai
sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan
bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan
dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi
lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.

Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa
Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara
Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun
banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain,
terserak diseluruh dunia.

Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan
orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke
negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak
pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga
dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa
perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan
hidup.

Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian
kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok
penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina,
tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk
Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak
mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah
Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan
sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan
penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di
negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam.
Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup
di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti
Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir
tebal, rambut keriting, dll.

Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut
Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu
memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang
merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.
Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari
mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan
transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya
mengapa ada Israel hitam.

Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-
perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita
tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya
mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang
dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era
Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak
yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu,
dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang
konon ada disana.

Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan
bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel
kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba
sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang
memberikan perhatian terhadap hal ini.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra),
adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang,
pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan
sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD),
sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA
diantara bangsa-bangsa.

Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di
Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah
satu pulau di Lautan Samudera Hindia.

Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula
tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD)
yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan
di Elam, di Sinear, di Hamat dan
di Pulau-pulau di Laut.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta
dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi,
guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik
Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.

Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan
tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam
Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama,
dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar
Alkitab.

Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah
keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi
karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka
bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang
Melayu.

Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel
dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk
pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke
pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin.

Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria.
Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga
dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai
orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu
terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan
menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam
ke perut bumi.

Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel
bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik
Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat
untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi
bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku
yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman
untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur
sejarah dan spiritual.

Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel
kuno adalah sebagai berikut:

1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)

Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui
garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang
tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya
dianggap na lilu - tidak tahu asal-usul - yang merupakan cacat
kepribadian yang besar.

Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang
sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian
Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka
yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang
ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud
dan pihak ibuNya (Maria).

Catatan:

MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah
(patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis
keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah
merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang
meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini,
dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
Menurut buku &quot;Leluhur Marga Marga Batak&quot;, jumlah seluruh Marga Batak
sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols
adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain,
Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta,
kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon,
berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM
LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.

TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila
orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya
Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui
apakah mereka saling &quot;mardongan sabutuha&quot; (semarga) dengan
panggilan &quot;ampara&quot; atau &quot;marhula-hula&quot; dengan
panggilan &quot;lae/tulang&quot; . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah
ia harus memanggil &quot;Namboru&quot; (adik perempuan
ayah/bibi), &quot;Amangboru/Makela&quot; ,(suami dari adik ayah/Om), &quot;Bapatua/
Amanganggi/ Amanguda&quot; (abang/adik ayah), &quot;Ito/boto&quot; (kakak/adik) ,
PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang
dapat kita jadikan istri, dst.

2). Perkawinan yang ber-pariban

Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak,
tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan
untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup
report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini
tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam
bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni
tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan
yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau
anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-
isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah
perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah
terjalin dengan perkawinan.

Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub
menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel.
Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu
dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel
kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan
perkawinan seperti itu.

3). Pola alam semesta

Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua
ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua
toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola
yang sama.

4). Kredibilitas

Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern,
setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah
tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang
tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang
pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang
diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja
sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat
penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan
pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga
demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar
sebagai jaminan janji (Kej. 38).

5). Hierarki dalam pertalian semarga

Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-
laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan
terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan
perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis
keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari
Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang
(bandingkan dengan Rut 1:11).

Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan
saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah
tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu
kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini
diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : &quot;Mardakka do salohot,
marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan&quot;.

Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan
Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas
ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis
silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia
mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami
Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika
ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya,
mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang
paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do
salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

6). Vulgarisme

Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-
beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah:
son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini.
Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan
serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang
spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut
sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk
dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang
dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah
serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege,
hubasbas, huripashon ho annon !!!&quot;. Terjemahannya kira-kira
begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak
kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!&quot;.

Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol
kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa
dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme
seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya
serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis
sama dengan sumpah serapah orang Batak).

7). Nuh dan bukit Ararat

Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar
yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur
ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah
tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab.
Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku
Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan
kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit
Pusuk Buhit.

Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli
Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah
puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada
bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput
gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar
mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya
setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk
Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang
mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena
setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi
berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk
pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi
Pusuk Buhit.

8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)

Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-
belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang
terkait. Alasan ini sangat praktis.
Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari
kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah
lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering
alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat
mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah
sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir
ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam
Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang
belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh
seorang nabi).

9). Peratap/Ratapan

Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota
keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka
menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan
menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung.
Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair
kematian dan syair kesedihan hati.

Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka
mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.
Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan
sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang
pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan
kehadirannya pada setiap ada kematian.

Di desa-desa, terutama di daerah leluhur - Tapanuli - tidak
mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga
dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat
setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung
hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan
sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati
memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar,
sekedar menunjukkan rasa terima kasih.

Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian
si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap
adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga
dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik
yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.

Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-
andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan&quot;
Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah
meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah
tentang mendiang familinya itu.

Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika
Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar
para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap.
Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel
kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati
bukan pada acara kematian.

10). Hierarki pada tubuh

Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi
martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai
permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah.
Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak
kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada
seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah
telapak kakiku ini&quot;, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak
kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh
seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.

Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu
diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa
Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap
dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang
lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap
dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

11). Tangan kanan dan sisi kanan

Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat
kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali
berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena
terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak
tercatat aktivitas sisi `kanan&#039; yang melambangkan penghormatan atau
kehormatan.

Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang
menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca
Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan
hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8,
Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

12). Anak sulung

Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan
bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan
berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika
ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan
mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh
anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu
martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu
adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar,
memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang
melekat pada anak sulung.

Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi
tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku
Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah
anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22,
34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9,
Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan
18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

13). Gender

Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan
silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik
orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama
terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak
perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam
Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali
jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu
Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan
karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-
nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.
Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa,
tetapi anak laki-laki, red.

13). Kemenyan BATAK TOBA

Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera
Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau
cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di
Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa
kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat
cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu
dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan
besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin
bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen
dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus.

Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita
itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama
kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat
dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati
Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat
menyejahterakan masyarakat Tapanuli.

Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. &quot;Nenek saya
pedagang kemenyan,&quot; tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936
neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari
Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan
sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani
dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu
gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16
kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk
Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli.
Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada
ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

14). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari

Di dalam tradisi Parmalim - Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak
bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk
Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah
tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama
dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.

Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene
Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama.
Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi,
asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama-
nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti
itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel
masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan
Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa
kebiasaan yang berbeda dengan suku - suku yang lainnya.

15). Monoteisme Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim

Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba

Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur
batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-
kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.
Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang
menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang
ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.

Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim
sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.

TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo Malim

Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang
Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak
bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu
wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan
tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha
Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh
dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa
mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat
Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.

Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan
Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan
membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah
Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk
kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama
asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu
Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).

Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia
yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu
diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja
pertama di Desa Pancuran, Barus.

Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9,
diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420
talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau.
Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur&#039;an, Surat Al-
Anbiya&#039; 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s.
berlayar ke &quot;tanah yang Kami berkati atasnya&quot; (al-ardha l-lati barak-
Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati
Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir
itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat
pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis
Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang
Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-
15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di
sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Secara &quot;teologis&quot; bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut
paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena
tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi
Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa
uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak
menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno
yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan
kurun waktu ribuan tahun.

16). Ibadah Parmalim

Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual)
Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta
memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat
melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.

Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang &quot;Parmalim&quot; wajib mengikuti 7
aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan
tersebut adalah :

1. Martutuaek (kelahiran)
2. Pasahat Tondi (kematian)
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan
Simarimbulubosi)
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)

Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang &quot;Parmalim&quot; harus
menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan seperti menghormati dan
mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh
berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar
hal tersebut, seorang &quot;Parmalim&quot; juga diharamkan memakan daging
babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah.

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya
dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat
kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo
Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun
temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu
Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi
Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim
layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran
aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata
pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun
kepada Pencipta.

Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan,
ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,&quot;
jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata
Parmalim yang berasal dari kata &quot;malim&quot;.

Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan
Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan
bumi). &quot;Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang
mengutamakan kesucian dalam hidupnya,&quot; jelas Marnangkok. Yang kami
puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan&quot;begu&quot; (roh
jahat),&quot; katanya.

&quot;Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap
Parmalim.&quot; Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon
adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia
mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni
Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi.
Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon)
serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi
Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup
menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin
seperti rakyatnya.

Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan
utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada
Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran
Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan.
Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim
yang mengatakan: &quot;Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so
diakkui Debata pangalahon ta.&quot; (Tidakklah begitu berarti pengakuan
semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap
perilaku kita).

Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau
Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para
raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah
Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku
Yehuda yang dijuluki Singa.

Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin
Parmalim, &quot; Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan
sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?&quot; Nampaknya,
perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam
kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu
bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon.
Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan
hidup suci.

Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, &quot;Berilah
kepada kami
penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini
dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.&quot; Mereka yakin Debata
hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan
yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga
mereka menyerahkan hidupnya pada &quot;kemaliman&quot; (kesucian). &quot;Parmalim
adalah mereka yang menangis dan meratap,&quot; katanya.

17). Ibadah setiap Hari Sabtu - Samisara -Marari Sabtu

Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan
larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah
Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti
Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam
menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau
melakukan kegiatan apapun. Penganut Parmalim melakukan ucapan syukur
pada setiap hari Sabtu.

Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: &quot;Samisara itu
hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu,
supaya berlaku untuk selamanya.

Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa
bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu.&quot;


Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi
yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual
sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan
Hatutubu ni Tuhan.

18). Larangan makan Babi, Anjing, Binatang liar, dan Darah

Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di
antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan
seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah
dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran
Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada
Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan
pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia
dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan
hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.


19). Ritual

Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual
besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap
tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan
Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),
yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.
Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para
Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. &quot;Ini merupakan tanda
syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,&quot; kata
Marnangkok.

20.) Kisah - Mitos

Dalam Kitab Parmalim, yakni Tumbaga Holing, terdapat kisah
manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa
digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim
itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh
sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis
Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan
Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung
mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang,
sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan
cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-
rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah
tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari
Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme
Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim –
Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

dan masih banyak lainnya lagi....

Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk
membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak
jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli
statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain
yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa
Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi
sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta
kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang
lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku
Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa
jadi lebih.

Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau
bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan
seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu
semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu
etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam
kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur
asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan
inferioritas kebudayaan yang menyerapnya.

Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi
positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan
oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi
suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal
balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami
sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai
budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.

Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak
dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India,
Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya,
hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum
masehi).

Dari berbagai sumber.

tulisan ini telah direvisi ulang lagi...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Batak Israeli </p>
<p>BANGSO BATAK TOBA, KETURUNAN ISRAEL YANG HILANG</p>
<p>Edisi &#8211; Revisi</p>
<p>Batak &#8211; Israeli)</p>
<p>Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat,<br />
negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari<br />
dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama<br />
Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini<br />
disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.</p>
<p>Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.<br />
Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas<br />
kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai<br />
sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan<br />
bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan<br />
dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi<br />
lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.</p>
<p>Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa<br />
Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara<br />
Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun<br />
banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain,<br />
terserak diseluruh dunia.</p>
<p>Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan<br />
orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke<br />
negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak<br />
pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga<br />
dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa<br />
perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan<br />
hidup.</p>
<p>Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian<br />
kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok<br />
penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina,<br />
tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk<br />
Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak<br />
mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah<br />
Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan<br />
sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan<br />
penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.</p>
<p>Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di<br />
negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam.<br />
Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup<br />
di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti<br />
Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir<br />
tebal, rambut keriting, dll.</p>
<p>Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut<br />
Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu<br />
memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang<br />
merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.<br />
Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari<br />
mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan<br />
transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya<br />
mengapa ada Israel hitam.</p>
<p>Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-<br />
perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita<br />
tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya<br />
mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang<br />
dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era<br />
Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak<br />
yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu,<br />
dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang<br />
konon ada disana.</p>
<p>Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan<br />
bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel<br />
kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba<br />
sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang<br />
memberikan perhatian terhadap hal ini.</p>
<p>Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra),<br />
adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang,<br />
pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan<br />
sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.</p>
<p>Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD),<br />
sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA<br />
diantara bangsa-bangsa.</p>
<p>Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di<br />
Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah<br />
satu pulau di Lautan Samudera Hindia.</p>
<p>Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula<br />
tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD)<br />
yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan<br />
di Elam, di Sinear, di Hamat dan<br />
di Pulau-pulau di Laut.</p>
<p>Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta<br />
dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi,<br />
guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik<br />
Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.</p>
<p>Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan<br />
tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam<br />
Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama,<br />
dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar<br />
Alkitab.</p>
<p>Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah<br />
keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi<br />
karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka<br />
bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang<br />
Melayu.</p>
<p>Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel<br />
dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk<br />
pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke<br />
pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin.</p>
<p>Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria.<br />
Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga<br />
dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai<br />
orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu<br />
terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan<br />
menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam<br />
ke perut bumi.</p>
<p>Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel<br />
bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik<br />
Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.</p>
<p>Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat<br />
untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi<br />
bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku<br />
yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman<br />
untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur<br />
sejarah dan spiritual.</p>
<p>Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel<br />
kuno adalah sebagai berikut:</p>
<p>1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)</p>
<p>Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui<br />
garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang<br />
tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya<br />
dianggap na lilu &#8211; tidak tahu asal-usul &#8211; yang merupakan cacat<br />
kepribadian yang besar.</p>
<p>Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang<br />
sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian<br />
Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka<br />
yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang<br />
ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud<br />
dan pihak ibuNya (Maria).</p>
<p>Catatan:</p>
<p>MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah<br />
(patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis<br />
keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah<br />
merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang<br />
meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini,<br />
dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.<br />
Menurut buku &#8220;Leluhur Marga Marga Batak&#8221;, jumlah seluruh Marga Batak<br />
sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.</p>
<p>Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols<br />
adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain,<br />
Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta,<br />
kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon,<br />
berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM<br />
LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.</p>
<p>TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.<br />
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila<br />
orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya<br />
Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui<br />
apakah mereka saling &#8220;mardongan sabutuha&#8221; (semarga) dengan<br />
panggilan &#8220;ampara&#8221; atau &#8220;marhula-hula&#8221; dengan<br />
panggilan &#8220;lae/tulang&#8221; . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah<br />
ia harus memanggil &#8220;Namboru&#8221; (adik perempuan<br />
ayah/bibi), &#8220;Amangboru/Makela&#8221; ,(suami dari adik ayah/Om), &#8220;Bapatua/<br />
Amanganggi/ Amanguda&#8221; (abang/adik ayah), &#8220;Ito/boto&#8221; (kakak/adik) ,<br />
PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang<br />
dapat kita jadikan istri, dst.</p>
<p>2). Perkawinan yang ber-pariban</p>
<p>Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak,<br />
tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan<br />
untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup<br />
report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini<br />
tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam<br />
bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni<br />
tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan<br />
yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau<br />
anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.</p>
<p>Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-<br />
isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah<br />
perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah<br />
terjalin dengan perkawinan.</p>
<p>Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub<br />
menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel.<br />
Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu<br />
dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel<br />
kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan<br />
perkawinan seperti itu.</p>
<p>3). Pola alam semesta</p>
<p>Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua<br />
ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua<br />
toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola<br />
yang sama.</p>
<p>4). Kredibilitas</p>
<p>Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern,<br />
setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah<br />
tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang<br />
tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang<br />
pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang<br />
diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja<br />
sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat<br />
penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan<br />
pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga<br />
demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar<br />
sebagai jaminan janji (Kej. 38).</p>
<p>5). Hierarki dalam pertalian semarga</p>
<p>Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-<br />
laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan<br />
terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan<br />
perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis<br />
keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari<br />
Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang<br />
(bandingkan dengan Rut 1:11).</p>
<p>Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan<br />
saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah<br />
tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu<br />
kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini<br />
diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : &#8220;Mardakka do salohot,<br />
marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan&#8221;.</p>
<p>Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan<br />
Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas<br />
ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis<br />
silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia<br />
mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami<br />
Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika<br />
ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya,<br />
mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang<br />
paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do<br />
salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).</p>
<p>6). Vulgarisme</p>
<p>Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-<br />
beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah:<br />
son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini.<br />
Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan<br />
serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.</p>
<p>Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang<br />
spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut<br />
sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk<br />
dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang<br />
dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah<br />
serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege,<br />
hubasbas, huripashon ho annon !!!&#8221;. Terjemahannya kira-kira<br />
begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak<br />
kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!&#8221;.</p>
<p>Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol<br />
kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa<br />
dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme<br />
seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya<br />
serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis<br />
sama dengan sumpah serapah orang Batak).</p>
<p>7). Nuh dan bukit Ararat</p>
<p>Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar<br />
yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur<br />
ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah<br />
tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab.<br />
Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku<br />
Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan<br />
kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit<br />
Pusuk Buhit.</p>
<p>Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli<br />
Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah<br />
puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada<br />
bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput<br />
gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar<br />
mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya<br />
setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk<br />
Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang<br />
mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.</p>
<p>Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena<br />
setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi<br />
berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk<br />
pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi<br />
Pusuk Buhit.</p>
<p>8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)</p>
<p>Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-<br />
belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang<br />
terkait. Alasan ini sangat praktis.<br />
Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari<br />
kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah<br />
lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering<br />
alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat<br />
mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.</p>
<p>Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah<br />
sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir<br />
ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam<br />
Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang<br />
belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh<br />
seorang nabi).</p>
<p>9). Peratap/Ratapan</p>
<p>Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota<br />
keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka<br />
menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan<br />
menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung.<br />
Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair<br />
kematian dan syair kesedihan hati.</p>
<p>Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka<br />
mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.<br />
Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan<br />
sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang<br />
pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan<br />
kehadirannya pada setiap ada kematian.</p>
<p>Di desa-desa, terutama di daerah leluhur &#8211; Tapanuli &#8211; tidak<br />
mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga<br />
dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat<br />
setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung<br />
hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan<br />
sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati<br />
memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar,<br />
sekedar menunjukkan rasa terima kasih.</p>
<p>Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian<br />
si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap<br />
adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga<br />
dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik<br />
yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.</p>
<p>Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-<br />
andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan&#8221;<br />
Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah<br />
meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah<br />
tentang mendiang familinya itu.</p>
<p>Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika<br />
Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar<br />
para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian<br />
Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap.<br />
Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel<br />
kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati<br />
bukan pada acara kematian.</p>
<p>10). Hierarki pada tubuh</p>
<p>Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi<br />
martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai<br />
permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah.<br />
Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak<br />
kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada<br />
seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah<br />
telapak kakiku ini&#8221;, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak<br />
kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh<br />
seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.</p>
<p>Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu<br />
diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa<br />
Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap<br />
dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang<br />
lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap<br />
dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.</p>
<p>11). Tangan kanan dan sisi kanan</p>
<p>Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat<br />
kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali<br />
berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena<br />
terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak<br />
tercatat aktivitas sisi `kanan&#8217; yang melambangkan penghormatan atau<br />
kehormatan.</p>
<p>Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang<br />
menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca<br />
Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan<br />
hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8,<br />
Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.</p>
<p>12). Anak sulung</p>
<p>Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan<br />
bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan<br />
berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika<br />
ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan<br />
mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh<br />
anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu<br />
martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu<br />
adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar,<br />
memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang<br />
melekat pada anak sulung.</p>
<p>Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi<br />
tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku<br />
Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah<br />
anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22,<br />
34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9,<br />
Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan<br />
18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)</p>
<p>13). Gender</p>
<p>Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan<br />
silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik<br />
orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama<br />
terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak<br />
perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam<br />
Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali<br />
jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu<br />
Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan<br />
karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-<br />
nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel.<br />
Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa,<br />
tetapi anak laki-laki, red.</p>
<p>13). Kemenyan BATAK TOBA</p>
<p>Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera<br />
Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau<br />
cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di<br />
Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa<br />
kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat<br />
cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu<br />
dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan<br />
besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin<br />
bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen<br />
dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus.</p>
<p>Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita<br />
itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama<br />
kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat<br />
dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan<br />
Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati<br />
Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat<br />
menyejahterakan masyarakat Tapanuli.</p>
<p>Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. &#8220;Nenek saya<br />
pedagang kemenyan,&#8221; tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936<br />
neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari<br />
Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan<br />
sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani<br />
dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu<br />
gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16<br />
kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk<br />
Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli.<br />
Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada<br />
ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.</p>
<p>14). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari</p>
<p>Di dalam tradisi Parmalim &#8211; Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak<br />
bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk<br />
Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah<br />
tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama<br />
dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.</p>
<p>Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene<br />
Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama.<br />
Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi,<br />
asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama-<br />
nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti<br />
itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel<br />
masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan<br />
Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa<br />
kebiasaan yang berbeda dengan suku &#8211; suku yang lainnya.</p>
<p>15). Monoteisme Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim</p>
<p>Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba</p>
<p>Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur<br />
batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-<br />
kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.<br />
Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang<br />
menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang<br />
ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.</p>
<p>Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim<br />
sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.</p>
<p>TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo Malim</p>
<p>Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang<br />
Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak<br />
bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu<br />
wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan<br />
tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha<br />
Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh<br />
dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa<br />
mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat<br />
Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.</p>
<p>Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan<br />
Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan<br />
membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah<br />
Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk<br />
kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama<br />
asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu<br />
Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).</p>
<p>Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia<br />
yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu<br />
diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja<br />
pertama di Desa Pancuran, Barus.</p>
<p>Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9,<br />
diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420<br />
talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau.<br />
Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur&#8217;an, Surat Al-<br />
Anbiya&#8217; 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s.<br />
berlayar ke &#8220;tanah yang Kami berkati atasnya&#8221; (al-ardha l-lati barak-<br />
Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati<br />
Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir<br />
itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat<br />
pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis<br />
Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang<br />
Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-<br />
15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di<br />
sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.</p>
<p>Secara &#8220;teologis&#8221; bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut<br />
paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena<br />
tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi<br />
Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa<br />
uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak<br />
menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno<br />
yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan<br />
kurun waktu ribuan tahun.</p>
<p>16). Ibadah Parmalim</p>
<p>Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual)<br />
Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta<br />
memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat<br />
melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.</p>
<p>Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang &#8220;Parmalim&#8221; wajib mengikuti 7<br />
aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan<br />
tersebut adalah :</p>
<p>1. Martutuaek (kelahiran)<br />
2. Pasahat Tondi (kematian)<br />
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)<br />
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)<br />
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)<br />
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan<br />
Simarimbulubosi)<br />
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)</p>
<p>Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang &#8220;Parmalim&#8221; harus<br />
menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan seperti menghormati dan<br />
mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh<br />
berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar<br />
hal tersebut, seorang &#8220;Parmalim&#8221; juga diharamkan memakan daging<br />
babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah.</p>
<p>Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya<br />
dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat<br />
kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim</p>
<p>Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo<br />
Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun<br />
temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu<br />
Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi<br />
Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.</p>
<p>Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim<br />
layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran<br />
aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata<br />
pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun<br />
kepada Pencipta.</p>
<p>Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan,<br />
ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,&#8221;<br />
jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata<br />
Parmalim yang berasal dari kata &#8220;malim&#8221;.</p>
<p>Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan<br />
Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan<br />
bumi). &#8220;Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang<br />
mengutamakan kesucian dalam hidupnya,&#8221; jelas Marnangkok. Yang kami<br />
puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan&#8221;begu&#8221; (roh<br />
jahat),&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap<br />
Parmalim.&#8221; Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon<br />
adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia<br />
mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni<br />
Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi.<br />
Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon)<br />
serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi<br />
Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup<br />
menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin<br />
seperti rakyatnya.</p>
<p>Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan<br />
utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada<br />
Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran<br />
Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan.<br />
Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim<br />
yang mengatakan: &#8220;Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so<br />
diakkui Debata pangalahon ta.&#8221; (Tidakklah begitu berarti pengakuan<br />
semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap<br />
perilaku kita).</p>
<p>Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau<br />
Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para<br />
raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah<br />
Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku<br />
Yehuda yang dijuluki Singa.</p>
<p>Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin<br />
Parmalim, &#8221; Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan<br />
sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?&#8221; Nampaknya,<br />
perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam<br />
kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu<br />
bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon.<br />
Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan<br />
hidup suci.</p>
<p>Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, &#8220;Berilah<br />
kepada kami<br />
penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini<br />
dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.&#8221; Mereka yakin Debata<br />
hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan<br />
yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga<br />
mereka menyerahkan hidupnya pada &#8220;kemaliman&#8221; (kesucian). &#8220;Parmalim<br />
adalah mereka yang menangis dan meratap,&#8221; katanya.</p>
<p>17). Ibadah setiap Hari Sabtu &#8211; Samisara -Marari Sabtu</p>
<p>Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan<br />
larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah<br />
Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti<br />
Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam<br />
menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau<br />
melakukan kegiatan apapun. Penganut Parmalim melakukan ucapan syukur<br />
pada setiap hari Sabtu.</p>
<p>Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: &#8220;Samisara itu<br />
hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu,<br />
supaya berlaku untuk selamanya.</p>
<p>Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa<br />
bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu.&#8221;</p>
<p>Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi<br />
yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual<br />
sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan<br />
Hatutubu ni Tuhan.</p>
<p>18). Larangan makan Babi, Anjing, Binatang liar, dan Darah</p>
<p>Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di<br />
antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan<br />
seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah<br />
dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran<br />
Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada<br />
Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan<br />
pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia<br />
dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan<br />
hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.</p>
<p>19). Ritual</p>
<p>Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual<br />
besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap<br />
tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan<br />
Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),<br />
yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.<br />
Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para<br />
Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. &#8220;Ini merupakan tanda<br />
syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,&#8221; kata<br />
Marnangkok.</p>
<p>20.) Kisah &#8211; Mitos</p>
<p>Dalam Kitab Parmalim, yakni Tumbaga Holing, terdapat kisah<br />
manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa<br />
digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim<br />
itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh<br />
sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis<br />
Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan<br />
Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung<br />
mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang,<br />
sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan<br />
cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-<br />
rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah<br />
tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari<br />
Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme<br />
Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim –<br />
Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.</p>
<p>dan masih banyak lainnya lagi&#8230;.</p>
<p>Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk<br />
membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak<br />
jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli<br />
statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain<br />
yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa<br />
Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi<br />
sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta<br />
kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang<br />
lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku<br />
Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa<br />
jadi lebih.</p>
<p>Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau<br />
bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan<br />
seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu<br />
semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu<br />
etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam<br />
kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur<br />
asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan<br />
inferioritas kebudayaan yang menyerapnya.</p>
<p>Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi<br />
positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan<br />
oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi<br />
suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal<br />
balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami<br />
sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai<br />
budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.</p>
<p>Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak<br />
dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India,<br />
Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya,<br />
hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum<br />
masehi).</p>
<p>Dari berbagai sumber.</p>
<p>tulisan ini telah direvisi ulang lagi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
