Pada tanggal 6 Mei 1831 di lembah terbuka Balakot terjadi
pertempuran sengit antara pasukan Sabilillah yang dipimpin
oleh syed Akhmad Berelvi melawan pasukan Sikh dari
kemaharajaan Ranjit Singh Punjab. Pada pertempuran Balakot
itulah syed Ahmad tewas. Kekalahan beliau disebabkan
pengkhianatan beberapa suku yang membalik membantu musuh
serta membocorkan seluruh rencana syed Ahmad.
Maka berakhirlah karier gemilang dari seorang pembaharu
agama dan kemasrakatan, organisator dan penggerak motor
jihad di anak benua itu. Syahidnya beliau berarti awan gelap
meliputi kehidupan kaum muslimin. Di hadapan mereka berdiri
tegak kekuatan raksasa bangsa Sikh dan bangsa Inggris,
bagaikan dua buah tombak yang dihunjarnkan pada tubuh Islam
sekaligus. Kaum muslimin hampir saja kehilangan milik mereka
yang paling berharga kepribadian Islamnya. Namun pada
hakikatnya apa yang telah diwariskan oleh syed Ahmad Berelvi
pada mereka yang ditinggalkan, sangat berharga. Titik-titik
cerah dari cahaya Islam masih menerobos awan gelap yang
meliputi kaum Muslimin. Kekuatan bertahan serta kekuatan
untuk bangkit kembali masih ada pada mereka. Justru
kekuatan-kekuatan itulah yang sanggup menyambung gairah
untuk hidup, kendati mereka berada di bawah cengkeraman
bangsa Sikh. Semangat jihad yang disponsori oleh syed Ahmad
Berelvi terus tertanam pada generasi Muslim sesudah beliau.
Peristiwa Balakot mendorong mereka untuk lebih waspada
terhadap unsur-unsur di dalam tubuh sendiri yang secara
tidak terduga-duga membalik berkhianat dan membantu
musuh-musuh Islam.
Syed Ahmad Berelvi adalah dari keluarga Shah Waliullah dari
Delhi yang selalu menanamkan petuah-petuah Agama pada beliau
serta menanamkan doktrin hidup "keras terhadap kuffar, lemah
lembut pada sesama saudara." Doktrin hidup tersebut tertanam
dalam-dalam pada lubuk hati syed Ahmad.
Waktu itu Punjab ada di bawah kekuasaan bangsa Sikh yang
memperlakukan kaurn Muslimin dengan tindakan-tindakan kejam,
keji, pembunuhan, penghinaan terhadap Agama Islam yang tak
habis-habisnya. Dalam suasana yang demikian mencekam itu
bersama-sama dengan cucu Shah Waliullah, Shah Ismail, Syed
Ahmad membangun gerakan yang paling berani, gerakan untuk
berjihad. Mula-mula gerakan itu bersemi dari Bengal kemudian
ke Bihar terus ke Utra Pradeis dan dari sana beliau bersama
pasukan sabilnya mengadakan long March ke suatu pangkalan
yang beliau tuju. Dari situlah syed Ahmad mengumandangkan
takbir jihadnya. Di Panjtar pasukan sabilillah syed Ahmad
berhadapan dengan pasukan Perancis tentara sewaan raja Sikh
Ranjit Singh yang dipimpin oleh Jendral Ventura. Serangan
mendadak pasukan Ventura itu dapat ditangkis dan dihalau
oleh pasukan syed Ahmad; kemudian beliau bersama pasukannya
melancarkan serangan-serangan balas. Daerah-daerah yang
berhasil dibebaskan oleh beliau kemudian ditegakkan sistim
pemerintahan Khalifah sebagaimana zaman Khulafaur-Rasyidin .
Operasi jihad yang dilancarkan syed Ahmad itu sangat
menggetarkan hati musuh-musuhnya. Semenjak itu lawan-lawan
Islam gentar bila mendengar kata-kata "jihad" saja. Itulah
sebabnya mereka menanam benih-benih perpecahan di kalangan
pengikut-pengikut syed Ahmad, guna melumpuhkan keampuhan
gerakan jihadnya.
Pada peristiwa Balakot, karier gemilang seorang mujahid
sampai pada akhirnya. Beberapa suku yang bergabung dengan
beliau menggunting dalam lipatan; mereka membocorkan seluruh
rencana syed Ahmad, dan tatkala pasukan Sikh melancarkan
serangan dahsyat, mereka membalik membantu musuh-musuh Islam
itu. Maka jatuhlah korban-korban syuhada' dan diantara para
korban itu syahidlah syed Ahmad Berelvi. Pengabdian beliau
pada Agama dan Negara tidak sia-sia. Mereka yang
ditinggalkan menjadi pewaris-pewaris sejati yang meneruskan
gerak-langkah jihad di kemudian hari.1
Catatan kaki:
1 Hassan Kaleemi, The jihad movement of syed Ahmad
Shaheed, Perspective vol 11 & 12, 1969, Pakistan
Publications Karachi, hal. 63/64/65.
Pada tanggal 4 Mei 1799 Sultan TIPU dari Mysore, India
gugur. Putera dari negarawan terkenal Sultan Heidar Ali itu
tewas dalam pertempuran yang tidak sebanding melawan
Inggris. Syahidnya Sultan Tipu telah mengawali terbitnya
fajar baru abad 19 Masehi dengan lembaran sejarah suram
serta isyarat lampu merah bagi muslimin India.
India semenjak itu merupakan kaca perbandingan bagi seluruh
Asia yang mencerminkan penderitaan-penderitaan yang dialami
ummat Islam. Ia seolah-olah merupakan sarang kesukaran ummat
dan tubuh yang sangat menderita oleh kesukaran-kesukaran
itu. Pada peristiwa jatuhnya benteng Sringamatam, tidak
kurang dari 1000 kanon (meriam) yang jauh lebih modern
keadaannya jatuh ke tangan musuh. Success yang dicapai
Inggris sehingga jatuhnya kerajaan Islam yang jaya itu,
tidak lain karena bantuan para pengkhianat orang-orang
seperti Nizam dan Marathas, penguasa-penguasa wilayah di
tetangga sultan.
Pada mulanya mereka hanya kelihatan bersahabat dengan
Inggris. Justru sikap lahiriyah yang bersahabat itu saja
sudah menjengkelkan hati sultan. Beliau telah mensinyalir
bahwa kedatangan orang-orang Inggris ke negerinya bukan saja
sebagai pedagang, akan tetapi mereka menyusun pergerakan di
bawah tanah yang sangat membahayakan kestabilan kerajaan.
Itulah sebabnya beliau memberi peringatan-peringatan pada
Nizam dan Marathas agar keduanya tidak mendekati Inggris.
Namun peringatan-peringatan beliau itu tidak dihiraukan.
Karena situasi yang membahayakan maka Sultan Tipu segera
mengadakan kontak dengan Turki dan Iran, minta agar negara
itu bersedia membangun pangkalan angkatan laut yang kuat
bagi sultan. Usaha-usaha pendekatan ini cepat sekali
tertangkap oleh jaringan mata-mata Inggris yang tersebar
luas dalam kalangan anak negeri. Effeknya sangat merugikan,
sehingga rencana-rencana sultan jadi gagal. Pada saat-saat
itulah, tepatnya pada tahun 1791 Inggris melancarkan
serangan mendadak dengan bantuan kawan-kawan, Nizam dan
Marathas dimana kedua golongan ini telah berjanji setia.
Betapa sedihnya hati sultan terhadap tindakan mereka yang
hina itu. Negeri yang dibangunnya begitu payah sehingga
menjadi makmur dan kuat, dimana industri dan pertanian maju,
sistim tuan tanah dihapuskan, irigasi dan bendungan dibangun
secara modern; hubungan perdagangan antar kota dan antar
negara pesat, kapal-kapal dagang yang besar banyak berlabuh.
Lebih dari itu kemajuan yang dicapai Sultan Tipu dalam
bidang militer sungguh menakjubkan; kanon-kanon (meriam)
modern yang lebih baik dari milik Inggris serta armada kapal
perang bahkan beberapa penulis sejarah mencatat Sultan Tipu
telah memiliki senjata-senjata roket yang ampuh. Semua hasil
jerih payahnya itu telah dipersiapkan oleh orang-orang
sebangsanya untuk dihadiahkan pada Inggris.
Setahun kemudian yakni tahun 1792 di Sringamatam pusat dari
kerajaan sultan, para pengkhianat itu memperkokoh lagi
persahabatan mereka dengan Inggris dengan perjanjian
pertahanan bersama. Peristiwa tersebut menusuk hati sultan
begitu parahnya sehingga beliau meninggalkan makan makanan
istana, bahkan beliau tidak lagi berbaring di peraduannya,
melainkan seringkali tampak tertidur dengan kemelut jiwa
yang dalam, di atas sebuah batu.
Beliau berusaha bangkit kembali dari awal-awal keruntuhannya
itu, namun kondisi dan situasi negeri sudah begitu parah,
sehingga segala daya upaya sultan menjadi lumpuh. Bahkan
klimax dari awal-awal kehancuran telah tiba. Pada saat-saat
yang demikian beliau mengirim pasukan-pasukan ke berbagai
daerah wilayahnya untuk mengembalikan kestabilan keamanan
serta kepercayaan rakyat pada beliau. Saat-saat itulah yang
dinanti-nantikan para pengkhianat, saat-saat kosongnya
pasukan pertahanan di ibukota kerajaan. Mereka segera
mengundang sahabat mereka Inggris untuk melakukan serangan
mendadak lagi. Undangan mereka itu tidak disia-siakan oleh
Inggris. Dengan kekuatan pasukan yang besar Inggris
melakukan pengepungan tapal-kuda atas benteng Sringamatam.
Sultan Tipu sangat terkejut atas hadirnya musuh secara
tiba-tiba itu. Dengan beberapa pengiringnya beliau keluar
dari benteng untuk melihat dari dekat gerak-gerik musuh.
Tatkala beliau balik pulang ke benteng, tiba-tiba pintu
gerbang benteng itu telah tertutup. Orang-orang pengabdi
Inggris di dalam benteng itu telah menutup pintu gerbang dan
menjebak Sultan Tipu dalam perangkap yang tidak berdaya.
Pada saat-saat itulah pasukan Inggris menyerang beliau
dengan suatu pukulan dahsyat. Namun Sultan yang gagah berani
itu melawan mati-matian bahkan pada akhirnya beliau masih
sanggup membendung arus kekuatan musuh hingga hari petang.
Padahal sejak pagi hari beliau tidak makan dan minum.
Keadaan yang drastis ini sangat memllukan hati para
pengiringnya. Salah seorang mendekati beliau dan menyarankan
agar menyerah saja demi keselamatan belia! sendiri. Akan
tetapi Sultan Tipu dengan nada keras dan marah berkata:
"Lebih baik bagiku hidup singkat dan mati sebagai
singa, daripada hidup untuk seratus tahun namun tetap
terhina."
Akhirnya pada tanggal 4 Mei 1799 Sultan Tipu syahid bersama
Jatuhnya benteng Sringamatam dan kerajaannya. Kemenangan
Inggris atas diri beliau semata-mata karena ada orang-orang
dalam yang berkhianat, menggunting dalam lipatan menohok
kawan seiring. Semenjak itulah setapak demi setapak anak
benua itu dicaplok oleh Inggris. Bersama-sama dengan kaum
Sikh, Inggris dan orang dalam yang mengabdi, ummat Islam
berada di ujung dua tombak yang mematikan, membunuh segala
milik pribadi mereka. Islam di India redup bagaikan lampu
kehabisan minyak.1
Catatan kaki:
1 M. Zahoor Amed, The sultan who slept on stone,
perspective vol V, no. 11 & 12, 1972, Time Press
Karachl, hal. 70/71.
Mirza Jumpa “Tuhannya” (Kisah tentang “Tetes-tetes Merah”)
Mungkin dikarenakan gagal memperoleh balasan cintanya pada
dara ayu Muhammadi Begum, mungkin dikarenakan gagal
menyembunyikan perangai-perangainya yang buruk dan kejam,
mungkin juga dikarenakan gagal melaksanakan tugasnya sebagai
nabi palsu, atau mungkin dikarenakan gagal memelihara
kondisi tubuhnya maupun jiwanya, atau last but not least
dikarenakan jeritannya yang pilu di lembah Golgotta Qadian
itu, maka orang ini yakni Jesus Kristus dari India Mirza
Ghulam Ahmad, mendapat simpati dan belas kasih dari BAPAKNYA
di sorga untuk istirahat serta mendapat cuti.
Mirza Ghulam Ahmad tidak cuti ke Srinagar Kashmir menziarahi
Jesus Kristus IsraeIi atau cuti ke London menghadap tuannya
British, melainkan ia cuti naik ke atas, ke langit ketujuh
terus lagi ke Sidrah Muntaha, terus lagi dan terus lagi
sampai ke tempat dimana tuhan Bapaknya bertahta. Tentu saja
kisah cuti berlibur Mirza Ghulam Ahmad itu adalah kisah
"Mi'raj"nya yang paling hebat, lebih hebat dari pada,
seandainya ia sanggup mengeringkan lautan India. Inilah dia
jalan cerita "mi'raj" Mirza Ghulam Ahmad:
KISAH TENTANG "TETES-TETES MERAH"1
"Waktu itu musim panas bulan Mei atau Juni 1884, ketika
Hazrat Ahmad selesai sembahyang subuh pada suatu pagi
menyingkir ke sebuah kamar sebeIah timur dari mesjid
Mubarak. Tempat itu sejuk disebabkan tembok-temboknya baru
dilepa (diplaster). Beliau membaringkan diri di atas sebuah
carpai (semacam balai-balai tempat tidur dengan alasnya tali
yang dianyamkan pada bingkainya) yang beliau biasa sediakan
di sana. Carpai itu tak berlapik atau bantal. Beliau
berbaring menghadap ke utara dengan kepala ke arah barat.
Lengannya yang sebelah dijadikan sebagai bantal dan lengan
yang satu beristirahat di atas kepala.
Maulvi Abdullah Sanauri mulai memijiti kaki beliau
sebagaimana lumrahnya orang timur untuk memperlihatkan rasa
hormat dan bakti; dan beIiau ini mengatakan bahwa waktu itu
ialah hari Jum'at, hari ke 27 bulan Ramadhan.
Beliau tengah menekuri dan merasa-rasakan akan besarnya
nikmat yang melimpah atas diri beliau, tiba-tiba sekujur
badan Hazrat Ahmad sekonyong-konyong menggigil. Hazrat Ahmad
menoleh kepada Maulvi Abdullah Sanauri yang dapat melihat
bahwa kedua belah mata hazrat Ahmad berlinang-linang.
Beberapa saat sesudah itu beliau melihat setetes cairan
berwarna merah di atas salahsatu kaki hazrat Ahmad, di dekat
mata kaki, dan nampaknya baru saja saat itu menetes.
"Saya raba dengan satu tangan kanan saya," kata beliau, dan
kemudian saya menciumnya, tetapi tidak ada baunya. Kemudian
saya perhatikan ada lagi tetes besar di kemeja beliau di
betulan rusuk beliau. Tetes itu juga masih baru. Saya
berdiri perlahan-lahan dan melihat ke sekitar kamar untuk
menyelidiki sumber atau sebab dari pada tetes-tetes itu.
Kamar itu ukurannya kecil berlangit rendah, dan saya
selidiki dengan cermat tiap sudut supaya saya merasa puas
tetapi tidak nampak sesuatu jejak yang kiranya dapat menjadi
sebab adanya tetes-tetes merah itu.
Oleh karena itu saya duduk lagi di atas carpai dan mulai
memijit-mijit kaki Hazrat Ahmad. Beberapa detik kemudian
beliau bangkit lalu keluar dari kamar dan duduk di mesjid.
Saya mengikuti ke sana dan duduklah saya di belakang beliau
untuk memijit pundak beliau. Lalu saya bertanya pada beliau
tentang tetes-tetes itu. Beliau menjawab dengan acuh tak
acuh, tetapi saya bertanya lagi atas pertanyaan itu beliau
kembali bertanya, bahwa tetes-tetes apa yang saya maksudkan.
Saya menunjuk pada tetes yang melekat di kemeja beliau.
Beliau melihatnya dan kemudian menerangkan kepada saya
dengan beberapa tamsil akan gejala-gejala suatu kashaf
dengan mana beberapa hal yang nampak dalam pandangan ghaib,
benar-benar terwujud ke dalam alam fisika. Apa yang telah
terjadi dituturkan oleh Hazrat Ahmad sebagai berikut:
"Didalam kashaf dalam keadaan bangun, nampak padaku suatu
gedung yang anggun lagi indah. Di dalamnya ada sebuah sofa
yang di atasnya duduk seseorang yang berkepribadian hebat.
Dia adalah TUHAN sendiri. Pikiranku merasa seolah-olah aku
menjadi seorang petugas di dewan Ilahi. Aku telah menuliskan
dekrit-dekrit tertentu yang kupersembahkan di hadapan YANG
MAHA KUASA untuk di tandatanganiNya. Aku diajakNya duduk di
atas sofa itu dengan rasa kasih dan sayang yang mendalam
seperti seorang ayah.
Kemudian IA mencelupkan tangkai pena-NYA ke tempat tinta,
digoyangkanNYA sedikit, dan kemudian menandatangani dokumen-
dokumen itu. Tetes-tetes merah yang kaulihat adalah dia itu
yang jatuh dari tanganNYA tatkala IA menggoyangkan NYA."
Kemudian Hazrat Ahmad meminta kepada Maulvi Sanauri untuk
melihat apakah barangkali ada tetes-tetes yang jatuh pada
bajunya; dan alangkah gembiranya beliau ketika dilihatnya
bahwa satu tetes terdapat pula pada kopiyah beliau sendiri.
Maulvi Sanauri Abdullah sangat tergerak hatinya dan terkesan
oleh gejala yang ajaib itu, dan karena beliau merupakan
saksi dari tindakan kecil dari penciptaan Ilahi, beliau
meminta kepada hazrat Ahmad untuk memberikan kemeja yang
dibekasi oleh tetes-tetes merah itu.
Hazrat Ahmad yang mempunyai roh seperti Rasulullah s.a.w.
agak segan dan ragu-ragu, takut kalau-kalau di kemudian hari
para pengikut beliau akan memuja-muja kemeja itu akan tetapi
ketika Maulvi Sanauri mendesaknya juga, akhirnya Hazrat
Ahmad memberikannya kepada beliau dengan satu syarat, bahwa
kemeja itu harus dipendam bersama beliau apabila beliau
meninggal dunia.
Maulvi Abdullah Sanauri ketika itu berusia duapuluh tahun.
Beliau datang ke Qadian dua tahun sebelum itu. Beliau tetap
sebagai seorang sahabat imam Mahdi yang setia sampai akhir
hayat beliau. Beliau pulang ke rahmatullah pada hari Jum'at
tanggal 7 Oktober 1927. Beliau dikebumikan dengan mengenakan
kemeja peringatan yang dibekasi tetesan tinta kudus itu yang
beliau bawa serta selama-lamanya ke mana-mana, siang malam
selama 43 tahun lamanya. Beliau tidak pernah bercerai dari
kemeja itu. Kemeja itu merupakan suatu tanda yang murni dari
Tuhan dan suatu hadiah yang berharga yang seorang manusia
dapat peroleh dari atas. Beliau simpan benda pusaka itu
baik-baik di dalam sebuah peti kayu yang khusus dibuat untuk
itu, yang sebelah atasnya dipakaikan kaca, dan kemeja itu
dilipatnya sedemikian rupa hingga tetes-tetes merah itu
dapat terlihat.
Atas perintah dari Hazrat Khalifatul Masih II (imam jema'at
yang sekarang, Khalifah II meninggal tahun 1965 - pen.)
beliau suka mempertunjukkan kemeja itu kepada orang-orang
sehingga saksi-saksi dari pertanda ilahi itu mungkin sudah
berjumlah ribuan orang banyaknya. Diantara saksl-saksi itu
dapat disebutkan bapak Maulvi Zaini Dahlan, bapak Maulvi
Abubakar Ayyub H.A, bapak Maulvi Ahmad Nurdin dan lain-lain
dari Indonesia yang sedang belajar di Qadian pada waktu itu.
Acapkali beliau memandangnya dengan air mata menggenangi
kedua mata beliau karena dirangsang oleh perasaan suka dan
duka. Muka beliau akan menjadi bersinar-sinar layaknya
sewaktu memandangi benda hadiah yang amat berharga itu dan
tiba-tiba saja akan berubah menjadi lesu dan sayu, karena
kenangan beliau sampai kepada seorang yang beliau cinta dan
khidmati setiap detik seumur hidup beliau.2
Demikianlah cerita kejadian yang unik tentang tetes-tetes
merah itu. Suatu peristiwa yang merupakan saksi dari
tindakan kecil, kata Ahmadiyah, dari penciptaan llahi. Suatu
tindakan kecil dari Tuhan? Amboi, itu adalah sebaliknya; itu
adalah suatu peristiwa besar, peristiwa hebat, maha hebat.
Itu adalah kissah mi'raj nabi dari india, kisah pertemuan
mesra dengan tuhannya kisah pertemuan anak dengan Bapaknya,
kisah penanda-tanganan dekrit, kisah baliknya sang nabi
dengan dokumen bertanda-tangan TUHAN. Itu adalah kisah
jatuhnya tinta Tuhan ke dunia, kisah pemberian hadiah
orisinil dari atas, kisah ribuan mata saksi-saksi dari
kemeja sang nabi yang kena tinta merah Tuhannya.
Bahkan itu semuanya adalah kejadian yang terhebat yang
pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia. Maka ketahuilah,
inilah bukti yang tidak bisa dibantah oleh seorangpun dari
pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad. Setiap Ahmadiah harus
meyakininya.
Menanggapi kisah tetes-tetes merah dan kisah mi'raj nabi
Qadian itu, baik dari segi alam spirituil yang mempunyai
hukum-hukum tersendiri, maupun dilihat dari segi dimensi
lain yang tidak tertangkap oleh sembarang orang, maka tidak
seorang immaterialispun yang akan percaya pada peristiwa
yang dialami Mirza Ghulam. Lebih-lebih lagi orang beriman
tauhid akan mencampakkan cerita dari Ahmadiyah itu ke
keranjang sampah.
Itu adalah suatu kejenakaan dan suatu kegilaan! Peristiwa
itu lebih berani dari pada peristiwa Isa a.s. yang diangkat
oleh kaum Keristen sebagai anak Tuhan sekaligus sebagai
tuhan Yesus. Alam spirituil yang manakah yang akan
mempercayai cerita Mirza Ghulam Ahmad itu? Kalau tidak
kebatilan-kebatilan yang sengaja menyusup ke dalam Islam.
Mirza Ghulam Ahmad telah menjadi arsitek tuhannya, melihat
tuhannya sebagai "Seseorang yang berpribadian hebat, sedang
duduk di atas sofa dalam suatu gedung yang anggun lagi
indah, kemudian Mirza mengajukan dokumen dan tuhannya
menandatanganinya, dengan mencelupkan dahulu tangkai penanya
yang kemudian di-goyangkanNYA dan karena goyangan itu maka
beberapa tetes telah jatuh ke dunia, di India-Punjab-
Gundaspur-Qadian, tepatnya di dalam bilik Mirza Ghulam Ahmad
dan langsung kena kaki, kemeja dan kopiah sang nabi itu."
Mirza Ghulam Ahmad telah menunjukkan bukti dari
pengalamannya itu, dan kebetulan sekali kita semua
menghendaki bukti Akan tetapi sayang sekali kita tidak
mendapat barang bukti "Setetes-tetes merah" itu sebagai
bahan bukti, sebab maulvi Sanauri Abdullah lekas mati. Lebih
sayang lagi barang bukti kemeja yang kena tinta tuhan itu
dibawanya ke liang kubur. Sehingga laboratorium tidak
mungkin lagi dapat meneliti tinta Tuhan itu untuk dijadikan
bukti.
Akan tetapi kiranya dapat dijadikan suatu jaminan bahwa
tetes-tetes merah alias tinta Tuhan itu tetap terpelihara di
dalam tanah, baik warna maupun zatnya. Bukankah itu tinta
Tuhan?
Warna itu sendiri, ah sayang sekali tidak sama dengan warna
ke Islaman selama ini. Alangkah senangnya bila tinta Tuhan
itu berwarna hijau cocok dengan bendera-bendera lambang-
lambang keislaman yang kita pakai selama ini. Juga sayang
bahwa tinta Tuhan itu tidak berbau sedap, padahal tinta
parker yang kita pakai selalu itu segar baunya.
Walhasil barang bukti telah lenyap dalam tanah, kecuali jika
khalifah Ahmadiyah yang sekarang memberi izin untuk
membongkar kubur Sanauri Abdullah mengambil kemeja yang
bertinta Tuhan itu dan memeriksakannya ke laboratorium. Jika
tidak mungkin, bagaimana dengan bukti yang lain? Yaitu
dokumen-dokumen yang ditanda-tangani tuhan Mirza? Tidakkah
itu masih tersimpan aman di Qadian atau di Rabwah? Dari
betapa besar hasrat hati ummat manusia sedunia untuk
melihatnya, melihat TANDA-TANGAN TUHAN!
Orang-orang Ahmadiyah yang tanpa berpikir lagi langsung
meyakini cerita-pengalarnan nabinya bertemu denganTuhan,
adalah bukti nyata dari berbagai-bukti lainnya, tentang
kejahilan alam pikiran mereka dan kebekuan hati mereka.
Mereka dengan penuh kesadaran, tanpa malu telah menunjukkan
pada dunia di luar organisasi mereka akan tingkah laku
nabinya yang aneh dan gila itu. Suatu hallusinasi dari Mirza
Ghularn Ahmad disebabkan penderitaan sarafnya, radang otak
kesadarannya, pengaruh diabetes dan komplikasi yang lain,
telah mengelabui mata, pikiran
Seorang Alim, seorang Sufi, seorang Wali Allah dan sanggup
atau dapat memperoleh ru'yah, dapat berkashaf dalam bangun
atau dalam tidur menjelajah alam jagad, alam arwah, atau
alam malakut, akan tetapi tidak dengan kashaf itu lalu
bertemu dengan Tuhan!
Maha ghaib Allah, maha suci DIA yang telah menjalankan
hambaNya dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, kemudian
naik ke atas sampai pada suatu tempat dimana tidak seorang
Rasul maupun Malaikat bisa sampai kesana. Akan tetapi tidak
dengan mi'raj itu beliau s.a.w. telah melihat Tuhan.
Akan tetapi pada abad ke-XIX Masehi, justru muncullah
seorang dari Qadian India, yang mengaku Al-Mahdi, Al-Masih
Nabi dan Rasul, pergi ke atas dan melihat Tuhan. Ia amat
berani untuk tidak merahasiakan keajaiban pengalaman-
pengalamannya itu ia berani sebab ia adalah seorang yang
diutus IBLIS untuk mengobrak-abrik ajaran- ajaran Islam,
meracuni alam pikiran kaum muslimin serta merusak iman
rnereka. Ia, Mirza Ghulam Ahmad ini, adalah Musailamah
modern abad ke-19 Masehi dan kumpulan dari DAJJAL yang
disabdakan Nabi Muhammad s.a.w dalam sabda beliau:
"Tidak akan datang hari kiamat sebelum muncul tigapuluh
DAJJAL yang masing-masing mengaku dirinya adalah NABI."
(shahih Muslim-Ahmad bin Hambal)
Catatan kaki:
1 Majalah Ahmadiyah "Sinar Islam" judul: "Suatu
Kejadian Yang Unik" no. 4/5/6 th. XIV, April/Mei/Juni,
1964, Jakarta Djemaat Ahmadiyah Indonesia, hal. 47.
2 Sinar Islam, no. 4/5/6. th. XIV 1964, April/Mei/Juni,
hal. 45/48.
Kali ini Mirza Ghulam Ahmad menjabat sebagai nabi Ibrahim
India dengan mu'jizat yang terkenal, memadamkan api. Ia
sendiri dengan bangga berkata:
"Zaman Nabi Ibrahim a.s. sudah lampau. Aku atas
perintah Allah Ta'ala mewakili beliau diabad ini. Boleh
lihat kalau ada musuh yang mencampakkan aku ke dalam
api, dengan karunia Allah Ta'ala api itu akan menjadi
dingin untukku."1
Kemudian tuhan Mirza menyatakan padanya:
"Aku selalu menjaga keselamatanmu dan memerintahkan:
wahai api (mereka yang menentangmu) dinginlah engkau
pada Ibrahim ini dan damailah padanya."2
Demikian jaminan tuhan pada Mirza Ghulam Ahmad sebagai
Ibrahim abad 19 masehi. Pada suatu hari nabi Ibrahim ini
telah mempraktekkan mujizatnya dengan hasil memuaskan.
Diceritakan oleh cucunya, Mirza Mubarak Ahmad, bagaimana
kakeknya Ibrahim Mirza itu telah berhasil menyembuhkan
penyakit t.b.c. seorang pemuda yang hampir mati. Ceritanya
begini, kata si cucu: "Pada sekali peristiwa Lala Malawamal
ini diserang penyakit t.b.c.; keadaannya sangat payah,
bahkan tidak ada harapan sama-sekali. Pada suatu hari ia
menghadap Hazrat Masih Mau'ud Mirza Ghulam Ahmad dan
menceritakan penyakitnya sambil menangis-nangis
tersedu-sedu. Ia minta dengan kerendahan hati agar hazrat
Mau'ud mendoakannya. Pemuda Malawamal itu seorang musuh
Islam juga tetapi hatinya mengakui kesucian beliau a.s.
Melihat keadaan Malawamal demikian beliau merasa kasihan dan
terus mendoakannya dengan tawajuh yang khusus, sehingga
turun kepada beliau ilham: 'qul ya naaru kuni bardan wa
salaaman.'"3
Ilham tersebut oleh Ahmadiyah diterjemahkan menjadi:
"Wahai api penyakit, dinginlah engkau bagi anak muda
ini, jadilah engkau sebagai penjaga dan keselamatan
baginya."4 Karena ilham itulah maka pemuda Malawamal
menjadi sembuh. Bahkan menurut Ahmadiyah ia mencapai
usia 100 tahun. Maknanya jika usia setua itu
dihubungkan dengan tahun-tahun masehi sekarang ini
mungkin sang pemuda itu masih hidup saat ini. Sayang
sekali bahwa Ahmadiyah tidak mengambil foto pemuda
Malawamal itu. Apakah ia sudah tidak memusuhi Islam
lagi, apakah ia sudah Ahmadiyah? Soal-soal itu tidak
penting bagi kita untuk mengetahui maupun menyelidiki
kebenarannya. Yang penting sebenarnya terletak pada
diri "sang penyembuh" itu sendiri, yakni Mirza Ghulam
Ahmad.
Sungguh suatu surprise bahwa hanya dengan do'a semata-mata
penyakit t.b.c. yang hampir merenggut nyawa anak muda itu
dapat dilenyapkan oleh Mirza. Padahal jika sejarah
memperhatikan jalan hidup Mirza Ghulam Ahmad, akan diketahui
secara menyolok bahwa sang penyembuh Mirza itu sendiri
ternyata tidak pernah sembuh dari sakit. Bahkan kematian
yang merenggut Mirza Ghulam Ahmad dikarenakan ia menderita
sakit berak-berak yang kronis (diarrea)
Latar-belakang kehidupannya merupakan rangkaian dari
penyakit-penyakit berat yang menahun sehingga meruntuhkan
seluruh kekuatan tubuh maupun jiwanya. Ia ternyata mengidap
penyakit penyakit "diabetes" dan "vertigo" di mana-mana
kedua penyakit itu benar-benar menerkam hidup Mirza
sepanjang hayatnya. Mengapa tidak disembuhkan penyakit-
penyakitnya itu oleh doktor pribadinya Nuruddin sang
Khalifah? mungkin obatnya tidak ada atau mungkin karena
jabatan-jabatan Mirza yang kelewat batas itu membawa
effek-effek yang berat bagi penyembuhannya.
Kedua kemungkinan itu ternyata tidak dibenarkan oleh
Ahmadiyah baik oleh anaknya cucunya maupun oleh
pengikut-pengikutnya. Mereka mempunyai alasan kuat mengapa
penyakit-penyakit Mirza Ghulam itu tidak sampai disembuhkan.
Mereka tidak kehilangan langkah untuk membela situasi
nabinya itu. Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata membela
ayahnya.
"Penyakit-penyakit yang diderita Mirza Ghulam Ahmad itu
sudah termaktub, artinya bahwa Al-Masih Al Mau'ud akan
menderita dua penyakit. Separoh dari bagian tubuhnya ke
bawah mengidap penyakit diabetes dan separoh dari
bagian tubuhnya ke atas mengidap penyakit vertigo."5
Demikianlah penyakit-penyakit itu sudah termaktub sebagai
hiasan hidup Al Masih Mirza Ghulam Ahmad Qadiani. Jadi sudah
takdir baginya untuk menerima penyakit-penyakit itu.
Usaha-usaha untuk menyembuhkannya hanya akan menentang
takdir Allah saja. Bukankah Mirza Ghulam Ahmad pada
saat-saat itu sedang memangku jabatan Nabi Ayyub a.s.?
Bedanya, kalau nabi Ayyub tidak kena diabetes dan vertigo.
Andaikata kena seperti Mirza Ghulam mungkin beliau tidak
akan sanggup memangku jabatan kenabiannya. Justru Mirza
Ghulam adalah sebaliknya, ia sanggup; sanggup untuk
mempertontonkan seluruh karier hidupnya menjadi berantakan.
Mirza Ghulam Ahmad sebenarnya sangat menderita karena
penyakit-penyakitnya itu. Rasanya ia tidak bisa menerima
kalau penyakit-penyakitnya itu adalah takdir Allah yang
harus ia rasakan sepanjang hidupnya. Jangankan dengan
diabetes dan vertigo, dengan sakit-sakitan yang sangat tidak
berarti saja, Mirza Ghulam Ahmad sudah mengeluh merana.
Buktinya pada suatu hari Mirza Ghulam pada salahsatu jari
tangannya sakit, mungkin bengkak nanah (cantengan) atau kena
sayat pisau. Ia sudah mengaduh-aduh dan tidurnya tidak
nyenyak lagi.6 Dalam keadaan sakit yang demikian itu
ternyata tuhannya menaruh rasa kasih pada Mirza. Bagaimana
sembuhnya? Cukup dengan kabar wahyu dari Tuhan:
"Sejuklah tanganmu wahai Mirza dan relaxlah engkau"7
Maka dengan wahyu Tuhan di atas sakit jari Mirza Ghulam
ternyata sembuh samasekali. Sungguh enak baginya bahwa hanya
dengan wahyu saja ia segar kembali.
Pernah pada suatu hari Mirza Ghulam Ahmad kena sakit demam.
Inipun Tuhannya sangat menaruh kasih padanya. Maka turunlah
kabar wahyu kepadanya:
"Assalamu alaikum wahai Mirza, semoga damai engkau
serta"8
Dengan wahyu itupun Mirza Ghulam waras dari sakit demamnya.
Kita ingin bertanya, jika dengan penderitaan "sakit salah
satu jarinya dan sakit demam" saja Mirza Ghulam Ahmad sudah
mengeluh merana, maka bagaimana dengan sakit-sakit beratnya
itu? Ahmadiyah dalam hal ini tidak pernah mempertontonkan
penderitaan nabinya karena penyakit-penyakit diabetes dan
vertigo itu. Mereka tidak mau bicara tentang itu. Akan
tetapi ilmu pengetahuan tentang kesehatan mau dan bisa
berbicara tentang pasien yang menderita penyakit sakit gula
(diabetes) dan sakit bingung (vertigo) itu. Ensiklopedi
kesehatan mengatakan bahwa penderita sakit gula dalam
beberapa hal dan keadaan mengalami: kebingungan serta mudah
tersinggung hatinya tanpa ada sebab; sakit bagian saraf
kepala, radang saraf; kerabunan pada mata, sangat sayu
pandangannya, akhirnya sering tak sadarkan diri.9
Adapun pada penderita sakit bingung (vertigo) dalam beberapa
hal dan keadaan mengalami: tingkah laku yang abnormal,
gejolak emosi meluap-luap, depressi yang memilukan, perasaan
rendah diri, jeritan putus-asa, bahkan sering jatuh
pingsan.10
Mirza Ghulam Ahmad dengan diagnosa sebagai "pasien penderita
sakit gula dan sakit bingung" yang diakui dan dinyatakan
sendiri oleh Ahmadiyah serta oleh puteranya Bashiruddin
Mahmud Ahmad11, dengan sendirinya mengalami
komplikasi-komplikasi di atas yang sangat parah. Bahkan
sialnya ia mengidap penyakit-penyakit itu secara kontinyu.
Bagaimana dalam keadaan yang parah itu ia bisa mengimbangi
ambisinya yang meluap-luap? Tentu saja ia berbuat bertingkah
berpose sebagai tokoh yang abnormal. Gagal dalam cinta,
gagal dalam karier, gagal dalam akhlak dan gagal menjaga
stamina tubuh serta jiwanya.
Bashiruddin Mahmud Ahmad khalifah kedua Ahmadiyah, putera
penerus Mirza Ghulam Ahmad berkata tentang ayahnya yang
bergelar nabi, rasul, almahdi dan almasih yang dijanjikan
itu:
"Keadaan kesehatan badannya Hazrat Masih Mau'ud a.s.,
ada begitu lemah, sampai sering ketika penyakit datang
kepada orang-orang yang di sekitarnya menganggap bahwa
beliau telah wafat."12
Dengan anggapan bahwa beliau telah wafat, sebenarnya Mirza
Ghulam Ahmad telah jatuh pingsan yang lama. Pandangan
matanya akan sayu bahkan redup menyusul keadaan tak sadar
diri. Mungkin dalam situasi di alam tak sadar itulah Mirza
Ghulam mencetuskan segala gagasan-gagasannya yang bernama:
Ahmadiyah. Ia sering mengalami hallucinatie; justru pada
saat-saat itulah lahir segala tingkah laku yang abnormal.
Bagaimana dengan, "jeritan putus asanya" yang histeris itu?
Sungguh tidak terlintas dalam pikiran bahwa sejarah
mengulangi dirinya. Pada peristiwa GOLGOTTA kurang lebih
1800 tahun yang lalu, konon terdengarlah jeritan Yesus
Kristus mengakhiri hayatnya pada kayu salib13. Jeritan
itulah yang terulang pada sejarah hidup nabi India abad 19
masehi.
Jauh dari Jerusalem menuju ke timur meliwati gurun gunung
dan padang rumput, melalui negeri-negeri Mesopotamia,
Persia, Afghanistan, menerobos lembah subur Kashmir, singgah
di Srinagar kemudian masuk ke anak benua India, menuju ke
Propinsi Punjab langsung ke distrik Gurdaspur dan berakhir
pada sebuah desa bernama QADIAN, di situlah muncul seorang
laki laki bernama MIRZA GHULAM AHMAD, mengaku sebagai Nabi
dan Rasul, Al-Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan. Entah
karena apa, entah dalam keadaan bagaimana, pada suatu saat
yang menegangkan, tiba-tiba tersembur dari mulut Mirza
Ghulam Ahmad rintihan suara histeris:
"ELI, ELI LAMA SABACHTANI (TUHANKU, TUHANKU, MENGAPA
ENGKAU TINGGALKAN AKU."14
Persis suara rintihan Jesus Nazareth di lembah Golgotta,
bahkan dalam bahasa yang sama, bahasa: I b r a n i !
Itulah tokoh Qadian Mirza Ghulam Ahmad, apa sebab ia
menjerit dengan bahasa Ibrani pula?! Fatal, frustasi, gagal
total, ataukah ia juga dipaku salib oleh penyakit-
penyakitnya yang berat itu?!
Catatan kaki:
1 Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal.62
2 Muslim Herald, London, vol. l2 - February l972, no.2
hal. 21. (we have turned our eyes towards you and have
ordered: O fire (of opposition) cool down on this
Abraham and bring peace on him.
3 Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal.44.
4 Mirza Mubarak Ahmad,.Masih Mauud, hal. 45.
5 Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya movement, hal.
45: (Again it was written that the Messiah would suffer
from two disorders, one affecting the upper half of his
body and the other affecting the lower half.
Accordingly the promised Messiah suffered from vertigo
and diabetes).
6 The Muslim Herald-London-vol. 12 February 1972 no.
2, hal. 23: (hazrat Ahmad had once a severe pain in his
forefinger. He feared its intensity might not allow him
to have peaceful sleep).
7 idem hal 23: (he them immediatly had this
revelation: "cool down and bring peace.")
8 idem - hal. 26: (the hazrat had fever when it was
revealed to him "assalamo alaikum, i.e. may peace and
long life be with you." Shortly afterwards he recovered
his health.
9 Randolp Lee Clarks and Russel W. Cumley, The Book of
Health, a medical encyclopedia for every one, 1962, D.
Van Nostrand Company, Inc. Princetton New Jersey, hal.
333: (in some cases, the patient may become nervous and
irritable without cause, exhaustion, or even fainting
preceding, cataracts, neuralgias, meuritis ate.
10 idem (emotional strain, generalized or lower
abdominal distress, abnormality of the bowel habit
(hal. 418) and nervous or emotional basis sunstrekke
the patient may become unconscous, may experience
"crying pell" a feeling of depression, and general
lislessnes. (hal. 325 dan 653).
11 Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 45/46.
12 Bashiruddin Mahmud Ahmad, Djasa Imam Mahdi a.s., hal. 14.
13 Perjanjian Baru.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 29.
MIRZA TARTUFFE (SEORANG MUNAFIK, PENIPU BESAR)
Karakter Mirza Ghulam Ahmad gagal total ia sebagai pencaci
maki, penghina, pengutuk maupun sebagai penyebar kuman
kematian pada sesama manusia telah membawa effek pada
tingkah lakunya, pada phisiknya dan pada jiwanya. Atau
mungkin keadaan jiwa dan phisiknya yang membawa effek pada
karakternya yang tidak karuan itu. Kedua-duanya dari
kemungkinan itu pasti terjadi pada diri Mirza Ghulam Ahmad,
sebab ia termasuk dari contoh figur kemunafikan dan
kepalsuan dalam sejarah kerohanian, yang berkedok sebagai
nabi maupun sebagai Al-Masih Al-Mau'ud.
Ahmadiyah dalam rangka mengangkat Mirza Ghulam ke tingkat
derajat yang paling atas menyatakan bahwa maksud
kedatangannya ialah untuk memikul missi suci yang lebih
dahulu telah diwahyukan Allah dalam Al-Qur'an. Kedatangan
Mirza Ghulam oleh Ahmadiyah digambarkan sebagai cahaya fajar
sang surya. Ia datang dalam lailatul qadr, malam utama yang
lebih baik dari pada 1000 bulan.1 Ahmadiyah menegaskan
dengan kata-kata:
"Tegas pengakhiran malam itu dengan saat fajar pembawa
cahaya sang surya yang menerangi bumi. Cahaya inilah
dibawa oleh Al Masih kedua atau Imam Mahdi."2
Ummat manusia seharusnya mengelu-elukan kedatangan cahaya
fajar Mirza Ghulam Ahmad itu, sebab ia datang untuk
kebangkitan Islam dan meletakkan Islam sebagai agama
tertinggi. Ketahuilah! kata Ahmadiyah, bahwa:
"Pada surah At-Taubah ayat 33 dan surah Al-Fath ayat 29
kemudian surah Ash-Shaf ayat 9, tersebut firman Tuhan
yang berbunyi: DIA-lah yang mengutus utusannya dengan
petunjuk dan Agama yang benar yang akan memenangkannya
atas semua agama."
Ketiga ayat tersebut di atas, kata Ahmadiyah, mengandung
berita yang belum disempurnakan. Maksud Ahmadiyah belum
disempurnakan itu ialah bahwa agama Islam belum mengatasi
agama-agama lain dan ummat Islam juga belum mengatasi
(melebihi dari segi apapun) ummat-ummat agama yang lain.3
Maka, kata Ahmadiyah melanjutkan, menurut para ahli dan
mufassirin bahwa ayat di atas akan disempurnakan di akhir
zaman bilamana tokoh yang dinantikan itu datang. Dalam
tafsir Al Bayan di bawah ayat tadi dicatat tafsir yang
berikut: "wa dzaIika inda nuzuli Isa ibn Maryam," yaitu:
kemenangan Islam atas semua agama yang dimaksud ayat tadi
ialah akan terjadi bila turun Isa anak Maryam.4
Lebih meyakinkan lagi Ahmadiyah menegaskan, bahwa Islam
bukan hanya belum sampai pada titik yang dinubuwatkan di
atas malah agama-agama lain masih memiliki supremasi atas
Islam sendiri.5 Kemudian Ahmadiyah berkata:
"Nubuwat Al Qur'an tersebut di atas pasti genap dan
sempurna pada akhir zaman di tangan UtusanNya yang
dikenal dengan sebutan Isa Masih/Imam Mahdi a.s."6
Demiklanlah penegasan Ahmadiyah. Mula-mula dikatakan bahwa
ayat itu mengandung berita yang belum disempurnakan, padahal
Islam telah ditegakkan dengan sempurna. Jika memang ayat itu
mengandung berita yang belum disempurnakan, maka bukan
mufassirinlah yang tahu makna maupun tafsir dari ayat itu
melainkan Rasulullah sendiri adalah orang pertama yang akan
mengatakannya.
Kemudian Ahmadiyah mengatakan, bahwa Islam belum mengatasi
agama-agasna yang lain. Artinya bahwa Islam masih berada
pada tempat paling bawah dari semua agama di dunia. Kalau
ummat Islam yang dikatakan masih belum mengatasi ummat agama
yang lain, mungkin ada benarnya terutama pada segi-segi
sosial ekonominya. Akan tetapi kalau IsIam dikatakan masih
belum mengatasi agama-agama yang lain, itu sudah
keterlaluan. Ataukah jumlah orangnya yang masih belum
mengatasi, padahal pada abad ke-19 Masehi Islam penganutnya
sudah melebihi penganut agama Zarathustra dan penganut agama
Yahudi, dan daerah wilayahnya lebih besar dari wilayah
agama-agama itu bahkan lebih luas lagi dari wilayah agama
Buddha dan agama Hindu.
Maka jelaslah yang dimaksud Ahmadiyah bahwa Islam belum
mengatasi agama-agama yang lain mengandung makna hakikat
dari Islam itu sendiri, yang belum mengatasinya. Ini bukan
saja suatu pengingkaran terhadap sejarah perjuangan Nabi
Muhammad s.a.w. bahkan juga pengingkaran terhadap kandungan
ayat Al-Quran.
Lebih lantang lagi Ahmadiyah berkata tentang ayat 33 dari
surah At-Taubah, Al-Fath ayat 29 dan Ash-Shaf ayat 9 itu
sebagai berikut:
"Tetapi tampaknya Tuhan belum menghendaki 'liyuzhhirahu
'aladdini kullihi' (memenangkan Islam atas semua agama)
itu terjadi pada masa perkembangan Islam yang pertama.
Oleh karena di dalam ayat yang sama kalimat-kalimat
lanjutan melukiskan bentuk dan corak perkembangan Islam
masa yang kedua yang akan mencapai garis kemenangan
atas semua agama yang ditentukan itu."7
Jelasnya bahwa Tuhan belum menghendaki kemenangan Islam
terjadi pada masa perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. dan para
sahabat beliau, melainkan akan terjadi kemenangan itu pada
masa Al-Masih Al-Mau'ud Mirza Ghulam Ahmad. Kata-kata "belum
menghendaki" yang ditekankan oleh Ahmadiyah itu pasti akan
menyakiti hati Nabi Muhammad serta sahabat beliau. Makna dan
pengorbanan beliau s.a.w. telah diabaikan dan disepelekan
oleh Ahmadiyah. Suatu penghinaan yang mengandung tujuan dan
target yang keji untuk membuyarkan iman ummat Islam serta
perasaan ghairah pada Nabinya.
Akan tetapi Ahmadiyah tetap Ahmadiyah, ia telah mengatakan
sesuatu, namun di tempat yang lain ia terperosok sendiri
oleh kata-katanya itu. Kalau kita melihat betapa kedatangan
Mirza Ghulam Ahmad telah dinyatakan sebagai tokoh Al Masih
anak Maryam/Al-Mahdi yang akan memenangkan Islam atas semua
agama, demikian yang dikatakan Ahmadiyah, anehnya pada
tempat yang lain Ahmadiyah mengganti peranan success
gemilang yang dicapai nabi India itu dengan seorang tokoh
yang lain yang datang sesudahnya. Orang Ahmadiyah terakhir
inilah sebenarnya yang akan memenangkan Islam atas semua
agama? Ahmadiyah berkata:
"Kesempurnaan ayat liyuzhhirahu aladdini kullihi yaitu
Islam akan menaklukkan semua agama, yang khusus akan
dilaksanakan oleh Imam Mahdi atau Al-Masih, insya Allah
akan tercapai di tangan khalifah Masih ke-II hazrat
Basiruddin Mahmud Ahmad, almuslihil mau'ud putra yang
dijanjikan."8
Kata-kata "insya Allah akan tercapai" menunjukkan betapa
peranan Mirza Ghulam Ahmad pada pertengahan dan akhir-akhir
dari hidupnya sangat menyedihkan dan mengalami depressi yang
memalukan. Sudah seyogyanya, kalau Ahmadiyah cepat-cepat
mengangkat paulus Ahmadiyah untuk bertahan dari
keruntuhannya. Hanya dengan organisasi dan finansiil yang
padat serta lindungan maupun naungan yang rindang, maka
Bashiruddin Mahmud Ahmad benar-benar seorang "paulus"
Ahmadiyah. Itulah sebabnya Ahmadiyah memberikan titel yang
luar biasa pada sang khalifah itu. Justru dialah yang paling
ketat menutupi seluruh aspek kehidupan ayahnya yang
berantakan. Namun anehnya tidak satu segipun dari kehidupan
Mirza Ghulam Ahmad yang hancur itu dapat tertutup rapat.
Tidak juga sang putra maupun organisasinya berhasil
menyembunyikan nabi penyebar kuman kematian itu.
Tadi telah dikatakan bahwa dikarenakan tugasnya yang berat,
yakni tugas menjadi nabi palsu di India, maka Mirza Ghulam
Ahmad mengalami depressi hidup yang memalukan serta
memilukan hati. Namun demikian juga tidak bisa diabaikan,
sebagaimana dikatakan sebelum ini, bahwa karena effek-effek
kejiwaan dan badaniahlah, maka Mirza Ghulam Ahmad gagal
total dalam hidupnya.
Entah karena jabatannya sebagai musailamah modern itu ia
telah menderita, baik jiwa maupun badannya. Ataukah ia
memang sudah mengalami masa menderita yang begitu lama dan
parah sehingga timbul gagasannya untuk menjadi pemimpin
kerohanian, yang tidak pernah diharapkan bangsanya.
Kenyataannya, kedua-duanya memang ada dan benar.
Perkenalan atas perjalanan hidupnya sudah banyak kita
ketahui, akan tetapi Ahmadiyah sendiri maupun sang khalifah
Bashiruddin masih dengan senang hati menambah lagi
sajian-sajian tentang Mirza Ghulam Ahmad. Tentu saja
sajian-sajian yang sekaligus menikam langsung dada sang nabi
palsu itu. Maka inilah dia sajian-sajian yang berakhir
dengan klimax yang menggelikan akan tetapi sangat
menyayat-nyayat hati.
Catatan kaki:
1 Sinar Islam, no. 13, Th. XV/l965, hal. 32.
2 idem, hal. 32.
3 Saleh Nahdi, Masalah Imam Mahdi, l966,
Raja Pena Surabaya, hal. 15.
4 Saleh Nahdi, Masalah Imam Mahdi, hal. 16.
5 Sinar Islam, no. 13/th. XV/1965, hal. 31.
6 idem, hal. 31.
7 Sinar Islam, no. 13/th. XV/1965, hal.32
8 Sinar Islam, no. 10/1965. hal. 13/14
YESUS INDIA (INKARNASI SRINAGAR)
Pada waktu Ismail Sahib melancarkan tuduhan-tuduhan pada
Mirza Ghulam, orang yang terakhir ini sudah berada dalam
puncak kemuliaannya. Di samping pangkatnya sebagai Al-Mahdi,
nabi, ia terkenal pada pengikut-pengikutnya sebagai Al-Masih
Al-Mau'ud pula. Perihal dirinya sendiri, Mirza berkata:
"Saya keelokan yang elok dalam abad ini, barangsiapa
meninggalkan saya, meninggalkan DIA yang mengutus saya.
Lihatlah saya memegang lampu di tangan saya, maka
barangsiapa datang padaku, akan memperoleh sebagian
dari cahayaku dan barangsiapa memilih melarikan diri
dari saya, karena ragu-ragu dan sak wasangka atau
takhayul akan dilemparkan ke dalam kegelapan dan
kebinasaan."1
Kemudian tentang hakikat dirinya yang superior itu, Mirza
berkata:
"Saya ini adalah baruz (titisan) nabi Isa a.s. karena
saya diutus dalam roh dan kuasa beliau dan budi pekerti
yang sama. Demikian pula saya menerima nama Muhammad
Ahmad berdasarkan jabatan saya sebagai pembangun lagi
daripada pelanggaran-pelanggaran kepada hukum Tuhan.
Karena itu saya diutus buat mengembangkan ke-Esaan
Allah dalam roh dan kuasa serta budi-pekerti yang
bersamaan dengan nabi Muhammad. Dengan kemurahan Allah
dan PengasihNya maka saya dijadikan ahli waris kedua
gelaran itu dalam abad ini dan keduanya tergabung
menjadi satu ternyata atas diri saya... dan batin saya
ini ialah pergabungan kedua nabi yang mulia itu."2
Pada suatu ketika yang tidak terduga-duga Mirza Ghulam
berkata lagi tentang dirinya:
"Aku melihat dalam mimpi bahwa aku ini jadi Allah."3
Dengan gabungan baruz Nabi Isa dan Nabi Muhammad serta
sekaligus dalam mimpi Mirza Ghulam Ahmad telah jadi Allah,
maka ahlak yang ia miliki tentu saja akhlak termulia. Ini
cocok dengan kata-kata pujian dr. Meer dan Mirza Mubarak
Ahmad, bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang pengampun
pada mereka yang bersalah, berbudi pekerti baik, rendah
hati, suka memberi maaf, wajahnya selalu tersenyum, dimana
dalam hidupku saya belum pernah melihat seorang sepertidia,
lebih berbtidi lebih pemurah lebih berkasih sayang, dan
seterusnya, dst.4
Maka marilah meneliti bagaimana orang Qadian yang mimpi jadi
Allah itu bertingkah-laku ketika menghadapi kritikan-
kritikan Muhammad Ismail Sahib dari Aligarh itu. Siapa yang
sebenarnya dikatakan tuduhan-tuduhan, fitnahan-fitnahan
Ismail Sahib tidak lain hanyalah bantahan-bantahan yang
sederhana saja. Ia katakan bahwa Mirza:
"Tidak tahu sastra, tidak percaya bahwa ia seorang yang
telah dapat wahyu, tidak percaya bahwa buku-buku itu
adalah karangan Mirza, dan Mirza mempunyai tenaga sihir
serta menggunakan tenaga itu."
Maka andaikata Mirza Ghulam Ahmad tidak membalas
tuduhan-tuduhan atau fitnahan itu, hal mana itu adalah yang
terbaik baginya. Bagi seorang yang memiliki dua roh kenabian
dan sekaligus mimpi jadi Allah, hanya akan membuang waktu
dan tenaga saja bila melayani obrolan Ismail Sahib itu.
Namun pada kenyataannya tidak demikian dengan nabi Qadian
itu. Justru ia menjadi marah dan meradang. Ia berkata dengan
seluruh emosinya:
"Maulvi Ismail Sahib telah tenggelam dalam kegelapan,
tenggelam dalam keinginan yang mementingkan diri
sendiri serta kesukaan yang sia-sia. Saya (Mirza Ghulam
Ahmad) tidak menaruh penghargaan lebih besar dari pada
terhadap cacing yang sudah mati. Tuan seorang yang
dungu, ulama yang tidak cakap. Faham tuan sudah
ketinggalan zaman. Tuan berada dalam kehinaan tuan
bertabiat mencurigakan, fikiran jahat dan berbuat
kejahatan, tuan terbawa dalam ketakhayulan, tuan tidak
mempunyai pikiran sehat, tuan berputar lidah, tidak
mengerti, keras hati dan congkak dan tak berbudi. Tuan
seperti orang-orang munafik zaman Isa, tuan seperti
Fir'aun, tuan seperti Abu Jahal, tuan pendusta, tuan
kafir."5
Sungguh kasihan Maulvi Ismail Sahib mendapat balasan yang
demikian dari Mirza. Namun itu sudah seharusnya bahwa orang
seperti Maulvi Ismail berani menyerang nabi Qadian itu.
Balasannya kelihatan setimpal. Akan tetapi kalau ditilik
kembali derajat orang Qadian yang kena serang Maulvi Sahib
itu maka ada kejanggalan-kejanggalan yang menyolok dalam
tingkah lakunya. Pada waktu itu ia sudah jadi nabi,
Al-Mahdi, Al-Masih Al-Mau'ud. Maka pada kedudukan yang ia
miliki itu, selayaknyalah jika ia merasa malu atas kata-kata
yang telah ia lontarkan pada lawannya yang juga dikenal
sebagai muslim. Tidak diketemukan dalam sejarah keagamaan
kiranya, betapapun ia dari desa, yang membalas kata-kata
lawannya dengan kata-kata pedas serta mengutuk, bahkan
mengkafirkan!
Maka gambaran apakah yang lebih terang tentang Mirza Ghulam
Ahmad ini? Itu semua sudah terlalu, menyamakan seorang
pengumpat, penghina, pengutuk macam Mirza Ghulam Ahmad ini
dengan pribadi Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w. Apakah
mereka telah rabun mata terhadap sejarah sepak-terjangnya
yang berlebih-lebihan itu? Ismail Sahib seorang ulama Islam,
imam mesjid Aligarh, sekedar mengatakan tentang nabi Qadian
itu, bahwa ia tidak percaya, lalu datang balasan Mirza
Ghulam Ahmad dengan kata-kata:
"Kamu tidak berbudi, kamu jahat, cacing mati lebih
kuhargai dari padamu, kamu munafik, kamu pendusta, kamu
kafir."
Seorang yang mengaku Al-Masih tidak layak berkata demikian.
Justru kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam pribadi Mirza
Ghulam Ahmad dan jemaatnya selalu kita temukan bentuk-bentuk
kepalsuan dan penipuannya. Rombongan Musailamah modern ini
masih banyak mempertontonkan kisah-kisah ajaib serta ketidak
warasan logika pada mereka yang akan membuat mereka
telanjang bulat di atas panggung sejarah Islam.
1 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, hal. 57.
2 Sudewo, Asas-asas Ahmadiyah Lahore, 1937, tansocijbing,
Sukabumi, hal. 47.
3 Sudewo, asas-asas Ahmadiyah Lahore, hal. 70:
(wa raaitani fil manaam 'ainullah.)
4 M.B. Ahmad, Seerati Tayyiba, A.Q. niaz Lion Press,
Lahore, 1960, hal. 68: 18 dan Mubarak Ahmad,
Masih Mau'ud a.s., hal. 85/86.
5 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam,
hal. 36 sampai dengan hal. 45.
Pada suatu hari seorang ulama maulvi sahib dari Aligarh
bernama Muhammad Ismail Sahib telah melontarkan tuduhan
tuduhan pada Mirza Ghulam Ahmad. Menurut Mirza sendiri ulama
tersebut adalah imam dari mesjid Aligarh, seorang sastrawan
yang kenamaan. Akan tetapi celakanya, kata Mirza
melanjutkan, bahwa ulama itu telah melancarkan
tuduhan-tuduhan gila pada Mirza. Ia menggunakan kecurangan
dan kebohongan terhadap diri Mirza.
Segala fitnahannya itu telah diterbitkan oleh sahabat Mirza
Ghulam Ahmad bernama dokter Jamaluddin.1
Maulvi Muhammad Ismail Sahib dalam fitnahannya menuduh Mirza
Ghulam Ahmad dengan kata-kata:
"Orang ini, yakni Mirza, sama sekali tidak berwenang
dan tak mencapai apa-apa dalam lapangan sastra."
Mendengar tuduhan Ismail sahib itu, Mirza bangkit marahnya
spontan menjawab:
"O, tuan, saya tidak mendakwai suatu kearifan atau ilmu
tentang dunia ini; apakah yang saya buat dengan ilmu
kelicikan duniawi itu, tetapi bagi saya satu hal saja
sudah cukup yakni bahwa kemurahan tuhanku telah datang
membantu saya dan memberkati saya dengan ilmu
pengetahuan yang tak berasal dari sekolah atau sekolah
tinggi manapun juga, melainkan dari Guru dari langit
jua. Jika saya buta-huruf bagaimana kehormatan saya
direndahkan karenanya? Bahkan sebaliknya itu adalah
kebanggaan bagi saya sebab bukan saja pengajar saya
melainkan juga pengajar seluruh makhluk-makhluknya
sendiri (yakni Nabi Muhammad) adalah seorang buta huruf
atau ummi."
Jelasnya Mirza Ghulam Ahmad tidak merasa terhina dengan
tuduhan Ismail Sahib itu, sebab ia tidak belajar dari
sekolah tapi dari langit jua. Itulah kemuIiaan sebagaimana
yang diterima setiap nabi.
Kemudian Maulvi Muhammad Ismail Sahib meneruskan
tuduhan-tuduhannya pada Mirza Ghulam Ahmad dengan perkataan
perkataannya yang tajam:
"Saya tidak dapat percaya bahwa orang itu (Mirza) juga
menulis karangan-karangan yang baik."
Maka Mirza Ghulam Ahmad dengan emosi tak tertahankan
menangkis kata-kata lawannya itu dengan jawaban-jawaban
lantang:
"Tak mengherankan kalau saudara tak percaya sebab
kepercayaan seperti itu tak tercapai oleh orang-orang
kafir yang melihat sendiri nabi suci sekalipun dan jika
mereka itu tidak diberi malu, keunggulan nabi suci tak
akan dapat jadi terang atau nyata bagi mereka... Dan
apa yang keluar dari mulut Maulvi Sahibpun boleh jadi
benar juga, sebab tidak syak lagi kata-kata Qur'an suci
jauh melebihi kemampuan akal nabi di dalam hal gaya
bahasanya pilihan kata-katanya dan kearifannya...
Demikian pula buku-buku yang dikarang dan juga
diterbitkan oleh hamba yang hina ini sesungguhnya hasil
dari bantuan Ilahi dan buku-buku itu sungguh melampaui
kecakapan dan kemampuan yang sebenarnya dari pada hamba
yang hina ini... Bahwa ada orang yang berkata kemudian
bahwa buku-buku ini bukan hamba yang mengarangnya."
Terasa legalah bagi Mirza Ghulam setelah seluruh emosi
kemarahannya terlontarkan pada Ismail Sahib. Padahal tanpa
mengeluarkan kemarahan demikian Mirza Ghulam seharusnya
sudah lega dengan serangan lawannya itu. Bukankah ia sudah
diidentikkan nasibnya dengan nabi Muhammad s.a.w.?
Perbedaannya di sini ialah bahwa pada zaman Mirza yang
meragukan maupun yang membantah ialah seorang muslim, bukan
seorang kafir.
Bagi Ismail Sahib sendiri, la tidak menghentikan serangannya
sampai di situ melainkan ia bertambah gencar serangannya.
Berkata Ismail pada Mirza:
"Sayid Ahmad seorang Arab yang saya kenal sebagai
seorang yang berkata benar..., setelah hadir pada
setiap kesempatan yang penting untuk menguji dan
menyelidiki dia (Mirza Ghulam) maka dia (sayid) itu
berpendapat bahwa dia (Mirza Ghulam) memiliki
tenaga-tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu"
Mau apa lagi Mirza Ghulam Ahmad? Empat belas abad yang silam
nabi Muhammad s.a.w. dituduh juga sebagai seorang yang
memiliki tenaga sihir dan menggunakan tenaga itu. Seharusnya
Mirza Ghulam lebih lega lagi dengan tuduhan itu. Akan tetapi
dengan kemarahannya yang meluap berkata:
"Mari kita panggil anak-anak lelaki kamu dan anak-anak
lelaki kami dan perempuan-perempuan kamu dan
perempuanperempuan kami dan orang-orang kamu dan
orang-orang kami, kemudian baiklah kita berdo'a dengan
sungguh-sungguh dan memohon laknat Allah atas
pendusta."
Ismail Sahib tidak ambil-pusing dengan panggilan anak-anak
kamu dan anak-anak kami itu, melainkan ia terus melancarkan
serangannya pada Mirza dengan berkata:
"Kalau saya memikirkan kalimat-kalimat yang diwahyukan
padanya maka saya sekali-kali tak dapat percaya bahwa
kalimat-kalimat itu wahyu."
Ada-ada saja yang dituduhkan Ismail pada Mirza Ghulam;
dengan sendirinya kalau ia tidak percaya pada kenabian Mirza
Ghulam Ahmad, bagaimana ia bisa percaya pada kalimat-kalimat
wahyunya itu? Namun demikian tuduhan sudah terlanjur
dilontarkan dan bagi Mirza sendiri tidak ada alternatip lain
selain melabrak lawannya itu dengan pukulan-pukulan yang
jitu. Mirza Ghulam Ahmad berkata:
"Tentu saja, keturunan-keturunan yang tentang mereka
itu tuhan berkata: Dan mereka itu menolak
pekabaran-pekabaran kami dengan mendustakannya.
Keturunan-keturunan itupun tidak percaya. Fir'aun tidak
percaya; alim ulama dan orang farisi (orang-orang
munafik di zaman nabi Isa) tidak percaya; Abu Jahal dan
Abu Lahab tidak percaya."
Maka Ismail Sahibpun termasuk dari keturunan-keturunan yang
tidak percaya itu. Celakalah ulama Islam dari Aligarh ini,
ia telah dipersamakan dengan kaum kafir zaman nabi. Akan
tetapi bagi Ismail Sahib sendiri, ia mempunyai alasan kuat
untuk tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad, baik sebagai
nabi maupun sebagai Al Masih Al-Mauud. Itulah sebabnya ia
masih suka melancarkan serangannya untuk Mirza Ghulam Ahmad
yang pemarah itu. Ia berkata pada Mirza:
"Bahwa ia Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya penerima
ilham atau wahyu itu tidak selaras dengan kuasa ghaib
dan menjawab dengan berkata: bahwa orang yang menolak
harus datang melihat adalah suatu alasan yang tidak
dapat dipertanggung jawabkan."
Mirza Ghulam Ahmad menjawab:
"Perkara-perkara ini bukan dari seorang manusia
melainkan dari DIA... maka pemuja kebenaran yang
manakah dapat menolaknya sebagai perkara-perkara
palsu?"
Demikian beberapa tuduhan Ismail Sahib pada Mirza Ghulam
Ahmad yang sangat mirip dengan tuduhan kaum kafir pada nabi
Muhammad s.a.w. Suatu kebahagiaan buat Mirza jika ia
menerima tuduhan itu apa adanya. Bukankah ia senasib dengan
nabi?
Catatan kaki:
1 Mirza Ghulam Ahmad, Kemenangan Islam, Darul Kutubil
Islamiyah, Jakarta, 1960, hal. 31.
Satu hal lagi yang menarik dari tingkah laku nabi India itu
ialah koleksi wahyu-wahyunya. Di antara kitab-kitab yang ia
tulis ada semacam kitab suci, di mana di dalamnya terdapat
kumpulan-kumpulan wahyu yang ia terima dari tuhannya
kemudian wahyu-wahyu itu ia gabungkan dengan
potongan-potongan ayat suci Al-Qur'anul Karim.
Ayat-ayat Al-Qur'an yang dibajak Mirza Ghulam Ahmad itu
dimasukkan dalam karangannya secara terpotong-potong.
Kemudian ia rangkaikan potongan-potongan ayat suci itu
dengan ucapan-ucapannya sendiri dan hasilnya mirip
firman-firman Tuhan dalam Al-Qur'an, namun pada kenyataannya
merupakan Qur'an baru made in Qadian.
Bila hendak memulai membaca kitab suci Qadian itu, bagi
orang-orang Ahmadiyah ditanam pada lubuk hati mereka
keimanan bahwa kitab suci Mirza Ghulam Ahmad sama dengan
kitab suci Al-Qur'anul Karim. Tentu saja keimanan yang
demikian itu harus tertanam pula pada orang-orang yang bukan
Ahmadiyah apabila mereka bermaksud memasuki aliran Mirza
Ghulam.
"Kita mengimani sebagaimana kita mengimani kitab yang
diturunkan pada Nabi Khaliqil Anam." demikian kata
Mirza.1
Mirza Ghulam selanjutnya mengatakan bahwa wahyu-wahyu yang
ia terima dari tuhannya itu terkadang ia terima secara
langsung, atau secara liwat perantara, yakni liwat malaikat.
Ia berkata:
"Telah datang kepadaku Malaikat Jibril. Malaikat Jibril
dalam kitab Mirza Ghulam Ahmad disebut: Ayl.2
Dimanakah wahyu-wahyu dari tuhannya itu diturunkan? Tentu
saja jawabnya di India, jelasnya di Qadian maupun di
sekitarnya.
Mengenai tempat di mana wahyu itu diturunkan dan mengenai
hakikat dari wahyu itu sendiri, tuhan Mirza Ghulam Ahmad
berkata padanya:
"Sesungguhnya dia (Kitab) itu diturunkan pada tempat
yang dekat dengan Qadian. Dengan Kebenaran dia
diturunkan, serta dengan Kebenaran pula turunnya."3
Maka inilah dia, Qur'an made in Qadian. Dimulai dengan
ucapan: "Bismillahir-Rahmanir-Rahiim.4
Ya Ahmad Barakallah fiika, Ma ramaita idza ramaita wa
laakin Allaha rama; Ar-Rahmaan; 'Allamal Qur'an;
Litundzira Qauman maa undzira aabauhum wa litastabiina
sabilal mujrimin, Qul inni umirtu wa-ana awwalul
mu'minin; Qul ja'al haqqu wazahaqal batil innal baatila
kana zahuuqa.5
Di halaman yang lain dari kitab suci Qadian itu, Mirza
menerima wahyu;
"Fantazhiru Avaati hatta hiin; Sanuriihim ayaatina fil
afaaq wafi anfusihim, Hujjatun qaaimatun wa fathun
mubiin, Innallah yafsilu bainakum innalaha hia yahdi
man huwa musrifun kadzdzaab, Wadha'na Anka wizrak
alladzi anqadha dhahraq; Waqatha'a dabiral qaumal
ladzhiina la yu'minun, quli'malu ala makamatikum inni
'amilun fasaufa ta'malun, Innallaha ma'alladzinat taqau
walladzina hum muhsinun, hal ataaka haditsuz zalzalah,
idza Zulzilatil ardhu zilzalaha, wa akhrajatil ardhu
atsqalaha, waqaalal Insaanu malahaa, yaumaiidzin
tuhaddisu akhbaraha, bi anna Rabbaka auha laha,
Ahasiban nasu anyutraku, Wama ya'tiihim illa
baghtatan."6
Di halaman lainnya lagi dari kitab suci Qadian, Mirza
menerima wahyu tuhannya:
"Afata'tunas sihra wa antum tubshirun, haihaata
haihaata lima tu'adun, man hadzal ladzii huwa mahinum
jahilun au majnun, qul indi syahaadah minallah fahal
antum muslimun, qul indi syahadah minallah fahal antum
mu'minun, walaqad labistu fikum 'umraan min qalbihi
afala ta'qilun, hadza min rahmati rabbika yutimmu
ni'mataho 'alaika, fabasysyir wamaa anta bini'mati
rabbika bimajnun, laka darajah fissaama' wafil ladziina
hum yubshirun."7
Itulah di antaranya koleksi wahyu-wahyu Mirza Ghulam Ahmad
sebagai kitab suci yang sejajar dengan Al-Qur'anul karim.
Pada kitab karangan Mirza Ghulam lainnya yaitu
khutbati-Ilhamiyah, terdapat rangkaian bahasa Arab yang
dilukiskan sebagai bahasa Arab yang tidak terlawankan
ketinggiannya. Bashiruddin Mahmud Ahmad puteranya, berkata:
"Keajaiban dari bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad menyamai
keajaiban bahasa Al-Qur'an. Itulah salah satu tanda
kebenaran missi Al-Masihnya."8
Dan untuk Al-Qur'an sendiri, Mirza Ghulam Ahmad mempunyai
pandangan yang menghina. Ia berkata:
"Al-Qur'an itu Kitab Allah dan Kalimah-kalimah yang
keluar dari mulutku."9
Dengan kata-katanya yang menarik itu, bahwa kitab suci
karangannya harus diimani sebagaimana mengimani Al-Qur'an,
keajaiban bahasa arabnya sama dengan keajaiban bahasa
Al-Qur'an, dan Al-Qur'an sendiri merupakan kalimah-kalimah
yang keluar dari mulut Mirza, maka ucapan-ucapan yang
demikian itu tentunya dituntun dan diajarkan oleh Iblis.
Tidak seorang nabi paIsu yang muncul dalam seJarah Islam
lebih berani bertingkah ucap sebagaimana nabi India Mirza
Ghulam Ahmad Al-Kadzdzaab.
Justru yang dikatakan wahyu-wahyu dari tuhannya itu lebih
banyak merupakan sanjungan pada dirinya bahkan sangat
berlebih-lebihan cara memujinya. Pernah Tuhan berkagt pada
Mirza Ghulam Ahmad:
"Tidak aku utus engkau ya Mirza, kecuali menjadi rahmat
bagi semesta alam."10
Lebih tinggi dari itu, tuhan Mirza mengeluarkan emosinya
dengan puja-puji yang luar biasa pada Mirza Ghulam Ahmad.
Antara lain tuhannya berkata:
"Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti tauhidku dan
ketunggalanku."11
"Engkau wahai Mirza bagiku adalah seperti anakku-
anakku."12
Ahmadiyah dengan cepat mengomentari wahyu tuhan pada nabi
India itu, dengan mengatakan bahwa siapa dari orang -orang
yang taat pada Tuhan maka mereka adalah anak-anakTuhan,
walaupun ini maksudnya bukan dalam arti anak-anak Tuhan yang
riil.13 Children of God yang dikomentarkan Ahmadiyah itu
kelihatannya sangat mirip dengan ajaran Kristen bahwa kaum
Israili ataupun mereka yang taat pada Tuhan adalah juga
terkenal dengan panggilan: putera-putera tuhan.
Pada kesempatan yang lain, tuhan Mirza lebih menyanjung
Mirza Ghulam Ahmad pada posisi yang top yang mungkin telah
memadai kedudukannya dengan Yesus Keristus. Tuhan Mirza
berkata padanya:
"Engkau wahai Mirza bagiku adalah anakku."14
Bagaimana komentar Ahmadiyah; bahwa Mirza Ghulam Ahmad
adalah anakTuhan?! Untuk ini kaum Ahmadiyah berkata:
"Karena orang-orang masehi dengan bohong dan palsu
menempatkan Al-Masih sebagai anak Tuhan yang asli,
sebab itu ghairahKu menghendaki supaya AKU mencintai
engkau sebagai halnya mencintai anak, sehingga nyatalah
kepada dunia bahwa murid dari Nabi Muhammad s.a.w. pun
dapat sampai kepada maqam Athfatullah."15
Dengan pangkat yang demikian muluknya Mirza Ghulam telah
sampai pada derajat yang tiada terjangkau lagi oleh Yesus
Kristus kaum Nasrani. BahkanTuhan berkata pada Mirza Ghulam
Ahmad:
"Apabila engkau wahai Mirza menghendaki sesuatu apa
saja, maka cukup engkau katakan: jadilah, maka jadilah
ia."16
Disinilah Mirza Ghulam Ahmad ternyata duduk dalam posisi
derajat ketuhanan. Bukan saja lampu Aladin menjadi miliknya,
melainkan juga kata-kata "Kun fa yakun" ada dalam
kekuasaannya. Apakah ada yang lebih hebat dari itu semua?!
Sudah tentu orang yang mempunyai kekuasaan kun fa yakun akan
mampu melahirkan segala yang luar biasa termasuk bahasa Arab
yang tidak tertandingkan oleh siapapun juga. Mu'jizat
bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad sama dengan mu'jizat
Al-Qur,an, sebagaimana dikatakan terdahulu. Yang perlu untuk
ditilik kehebatan bahasa Arabnya itu ialah bagaimana pada
suatu waktu tuhan Mirza mengirim wahyu kepadanya, dengan
bahasa Arab yang membuat mata terbelalak. Bukan terbelalak
karena keindahan bahasanya melainkan terbelalak karena
ketololan kata-katanya. Inilah dia wahyu tuhan pada Mirza
itu:
"Wahai Maryam tinggallah engkau bersama istrimu di
sorga" (Ya Maryam Askun Anta Wa Zaujukal jannata.)17
Kelihatannya di sini tuhan Mirza memang tuhan tolol. Ia
tidak bisa bahasa Arab bahkan keliru besar. Mula-mula, nama
Maryam itu sendiri adalah nama wanita. Seharusnya kata-kata
Anta di situ diganti Anti. Kemudian yang lebih menarik lagi
Tuhan mengatakan ya Maryam engkau bersama isterimu, ini
jelas berarti perempuan kawin dengan perempuan, apa bukan
lesbian yang demikian?
Dimanakah letak kewarasan akal Mirza Ghulam Ahmad, puteranya
maupun para pengikut-pengikutnya apabila melihat bentuk
wahyuTuhan di atas? Jika mereka masih bisa menggoyang lidah
dengan memutar-balikkan fakta keblunderan bahasa nabinya itu
dengan mengatakan bahwa yang dimaksud nama Maryam itu adalah
Mirza Ghulam Ahmad, seorang Ia laki-laki atau lebih jelas
yang dimaksud adalah Ibn Maryam sebab Mirza sering dinamakan
Al-Masih ibn Maryam; maka dengan cara itu pula berarti Tuhan
telah keliru sebut. Maunya sebut Ibn Maryam, yang kena hanya
Maryamnya saja. Jika itu maksudnya, maka tuhan Mirza
nyatanya sudah keliru juga dalam menyusun bahasanya. Ataukah
sebagaimana lazimnya Ahmadiyah akan mengatakan bahwa itu
adalah keliru cetak? Tentu saja mana dari yang bisa diterima
logika boleh diambil Ahmadiyah. Namun yang pasti gelar
Sultanul Kalam yang ada pada Mirza Ghulam Ahmad hanyalah
sultan-sultanan saja. Pantas juga sayid Muhammad Rasyid
Ridha tidak menjawab tantangan Ahmadiyah itu.
Catatan kaki:
1 M.G.A., Istifta', hal. 77: (Wa Numinu kama numinu bi
Kitaabillah Khaliqul Anaam).
2 M.G.A., Istifta', hal. 87: (Jaani Ayl).
3 M.G.A., Istifta', hal. 82: (Inna Anzalnahu ghariiban
minal Qadiaan wabil haqqi anzalnahu wabil haqqi nazal).
4 M.G.A., Istifta', hal. 77.
5 M.G.A., Istifta', hal. 77.
6 M.G.A., Istifta', hal. 84.
7 M.G.A., Istifta', hal. 78.
8 Bashiruddin Mahmud Ahmad. Invitation, hal. 97.
9 Mirza Ghulam Ahmad, Istifta', hal. 81: (innal Qur"an
kitabullah wa kalimaatun kharajat min tuhi.)
10 Mirza Ghulam Ahmad, Istifta', hal. 81 (wa ma arsalnaka
illa rahmatan lil 'alamin).
11 Mirza Ghularn Ahmad, Istifta', hal. 82-juga lih.
al-Wasiyat, hal. 36. (anta minni bimanzilati tauhidi wa
tafridi).
12 M.G.A., Istifta, hal. 82, juga lih. M.G.A., Fountain of
Christianty, hal. 45: (anta minni bimanzilati aulaadi).
13 Analyst' Fact about Ahmadiyaa Movement, hal. 18.
14 M.G.A., Istifta', hal. 82.: (anta minni bimanzilati
waladi)
15 Mirza Mubarak Abmad, Masih mauud a.s., hal. 15.
16 M.G.A., Istifta', hal. 88: innama amraka idza aradta
syai'anan taqula lahu Kun Fa yakun.)
17 M.G.A., Istifta', hal. 79.
ASNAGHAS WAHYU (WAHYU YANG DATANG DARI IBLIS)
Habislah sudah masa relax dengan Mirza; kini beralih kembali
pada sepak-terjang yang menyakitkan. Ia mengetahui bahwa
kegagalan-kegagalan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Harus ada usaha untuk menyembunyikannya dengan cara baik.
Satu hal yang sering terjadi, jika seorang berkata terhadap
dirinya sendiri: "Aku adalah orang terkuat," maka orang itu
sebenarnya bukan terkuat melainkan termasuk dalam kategori
orang sembarangan. Kebetulan sekali Mirza Ghulam Ahmad
terlibat keseluruhannya dalam situasi macam orang di atas.
Ia sangat membangga-banggakan dirinya, bahkan tuhannya
sendiri mengangkat ia pada derajat kemuliaan yang tiada
taranya.
Namun demikian, sejarah sangat meragukan kebenaran derajat
kemuliaannya itu. Dan keraguan ini justru sangat tepat,
bila kita lihat sepak terjangnya yang begitu berbelit-belit.
Bahkan ia pribadi yang sangat mentah. Ia dan Ahmadiyahnya
adalah satu topengan, dimana wajah dibalik topeng itu
merupakan contoh figur kepalsuan dan kemunafikan
semata-mata. Anehnya wajah yang disembunyikan dengan baik
itu, dikupas sendiri olehnya maupun oleh
pengikut-pengikutnya. Pada bab-bab yang sudah, kita telah
mengetahui watak-watak keyahudiannya. Maka untuk
selanjutnya kita akan mengetahui bahwa Mirza Ghulam Ahmad
maupun Ahmadiyahnya sangat menyukai watak keyahudian itu,
yaitu watak yuharrifunal kalimah an-mawadhi'ih dan watak
Judas Eskariot dalam kisah perjanjian barunya kaum Nasrani.
Ia memperoleh gelar dari pengikut-pengikutnya berupa
sebutan: "s.a.w." atau sallalahu alaihi wasallam, satu gelar
yang lazim disampaikan pada Nabi Muhammad. Kadang-kadang
bila di Inggriskan gelar itu, maka sesudah menyebut nama
Mirza Ghulam Ahmad ditambah dibelakangnya dengan: "On Whom
be Peace and Blessing of GOD upon Him" yakni upon Mirza.1
Sesudah itu, tidak ada lagi orang yang bisa menyamai Mirza;
Tidak juga seorang Nabi maupun seorang Rasul. Dengan lantang
ia berkata:
"Jangan kamu samakan Aku dengan siapapun, dan jangan
siapapun disamakan dengan Aku."2
Kemudian Mirza menambah lagi kata-katanya:
"Sesungguhnya telapak kakiku ini di atas satu menara
yang disudahi atasnya sekalian ketinggian."3
Ia melanjutkan derajat ke-AKU-annya dengan berkata:
"Aku lahir sebagai satu kodrat Tuhan yang berjasad. Aku
adalah kodrat Tuhan dan ada lagi beberapa wujud yang
jadi mazhar cermin, tempat zahir kodrat kedua. Sebab
itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa menanti
kodrat tuhan yang kedua itu."4
Siapa yang dimaksud Mirza dengan kodrat kedua itu, kurang
jelas. Mungkin itu rohul kudus dariTuhan sesudah kematian
Mirza.5 Kelihatannya mirip dengan Trinitas ummat Kristen.
Selanjutnya sebagai kodrat Tuhan yang berjasad, Mirza Ghulam
Ahmad masih ada padanya beberapa wujud yang lain, antara
lain tuhannya sendiri telah berkata padanya:
"Wahai sang rembulan, wahai sang surya Mirza, Engkau
dari AKU, dan Aku dari Engkau."6
Mirza Ghulam sangat terharu mendapat panggilan dari tuhannya
"sang rembulan dan sang surya." Perpaduan Engkau dari Aku
dan Aku dari Engkau, benar-benar telah menggambarkan satu
keadaan dimana Tuhan sangat membutuhkan Mirza serta sangat
menghormatinya. Ia mengatakan bahwaTuhan telah memanggilnya
sang rembulan oleh karena ia laksana rembulan dari sang
surya. Dan kemudian ia laksana sang surya, dan Tuhan laksana
rembulan, oleh karena dari Mirzalah bulan Tuhan itu mendapat
sinar dan akan bersinar cahaya kemenanganNya.7
Ternyata Mirza Ghulam Ahmad adalah bagian dari Tuhan yang
aktif dan ia juga terbikin dari Tuhannya. Berkata tuhan pada
Mirza Ghulam:
"Wahai Mirza, Engkau terbikin dari Air-KU, akan tetapi
mereka itu terbikin dari bibit yang lemah."8
Melihat wahyu tuhan yang hebat di atas, kaum Ahmadiyah
segera mempersiapkan jawaban bila ada serangan dari luar
yang memang sangat tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa,
Mirza terbikin dari Air Tuhan? Ahmadiyah untuk ini menjawab:
"Telah jelas bahwa wahyu-ilham, nubuwah-nubuwah dan
sebagainya termasuk urusan mutasyabihaat, mengandung
makna spekulatip yang dapat diartikan macam-macam.
Dalam hubungan ini perlu diperhatikan pula orang yang
mengatakan itu. Dengan demikian kita dapat terhindar
dari tidak memberikan tafsiran yang bertentangan dengan
maksud orang yang mengatakan sendiri. Ini adalah kaidah
para ahli dalam ilmu"9
Oleh karena itu, kata Ahmadiyah selanjutnya, marilah kita
lihat apa yang dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Ia
berkata:
"Yang dimaksud 'air-KU' ialah: air iman, air istiqamah,
air taqwa, air kesetiaan, air kebenaran, air kecintaan
pada Allah yang datang dari Dia juga. Fasyal adalah
kepengecutan yang datang dari setan."10
Lebih lanjut Ahmadiyah menunjukkan contoh dalam Al-Qur'an
yang sama dengan wahyu "Air-KU" itu. Misalnya Tuhan berkata:
"Khuliqal insaanu rnin 'ajal-artinya: manusia itu
dijadikan dari kecepatan. (surah Anbiya 37) dan ayat:
Khalaqakum min dhu'fin: kamu telah dijadikan dari
kelemahan. (surah Rum 54). Benarkah manusia itu
dijadikan dari kecepatan? benarkah ,manusia dijadikan
dari kelemahan? Jelaslah bahwa wahyu itu mengandung
isti'arah yaitu kiasan."11
Demikian penjelasan kaum Ahmadiyah dalam rangka menafsirkan
wahyu "Air-KU" yang menakjubkan itu. Secara sepintas lalu,
mungkin alam pikiran bisa menerima cara pembelaan kaum
Ahmadiyah itu, termasuk ucapan isti'arah Mirza. Akan tetapi
sejarah nabi India dan pengikut-pengikutnya itu tidak
bermaksud beristi'arah atau berkias. Sebab meskipun pada
kenyataannya ada tulisan-tulisan Mirza sendiri maupun
tulisan pengikut-pengikutnya yang segera mengatasi atau
membela maupun menafsirkan ucapan-ucapan Mirza-Ghulam yang
keliwat batas itu, namun pada hakikatnya karena
faktor-faktor tertentu, mereka tidak dapat menyembunyikan
figur yang sebenarnya dari nabi India itu.
Faktor yang pertama ialah, cara atau macam contoh-contoh
yang dikemukakan mereka itu serba terlanjur, tergelincir dan
blunder. Faktor yang kedua, dan inilah faktor yang terutama,
ialah, terletak pada sang nabi India itu sendiri. Antara
lain, faktor kejiwaannya, faktor kondisi tubuhnya dan faktor
sejarah yang terjadi disekelilingnya maupun yang terjadi
sebelum ia muncul dengan seribu satu macam pangkat itu.
Allah s.w.t. berfirman dalam Al-Qur'an, surah At-Thaariq
ayat 5 dan 6, bahwa manusia dijadikan dari air yang
terpencar. ("khuliqa min main- dzaafiq") surah Al-Mursalaat
ayat 20, bahwa manusia dijadikan dari air yang kotor. ("Alam
nakhluqum min main mahiin?"). Itulah "air" kejadian manusia
yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim. Jelas bahwa mereka
itu ("wa hum" dijadikan dari-min maa'in dzafiq, wa hum min
maain mahiin, wa hum min fasyal).
Sedangkan wahyu Tuhan pada Mirza Ghulam Ahmad bahwa ia
terbikin dari "airTuhan" hanyalah satu kiasan semata?!
Terserah bila itu hendak dipaksakan menjadi satu kias. Namun
yang jelas itu bukan hanya satu kias belaka; melainkan juga
satu bukti betapa tingginya derajat Mirza pada sisi
tuhannya.
Contoh kedua yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu: ayat 54 surah
Rum, kamu dijadikan dari kelemahan, "khalaqakum min
dhu'fin." Ayat ini sebenarnya masih panjang, tapi Ahmadiyah
hanya mengambil sepotong ayat saja. Kembali pada hobby
mereka lagi. Padahal lengkapnya ayat itu berbunyi:
"Allah menjadikan kamu dari lemah (min dha'fin, bukan
dhu'fin), kemudian sesudah lemah itu kamu dijadikan
kuat, dan sesudah kuat itu kamu balik lagi menjadi
lemah dan tua. Dia menjadikan apa yang dikehendakiNya.
Dia mengetahui lagi Kuasa."
Jelas bahwa Ahmadiyah terang-terangan: memotong ayat
Al-Qur'an, merobah dha'fin menjadi dhu'fin, mengartikan
lemah dengan arti kias, padahal lemah di situ adalah arti
yang sebenarnya. Satu perbuatan blunder !
Contoh ketiga yang dikemukakan Ahmadiyah yaitu ayat 249 dari
surah Al-Baqarah. Ayat tersebut dikutip sebagai berikut:
"Faman syariba minhu fa-laisa minni. Diartikan oleh
Ahmadiyah, siapa yang minum daripadanya (air-sungai)
dia bukan daripada-KU." Ahmadiyah langsung bertanya:
"Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air
sungai itu dia dari Tuhan? Ini senada dengan ilham
hazrat Ahmad di atas (anta min maina-pen.)12
Ayat 249 suratul Baqarah di atas pernah kami kutip dalam bab
ketiga, ketika membahas watak-watak ke-yahudian kaum
Ahmadiyah. Ayat tersebut sebenarnya masih panjang, tetapi
pihak Ahmadiyah hanya mengambil sepotong saja. Kembali pada
hobby mereka lagi, yuharrifunal kalimah an-mawadhi'ih.
Padahal lengkapnya ayat ini berbunyi:
"Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia
berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu
sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya
bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan
airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk
tangan, maka ia adalah pengikutku."
Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah
terjadinya peristiwa itu. Bukan diartikan seperti kehendak
kaum Ahmadiyah bahwa yang minum air dari sungai itu bukan
daripada-KU (yakni TUHAN). Jelas bahwa Ahmadiyah
terang-terangan berbuat: memotong ayat Al-Qur'an,
mengaburkan sejarah yang difirmankan oleh Allah, merobah
makna yang sebenarnya dengan makna kiasan. Suatu perbuatan
blunder! Dari faktor pertama ini saja, sudah lebih dari
cukup bagi sejarah untuk memberi merek abadi pada kaum Mirza
Ghulam Ahmad sebagai kaum Musailimah pendusta dan sekaligus
sebagai kaum Yahudi India.
Lebih-lebih faktor kedua, Mirza Ghulam dan kaumnya akan
telanjang bulat di atas panggung sejarah mempertontonkan
segala kemunafikannya. Mirza Ghulam Ahmad terlalu
membesar-besarkan dirinya, ataukah tuhannya yang sudah
terlalu menyanjung-nyanjung Mirza? Perhatikanlah bagaimana
Tuhan berkata tentang Mirza:
"Ya Ahmad, Allah memberkahimu" ('ya Ahmad barakallah
fika')13
"Ya Ahmad, nama-Mu bisa sempurna, tapi nama-Ku tidak
bisa sempurna." ('ya Ahmad yutimmu ismuka, wa la
yutimmu ismii')14
"Wahai Ahmadku, kebahagiaan untukmu." ('busyra laka ya
Ahmadii')15
"Wahai Ahmadku, Engkaulah tempat keperluanku, dan
Engkau beserta Aku." ('ya Ahmadi Anta muraadi wa
ma'ii.')16
Demikian beberapa kali tuhan memanggil Ahmad, sebagai pujian
serta sanjungan yang tak habis-habisnya. Nama Mirza Ghulam
Ahmad bisa "sempurna" kata tuhan, tetapi nama tuhan sendiri
"tidak bisa sempurna." Satu hal yang luar-biasa, betapa
urgentnya nama nabi India itu bagi tuhannya.
Bagaimana penjelasan Ahmadiyah tentang wahyu di atas, apakah
kira-kira tidak keliru atau salah cetak? Bagi Ahmadiyah,
karena itu adalah wahyuTuhan maka tidak ada yang keliru atau
salah cetak. Bahkan penjelasan dari wahyu yang luarbiasa itu
diberikan oleh Mirza Ghulam sendiri. Ia mengatakan bahwa
wahyu "namamu bisa sempurna" itu artinya: bahwa ia (Mirza)
akan mati dan pujian baginya akan habis pula. Kemudian
dengan wahyu: "Nama-KU tidak bisa sempurna" diartikan oleh
Mirza, bahwa, puji-pujian bagi Allah tidak akan
habis-habisnya.17
Penjelasan Mirza Ghulam tersebut bertolak belakang dengan
wahyu Tuhan yang ia terima. Bagaimana bisa demikian, namamu
bisa sempurna, diartikan tidak sempurna, mati dan habis.
Sedangkan, nama-KU tidak bisa sempurna, diartikan sempurna
dan kekal? Blunder lagi, bukan?!
Meskipun demikian tuhan membutuhkan Mirza Ghulam. Bahkan
lebih dari kebutuhan, ia menjadi pilihan bagi tuhannya.
Untuk iniTuhan berkata pada Mirza:
"Engkau Mirza terpandang di hadirat-Ku, AKU pilih
engkau bagi Diri-KU." ('wa Anta wajiihun fi hadhroti
ikhtartuka li nafsii')18
"Engkau kepada-KU hai Mirza, di suatu martabat yang
tidal: diketahui oleh manusia." (wa Anta minni
bimanzilatin la ya'lamuhal khalq)19
"Allah memujimu dari Arasy-Nya." (yahmadukallah min
arsyihi)20
"AKU Allah memujimu dan menyampaikan salam sejahtera
padamu." (nahmaduka wa nushalli)21
"AKU banyak menyampaikan salam padamu." (Alaika salaam
katsir minni)22
"Ya nabi Allah, tadinya AKU tidak kenal padamu." (ya
nabiallah kuntu la a'rifuka)23
"Wahai gunung-gunung dan burung-burung! ingatlah AKU
bersama Dia dengan perasaaan asyik dan terharu." (ya
jibaalu awwibii ma'ahu wath-thair)24
"Engkau beserta AKU dan AKU beserta Engkau, rahasiamu
itu adalah rahasia-KU." (Anta ma'i wa Ana ma'aka'
sirruka sirri)25
Demikian limpahan puji dari tuhan pada Mirza Ghulam Ahmad.
Karenanya tidak aneh kalau Mirza Ghulam berani
memperlihatkan segala sepak terjangnya bahkan kalau perlu ia
marah dan marah sekali. Sebab kemarahan Mirza adalah
kemarahan Tuhannya. Berkata Tuhan pada Mirza:
"Bila Engkau marah, AKU-pun marah juga, dan bila Engkau
suka pada seseorang, AKU-pun juga suka padanya." (idzha
ghadibta ghadibtu wa kullama ahbabta ahbabtu)26
Keberanian Mirza lebih galak lagi, tatkala Tuhan memberi
kabar wahyu padanya:
"Bersamamu wahai Mirza,' tentara di langit dan di
bumi." (wa ma'aka jundus samaawati wal aradhiin)27
Kemudian Tuhan memberi satu jaminan pada Mirza bahwa tidak
akan ada siksaan bila di suatu tempat ada Mirza Ghulam
Ahmad. Tuhan Mirza berkata:
"Dan sesungguhnya Allah tidak akan mendatangkan adzab
pada mereka jika engkau berada di tengah-tengah
mereka." (ma kanallahu liyuadzdzibahum wa Anta fihim)28
"Aku besertamu, beserta keluargamu dan beserta
orang-orang yang mencintaimu." (inni ma'aka wa ma'a
ahlika kullu man ahabbaka)29
"Siapa yang datang padamu, maka ia telah datang
pada-KU." (man ja'aka ja'ani)30
"Allah memujimu dan mengangkatmu pada derajat yang
tinggi." (sabbahakallahu wa rafa'aka)31
"Jika tidak karena Engkau ya Mirza, AKU tidak jadikan
Alam ini." (Lau laka lama khalaqtul aflaaka)32
Bukan main, tidak dijadikan alam kalau tidak karena Mirza
Ghulam Ahmad! Alangkah hebat kedudukan Mirza. Apakah lagi
yang kurang untuk ditambahkan untuk mempertinggi derajat
Mirza Ghulam di sisi tuhannya? Tentu saja hal itu masih
kurang, kata Mirza dan Ahmadiyahnya. Bahkan itu masih jauh
daripada derajat yang diperoleh Mirza Ghulam Ahmad.
Wahyu-wahyu yang lebih hebat lagi turun melimpah pada Mirza
Ghulam dari tuhannya. Ia selalu berhubungan denganTuhan.
Kadang-kadang Tuhan turun untuk memujinya, dan pada
saat-saat yang sangat luar biasa, Mirza Ghulam naik menemui
tuhannya. Situasi kerohanian yang tiada tara bandingannya
itu, bagi sejarah Islam hampir-hampir dilupakan atau
dilewati begitu saja. Mungkin satu hal yang pasti mengapa
sejarah tidak ambil pusing dengan peristiwa "orang Qadian"
itu, ialah bahwa Mirza Ghulam Ahmad disebabkan faktor-faktor
yang sudah disebutkan terdahulu, bukan seorang yang
kelimpahan wahyu dari tuhan, melainkan ia memperoleh
wahyu-wahyu iblis. Dan memang itulah kenyataannya.
Catatan kaki:
1 Mirza Bashir Ahmad, Durr-i-Manthur, Rabwah Ahmadiyya
Muslim Foreign Mission Office, 1960, hal.1 - juga lihat
Khutbatul Ilhamiyah hal. muka dan Tukhfah Bagdad, hal.
muka.
2 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah ilhamiyah, hal. 6 (La
tagisuni Bii Ahadin Wala Ahadin Bii.)
3 Mirza Ghulam Ahmad, Khutbah lihamiyah, hal. 10 (Wa
inna qadami hadihi ala Manaratin khutima Alaihi kullu
rif'atinn).
4 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, terjemah A. Wahid
H.A. Jakarta Neraca Trading Company, 1949, hal. l2.
5 Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiyat, hal. 13.
6 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, Rabwah
m.f.m.o., 1961, hal. 45: dan - Istifta hal. 80: (ya
qamar ya syamsu Anta mimu wa Ana minka).
7 Mirza Ghulam Ahmad, Fountain of Christianity, hal.
45: (that God made me first, the moon for I came like
the moon from the real sun, and, then, He became the
Moon; for, through me shone and will shine, the light
of His Glory.)
8 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
9 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
10 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 37.
11 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 38.
12 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid
Bakry, hal. 38.
13 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 21.
14 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
15 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
16 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 23.
17 Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, hal. 29.
18 Mirza G.A., Tukhfah Bagdad, hal. 26 dan M.G.A.,
Alwasiyat, hal. 40.
19 M.G.A., Alwasiyat, hal. 40, dan Tukhfah Bagdad, hal. 26.
20 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
21 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 25.
22 M.G.A. Al-Istifta, hal, 86.
23 M.G.A., Istiftha, hal. 86.
24 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 42.
25 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 30.
26 M.G.A., Al-Wasiyat, hal. 41.
27 Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Bagdad, hal. 26.
28 M.G.A., Istifta, hal. 85.
29 M.G.A., Istifta, hal. 85.
30 M.G.A., Istifta, hal. 84.
31 M.G.A., Istifta, hal. 85.
32 M.G.A., Al-Istifta, hal, 86.
Sebuah kisah 1001 malam mungkin membuat kita sedikit relax
daripada menceritakan terus menerus watak-watak keyahudian
Mirza Ghulam Ahmad dan anak-anak buahnya. Sebuah kisah
asmara dimana Mirza Ghulam Ahmad menjadi tokoh Majnunnya,
banyak diketahui masyarakat India.
Sheik Abubakar Najar seorang penulis India yang mashur
menceritakan kisah seribu satu malam itu dengan judul:
"Taukah tuan tentang Mirza Ghulam Ahmad yang jatuh cinta?"1
Artikel ini tidak ditulis sebagai suatu romance atau kisah
humor. Ini adalah kisah nyata. Meskipun kedengarannya nanti
sebagai suatu romance fantasi, namun cerita ini berasal dari
tulisan yang orisinil dari pahlawan yang ada dalam cerita
tersebut yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian yang oleh
pengikut-pengikutnya diakui sebagai Almasih, Almahdi, Nabi
dan Rasul.
Ketika itu umur Mirza Ghulam Ahmad mencapai 50 tahun lebih.
Keadaannya kian hari kian bertambah lemah disebabkan
seringnya penyakit-penyakit datang menyerang. Ia juga
mendapat serangan penyakit pada matanya.
Akan tetapi tidak disangka-sangka pada suatu ketika mendadak
sorot mata Mirza menyala lagi. Apa gerangan yang menyebabkan
mata sakit itu bersinar kembali. Ah, seorang dara ayu
bernama Muhammadi Begum telah tertangkap oIeh pandangan mata
Mirza. Dara itu adalah puteri dari paman ibunya, Mirza Ahmad
Beg. Maka sudah menjadi suratan takdir bahwa pandangan
pertama Mirza Ghulam menjadi titik mula terbakarnya sang api
cinta dalam kalbunya. Dan mujurlah kiranya, sebab ketika
Mirza GhuIam Atmad jatuh cinta, ia telah jadi rasul akhir
zaman, sehingga harapannya untuk mempersunting sang dara
tidak akan menemui kesulitan maupun rintangan.
Akan tetapi sayang sekali bahwa apa yang telah terjadi
adalah sebaliknya. Ayah sang dara itu ternyata tidak
tertarik pada kerasulan Mirza. Lebih-lebih lagi pinangan
terhadap anaknya, ia tidak sudi mengorbankan anaknya bagi
memenuhi hasrat nafsu Mirza Ghulam yang sudah tua lagi
sakit-sakitan itu. Apalagi reaksi sang dara, ia spontan
menolak mentah-mentah pinangan nabi Ahmadiyah itu.
Mirza Ghulam Ahmad tidak menduga sama sekali, bahwa ia telah
menerima jawaban yang sangat mengecewakannya; Karena itu ia
segera mengumumkan tentang wahyu yang baru saja ia terima
dari Tuhannya. Ia berkata bahwa Tuhan telah mempertunangkan
Mirza dengan dara ayu itu secara ghaib (spirituil). Dan bagi
keluarga dara Muhammadi Begum, demikian kata Mirza, Tuhan
akan memberi berkah bila nantinya mereka menyetujui
pertunangan itu secara resmi. Juga Mirza tidak ketinggalan
memberi satu peringatan keras, yaitu bila mereka menolak
lamarannya itu atau mengawinkan anaknya dengan laki-laki
lain, maka suami yang bukan Mirza itu akan mati dalam waktu
dua setengah tahun kemudian, dan ayah sang dara akan mati
dalam waktu tiga tahun sesudah perkawinan itu. Mirza
mengumumkan wahyu-wahyunya itu melalui risalahnya serta ia
bagi-bagikan pada khalayak ramai. Hal ini pernah ia tulis
dalam kitabnya: "ainae kemalati Islam" halaman 552. Juga
tertulis dalam kitab Ahmadiyah "Facts About Ahmadiyyah
Movement" halaman 34.
Dalam kitabnya yang lain yaitu "izalatil auham" halaman 396
Mirza mengumumkan, bahwa Tuhan telah bersabda padanya:
"Bahwa puteri Ahmad Beg akan menjadi salah seorang
isterinya, tetapi keIuarganya akan menentangmu dan akan
berusaha agar supaya perkawinanmu itu tidak terlaksana.
Akan tetapi jangan kuatir karena Allah akan memenuhi
janjiNya dan menyerahkan puteri itu padamu, dan tidak
seorangpun yang sanggup menghalangi apa yang telah
dikehendaki Allah."
Sungguhpun demikian orang-tua gadis itu sama sekali tidak
terpengaruh oleh wahyu nabi Qadian itu, dan dengan tegas
ditolaknya lamaran Mirza. Tatkala Mirza Ghulam mendengar
lamarannya telah ditolak, maka hatinya jadi gelisah kemudian
segera ia umumkan wahyunya yang baru saja ia terima,
tersebut dalam kitab Asmani Risalat halaman 40 yang isinya
antara lain:
"Aku Allah telah menikahkan gadis itu padamu, hai
Mirza!" Tak ada perubahan atas kata-kataKu dan bila
rnereka melihat kekuasaanKu terjelma, mereka akan
berpaling dan berkata bahwa itu adalah sihir semata."
Juga dalam kitabnya yang lain yaitu Tukhfah Baqdad halaman
28, Mirza berkata bahwa Tuhannya telah menyampaikan wahyu
padanya, antara lain:
"Bergembiralah engkau hai Mirza, bahwa Aku menikahkan
engkau dan Aku telah kawinkan gadis itu dengan engkau."
Sekali lagi wahyu-wahyu Mirza Ghulam tersebut tidak cocok
dengan kejadian yang sebenarnya. Apa yang terjadi kemudian
telah membawa kehidupan Mirza Ghulam jadi semakin susah
karena cintanya tidak terbalas. Sebaliknya orang-tua gadis
itu tetap menolak serta menganggap segala daya upaya Mirza
itu sebagai kejenakaan belaka.
Tidak lama kemudian Mirza kembali mengumumkan tentang
dirinya melalui berita berbahasa Arab dan ditujukannya pada
para Ulama Syeikh-syeikh, dengan kata-kata:
"Telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, dan waktunya
telah terjadi bersama-sama berkahNya yang telah
mengumumkan Muhammad sebagai Rasul dan menjadikan
beliau sebagai utusan terbaik serta manusia terbaik.
Maka inilah kebuktian yang disampaikan juga kepadaku,
bahwa ramalanku menjadi kenyataan dan aku tidak berkata
tentang sesuatu sebelum Tuhan berkata padaku."
Tampaknya Mirza Ghulam sedang bergembira karena turunnya
wahyu itu, tapi anehnya ia masih tampak sedih dan letih.
Semuanya hidupnya berangsur-angsur turun serta meredup,
akhirnya ia menjadi buah tertawaan orang banyak karena
wahyu-wahyunya selalu meleset.
Dengan sisa kekuatan yang ada Mirza Ghulam terpaksa harus
membalas olok-olokan orang-orang itu serta berusaha menutupi
kelemahannya. Dalam risalahnya tertanggal 10 juli 1888
Masehi, ia membalas mereka yang memperolokkan itu dengan
kata-kata:
"Mereka tidak percaya tanda-tandaku lalu mengejekku;
tetapi Allah akan menjadikan hidupku jaya dan
mengembalikan segala ejekan itu pada diri mereka
sendiri. Inilah wahyu dan inilah kehendak Allah dan Dia
tidak merobah kehendakNya. Dia berbuat sesukaNya.
Sesungguhnya hai Mirza Aku beserta engkau dan engkau
dengan Aku, kelak Tuhanmu akan mengangkat dirimu pada
kedudukan yang terpuji."
Adapun yang dimaksud dengan kata-kata "terpuji itu" ialah
bahwa perkawinannya dengan gadis itu akan terlaksana.
Selanjutnya ia mengumumkan dalam kitab Dafa elwathawis
halaman 228, sebagai berikut: "Biarlah mereka yang
mengingkari kebenaran akan diperingatkan dan menyesali diri
mereka, demikian ramalanku pasti tepat."
Semua itu adalah klimaks dari reaksi Mirza Ghulam, dimana ia
telah mengancam lewat wahyu-wahyunya. Bahwa ia telah
mengumumkan pertunangannya dengan Begum kemudian pertunangan
itu ternyata diselenggarakan sendiri oleh Allah. Kemudian ia
umumkan perkawinannya dan perkawinannya itu juga
diselenggarakan oleh Allah karena atas kehendakNya pula.
Akhirnya Mirza menegaskan bahwa semua itu pasti terjadi dan
harus terjadi.
Dalam kitab Ahmadiyah, "Facts About Ahmadiyah Movement"
halaman 31, seorang bernama Mesum Beg menulis satu pembelaan
terhadap Al-Majnun Mirza Ghulam bahwa keluarga besar Ahmad
Beg dimana sang dara itu berada, ternyata mereka ini kena
pengaruh hukum maupun tradisi yang berlaku di kalangan
masyarakat Hindu, yaitu bahwa satu perkawinan antar keluarga
dekat seperti Mirza Ghulam dengan Muhammadi Begum itu,
tidak dapat dibenarkan. Hal ini, kata Mesum Beg, terjadi
juga tatkala Nabi Muhammad akan mengawini puteri Zainab.
Maka jelaslah letak persoalan yang sebenarnya, mengapa Ahmad
Beg menolak mengawinkan anaknya dengan Mirza yang masih
kerabat dekat itu. Rupa-rupanya ia mengikuti satu peraturan
bukan dari Islam. Benarkah itu semua? Sheik Najjaar tidak
banyak menaruh perhatian pada pembelaan Mesum Beg.
Bagaimana kisah selanjutnya dari love affair Mirza itu?
Sembuhkah sukma Mirza dari derita asmara. Sayang sekali
semua yang diimpi-impikan Mirza tidak terjadi dan bagaimana
dengan Mirza? Hatinya makin remuk lebih-lebih setelah
didengarnya kabar bahwa keluarga gadis itu memutuskan untuk
mengawinkan puterinya dengan seorang pemuda bernama: Sultan
Muhammad. Mirza Ghulam sangat sedih ia menangis dan menangis
akhirnya ia menulis surat pada setiap keluarga gadis itu,
mula-mula memberi peringatan, tapi akhirnya ia mohon dengan
sangat karena tak tahan lagi hidup tanpa gadis itu.
Permohonannya tidak mendapat jawaban. Bahkan di antara
mereka yang menolak permohonan Mirza itu adalah keluarganya
sendiri, ialah anak isteri dari Fazl Ahmad. Akibatnya Mirza
Ghulam kena pukul lebih hebat lagi.
Maka ia lalu bertindak sesuatu yang tidak disukai oleh
Agama, yaitu memerintahkan anaknya untuk menceraikan
isterinya dengan segera. Terjadilah perceraian itu. Lebih
dari itu, puteranya yang lain yang tidak menyukai cara-cara
yang diperbuat ayahnya itu, telah dihardik oleh Mirza dari
lingkungannya, bahkan ia tidak diberi hak untuk mewaris.
Peristiwa ini tersebut dalam kitab Seeratul Mahdi halaman
22.
Mirza Ghulam Ahmad menjadi seorang pecemburu tidak karuan;
ia mengirim utusan-utusan pada keluarga gadis itu dan juga
pada pamannya, mohon belas kasihan agar perkawinan gadis itu
dengan Sultan Muhammad dibatalkan saja. Permohonannya itu ia
umumkan dalam kitab Seeratul Mahdi halaman 174. Namun
utusan-utusan itu tidak membawa hasil yang diharapkan. Mirza
tidak dikasihani oleh keluarga gadis itu, juga tidak oleh
gadis itu sendiri. Bahkan suatu peristiwa yang mengejutkan
Mirza Ghulam telah terjadi. Pada tanggal 7 April 1892
Masehi, ketika pengikut-pengikut Mirza Ghulam sedang asyik
berdo'a dalam mesjid agar perkawinan itu batal, diluar
mesjid terjadilah keramaian dimana pernikahan dara ayu
Muhammadi Begum dengan sultan Muhammad, tengah
dilangsungkan.
Tidak ada yang lebih hebat terpukul selain Mirza Ghulam
Ahmad, suatu pukulan yang sekaligus menghantam hati dan
prestigenya. Ia jadi patah hati, putus harap. Dalam harian
Al-Hakam vol 5 no. 29 tertanggal 1-8-l90l, ia menulis:
"Sesungguhnya gadis ini belum menjadi isteriku, namun
demikian jangan kira aku tidak akan mengawininya,
sebagaimana aku telah katakan sebelumnya. Dan
barangsiapa yang mencemoohkan aku, akan mendapat malu.
Karena gadis ini masih hidup maka ia akan menemui aku
dalam suatu perkawinan yang akan datang. Ini bukan
hanya harapan melainkan suatu keharusan, karena Allah
telah menyampaikan padaku tentang ini dan Allah tidak
rnerobah KehendakNya."
Mirza Ghulam menanti-nanti harapannya itu, akan tetapi waktu
yang dinanti-nantikan tidak kunjung datang, sedang ia telah
terlanjur mengumumkan wahyu-wahyunya, antara lain ia berkata
bila pinangannya ditolak, maka suami Begum yang sekarang
akan mati setelah dua setengah tahun kemudian, menyusul ayah
sang Begum enam bulan kemudian.
Maka waktu yang dinanti-nantikan itu telah tiba; dan waktu
itulah yang menjadi bukti kebohongan Mirza Ghulam. Mungkin
akan menjadi kebanggaan baginya bila yang ia ramalkan itu
akan terlaksana. Akan tetapi yang jelas, kesialan selalu
mengejar hidup Mirza Ghulam. Ia hidup berantakan, isterinya
yang pertama tidak bahagia lagi.
Dua setengah tahun telah berlalu, dua sejoli itu masih hidup
bahagia. Ketika perang dunia pertama itu pecah, suami Begum
ikut dalam peperangan, ia mendapat luka-luka tetapi kemudian
sembuh dan hidup kembali bersama isterinya bertahun-tahun
dalam damai dan bahagia.
Pada tahun 1908, jauh sebelum perang dunia pertama itu
pecah, Mirza Ghulam Ahmad sudah berangkat mati akibat
penyakit kolera yang dideritanya. Satu hal yang aneh bagi
orang-orang yang mengetahui kisah Mirza Ghulam ini, ialah
bahwa pengikut-pengikutnya masih bersitegang ingin membela
nabi yang sial itu, agar tertutup rasa malu akibat kegagalan
Mirza memikat sang dara Begum.
Pembelaan mereka ditujukan pada dunia diluar Ahmadiyah,
yaitu bahwa apa yang diramalkan nabi India itu mengandung
makna yang lain daripada yang dikatakan. Dr. Nuruddin
khalifah Ahmadiyah yang pertama, telah mengumumkan apa yang
menjadi percakapan orang banyak, yaitu tentang
ramalan-ramalan Mirza yang selalu meleset, terutama sekali
tidak jadinya ia kawin dengan gadis pujaannya itu.
Dalam Review of Religion, vol. 7, no. 6 tanggal 8 Juni 1908,
Nuruddin berkata:
"Kalau sekiranya salah seorang dari anak-anak atau cucu
Mirza Ghulam Ahmad kejadian telah mengawini salah
seorang puteri dari keturunan Muhammadi Begum, maka
yang demikian itulah yang sebenarnya dari ramalan Mirza
Ghulam telah terlaksana."
Demikian pembelaan kaum Ahmadiyah terhadap nabinya. Dan
demikian pula kisah yang mengaku rasul, nabi, Al-Masih, dan
Al-Mahdi yang dinanti-nantikan telah menjadi korban asmara.
Kisah yang sungguh terjadi, kisah Al-Majnun bertepuk sebelah
tangan, lucu dan patut dikasihani.
Satu hal yang nyata dan benar dapat diangkat dari kisah yang
diceriterakan kembali oleh Sheik Najjar itu, yaitu kegagalan
Mirza Ghulam Ahmad mempersunting seorang dara yang ia
dambakan. Kegagalan inilah yang menghiasi kehidupan Mirza
dalam segala aspek. Ia adalah manusia yang gagal
segala-galanya.
Catatan kaki:
1 Abubakar Najjar, Do You know about Mirza in
love? Islamic Publication Bureau Athlone Cape South
Africa, series no. 5 (terjemahan bebas)
